EVITA

EVITA
Bab 61. Kecemasan Arini



Rangga pun lupa untuk memberitahukan kabar pada mamahnya.


Lalu Rangga hanya memberi kabar mamahnya hanya lewat pesan chat saja, karena Rangga tidak mau bila mamahnya menanyakan macam- macam nantinya, dan karena terburu-buru Rangga lupa menyimpan charger ponselnya. Sehingga ponselnya pun mati karena kehabisan baterai.


Arini pun menunggu berita dari Rangga , namun tak kunjung juga Rangga menelfon, ketika Arini akan menelfon Rangga , baru saja ponsel di ambil tiba-tiba pesan chat pun masuk dan pesan tersebut benar dari Rangga.


'Assalamualaikum mah, maaf Rangga baru kasih kabar ke mamah, karena Rangga ketiduran semalam. Alhamdulillah Evita sudah ditangani oleh dokter dan operasi Evita pun telah berjalan lancar, keadaannya sekarang sudah baik- baik saja mamah tidak perlu khawatir ya , disini juga ada Andini dan Heru yang menemani Rangga, mamah tidak perlu kesini Rangga titip Tara dulu pada mamah, nanti Rangga kasih kabar kembali tentang perkembangannya'


Setelah Arini menerima pesan chat dari Rangga, Arini begitu kepikiran ,


"Bukannya usia kehamilan Evita masih muda sekali , operasi yang dimaksud Rangga ini operasi apa, apakah bayi Evita terpaksa harus segera dilahirkan berarti bayi itu lahi dengan kondisi prematur ataukah Evita mengalami keguguran?".


Arini tidak puas dengan pesan dari Rangga, Arini pun berusaha untuk menelfon Rangga namun ponsel Rangga tidak aktif.


Arini pun coba menelfon Andini dan tidak juga diangkatnya.


Arini semakin cemas , namun dalam pesan tersebut di tulis bahwa Evita sudah baik-baik saja Arini pun agak tenang mendengarnya.


Namun Arini tetap masih menunggu pesan selanjutnya dari Rangga.


Sementara Tara pun menanyakan ibu dan ayahnya yang belum kembali.


"Oma ibu dan ayah kemana sih , kok belum pulang Tara kan kangen", sambil memegang mainan ditangannya.


"ibu dan ayah sedang berobat dulu, kan kemarin sore ibu kesakitan diperutnya dan sekarang sedang diberi obat dulu oleh dokter, mungkin menginap disana . Tara mau kan ibu kembali sehat lagi".


Arini pun memberikan penjelasan pada Tara, untungnya Tara anak yang begitu pengertian dia menurut apa yang dikatakan Oma nya.


Tara anak yang patuh tidak rewel dan dia sudah terbiasa ditinggal oleh ibunya dan ayahnya saat bekerja, diusianya dia tidak dibiasakan untuk manja dan kolokan.


Arini masih terus mengecek ponselnya dan masih belum terhubung juga dengan nomor Rangga.


Dan sekali lagi Arini menelfon Andini dan akhirnya diangkat.


"Assalamualaikum, iya mah , pasti mamah ingin menanyakan kabar tentang kak Evita kan?", tanya Andini dengan menebak.


" Iya nak , mamah khawatir sekali karena sejak kemarin sore Rangga baru mengabari mamah satu kali itu pun tadi pagi, tapi ketika mamah tau kamu juga ada disana mamah sudah tak cemas lagi karena kakakmu ada yang menemaninya.".


"Ohh ponsel mas Rangga baru saja di charge, karena lupa membawa alat charger nya, dan tadi mas Heru pulang dulu kerumah untuk membawa charger".


"Terus bagaimana kondisi kakakmu, Rangga bilang dia dioperasi, bukankah kandungan Evita masih sangat muda , operasi yang dimaksud operasi apa?", dengan sangat penasaran mencecar Andini.


" Itu karena kandungan kak Evita bermasalah , jadi mau tidak mau janin dalam rahim kakak harus segera dikeluarkan dan terpaksa lahir dengan kondisi prematur mah, bayinya sekarang berada diruang NICU, sedangkan kak Evita sudah sadar dan tinggal pemulihan saja".


Dengan sangat terpaksa akhirnya Andini mengatakan nya pada mamah arini.


"Ya Allah ,mamah titip kakakmu ya dini , jangan lupa ingatkan Rangga untuk makan".


ucap mamah Arini pada Andini mengingatkan.


"Iya mah, mamah baik- baik dirumah jangan terlalu memikirkan kakak , disini ada mas Heru sama Andini juga kok".


Akhirnya percakapan pun diakhiri.


......................


" Kak ,dini terpaksa bilang sama mamah tentang kak Evita, karena mamah begitu penasaran apa yang terjadi , maaf ya kak dini sudah lancang ".


"Sudah tidak masalah , mamah kan begitu bila belum jelas selalu penasaran, pasti akan bertanya pada semua orang".


Rangga pun kenal betul dengan sifat mamahnya.


Sementara Evita yang sudah mencoba miring kekanan dan kekiri sudah ia lakukan atas saran suster. Karena ia ingin sekali melihat bayinya diruang NICU.


Baju Evita pun mulai basah karena asi Evita sudah keluar deras dan belum bisa disusui.


Akhirnya Rangga pun membeli breast pad di apotik untuk mengendalikan asi Evita yang terus keluar.


Dengan bantuan Andini akhirnya Evita pun sudah bisa duduk dan berjalan , walaupun belum lancar.


Evita pun tertidur setelah beres makan dan dilanjutkan minum obat. Heru pun ijin pulang dulu untuk membawa baju ganti. Sedangkan Andini mencari makanan ke bawah ,dikamar hanya ada Rangga menemani istrinya yang tertidur.


Ponsel Rangga yang dicharger pun telah selesai dan penuh terisi baterai nya. Rangga pun menyalakan tombol power dan ponsel pun nyala kembali dilihatnya banyak sekali miscall dari mamah Arini dan sekertarisnya dikantor.


Rangga pun keluar kamar dan menelfon ke sekretaris nya.


Ternyata ada berkas yang harus Rangga tandatangani dan mengharuskan Rangga untuk kekantor.


Andini pun sudah kembali keruangan Evita dan Rangga meminta untuk Andini menemani Evita, karena Rangga harus ke kantor sebentar.


"Din , kakak harus ke kantor dulu ada urusan dulu sebentar, kakak titip Evita ya , bila ada apa-apa cepat hubungi kak Rangga". Dengan tergesanya Rangga pun akhirnya pergi.


Sementara Evita pun masih tertidur, Andini pun merebahkan badannya di sofa, Andini tidak tidur namun dia hanya sedang memainkan ponselnya.


Tak lama kemudian mas heru pun masuk ke ruangan Evita dirawat, dan dia melihat istrinya sedang senyum-senyum sendiri sambil melihat kearah layar ponselnya.


"Eehhmm, sedang asiik rupanya , sampai-sampai suami masuk kamu tidak sadar de". Sambil mencubit kecil pipi Andini.


"Eeh mas sudah datang , biasa ini di grup sekolah teman- teman sedang menggoda aku". Masih tersenyum tanpa menoleh kearah suaminya.


Evita pun terbangun.


"Dini.." .


Langsung terperanjat ketika Evita memanggilnya.


"Iya kak ,Kakak mau minum atau mau kekamar mandi".


"Antar kakak ke ruang NICU, kakak ingin melihat bayi kakak".


Tanpa menanyakan keberadaan Rangga.


"Sebentar ya kak dini , tanyakan dulu pada suster apakah diperbolehkan".


Andini pun langsung menuju ruangan suster.


"Suster pasien dikamar VIP ingin melihat bayinya, diperbolehkan tidak?",


"Ibu Evita ya mba". Tanya suster.


Andini pun mengangguk.


"Biar saya antar". Sambil membawakan sebuah kursi roda.


Suster pun membantu Evita untuk duduk di kursi rodanya, dan mematikan infusnya sementara. Mereka pun menuju ruang NICU didampingi oleh andini. sedangkan Heru berada diluar kamar Evita.


Sebelum masuk Andini dan Evita pun memakai baju khusus untuk masuk keruang NICU.


Andini pun mendorong kursi roda Evita menuju inkubator tempat dimana bayi Evita di rawat.


Tangisan pun langsung pecah seketika dimata Evita setelah melihat kondisi putrinya tersebut.


Dan disana pun ada suster jaga khusus untuk menjaga bayi diruang NICU.


"Ya Allah , suster apa yang terjadi pada putri saya, sehingga banyak sekali selang terpasang ditubuhnya".


Sambil menangis evita melihat bayinya hanya di kaca inkubator tanpa bisa menyentuhnya.


"Bayi ibu lahir dengan kondisi prematur , sehingga organ dalam tubuhnya pun belum sempurna , untuk membantunya hidup maka bayi ibu dibantu dengan semua alat ini". Jelas suster.


Evita pun begitu kasihan seakan tidak tega melihat tubuh putrinya yang masih kecil itu terpasang banyak alat bantu medis disana.


Dan Evita pun diberikan waktu hanya sebentar oleh suster, karena mengingat ia juga pasien dirumah sakit tersebut dan harus banyak beristirahat.


Setelah puas melihat putrinya Evita pun kembali keruangannya. Dan masih dalam kondisi menangis.


Dengan dibantu suster Evita pun kembali ke tempat tidurnya, dan infus pun terpasang kembali.


Suster pun kembali keruangannya , dan Heru pun bingung melihat Evita yang sedang menangis.


Andini pun menenangkan kakaknya, dengan berbagai cara Kemudian reda juga tangisan Evita.