
Sebenarnya setelah melahirkan Tara dulu Evita diketahui memang mempunyai miom tapi saat itu ukuran nya masih kecil. Dan menurut dokter kandungan yang menangani Evita pasca kelahiran Tara miom nya itu tidak berbahaya.
Sehingga Evita menutupinya dari semua orang , dan miom yang sekarang tumbuh di rahim Evita ukurannya sudah besar lebih dari 5 cm. Itulah yang membuat Evita mengkhawatirkan keadaan kandungannya.
Rangga pun memberikan kabar gembira ini pada orang rumah, bahwa Evita positif hamil untuk calon anak nya yang kedua.
Mamah Arini dan Andini yang mendengarnya pun ikut bahagia, akhirnya Tara akan mempunyai adik.
Yang Evita pikirkan sekarang bahwa dia harus cepat sehat dan bisa dengan segera menyiapkan persiapan pernikahan untuk sang adik.
Setelah dua hari dua malam Evita dirawat inap , akhirnya Evita bisa pulang namun dokter menyarankan untuk Evita tidak beraktivitas terlalu berat dulu.
......................
Dan berkas nikah pun sudah masuk ke kantor KUA untuk didaftarkan.
Waktu pernikahan Andini tinggal dua Minggu lagi, dan Andini pun tengah menyebarkan undangan untuk pernikahannya.
Dekorasi, tenda, konsumsi dan yang lainnya telah diurus, rangga mengerahkan semua karyawan catering untuk membantu mempersiapkan semuanya.
Karena Evita sedang hamil muda dan Rangga tidak mengijinkannya untuk ikut serta dalam persiapan pernikahan Andini.
Evita pun manut pada suaminya, karena Evita percaya karyawan yang ditunjuk Rangga sangat bisa diandalkan.
Andini pun tengah mencari gaun pengantin untuk dirinya ,dan mendapatkan rekomendasi dari butik langganan mamah Arini.
Alhamdulillah persiapan semuanya dipermudah semoga bisa lancar di hari H nya nanti.
......................
Hari ini Evita jadwal kontrol kembali kedokter kandungan dan kali ini Evita pergi sendiri dan hanya diantar oleh pak Nono saja ,Rangga kebetulan sedang ada tugas ke luar kota jadi tidak bisa menemani Evita kontrol.
Evita pun telah mendapatkan gilirannya masuk keruangan dokter.
Dan dokter Hana yang menangani Evita pun langsung melakukan USG pada perut Evita.
"Apakah ada keluhan Bu beberapa hari ini?", dokter Hana bertanya sambil memutarutarkan alat USG ke perut Evita beberapa kali.
"Sakit pinggang dan menjalar ke punggung dok", jawab Evita.
Setelah selesai di USG Evita pun berkonsultasi pada dokter Hana tentang kandungannya.
"Dokter bagaimana dengan kehamilan saya ini,apakah bisa berbahaya miom tumbuh bersama janin dirahim saya, apakah bisa diselamatkan?".
Usia kandungan Evita baru 10 Minggu namun karena disertai miom jadi terlihat lebih besar dari pada usia kandungan pada umumnya.
Dokter pun berpendapat kemungkinan terjadi sesuatu pada kandungan Evita.
"Begini Bu Evita, beberapa kasus ibu hamil dengan miom, kecil harapannya untuk janin bisa berkembang dengan baik, jadi kita terus memantau perkembangan janin dirahim Bu Evita, dan mungkin ibu akan sering bertemu dengan saya, dengan kata lain setiap bulan ibu Evita harus memeriksa kan kandungan ibu dengan rutin".
"Tapi apakah itu bisa menyelamatkan janin saya dokter?". Evita bertanya kembali memastikan nya.
"Saya disini akan berusaha untuk membantu dan memantau kandungan ibu, tapi semuanya pun atas kehendak dari yang diatas, karena sangat langka sekali janin bisa bertahan dengan miom didalam rahim secara bersamaan, karena miom akan ikut berkembang juga sesuai dengan perkembangan janinnya".
"Saya hanya memberikan resep vitamin dan penghilang mual nya saja ya Bu, bila ada kontraksi atau mual berlebih ibu bisa segera menemui saya disini".
Setelah pemeriksaan selesai Evita pun langsung menuju farmasi untuk menebus resep yang diberikan dokter Hana tadi.
Setelah itu Evita pun menuju toilet yang berada tidak jauh dari farmasi tersebut.
Ketika akan keluar dari toilet Evita tak sengaja ditabrak oleh perempuan yang buru buru akan masuk ke toilet, dan tas Evita pun terjatuh dari genggaman Evita.
"Maaf Bu saya buru buru". Perempuan yang menabrak Evita pun mengambil dan mengembalikan tas Evita yang terjatuh.
"Lusy",
"Evita, wah senang sekali kita bisa bertemu lagi, sebentar ya aku kedalam dulu sudah tak tahan". Perempuan itu pun masuk menuju toilet.
Evita pun langsung menuju tempat duduk didepan farmasi , tak lama Lusy pun menghampiri Evita.
"Hei.. apa kabar kamu, sedang apa disini, siapa yang sakit?".Tanya Lusy.
"Aku kontrol saja, dan kamu sendiri disini sedang apa, kapan pulang dari Singapura?", Evita bertanya balik pada Lusy.
"Aku disini sedang terapi, benturan bekas kecelakaan dulu sering kambuh dan sakit sekali rasanya, dulu setelah kecelakaan dokter dari Semarang menyarankan agar aku berobat ke Jakarta , dan setiap ada keluhan aku pasti kesini".
"Kamu sendiri , suami mu mana?". Tanya Lusy mencecar.
"Dia sedang tugas diluar kota". Jawab Evita.
"Mumpung kita ketemu lagi , mau kah kamu menemaniku makan siang atau ngopi-ngopi dicafe dekat sini", ajak Evita.
"Dengan senang hati aku mau sekali". Jawab Lusy bersemangat.
Lalu petugas farmasi pun memanggil nama Evita dan disusul nama Lusy juga.
Setelah mereka mendapatkan obatnya , mereka pun langsung mencari cafe dekat rumah sakit dan mereka berdua pun berbincang layaknya teman yang baru bertemu lagi setelah sekian lama.
Setelah sampai dicafe Evita hanya memesan jus sementara Lusy memesan jus dan nasi goreng.
"Kamu hanya memesan jus saja , yakin". tegas Lusy.
"Aku sedang susah makan, jadi aku pesan minum saja".
"Kamu dijakarta tinggal dimana Lusy?"
"Aku disini tinggal bersama ayah angkatku, yang aku ceritakan dulu".
"Dia menjadikan aku anak angkatnya , karena dia kesepian istrinya meninggalkan dia karena bisnisnya gulung tikar, dulu dia adalah donatur tetap di panti sosial disemarang".
"Namun kini bisnis nya sedang dia rintis kembali dari nol, dan salah satunya toko bunga disingapur itu".
"Oh iya , kamu sampai kapan tinggal dijakarta?", tanya Evita pada Lusy.
"Mungkin aku disini sampai proses terapi ku selesai, mungkin sampai bulan depan".
Evita pun berpikir untuk mengundang Lusy diacara pernikahan Andini, Evita ingin mengetahui reaksi mertuanya bila dia bertemu langsung dengan Lusy.
"Oh iya, pertengahan bulan ini, adikku menikah ,bila kamu masih berada disini, aku mengundang mu untuk datang menghadiri acara tersebut".
Evita pun mengeluarkan memo kecil dari tasnya dan menuliskan alamat rumah nya. Kemudian memberikannya pada Lusy.
"Tapi maaf tanpa kartu undangan resmi, soalnya aku tidak membawanya".
Lusy pun menerima kertas yang berisikan alamat rumah Rangga.
"Kamu sudah punya pacar Lusy atau calon suami mungkin?". tanya Evita semakin mengarah ke dalam hal pribadi".
Lusy pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mengenali diriku sendiri, mana ada pria yang mau denganku yang amnesia ini".
"Seandainya ada laki-laki di masa lalu mu bertemu dengan mu, dia begitu mengenalmu walaupun kamu tidak mengingatnya, apakah kamu mau menerima dia kembali".
"Pertanyaan nya aneh sekali, oke aku jawab, seandainya seperti itu, bila dia masih mencintai aku , aku mau kembali padanya, tapi mana ada cerita seperti itu, kamu ada ada saja Evita". Jawaban Lusi dengan penuh keyakinan.
"Aku bilang kan seandainya ", timpal Evita.