EVITA

EVITA
Bab 8. Bertemu calon mertua



Rangga pun mendekati tempat duduk Evita, sedangkan Andini duduk di sofa yang lainnya menyaksikan kakak sulungnya dilamar oleh seorang pemuda.


"Mungkin perkenalan kita sangat singkat dan belum cukup untuk kita memahami diri kita masing masing, namun aku sudah bertekad tidak mau mencari pacar namun mencari seorang pendamping hidup untukku jadikan sebagai istri. Dengan disaksikan oleh Andini aku dengan ini melamar Evita Putri wijaya, maukah kamu menjadi istriku ?"


Sontak Evita kaget dengan pengakuan Rangga malam itu, namun karena diam diam Evita pun menaruh hati juga pada Rangga. Evita pun mengangguk seraya berkata


"iya aku terima lamaran mu, aku mau kau jadikan istrimu"


Seperti gayung bersambut, mereka berdua memiliki perasaan yang sama.


"Terima kasih Evita" Rangga pun langsung menyematkan sebuah cincin ke jari tangan Evita.


terpancar kegembiraan dan haru daru keduanya.


Andini pun ikut senang akhirnya kakaknya sudah bisa move on dari masa lalunya.


......................


keesokan harinya Evita sudah bersiap dari jam 9 pagi, sedangkan Andini sudah berangkat sekolah sedari pukul 06.00 pagi.


Tidak terlihat seperti biasanya kini Evita memakai dress selutut berwarna bunga kombinasi sangat cocok dengan warna kulitnya, dengan tanpa make up namun terlihat sangat cantik alami, dipadukan sepatu flat terlihat tampak lebih anggun dari biasanya.


"Assalamualaikum" salam Rangga didepan pintu rumah evita.


Rangga pun tiba pukul 09.30, pintu rumah Evita pun terbuka sehingga rangga menunggunya diteras rumah.


"waalaikum salam, sebentar". jawaban salam dari Evita dari dalam kamarnya.


Kemudian Evita pun keluar dari dalam kamarnya yang sudah siap dengan rambutnya yang digerai serasa tampak agak sedikit girly, tatapan Rangga pun takjub dengan Evita yang dilihatnya saat itu.


"Kenapa kamu menatap aku seperti itu, gak cocok ya, aku ganti pakai celana dan kaos saja ya" ucap Evita.


" Nggak nggak bukan gitu, kamu cantik kok tidak seperti biasanya, saya hanya takjub saja melihat kamu hari ini beda dari biasanya."


" Yuuk kita langsung saja berangkat, takut macet juga jam segini dijalanan nya" ajak Rangga.


Mereka berdua pun pergi dari rumah Evita, karena memakai dress posisi duduk Evita pun menyamping.


tak banyak bicara mereka di perjalanan namun keduanya begitu canggung tidak seperti biasanya.


hanya menempuh waktu 45 menit akhirnya sampai lah mereka dihalaman rumah Rangga.


Rumah lama dengan bangunan sangat luas, namun terlihat sangat rapih dan bersih disana terlihat sebuah mobil berwarna hitam keluaran terbaru terparkir didepan rumah, dan sebuah teras yang terdapat beberapa bunga anggrek dan satu set kursi teras sebagai pemanis.


Sementara di dalam rumah mba Mia yang mendengar suara motornya Rangga mengintip dari dalam dan langsung memberitahukannya pada ibu Arini,


" Bu mas Rangga sudah datang sama perempuan ayu tenan lho" dengan logat jawanya yang bercampur dengan bahasa Indonesia.


karena pintu depan terbuka Rangga pun langsung masuk seraya mengucapkan salam "Assalamualaikum"


Ibu Arini pun menjawab salam Rangga "waalaikumsalam"


seraya menyambut Evita yang dari tadi sudah ditunggunya.


Evita pun mencium tangan ibu Arini.


Ibu Arini pun kagum dengan penampilan Evita hari itu, tampak berbeda ketika pertama kalinya bertemu dirumah sakit tempo hari, dan ibu Arini pun senang melihat jari manis Evita telah tersemat oleh cincin dari Rangga. dan seraya menggoda.


"Waah kalian sudah jadian ya?"


Evita pun menjawab,


"Ada Tante tapi diluar kota mungkin kalau Tante hendak melamar mungkin saya perlu waktu untuk menghubungi mereka ".


" Ya sudah tidak apa apa, Tante tunggu jawaban dari kamu saja bila sudah siap , berkabar saja dengan Rangga ya?"


" Kamu sangat anggun sekali dengan pakaian ini,"


tak hentinya ibu Arini memuji terus penampilan calon mantunya itu.


Kemudian ibu Arini pun mengeluarkan sebuah kotak yang berisikan sebuah gelang emas , terlihat dari potongannya terlihat agak tua karena itu gelang turun temurun yang diwariskan pada menantu perempuan namun modelnya tidak kalah dengan model gelang pada umumnya.


Ibu Arini pun pengambil tangan kanan Evita lalu memasangkan gelang tersebut di pergelangan tangan Evita.


" ini apa Tante" Evita kaget karena dipasangkan sebuah gelang emas


" Ini gelang warisan turun temurun dari neneknya Rangga yang diberikan pada Tante dulu ketika dilamar oleh ayahnya Rangga, sekarang Tante punya seorang calon menantu. Dan kamu telah dipilih Rangga menjadi calon istrinya, jadi Tante menurunkan gelang ini pada kamu sayang nanti kamu bisa menurunkannya lagi ke calon mantu kalian nanti".


"Apakah ini tidak berlebihan Tante, semalam Rangga sudah kasih saya cincin sekarang gelang dari tante?"


"Tidak Evita, Tante harap kalian segera mencari tanggal yang tepat untuk kalian melangsungkan pernikahan, Tante bosan dirumah ini sendirian terus, kan kalau sudah ada mantu Tante ada yang menemani dirumah jika Rangga pergi ke kantor".


Pinta ibu Arini pada Evita.


"Apakah Tante yakin dengan keputusan Tante ini, takutnya saya mengecewakan tante dikemudian hari, saya ini anak yatim piatu saya masih punya tanggungan untuk membiayai adik saya sekolah" Evita berterus terang dengan kondisinya sekarang.


" Kamu sudah jangan pikirkan hal itu Tante menerima kamu apa adanya sekarang, setiap orang mempunyai masa lalu, ya sudah. kehidupan masih terus berjalan yang kita pikirkan cerita masa depan bukan begitu ?" jelas ibu Arini.


"Ooh iya, tante tadi bikin kue kamu cobain deeh...!".


Sambil memotong cake yang ada dimeja untuk Evita.


Evita pun mencoba cake tersebut


" Hhmmmm enak sekali Tante cake nya, kebetulan Evita suka kue manis.


"Sepertinya Tante repot sekali menyiapkan semuanya hanya untuk Evita"


" Nggak kok, Tante memang hobi sekali bikin kue, syukurlah kalau kamu suka" jelasnya ibu Arini.


Arini dan Evita asiik mengobrol sedangkan Rangga senang melihat ibunya bahagia, dia hanya menyaksikan ibu dan tunangannya berbincang.


Mba Mia pun sengaja ke depan dan berdiri samping ibu Arini , menyampaikan bahwa makanan sudah terhidang di meja makan


" Bu makanannya sudah siap "


" Yuuk Evita kita makan siang bersama", ajak Ibu Arini pada Evita.


namun Evita malah menoleh dan menatap Rangga tanpa berkata sepatah kata pun.


"Sudah ayo, aku juga ikut makan kok, ga apa apa".


Mereka pun menuju meja makan , dan makanan yang terhidang sangat istimewa menurut Evita bermacam lauk dan sayur tersedia disana, nasi putih, sayur capcay, udang tepung , ayam goreng, tempe tahu, lalap & sambel, dendeng balado, tak lupa ada air putih sudah tersedia disamping setiap piring.


Evita pun makan dengan beberapa lauk dan sayur yang diambilnya dengan sedikit sedikit, karena Evita belum terbiasa, makan dengan banyak menu seperti itu.