
Setelah beres mandi Andini pun tak sabar membuka isi godibag yang mas Heru kasih tadi. Godibag tersebut berisi baju terusan berwarna Salem, saking tidak ingin merepotkan nya karena acaranya mendadak maka ibu mas Heru memberikan baju ini untuk Andini pakai .
Dan kebetulan ibunya mas Heru seorang tukang jahit, tepatnya mempunyai sebuah konveksi. Dan dia menjahit sendiri baju itu untuk calon menantunya.
Tak pernah merasakan kembali sosok ibu, Andini teringat kembali tentang orang tuanya ,tak disadari sudut matanya mengeluarkan butiran air yang cukup deras, namun berhasil ia tahan.
Namun andini masih sangat bersyukur masih mempunyai kakak perempuan yang begitu sayang padanya. Selalu mendukung keputusan apapun yang Andini ambil asalkan itu baik untuk dirinya.
Hidup tanpa kedua orang tua yang mendampingi disaat kita masih membutuhkannya, apalagi saat kedua orang tua mereka pergi Andini masih sangat butuh perhatian dari orang tua,
Mereka terpaksa mengikuti garis nasib dan alur takdir yang membuat mereka dapat mandiri dan hingga kini bisa kuat menjalani kehidupan tanpa berbelok dari alur kehidupan.
Sepantasnya anak perempuan perlu sosok ibu dalam beberapa hal, namun kehadirannya tak ada untuk saat ini, hanya kakak nyalah segala galanya yang selalu mensupport Andini sampai sekarang.
......................
Keesokan harinya Andini sedang menyapu halaman dan tak lama bibi dan pamannya yang dari Bandung pun tiba dengan sebuah taxi. Andini pun menyambutnya.
Dan dipersilahkan untuk masuk kebetulan Rangga pun ada dirumah karena hari Sabtu biasanya libur kerja.
Semua ada diruang keluarga dan paman Andini nanti yang akan menjadi perwakilan dari keluarga Andini.
Semua orang dari catering sibuk menata kursi diruang tamu dan teras sengaja tidak dipasang tenda karena ini hanya acara keluarga inti saja.
Sedangkan untuk jamuan cukup menyiapkan parasmanan sederhana saja dan berada di ruang keluarga.
Sesederhana mungkin acara dibuat sesuai request dan untuk menghormati tamu.
......................
Orang dari catering pun sudah datang dan menata makanan di meja parasmana, sementara Evita sibuk mengurus Tara terlebih dahulu kemudian evita pun bersiap ganti baju, sedangkan mah Arini telah berada di ruang keluarga menemani paman dan bibi.
Evita pun mengecek keberadaan Andini yang belum beres berdandan dan Evita pun membantunya untuk berias.
Pukul 09.00 tepat keluarga dari Heru pun tiba. Dengan didampingi kedua orang tuanya juga perantara orang yang berkontribusi menta'arufkan Andini dan Heru, dan beberapa orang lainnya.
Pihak tamu langsung masuk dan mengucapkan salam dan semua saling bersalaman, dan semuanya sudah berkumpul berada di ruang tamu.
Sedangkan Andini berada diruang keluarga bersama Evita dan mba Mia.
Acara pun dimulai dengan saling memperkenalkan diri dan Andini pun keluar ikut nimbrung di ruang tamu didampingi Evita.
Dan Andini pun terlihat berbeda dengan biasanya , dia sedikit berias, dan begitu cantik dengan gaun terusan pemberian ibu nya mas Heru.
Semuanya pun terpana melihat ke anggunan dan kesederhanaan Andini. Karena semuanya baru pertama kali bertemu dengan Andini.
Andini pun di minta untuk duduk disamping ibu mas Heru.
Ibunya mas Heru Tah hentinya memuji paras cantik Andini, beliau tak lepas memegangi sang calon menantunya.
Singkat cerita proses ta'aruf pun berjalan lancar dan pihak Andini pun menerima ta'aruf dari pihak Heru dan kedua keluarga pun langsung menentukan tanggal pernikahan untuk Andini dan Heru.
Setelah berunding semuanya sepakat bahwa acara ijab kabul akan dilaksanakan dipertengahan bulan depan. Sesuai permintaan dari pihak keluarga Heru.
Setelah pembicaraan selesai merekapun menikmati hidangan yang telah di persiapkan Evita.
Hidangan yang disediakan menurut keluarga Heru terlalu mewah , namun pendapat Arini kita harus menjamu tamu sedemikian rupa sebagai tanda bahwa tuan rumah menghargai tamunya.
"Alhamdulillah acara hari ini berjalan lancar, dan kiranya apa yang bisa saya bantu untuk acara Andini nanti", tanya paman Evita.
"Mungkin nanti paman akan direpotkan lagi menjadi sebagai wali nikahnya Andini nanti , apakah paman bersedia".
"Tentu saja paman bersedia , yang pasti paman akan kembali lagi nanti untuk menikahkan Andini tentunya". Ucap paman.
Andini hanya tersipu malu.
Paman dan bibinya pun berpamitan untuk pulang ke Bandung ,karena hari sudah mulai sore takut kemalaman dijalan.
"Padahal kakek dan nenek (paman dan bibi) begitu kangen dengan Tara, dan masih ingin bermain dengan Tara, tapi kakek dan nenek harus pulang dulu ya , nanti pasti main kesini lagi mengunjungi Tara".
Bocah kecil itu pun mengangguk sambil mendengarkan perkataan kakek dan neneknya.
"Paman, bibi terimakasih ya sudah datang dan mau direpotkan lagi dengan acara Andini nanti", ucap Evita.
"Paman, bibi Andini juga berterimakasih sekali paman dan bibi sudah menyempatkan waktunya untuk acara dini".
Paman dan bibi pun segera masuk mobil dan langsung meninggalkan rumah Rangga.
Namun tiba-tiba saat akan bangkit dari tempat duduknya Evita merasakan pusing yang luar biasa dan tiba-tiba Evita pun ambruk tidak sadarkan diri, semuanya kaget dibuatnya.
Dan Evita pun segera digendong kekamar oleh Rangga. Dan diberikan kayu putih oleh mba Mia.
Seketika Evita pun sadar namun masih merasakan pusing dan ditambah mual.
Sementara dirumah masih banyak karyawan dari catering sedang merapihkan peralatan dan perabotan catering.
Evita enggan dibawa kedokter, walaupun tubuhnya sedikit lemah.
Mamah Arini pun istirahat kekamarnya, setelah melihat Evita sudah sadar dari pingsannya.
Untungnya Tara tidak rewel sejak dari pagi. Dan dia hanya menangis ketika melihat ibunya pingsan tadi, namun semuanya sudah baik-baik saja.
Evita pun tak bisa bangun karena mual.
Andini pun mengingatkan bahwa bulan ini Evita belum datang bulan.
Dan Evita pun ingat terakhir dia datang bulan seminggu sebelum dia pergi kesingapura, dan bulan ini sudah telat satu Minggu.
"Mungkin kah kakak hamil". ucap Andini.
Rangga pun membujuk istrinya untuk mau pergi kedokter, setidaknya memastikan kondisinya agar baik baik saja.
"Tara biar tidur sama Andini saja kak, supaya kak Evita bisa istirahat".
"Besok saja mas, malam ini Evita mau istirahat dulu saja".
"Benar ya janji besok kita periksa". tegas rangga mencemaskan keadaan istrinya.
Terlihat Tara yang sudah mengantuk , dan meminta susu , dan akhirnya Tara pun tertidur karena kecapean.
Rangga pun berada disamping Evita dan dia tidak mau meninggalkan Evita walau sebentar saja.
Setelah Evita tertidur mamah Arini menyuruh Rangga ke kamarnya dan mereka berdua mengobrol serius tentang Lusy yang Rangga dan Evita temui di Singapura.