
Sudah terdengar suara adzan subuh berkumandang dan waktu pun sudah menunjukan pukul lima pagi.
Namun Rangga tak membiarkan Evita lepas dalam pelukannya, keadaan kamar pun tampak seperti sudah terjadinya sebuah pertempuran. Pakaian yang terlihat berserakan dilantai, dan sepasang suami istri itu pun seakan tak mau melewatkan kesempatan itu. Seakan enggan mengakhiri semuanya, keduanya tertidur pulas, mungkin kelelahan karena kejadian semalam.
"Mas bangun sudah jam lima lho...sudah yu?" ucap Evita membangunkan suaminya namun ia pun masih memejamkan matanya.
"Sebentar lagi...mas masih ngantuk" Rangga yang tak menghiraukan pinta sang istri dan Rangga pun makin kencang memeluk Evita.
Diluar kamar sudah terdengar suara Andini yang keluar kamarnya dan baru beres solat subuh, lalu membuka satu persatu jendela dirumah agar udara pagi hari masuk kedalam rumah. Sedangkan mba Mia yang menyapu dan mengepel lantai.
Tara yang masih terlihat pulas pun tak Andini ganggu. Kemudian Andini pun pergi ke dapur mengikuti mba Mia yang akan menyiapkan untuk sarapan.
Alarm handphone pun sudah berbunyi berkali-kali dan kali ini Rangga pun mengambil nya dan melihat jam yang tertera di ponselnya.
"Sayang sudah jam enam nih, ayo bangun kamu duluan sana pergi mandi mas nanti setelah kamu" ucap Rangga, Evita pun bangun walau mata masih terasa berat.
Evita pun selesai mandi dan ia mengenakan baju rumahan berbentuk dress selutut, dan masih dengan mengeringkan rambutnya, sambil menunggu Rangga selesai mandi.
Lalu Evita pun menyiapkan baju Rangga, sebuah baju koko dan celana panjang berwarna hitam, karena hari ini adalah hari Jumat jadi Rangga mengenakan baju muslim karena nanti akan jumatan di mesjid dekat kantor.
Rangga pun sudah siap dengan baju kokonya, dan Evita pun membantu mengeringkan sedikit rambut Rangga agar tetap terlihat sedikit kering.
Kemudian mereka pun keluar kamar dan terlihat Andini sedang merapihkan makanan di meja makan.
Saat sang ayah akan berangkat kerja seperti biasa Tara masih tertidur, kadang sering tak melihat ayahnya berangkat kerja.
Mereka pun sarapan dan selesai sarapan Evita pun mengantar suaminya ke teras.
Setelah Andini beres merapihkan meja makan, Andini pun menghampiri sang kakak yang sedang menyiram tanaman anggrek mamah Arini.
"Gimana semalam kak, sukses ga?" tuturnya menggoda sang kakak.
"Berarti ada gunanya kan, aku menginap disini" ucapnya sambil tersenyum.
"Sering-sering ya de kamu kesini, biar kakak bisa berduaan terus dengan mas Rangga" ujarnya.
"Eeh iya de nanti kakak mau kesalon depan mungkin sore pengen creambath, dan besok sore kakak titip Rangga lagi ya, mau kondangan" pinta Evita.
"Siap ibu bos, ananda akan ikut perintah ibu bos" keduanya pun langsung tertawa.
Akhirnya Tara bangun dan menuju teras depan, 'ia pun meminta minum dan Andini pun langsung membawanya untuk mandi.
Sejauh ini Evita merasakan bahwa Rangga menyimpan sedikit cerita ketika ke Semarang mengantar mamah Arini. Namun Evita tidak ingin suaminya terpikat oleh wanita siapapun selain dirinya.
Walaupun Evita tau bahwa Rangga bukanlah lelaki yang gampang terkena bujuk rayuan sesaat. Evita tetap percaya dan yakin bahwa Rangga akan tetap setia untuknya.
Tara pun selesai mandi dan dia pun membawa mainannya ke teras depan dan bermain disana.
Saat sudah terik Tara pun menyudahi acara mainnya itu, dan pindah menonton acara kesukaannya.
Mba Mia pun hari ini masak capcay seafood. Karena kemarin saat makan di restoran Tara sangat lahap sekali, padahal dulu Tara tak suka dengan ikan laut.
Tara pun terlihat lahap makan dengan capcay, sedangkan Evita dan Andini membuat sambal dadak dengan tempe dan tahu, cumi asin goreng dan sayur kangkung.
Terasa nikmat disantap saat keadaan perut keroncongan, mba Mia pun ikut makan bersama mereka.
Hingga tak tersisa makanan di meja tersebut, kecuali capcay yang dimasak hanya untuk Tara. setelah kenyang Tara pun mengantuk dan akhirnya dia pun tertidur di sofa ruang tv.
Lalu Evita pun menitipkan Tara pada Andini untuk kesalon dekat rumah. Memanjakan rambutnya yang sudah terlihat lepek.
Evita pun sekalian merapihkan kukunya yang akhir-akhir ini sudah tak terurus.