EVITA

EVITA
Bab 65. Terungkap



Dua hari kemudian.


Pagi itu cuaca diluar sangat dingin karena semalam telah turun hujan.


Langit pun terlihat tak ceria seperti biasanya.


Evita pun mengintip dari pintu kamarnya, telah terhidang beberapa masakan untuk sarapan dimeja makan hasil olahan sang chef rumah yaitu mba mia.


Namun karena cuaca terasa dingin Evita pun mencari sweater nya, setelah dicari di lemari tidak tampak keberadaannya. Evita pun teringat ia terakhir mengenakan nya saat dirumah sakit dan mungkin sweater itu masih ada didalam kopernya.


Evita pun membuka koper berwarna marun itu , setelah dibuka tak ada satu pun sehelai baju disana, karena telah dipindahkan oleh mba mia. Namun Evita merogoh celah yang ada di dalam koper tersebut dan dia menemukan hasil laboratorium.


Evita pun begitu penasaran apa sebenarnya isi dari hasil laboratorium tersebut.


Evita pun langsung membukanya tanpa ragu ,dan tertulis disana tertera namanya.


Nama : Evita Putri Wijaya


Rasa dingin ditubuh kini berubah menjadi panas dan Evita pun terkejut dengan isi dikertas yang sedang ia pegang.


Evita pun diam mematung tak bergerak sambil mengeluarkan bulir air disudut matanya, Kemudian kaki Evita pun terasa lemas dan akhirnya ia pun duduk menyamping ditempat tidurnya.


Tak lama Rangga pun keluar dari kamar mandi dan didapatinya koper telah terbuka dan terlihat Evita yang menangis namun tidak bersuara sedang memegang selembar kertas.


"Mas mengapa kamu tidak menjelaskan hal ini, kamu bilang kandunganku bermasalah dan janinku harus dikeluarkan secepatnya, dan hasilnya bayiku dilahirkan dengan prematur". Tanya Evita kesal.


"Lalu tindakan Pengangkatan rahim!, kenapa kamu tak bilang pada ku mas , jadi sekarang aku sudah tidak bisa hamil lagi".


Rangga pun tak bisa membela dirinya karena bukti yang ia sembunyikan telah diketahui Evita.


"Iya , aku terpaksa tidak memberitahukannya pada mu dalam waktu dekat ini, karena aku takut kamu akan kecewa nantinya, aku yang bersalah telah menyetujui permintaan dokter. Karena dokter bilang aku harus memilih antara kamu dan bayi kita, karena miom yang ada dirahim mu telah menghambat pertumbuhan bayi kita didalam rahim".


"Aku tidak ingin bila dipertahankan akan membahayakan bayi kita dan terutama jiwamu, Makanya aku memutuskan untuk mengikuti apa yang disarankan dokter".


Ucap Rangga dengan penuh penyesalan.


Evita pun terus menangis dan semakin deras air yang keluar dari kelopak matanya hingga membasahi pipinya.


"Maaf kan mas sayang, mas sudah membuat keputusan yang mengecewakan buat mu, namun percayalah, seperti apapun kondisi kamu sekarang mas akan tetap sayang padamu, menerimamu dengan apa adanya kamu".


"Dan tentang kondisi putri kita, sebenarnya tidak baik-baik saja , dokter melita menjelaskan bahwa putri kita hanya mampu bertahan dengan mengandalkan alat medis yang terpasang, organ tubuhnya tidak berkembang baik dan mas takut kamu tidak bisa menerimanya".


"Namun mas meminta pada dokter untuk dia bisa bertahan hidup walau hanya sesaat, sampai kamu melihat nya, mas tidak ingin mengecewakan yang kedua kalinya.


Mas melakukan ini demi kesehatanmu, Tara masih butuh kamu". Dengan terisak Rangga pun terus berkata.


Evita yang berada disamping Rangga pun menjatuhkan tubuhnya di dada Rangga sambil terus menangis.


"Bagaimana sekarang nasib putri kita mas, aku tidak mau kehilangan dia". Tangis Evita pecah di pelukan suaminya.


Rangga pun tidak bisa berbuat apa-apa, selain menenangkan dirinya sendiri juga Evita.


Dari dapur Arini pun mendengar kegaduhan yang terjadi dikamar Rangga. Arini pun segera menghampiri kamar itu dan mendengar Evita sedang menangis dan Arini membuka pintu yang tak terkunci dari dalam.


Benar saja Evita tengah menangis sejadi jadinya. Arini pun bingung dengan apa yang terjadi dihadapannya.


Lalu Arini melihat selembar kertas tergeletak dilantai dan dia pun mengambilnya dan membaca apa yang tertulis di kertas itu.


Arini pun terkejut dengan isi kertas tersebut.


Arini pun memutuskan untuk keluar kamar dan meninggalkan Evita dan Rangga.


"Pantas saja sejak dirumah sakit Rangga tidak pernah memberikan kabar padaku, ternyata ini yang disembunyikan rangga".


Evita pun telah tenang dan mereka berdua pun keluar kamar dan duduk disamping Arini.


"Sungguh teganya kamu Rangga, telah membohongi istri dan mamah mu sendiri dari hal yang besar ini".


"Maafkan Rangga mah, Rangga hanya ingin semuanya baik-baik saja".


"Maafkan Evita juga mah , semuanya juga bukan kesalahan dari mas Rangga, setelah Evita melahirkan Tara , Evita divonis dokter mempunyai miom namun awalnya kecil dan tidak berbahaya kata dokter dan dokter menyarankan agar Evita melakukan pengobatan, namun Evita tak melakukan itu".


"Evita simpan masalah ini agar tidak diketahui mas Rangga dan mamah ,Evita tidak mau merepotkan dan membuat kalian cemas".


"Tapi yang terjadi sekarang malah lebih parah, tempo hari ketika kontrol pun dokter menyarankan agar kandungan Evita digugurkan saja, karena akan membuat janin dirahim evita tidak berkembang dan kalah oleh miom nya. Namun Evita tidak menggubris perkataan dokter dan tetap mempertahankan janin dirahim evita".


Sambil tertunduk Evita berterus terang pada mertua dan suaminya.


"Kalian itu tinggal satu rumah hal besar seperti ini malah disembunyikan , bila sudah seperti ini siapa yang harus disalahkan, dan kalian juga kan yang rugi".


Kriing.. kriing.. bunyi ponsel Rangga berdering.


Terlihat nomor dari rumah sakit.


"Halo selamat pagi pak , saya dokter melita dokter spesialis anak, ingin mengabarkan bahwa kondisi putri bapak kini dalam keadaan kritis pak , saya harap bapak untuk datang kerumah sakit secepatnya".


" Iya dokter ,saya akan secepatnya kerumah sakit". Deg..sungguh membuat hati menjadi cemas.


"Kenapa mas ,apa yang terjadi". Tanya evita.


"Kita harus segera ke rumah sakit". Jawab Rangga.


"Mba Mia saya titip Tara ya , saya harus kerumah sakit dulu". ucap Rangga dengan tergesa.


"Tara sayang , dirumah dulu ya dengan mba Mia ayah mau melihat Dede bayi dulu kerumah sakit, karena anak kecil tidak diperbolehkan kerumah sakit , banyak virus disana, Tara baik-baik sama mba Mia ya".


Tara pun mengangguk dengan patuh, walaupun sedikit mengerti apa yang dibicarakan ayah ,ibu dan Omanya, namun anak berusia mau lima tahun itu tak berbicara sedikit pun, hanya menuruti perintah ayahnya.


"Aku ikut mas". Pinta evita


"Mamah juga ikut".


Lalu mereka bertiga pun langsung pergi menuju rumah sakit memakai mobil Rangga, dan pak Nono ditugaskan menjaga mba Mia dan Tara dirumah.


Tak berselang mobil Rangga pergi mobil Heru pun terparkir dihalaman rumah.


Dan disambut Tara sambil berkaca kaca dan memeluk sang Tante.


"Tara kenapa, kok nangis, cup..cup..sudah jangan nangis kan ada aunty disini dan om Heru".


Terlihat didalam rumah pun sepi, Andini pun bertanya pada mba Mia.


"Mba yang lain kemana ya, dan Tara pun menangis , apa yang terjadi mba?"


"Itu tadi ada telfon dari rumah sakit katanya bayi nya kritis, ibu ,non Evita dan mas Rangga pergi kerumah sakit ".


"Innailaihi, mas apa kita susul mereka? dini takut kak Evita kenapa napa".


"Menurut mas kita dirumah saja tunggu kabar dari mereka saja, kasihan Tara tidak ada yang menemani". Ucap Heru.


Andini pun mengiyakan perkataan suaminya.