EVITA

EVITA
Bab 42. Bulan madu kedua



Setelah melihat GPS ternyata Evita berada di sebrang gedung tempat Rangga meeting tadi.


Namun setelah sampai di lokasi keberadaan Evita, ternyata disebuah toko bunga ketika ia melihat sosok wanita muda itu beberapa hari lalu.


Rangga pun begitu gugup meyakinkan dirinya bila nanti berhadapan dengan Lusy wanita muda itu.


Terlihat dari luar masih sangat sepi toko itu , namun Rangga yakin Evita ada didalam sana.


Tak mau berlama Rangga diluar toko itu karena sangat begitu menyengat terik udara diluar . Rangga pun membuka pintu slide toko itu dan dia menyaksikan Evita dan Lusy sedang ngobrol asik di salah satu sudut ruangan.


"Welcome please, is there anything I can help you with?"


Lusy pun menyapa Rangga yang saat itu masuk ke tokonya.


"Dia suami saya" , jelas Evita pada Lusy.


Lusy pun langsung mengangguk sambil tersenyum.


Ketakutan Rangga pun akhirnya hilang begitu wanita muda itu menyapanya tadi.


Tapi yang dia lihat benar dan tidak salah lagi dia adalah Lusyana mantan pacarnya dulu, begitu dekat , namun benarkah dia tidak mengenaliku atau kah dia pura pura tidak ingat padaku, karena disana ada Evita yang mengaku sebagai istriku.


"Suamiku sudah menjemputku, kukira kami akan beberapa hari disini bolehkan besok kita bisa berbincang lagi disini, supaya aku tidak bosan menunggunya meeting".


"Silahkan mba dengan senang hati ,saya senang bisa berkenalan dengan mba, setidaknya saya bisa menjadi teman ngobrol mba selama ada disini".


"Oke sampai jumpa besok ya", Evita pun melambaikan tangan pada Lusy.


Sedangkan Rangga hanya terdiam sambil menggandeng Evita pergi meninggalkan toko itu.


Lusy pun merasa senang dia telah kedatangan tamu dari Jakarta , walaupun baru kenal namun Lusy merasa nyaman dengan Evita.


Lalu lusy pun melanjutkan pekerjaannya merangkai bunga pesanan pelanggan.


"Bagaimana meeting nya mas, lancarkan".


"Lancar , namun besok mungkin akan jauh lebih lama dari hari ini".


"Sekarang kita cari makan siang dulu ya mas , perutku sudah berontak minta di isi makanan".


Lalu mereka pun mencari tempat makan dekat sana, dan Evita memilih makanan berat yaitu steak.


Disela sela makan Rangga mencari tau sedikit tentang Lusy pada Evita.


"Tadi ketika ditoko bunga itu sepertinya kamu akrab sekali dengan penjaga toko bunga itu, apakah kamu mengenal dia sebelumnya".


"Tidak mas aku tidak mengenal dia, tapi kebetulan dia pun orang Indonesia tepatnya dia tinggal disemarang". Sambil melahap steak daging yang terhidang dihadapannya.


"Tapi miris sekali ya mas cerita hidupnya, dia tinggal di panti sosial setelah ayahnya meninggal dan dia pun sekarang Amnesia permanen jadi dia tidak mengingat semua kenangan atau cerita sebelum dia kecelakaan".


Pantas saja dia tadi tidak mengenaliku ternyata dia bukan pura pura , namun dia tidak mengenal sedikit pun tentang Rangga.


Rangga ikut prihatin atas apa yang menimpanya.


Namun Rangga sedikit merasa tenang, setidaknya dia sudah tau informasi tentang Lusy saat ini.


"Besok aku boleh menemui dia lagi kan mas, sementara kamu meeting aku tidak akan merasa bosan menunggumu jika bersama dia".


"Baiklah bila itu yang membuatmu senang ,aku akan berkata iya saja, yang penting istriku ini merasa nyaman selama berada disini".


Selesai makan siang ,mereka pun menuju patung Marlion, disana banyak wisatawan ataupun warga lokal sana sedang berfoto-foto, di depan patung singa itu.


Evita pun tak mau melewatkan moment yang langka itu, dia pun bergaya bak model dan berlenggak lenggok mencari pose yang bagus untuk berfoto.


Sepasang suami istri yang sedang berbulan madu itu menikmati waktu sore berjalan jalan berdua, ditengah keramaian kota mereka pun seakan ingin ikut andil didalam suasana yang sangat ramai.


Untuk menambah suasana bulan madu kedua mereka agar lebih romantis Rangga diam-diam membelikan istrinya sebuah pakaian tidur, karena cuaca saat ini sedang musim panas disana.


Mereka pun memutuskan untuk pulang dan beristirahat untuk kegiatan esok hari Rangga.


Begitu sampai dikamar hotel Rangga mengangkat telfon dari koleganya yang dari Malaysia, bahwa dia telah sampai di Singapura tadi sore.


Sedangkan Evita dia langsung mandi dan masih memakai pakaian handuk kimononya sambil membuka isi koper dan mencari baju tidurnya.


Namun Rangga memberikan dia godibag yang berisi lingerie berwarna biru pastel., dan tanpa basa basi Rangga pun langsung kekamar mandi dan mandi secepat kilat.


Karena dia ingin segera melihat istrinya mengenakan pakaian sexy itu.


Setelah dari kamar mandi Rangga melihat istrinya masih mengenakan handuk kimono ,


"Sayang kok ga dipakai baju tidurnya, kamu tidak suka ya",dengan acuhnya Rangga berbicara.


Namun sang istri membuka handuknya itu dan terlihat malu malu di depan Rangga, lingerie dengan warna biru pastel menempel ditubuh mungil istrinya itu begitu cocok dengan rambut yang terurai dengan wajah polis tanpa make up namun Evita masih terlihat cantik.


Rangga yang melihat istrinya mengenakan lingerie itu sangat takjub betapa indahnya tubuh Evita ,dengan lekuk tubuh yang sempurna, menambah gairah Rangga tambah besar.


"Mas kok aku dibelikan pakaian seperti ini, aku kan malu", sambil menunduk Evita berkata.


"Sayang kamu cantik sekali malam ini, mumpung masih disini gpp, kalau dirumah aku juga mengerti pasti kamu malu kan dan risih sama mamah dan Andini".


"Kita kan sedang bulan madu tidak apa apa kan ,sekali kali , biar kita cepat bisa kasih adik buat Tara",sambil berbisik Rangga di telinga Evita".


Namun tiba tiba suara perut keroncongan Evita berbunyi, hingga mengganggu saja suasana romantis yang Rangga ciptakan.


"Tenang aku sudah memesan makan malam untuk kita,sebentar lagi juga ada yang mengantar makanan kesini"


Tak lama room servis dari hotel pun mengetuk pintu kamar dan Rangga yang membukanya, dan makan malam untuk mereka pun sudah tiba.


"Dua piring nasi goreng special telah siap".


Memang Rangga tau betul dan sangat pintar mencari cara untuk membuat bahagia hati sang istri.


Setelah perut terisi mereka pun saling berpelukan di atas kasur, ditemani dengan kerlap kerlipnya lampu kota yang sangat indah, serta suara deburan air dari kejauhan menambah romantis suasana dimalam itu.


Dan lampu pun dimatikan hanya menyisakan lampu tidur dengan remang-remang mereka pun menikmati keindahan pemandangan diluar sana yang romantis


Dan malam kedua disingapur pun mereka habiskan dengan berduaan saja dikamar, dan mereka pun tak melewatkan kesempatan untuk bercinta dan bercumbu menghabiskan malam itu dengan tanpa gangguan dari siapapun.