EVITA

EVITA
Bab 55.



Andini merasa aneh melihat perubahan kakaknya yang sering merasa capek padahal tidak melakukan kegiatan yang berat.


Sejak Evita hamil memang sedikit pendiam dan tidak terbuka, Andini merasakan ada sesuatu yang disembunyikan kakaknya.


Namun Andini tidak berani menanyakan nya pada Evita.


Sedangkan waktu pernikahan Andini telah semakin dekat tinggal 2 hari lagi.


Evita pun menghampiri Andini yang sedang berada di kamarnya.


"Andini putri wijaya , sebentar lagi kamu akan menjadi istri mas Heru mu, terimakasih kamu selalu ada untuk kakak, maafkan kakak tidak maksimal membahagiakan kamu, kakak berharap kamu selalu diberikan kebahagiaan dan selalu diberikan kesehatan".


Andini pun tak kuasa menahan tangisnya ketika mendengar ucapan Evita padanya, bulir-bulir air mata yang dari tadi dibendungnya akhirnya meluap juga dan tak bisa tertahankan, sehingga keduanya larut dalam tangisan sambil berpelukan.


"Kakak sudah memberikan yang terbaik buat Andini, maafkan Andini bila tak bisa mengikuti semua keinginan kakak, Andini sangat bersyukur sekali mempunyai kakak seperti kak Evita, kakak segala-galanya untuk Andini", ucap Andini dipelukan kakaknya.


Rangga yang lewat di depan pintu kamar Andini pun mendengar mereka berdua menangis, lalu setelah Andini mengakhiri perkataannya , Rangga pun membuka pintu kamar andini dan tanpa sadar telah mengagetkan mereka berdua.


"Sudah nangisnya, apa masih mau dilanjutkan lagi.. apakah kalian tidak mau menyambut paman dan bibi ,mereka sudah datang lho dan sekarang ada bersama Tara dan mamah diruang tamu".


Andini dan Evita pun menyeka air matanya dengan tissue dan keduanya pun tersenyum dengan bahagia.


Mereka berdua pun keluar kamar untuk menyambut paman dan bibi mereka.


"Paman dan bibi sudah datang". Keduanya pun mencium tangan paman dan bibinya.


"Sehat kalian, ini calon pengantinnya",canda sang paman . Andini pun senyum tersipu malu.


"Paman dan bibi pasti belum tahu, sebentar lagi akan ada keluarga baru lho, Tara sebentar lagi akan punya adik". celoteh Andini.


Paman dan bibinya pun terkejut sekaligus bahagia mendengar berita gembira itu.


"Oh ya.. wah kabar baik ini, benarkah itu Evita?"


Evita pun mengangguk sambil tersenyum tanda mengiyakan pada paman dan bibinya.


"Semoga kamu dan calon bayi dalam kandunganmu selalu diberikan kesehatan, dan lancar lahirannya nanti", sahut bibinya mendoakan kehamilan evita.


Semua keluarga sudah kumpul , dan dirumah pun sudah ramai sehingga Tara senang melihat banyak orang dirumah.


Sehingga ketika semua keluarga berkumpul Tara lah yang menjadi bintang kecilnya dikeluarga karena dia satu-satu nya cucu pertama dari keluarga Rangga dan evita.


Evita sangat bahagia semua keluarga pun selalu mendukung setiap apa yang dilakukannya.


Paman Evita melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh Evita ,karena paman tau betul tentang sifat Evita bila sedang menyimpan sesuatu.


Tapi sepertinya mertua dan suaminya tidak mengetahui sesuatu hal yang disembunyikan.


Paman begitu sangat penasaran , namun ia percaya bila ada hal yang sangat sulit pasti Evita bisa memecahkan nya sendiri.


Karena paman tau Evita adalah wanita yang sangat kuat, karena perjalanan hidupnya lah yang membuat Evita menjadi wanita mandiri.


Namun ada kekhawatiran paman ,karena Evita sedang hamil, paman takut akan mempengaruhi kehamilannya.


Fokus Evita sekarang hanya pada kandungannya, soal masa lalu Rangga dan Lusy sudah tidak menarik lagi untuk Evita.


Karena Lusy adalah masalalu Rangga , sedangkan Evita dan Rangga harus tetap menjalani kehidupannya untuk masa depan , dengan membesarkan anak-anaknya kelak ,Evita tidak ingin anaknya merasakan hal pernah dirasakan oleh dia dan adiknya.


Evita yang kuat ,yang tak pernah mengeluh, dan sangat gigih berjuang keras untuk mendapatkan mimpi yang pernah ia bayangkan sebelumnya.


Tempat acara ijab kabul dan resepsi mendadak harus berubah , tadinya akan dilakukan Ballroom rumah catering ,namun karena satu hal acara pun berubah menjadi dirumah kediaman Arini.


Mulai dari pagi hari dirumah sudah sangat sibuk mempersiapkan untuk acara besok. tukang dekorasi pun sudah mulai mendekor sedemikian rupa agar ada pelaminan minimalis , tidak mewah hanya sederhana dan berkesan untuk pasangan pengantin.


Pegawai catering pun sudah ada yang datang mempersiapkan peralatan dan segala macam peralatan makan , tenda pun sudah full dipasang menutupi area halaman, dan kursi tamu pun sudah tertata sedemikian rupa sehingga terlihat rapih.


Mamah Arini pun ikut mengatur persiapan, karena dulu Arini pun pernah punya wedding Organizer juga , namun dengan berkembangnya usaha catering dan waktu itu Arini sering terkena serangan jantung,dan karyawannya pun di wedding organizer nya sedikit terkendala oleh sumber daya manusianya, maka terpaksa WO tersebut di bubarkan.


Dalam pernikahan Andini kali ini, mamah Arini lah yang mengatur semuanya, karena dia ingin memberikan sesuatu yang berkesan yang akan di ingat sampai kapan pun oleh Andini, karena pernikahan adalah pengalaman terindah seumur hidup.


Malam itu Andini sangat gugup sehingga ia begitu susah untuk memejamkan matanya untuk istirahat.


Sedari tadi Andini hanya bergulang guling kesana kemari saja. Tanpa merasakan rasa kantuk.


Andini pun ditenangkan oleh sang bibi, bibi pun memberikan satu gelas air hangat untuk diminum Andini, dan membacakan sholawat disamping Andini.


Lama kelamaan Andini pun hanyut dalam lantunan sholawat yang didendangkan oleh sang bibi, barulah Andini bisa memejamkan matanya.