
Evita Rangga dan Tara pun berpamitan.
"Hati-hati kalian dijalan, beri kabar bila sudah sampai rumah". Ucap paman.
"Assalamualaikum" salam Evita dan Rangga.
"Waalaikumsalam", jawab paman sambil berkaca-kaca.
Seraya paman dan bibi pun melambaikan tangan mengiringi kepergian mereka.
"Mas sebelum pulang kerumah aku ingin kita mampir kemakan anak kita ya" pinta evita.
Rangga pun mengiyakan dengan tanda senyuman merekah dari bibirnya.
Selama Evita di Bandung Rangga tak pernah merasakan tawanya selepas ini, seperti tanpa beban.
Evita pun sudah mulai ceria kembali dan tak habis senyuman diwajahnya selama diperjalanan.
Akhirnya sampai sudah diarea pemakaman umum dipinggir kota tak jauh dari rumah Rangga.
Evita pun menyempatkan berziarah ke makam putrinya.
"Assalamualaikum nak. Hari ini ibu datang , ibu kangen kamu nak, maafkan ibu ya baru sekarang ibu mengunjungi kamu".
Tak lama Evita berada di makam putrinya.
Evita ingin segera pulang menemui mamah Arini.
Setelah berdoa untuk putrinya,Evita pun bersiap pulang.
"Nak ibu dan ayah juga kakakmu pulang dulu ya, kapan-kapan ibu kesini lagi" dengan tatapan nanar pada sebuah batu nisan.
Dari awal Evita memang sudah mengikhlaskan bayinya itu karena dia sudah tahu tentang keadaan dan kondisi kehamilannya yang komplikasi dengan miomnya.
Mereka pun berlalu dari pemakaman itu dan menuju rumah.
Dari jauh terlihat seorang wanita paruh baya sedang duduk diteras menunggu kedatangan sang menantu dan cucunya.
Arini sudah tak sabar lagi ketika Rangga mengabarkan bahwa dirinya sudah berada dekat rumah.
Mobil pun perlahan masuk halaman rumah ,dan Evita melihat jelas mertuanya sudah menunggunya dari tadi.
Ketika Evita membuka pintu mobilnya.
Mamah Arini pun langsung menyambutnya dengan gembira.
"Assalamualaikum" salam Evita.
"Waalaikumsalam" jawab Arini.
Arini pun langsung memeluk menantunya itu yang ia rindukan selama tiga bulan terakhir.
"Kamu sehat nak?" tutur Arini.
"Maafkan mamah telah menuntut terlalu banyak darimu. sekarang Mamah ingin menjalani masa tua mamah dengan bahagia" ucap Arini.
Walaupun sakit hati pada Arini namun Evita tetap sayang padanya, seakan tak bisa tidak untuk memaafkannya.
Andini yang di beri kabar oleh Rangga lewat chat pun, ikut senang kakaknya sudah kembali lagi ke Jakarta.
......................
3 bulan kemudian kemudian.
Semenjak Evita kembali ke Jakarta, dan aktif lagi mengurus rumah catering, bisnisnya itu semakin naik dan banyak kontrak perusahaan yang memakai jasa catering nya.
Begitu pula dengan bisnis Rangga semakin naik daun.
Sehingga membuat para karyawan tambah semangat untuk bekerja.
Hingga Arini ingin menikmati masa tuanya di Semarang disalah satu yayasan yang iya dirikan dengan teman-temannya.
Karena Arini merasa dia sudah tidak lagi banyak membantu disana, keadaannya yang sudah semakin tua dan berperasaan. Ditengah kesibukan Evita dan Rangga Arini mungkin hanya menjadi beban untuk mereka.
Padahal tidak sedikit pun merasa terbebani dengan adanya Arini.
"Nak Mungkin akan lebih baik jika mamah tinggal disemarang bersama teman-teman mamah, mamah ingin menghabiskan masa tua mamah disana saja bersama mereka, kalian tidak perlu khawatir mamah akan baik-baik saja".
"Mamah yakin akan tinggal disana?" ucap rangga.
"Disana pun ada tenaga medisnya sehingga kesehatan mamah pun akan terjaga disana" , ucap Arini.
Padahal dalam hati Arini ia ingin menghindar dari anak dan mantunya karena Arini sudah tidak merasa nyaman tinggal bersama mereka.
Dirumah Arini sering ditinggal bekerja oleh Evita dan Rangga, karena kesibukan mereka yang semakin hari semakin sibuk.
Evita dan Rangga pun tidak bisa mencegah keinginan sang mamah. mungkin akan lebih baik jika Arini berada dengan kawan seusianya.
Andini pun yang diberikan kabar langsung datang dan mencegah Arini untuk pergi.
Namun Arini tetap pada pendiriannya, ia ingin tetap pergi ke Semarang.
Andini pun menyerah untuk membujuk Arini dan membantu mengemasi barang-barang yang akan dibawa oleh Arini.
Mereka hanya berdua berada dikamar Arini.
Sedangkan Heru dan Rangga ada diteras depan sedang berbincang dan menemani Tara bermain.
Evita berada di dapur dengan mba Mia membantunya menyiapkan makan malam.
"Mah..mamah yakin akan tetap pergi , nanti kalau Andini kangen mamah bagaimana?, setidaknya kalau disini kan dekat mah". Andini mencoba membujuknya lagi.
"Sudah nak mamah gak apa-apa, mamah hanya ingin suasana baru saja, selain itu mamah ingin memberikan kesempatan agar kakakmu bisa menjalani rumah tangga nya secara mandiri".
Arini pun sudah yakin dengan keputusannya. Dia merasa bersalah pada Evita dan tidak ingin mencampuri kembali rumah tangga anaknya.
Karena sekarang Evita dan Rangga sangat sibuk sekali dengan bisnisnya , Arini merasa sudah kurang perhatian dari anak dan menantunya.
Dan sebelumnya Arini video call dengan Teman-temannya akan mengadakan reuni di rumah yayasan nya itu , karena hanya Arini lah yang jauh yang berada tinggal jauh di Jakarta.
Dan mereka pun sama- sama senasib dengan Arini telah ditinggalkan oleh sang suaminya masing-masing.
Selesai mengemas ,Andini pun meninggalkan Arini di kamarnya, untuk membantu di dapur.
Arini pun berbicara pada salah satu temannya,
"Rin , besok kamu jadi kan kesini, kamu sendiri atau diantar anakmu?"
"Iya aku jadi , nih aku baru beres berkemas, paling aku nanti diantar anak ku, mana boleh ibunya pergi sendiri apalagi keluar kota".
"Baguslah kalau begitu , sampai jumpa besok ya Rin, da-da-h..".
Arini pun keluar kamar dan terlihat dimeja makan Andini dan Evita sedang menyiapkan menu hidangan makan malam.
Semuanya sudah terhidang rapih dimeja makan.
Semuanya lengkap sudah berada disana, dan mungkin malam itu adalah makan malam terakhir kebersamaan mereka.
Selesai mereka makan malam, Andini pun memutuskan untuk menginap disana sedangkan Heru pulang karena mamahnya sendiri dirumah ,karena art yang biasanya menemani mamahnya sedang cuti pulang karena ada acara di kampungnya.
Setelah isya Heru pun pamit pulang dan akan menjemput andini esok hari.
Andini pun tak melepaskan pelukannya dari Arini.
"Hei ini anak manja , kamu sudah tidak bisa lagi bermanja-manja ,ingat kamu sudah mempunyai suami" tuturnya pada Andini sambil mencubit pipinya yang chubby.
"Andini mau memeluk mamah sampai puas, karena besok-besok mana bisa Andini ketemu dengan mamah dan bisa seperti ini".
"Mamah disana jangan lupa untuk selalu mengecek kondisi jantung mamah".
"Tenang disana mamah akan baik-baik saja dan kalian disini juga sehat-sehat ya , mamah titip cucu mamah yang ganteng ini?" ucapnya sambil memangku Tara
"Oma..memang Oma pergi ga akan pulang lagi ke sini ?".
"Sementara Oma akan di Semarang dulu, nanti Tara boleh kesana menjenguk Oma?".
Mungkin dengan Arini pergi dia akan bisa menebus rasa bersalahnya pada Evita.