
Rangga pun mengantar Evita dengan sepeda motor nya, setelah motor dinyalakan Evita pun naik dibelakang kemudi Rangga, motor pun melaju dengan kecepatan sedang, mereka pun menikmatinya sambil berbincang.
"Menurut kamu bagaimana bila menikah dengan terpaksa, dengan cara dijodohkan dan tidak ada unsur cinta didalam nya, apakah itu bisa dijalani?"
Rangga memberi pertanyaan yang sulit bagi Evita .
" Menurutku tak masalah, yang terpenting keduanya (si pria dan si wanitanya) itu sudah saling mengenal l, dan keduanya mengikhlaskan perjodohan itu. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya seiring waktu berjalan, dan cinta akan tertanam dengan tulus bila di iringi dengan kejujuran, komunikasi yang baik dan tanggung jawab atas pernikahan tersebut" tegas Evita.
" Berarti kamu setuju bila kita menikah dalam waktu dekat ini"
to the poin sekali pembicaraan Rangga
" Maksud nya, kamu melamar aku secara tidak langsung, begitu kah?"
Sontak Evita pun kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Rangga seperti menjebak dirinya.
"Iya saya ingin melamar kamu untuk menjadikan kamu pendampingku"
"Jujur pada awal pertemuan kita saya sudah jatuh hati pada kamu, dan yang kedua pas dicafe, saya semakin mantap dengan pilihan saya. Dan saya pun masih sendiri apa salahnya!" tegas Rangga
" Apakah ini perintah ibumu?" kecurigaan Evita
" Tidak sepenuhnya juga, tapi memang aku sangat berharap kamu menerima lamaranku ini. Tenang tidak akan ada yang melabrak kamu aku ini belum mempunyai pacar" argumen Rangga.
" kita baru kenalan tadi lhoo..."
" Apakah kamu tidak akan menyesal dikemudian hari, bila mengetahui tentang masa laluku, dan tabiatku yang buruk ?"
Rangga pun tak mau kalah berargumen lagi.
"Semua orang berhak mempunyai masa lalu, dan setiap orang pun berhak menutup masa lalu itu untuk tidak diceritakan, soal sifat buruk tidak masalah aku pun punya sifat buruk. Dan orang menikah itu tidak mencari seseorang yang sempurna, namun dibalik kekurangan pasangan, kita bisa saling menutupi bahkan bisa saling melengkapi"
Evita pun sudah habis kata kata untuk berargumen.
"Aku pikir pikir dulu boleh?"
Rangga pun hanya merespon dengan sebuah senyuman dan anggukan saja yang terlihat dari kaca spion.
"Kita sudah sampai, inilah rumah ku tepatnya peninggalan dari kedua orang tuaku, aku disini hanya berdua dengan adik, mungkin dia sudah ada didalam."
Kreek... suara pintu terbuka,
"Assalamualaikum" salam Evita pada adiknya.
Terdengar suara dari kamar
"Waalaikumsalam, kakak kah itu"
"iya" jawab evita.
Andini pun keluar dari kamarnya sambil bertanya.
" Siapa kak , teman kakak?"
Rangga pun menyodorkan sebuah tangan kepada Andini
"Saya Rangga, calon kakak ipar kamu"
Andini pun mengernyitkan dahinya
"Sudah sana ke kamar lagi, jangan dengarkan dia, nih sekalian nasi goreng buat kamu dari nya"
Evita mendorong adiknya kedalam kamar sambil memberikan sebuah bungkusan
"Terima kasih ya calon kakak ipar" Andini berterima kasih sambil sedikit berteriak
Rangga pun melihat dengan seksama semua yang ada didalam rumah itu, mulai dari langit langit hingga lantainya.
"Besok malam Minggu boleh aku datang berkunjung kesini lagi?" pinta Rangga pada Evita
"Boleh saja, tapi jangan lupa ya bawa cemilan sendiri, maklum sudah tanggal tua tak ada anggaran mendadak buat tamu dadakan" jelas Evita
Mereka berdua pun tertawa lepas.
Evita dan Rangga pun mulai mengakrabkan satu sama lain, terus berbincang dan waktu di jam dinding sudah menunjukan pukul 21.00 wib.
"Sepertinya aku pun harus pulang, lebih tepatnya balik lagi ke rumah sakit" tandas rangga.
" iya, hati hati dijalan" jawab Evita.
clekk.. pintu pun ditutup Evita.
Banyak pertanyaan yang Andini lontarkan pada kakaknya,
"Sudah nanti kakak ceritakan nanti, sekarang sudah mengantuk pergi tidur sana" tik lampu tengah pun dimatikan.
......................
Suara kumandang subuh pun sudah terdengar di setiap masjid, seperti biasa Andini dan Evita pun bangun dan melaksanakan sholat subuh.
"Kak bagaimana kelanjutan cerita semalam" sambil merapihkan mukena dan menyimpannya diatas kasur
Evita pun menceritakan sedikit ceritanya agar adiknya tidak terus bertanya
"Kakak mengenal Rangga mulai dari dia menolong kakak saat diangkot ketika akan kecopetan, terus kemarin dia melamar kakak ketika perjalanan pulang' menurut kamu gimana de.. terima jangan?"
Andini pun agak berpikir keras lalu dia jawab dengan santainya
"Terserah kakak saja, dini tidak mengerti masalah orang dewasa"
Dihati Andini pun merasa lega akhirnya kakaknya sudah mulai membuka hatinya untuk seseorang. Dan Andini pun yakin Rangga memang layak untuk menjadi pendamping kakaknya.
Setelah selesai sarapan Andini pun pamitan berangkat sekolah, sedangkan Evita merapihkan rumah seperti biasanya.
Tepat pukul 08.00 terdengar suara motor yang berhenti depan rumah evita, suara motornya Rangga, Evita berpikir
"Ngapain dia pagi pagi datang kesini."
"Assalamualaikum" suara yang tak asing ditelinga Evita
"Waalaikumsalam " sahut Evita dari dalam rumah.
" Yuuk siap siap, mamah ingin ketemu calon mantunya, bisa kan sebelum ke cafe kamu temui mamah dulu,sebentar saja, please" pinta Rangga dengan menyatukan kedua telapak tangannya memohon
Evita pun tidak bisa menolak permintaan nya
" Iya tunggu sebentar saya siap siap dulu, kamu tunggu diluar saja"
Rangga pun tersenyum dan mengangguk tanpa berbicara.
Evita pun keluar dari kamarnya lalu mengambil sendal, lalu mengunci pintu rumahnya.
Rangga pun langsung menghidupkan motornya lalu membonceng Evita pergi.
Tidak banyak ngobrol selama diperjalanan , hanya dag dig dug perasaan hati Evita sekarang,
suara dalam hati evita
(Apakah ini benar pria yang tepat yang engkau pilihkan untuk ya allah, hamba tidak mau kecewa lagi ya allah)
Mereka pun sudah sampai parkiran rumah sakit, setelah motor diparkir dengan aman, mereka berdua pun langsung menuju ruang mawar, ruangan dimana mamahnya Rangga dirawat.
Setelah masuk ternyata ibunya Rangga sedang sarapan, dan Rangga pun menggodanya
"Yang lagi asiik sarapan, seneng banget sepertinya hari ini?"
"Eeh kalian sudah datang, ada Evita juga, wah tambah seneng mamah nih" mamahnya menyapa Evita
Evita pun tersenyum sambil cium tangan mamah nya Rangga.
Setelah selesai sarapan, dokter visit pun datang untuk mengecek kondisi ibu Arini, Rangga dan Evita pun tidak jauh jauh dari sana.
Dokter pun menjelaskan kondisi saat ini serta menghibur ibu Arini.
"Waah sudah bagus kondisinya, sudah stabil , kalau begitu hari ini juga ibu Arini diperbolehkan pulang"
"Serius dokter," timpal ibu Arini
Dokter pun berbicara pada rangga
" Iya ibu sudah boleh pulang hari ini, diharapkan terus dijaga kondisinya agar tetap stabil dan obatnya jangan lupa diminum tepat waktu"
"Nanti ada suster yang mengurus semuanya, kalau begitu saya permisi "
" Terimakasih dokter" ucapnya pada dokter.
Evita pun sudah gelisah dan pamit untuk berangkat kerja pada mamahnya Rangga
"Alhamdulillah Tante sudah diperbolehkan pulang, maaf Tante Evita tidak bisa mengantar Tante pulang tidak apa apa kan, karena Evita harus berangkat kerja ?"
"Iya tidak apa apa, nanti kamu main kerumah ya?"
ajak mamahnya Rangga
Evita pun mengangguk, sembari cium tangan lalu pergi ke cafe, ditemani Rangga ke loby.