EVITA

EVITA
Bab 41. Toko Bunga



Rangga pun memesan lagi kamar hotel yang sama dengan yang kemarin ditempatinya ,dan dengan kebetulan kamar hotel itu sudah kosong dan baru semalam yang booking baru saja check out.


Dan begitu sampai didalam kamar Evita begitu takjub dengan pandangan diluar jendelanya, bahkan lebih indah saat Rangga memvideokan nya waktu itu serasa, sungguh lengkap pemandangannya, selain dia bisa melihat lalu lintas dikota singapur disudut lain dia pun bisa melihat pemandangan alam yang sangat hijau nan indah.


"Sweet sekali perpaduan pemandangannya mas, kamarnya juga nyaman", memuji kamar pilihan suaminya.


Sedangkan Rangga tak menggubris celotehan istrinya malah sedang sibuk membuka laptopnya, karena ada beberapa file yang harus dia koreksi.


Sementara Evita melihat suaminya yang sedang sibuk dan dia tidak berani mengganggunya. Evita pun merasa mengantuk lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur dan akhirnya terlelap.


Sementara Rangga yang sudah selesai dengan pekerjaan nya lalu menutup laptopnya, sungguh senang melihat Evita tertidur, Rangga pun ikut tidur disamping istrinya sambil menggodanya.


Rangga tahu Evita tidak tidur sungguhan hanya bosan saja melihat suaminya sibuk sendiri.


Rangga pun menyalakan AC kamar ke 18°c, sehingga Evita kedinginan dan mendekati tubuh Rangga ,dan mereka pun begitu dekat dan akhirnya bulan madu kedua pun dimulai, dan sore itu mereka menghabiskan waktu dikamar.


Mereka pun terbangun dan dilihatnya pemandangan diluar jendela sudah berubah menjadi gelap, karena sudah pukul tujuh malam waktu setempat, karena terlihat dari jendela kamar yang terbuka dari mereka tiba sejak sore tadi. namun akan tetap aman tidak akan ada yang mengintip karena kamar mereka berada di lantai 10.


Evita pun segera pergi ke kamar mandi untuk mandi, dan setelah itu dia membangunkan suaminya.


"Mas bangun aku lapar",


Rangga pun segera terbangun dari tidurnya.


"Ayo lekas mandi sana, temani aku cari makanan", ucap Evita membatin.


Setelah Rangga bersiap mereka berdua pun keluar hotel untuk mencari makan malam.


"Mas sudah lama juga ya kita baru jalan jalan berdua malam seperti ini , semenjak ada Tara kita tidak pernah menikmati metime seperti ini".


Rangga hanya bisa tersenyum melihat penuturan istrinya itu. Sebenarnya bisa saja mereka pun metime setiap Minggu namun karena Tara masih belum mengerti mereka susah untuk mencuri waktu, karena Tara pasti ingin ikut.


Malam itu Evita ingin mencicipi makanan Jepang dan Rangga pun mencari restoran jepang di google.


Dan tak lupa Evita pun membungkus dimsum untuk jaga jaga bila dia kelaparan ditengah malam.


Sebelum kembali ke kamar hotel mereka pun berbelanja sedikit minuman dan camilan.


Begitu asing di mata Evita ternyata kehidupan diluar negeri sangat berbeda dengan di Jakarta.


"Mungkin aku akan kesasar mas bila tinggal diluar negeri, soalnya aku tidak mahir berbahasa Inggris tidak seperti kamu"


Mereka pun kembali ke kamar dan beristirahat untuk agenda besok Rangga meeting.


......................


"Kira kira kakakmu sudah sedang apa ya disana",ucap mamah.


"Yang pasti nya sedang makan malam seperti kita mah,tapi apakah kak Evita bisa makan tanpa ada sambal", jelas Andini.


"Kamu ini ,ya ada kali sambal disingapur, saus sambal botol",ucap mamah sambil semua tertawa.


Usai makan malam Tara pun minta susu, dan andinin pun membuatkan susu untuk Tara ,tak berselang beberapa lama Tara pun langsung tertidur. Dan Andini pun memindahkan Tara ke kamarnya.


Mamah pun kembali kekamarnya.


Sedangkan Andini sedang sibuk chatingan dengan seorang pria, Pria yang beberapa bulan lalu berkenalan dengan Andini disalah satu acara ulang tahun PGRI.


Andini belum mau mengenalkan pria itu pada mamah dan kakaknya, karena Andini belum mengenal bebet bobot pria itu, informasi tentang nya pun belum seratus persen Andini dapatkan.


......................


Evita pun menyiapkan sarapan untuk suaminya dan dirinya.


"Sayang selama aku meeting ,apakah kamu mau ikut bersamaku atau menunggu dihotel?" ,tanya Rangga.


"Kira-kira kalau aku ikut ada tempat atau pemandangan yang indah tidak untuk aku jalan-jalan selama menunggu mas meeting".


"Di dekat sana ada taman dan banyak toko toko juga disana , mas meeting hanya 2 jam kok. Karena teman mas dari Malaysia dia belum bisa datang hari ini".


"Berati kamu ikut mas ya , sekalian nanti pulangnya kita jalan-jalan ".


Mereka pun berangkat untuk ke tempat meeting Rangga, dan Evita menunggu di lobby,


Namun Evita bingung dia akan kemana takutnya kesasar , tapi Evita mulai merasa bosan ketika melihat keluar dia tertuju pada salah satu toko bunga dan Evita pun penasaran dan dia pun pergi ketoko bunga itu.


Evita pun sudah menyiapkan google translate di ponselnya.


Setelah Evita berada di depan toko bunga itu dia pun di hampiri oleh salah satu wanita muda ditoko bunga tersebut.


"Good morning, can I help you, what kind of flower are you looking for?"


"Morning, may I have a look first, maybe there are flowers that I like here", ucap Evita.


"Maaf Apakah dari Indonesia" tanya wanita muda itu.


"Benar saya dari Jakarta",jawab Evita dengan senangnya.


"Okelah kita gunakan bahasa Indonesia saja kalau begitu, kebetulan saya pun orang Indonesia" .sambut wanita muda itu.


"Saya lusyana" memperkenalkan namanya.


"Evita".


Karena toko baru saja buka dan keadaan masih sepi mereka pun berbincang di kursi yang tersedia di dalam toko itu.


"Saya senang sekali bisa berbahasa Indonesia disini, karena saya tidak fasih berbahasa Inggris". jelas Evita.


"Nyonya sedang berlibur atau acara kantor".


"Saya menemani suami saya sedang ada acara kantor disini, jangan panggil saya nyonya, panggil saja saya mba atau kakak, biar terasa lebih akrab". Menunjuk pada salah satu gedung disebrang sana.


"Apakah Lusy sudah lama bekerja disini"


"Lumayanlah mba sudah 5 tahun saya bekerja disini, namun saya pun bolak balik Indonesia Singapur, kemarin baru baru ini saya sempat pulang ke indonesia, tepatnya ke semarang".


"Sejak kuliah saya sudah tinggal di panti sosial mba ,setelah ayah saya meninggal dan saya mengalami amnesia permanen karena sebuah kecelakaan, itu yang ibu panti katakan pada saya, dan saya berada disini karena ayah angkat saya yang merekomendasikan untuk saya bekerja disini".


"Ooh maaf saya sudah membuka luka lama kamu",


"Nggak mba saya malah ingin mencari jati diri saya yang sebenarnya karena saya tidak bisa mengingat apapun , apakah saya punya saudara ataupun teman ,saya tidak tahu".


Evita pun begitu iba mendengar cerita dan kehidupan Lusy yang begitu menyentuh, dan Evita sangat kagum dengan ketegaran Lusy.


Mereka pun berbincang hingga dua jam lamanya.


Sehingga Rangga celingukan melihat Evita tidak berada di lobby, namun Rangga sudah mengaktifkan GPS diponsel Evita ,sehingga Rangga dengan mudahnya mencari keberadaan Evita.