EVITA

EVITA
Bab 85. Kabar mengejutkan 2



Mamah Arini pun telah pindah keruangan VIP, dan Rangga pun tengah beristirahat di sofa.


Rangga pun telah mengirim pesan pada Evita, bahwa kondisi mamah sekarang sudah baik-baik saja, dan sekarang sudah berada diruang VIP. Pesan pun sudah terkirim namun masih centang dua.


Tak lama Sarah pun datang kembali keruangan mamah Arini sambil membawakan makanan dan kopi untuk Rangga dan dirinya.


Rangga pun ragu akan makanan yang dibawa Sarah, namun perut Rangga saat itu sudah terasa lapar dan sudah lelah, tak sanggup lagi bila keluar kamar untuk mencari makanan.


Akhirnya Rangga menerima makanan yang dibawa sarah dan memakannya.


"Terimakasih ya untuk makanannya" ucap Rangga.


Sarah pun mengangguk dan merasa senang Rangga mau memakan, makanan yang ia bawa.


Namun Arini nampak tak begitu senang dengan kehadiran Sarah, terlihat dimata Arini begitu ketakutan ketika melihat Sarah.


Masih terbayang di ingatan Arini saat memergoki Sarah dan mamahnya, berencana untuk melakukan hal yang tidak baik pada dirinya, serta ingin merebut Rangga untuk Sarah.


[Flash back semalam]


Saat itu Arini akan menuju ruang tv setelah beres makan malam, tak sengaja Arini melihat Sarah dan mamahnya di halaman belakang sedang merencanakan sesuatu terhadap Arini dan Rangga.


"Aku kemarin gagal mah, Rangga ternyata sulit untuk ditaklukkan. Dia masih saja mengingat istrinya, padahal bila malam itu berhasil melumpuhkan hati Rangga, aku bisa mendapatkan bukti seakan Rangga telah bermain api dengan ku" kata-kata Sarah yang penuh dengan siasat.


"Nanti bila kamu berhasil merebut hatinya Rangga dari istrinya, mamah pun akan menguasai satu demi satu bisnis dari Arini. Kita akan kaya raya nanti" ucap salah satu teman dari Arini yang tak lain dari mamahnya Sarah.


"Kalau sampai tidak berhasil sia-sia dong mamah mengatur acara ini agar Arini mau ikut serta dan datang kesini" ujarnya dengan licik.


Arini pun dibuat syok dengan rencana mereka berdua, demi harta mereka melakukan berbagai macam cara demi keberhasilan rencana mereka.


Jantung Arini kambuh saat itu juga dan disana tidak ada siapapun kecuali Sarah dan mamahnya, namun mereka berdua tidak menolong dan sengaja membiarkan Arini kesakitan menahan sakit jantungnya.


Dan Arini pun langsung pingsan dan tidak ingat apapun, dan setelah tersadar 'ia sudah berada di rumah sakit.


......................


Arini pun bingung ingin menceritakan tentang semuanya pada Rangga, namun Arini sudah tidak mau lagi tinggal di yayasan, dia lebih memilih kembali ke Jakarta bersama rangga.


Dan Rangga pun tidak begitu suka dengan kehadiran Sarah, namun 'ia tidak mau memperlihatkan nya didepan sang mamah.


"Tante, Sarah pulang dulu ya, semoga Tante cepat sembuh dan bisa kembali lagi ke yayasan." ucap Sarah yang berpamitan untuk pulang.


Arini tidak berkata apapun, dan seakan jijik melihat tingkah Sarah yang pura-pura baik dihadapannya.


Tak lama suster Susi pun datang setelah Sarah pergi dan berpapasan saat didepan pintu kamar. Sarah pun melotot melihat kearah Susi.


"Assalamualaikum" salam Susi ketika masuk kamar Arini.


"Waalaikumsalam"Jawab Rangga dan Arini kompak.


"Pak saya kembali, bila bapak mau mencari sesuatu keluar atau pun istirahat, biar Susi saja yang menjaga ibu" ucap Susi.


Arini pun sudah tenang sekarang ada yang menemani dia selain Rangga.


"Iya, mungkin saya hanya istirahat saja, kamu tolong jaga mamah saya ya" jawab Rangga, lalu Rangga pun tertidur di sofa.


"Baik pak" jawab susi dengan logat khas Semarang.


Arini pun tertidur, sementara Susi menonton televisi yang ada diruangan itu.


......................


[Di Jakarta]


Evita pun mendapatkan pesan dari Rangga, dan Evita pun sudah merasa tenang.


"Alhamdulillah mamah sudah baik-baik saja sekarang, dan sudah pindah keruangan rawat." jawab Evita.


"Assalamualaikum" sebuah suara yang begitu tak asing dan di kenali Andini.


"Waalaikumsalam" jawab Andini sambil menuju keberadaan suara itu.


Ternyata suaminya Andini Heru yang datang menjemput Andini.


"Bagaimana keadaan mamah?" tanya Heru pada Andini.


"Kata kak Evita mau sudah jauh lebih baik kondisinya, dan mungkin akan dirawat dulu beberapa hari dirumah sakit" jawab Andini.


"Kak Evita besok akan ke Semarang menyusul kak Rangga, Tara pun diajak" tutur andini pada suaminya.


"Wah sayang sekali Heru dan Andini sepertinya tak bisa kesana kak, tolong sampaikan salam saja dari kami, semoga mamah cepat kembali pulih dan sehat lagi." tandas Heru.


"Sudah ga apa-apa kok, makasih ya, sudah menitipkan istrimu disini, berguna sekali ternyata dia. Dari kemarin membantu kakak menjaga Tara.


"Ga apa-apa kok kak, Andini malah senang sekali bisa main dengan Tara" tuturnya.


"Kalau begitu Heru dan Andini pamit pulang ya kak" ucap Heru.


"Tara aunty dan om pulang dulu ya." ucap Andini pada ponakan nya.


"Iya, aunty dan om nanti main lagi kesini ya" jawab sang ponakan.


Evita pun berkemas untuk besok, menyiapkan beberapa pakaian ganti untuknya dan Tara di Semarang nanti. Mungkin beberapa hari Evita disana, sampai memastikan kondisi mamah baik-baik saja.


......................


Sejak dari pagi Evita sudah bersiap untuk menemani Tara ke sekolah, peralatan mewarnai pun telah mereka bawa.


Tara sudah tidak sabar dengan acara tersebut.


Mereka pun sudah sampai di sekolah dan menuju ruang serba guna, yang biasa digunakan untuk kegiatan atau acara lainnya.


Teman-teman Tara pun sudah banyak yang datang, dan Tara pun dibimbing oleh ibu gurunya untuk mencari barisan tempat duduk sesuai dengan nomor yang tertera di absen.


Para pendamping murid menunggu disisi kanan dan kiri, serta memberikan dukungan untuk anak-anak mereka.


Para murid pun sudah memenuhi ruangan dan duduk ditempatnya masing-masing, dan acara mewarnai pun dimulai.


Semua murid telah mendapatkan selembar kertas untuk diwarnai, dan dengan bersemangat nya Tara segera menyelesaikan tugas nya itu.


Dengan telaten Tara membubuhkan pensil warna dan crayon pada media gambarnya dan bermain dengan warna warna yang menarik.


Dia sangat menyukai mewarnai dan menggambar, karena sejak kecil Tara sudah diperkenalkan oleh Andini tentang warna dan selalu diberikan sebuah gambar dan crayon untuknya.


Setengah jam sudah berlalu, namun gambar mereka masih belum selesai.


Ibu guru pun memberikan semangat pada anak-anak yang mengikuti lomba tersebut.


Sebuah musik dari lagu anak-anak pun di putar untuk menambah semangat para murid mewarnai.


Akhirnya Tara pun sudah selesai mewarnainya, dan ia pun membereskan pensil warna serta crayon nya. Juga memberikan kertas hasil mewarnainya pada ibu guru.


Evita pun menemani Tara untuk beristirahat sambil menunggu hasil pengumuman nya.


Tara dan Evita pun memakan camilan yang mereka bawa.


Akhirnya tiba saat nya pengumuman lomba mewarnai yang paling ditunggu-tunggu. Akhirnya Tara berhasil mendapatkan juara pertama dalam lomba mewarnai tersebut.


Wajah bahagia dan sumringah terlihat jelas di wajah Tara yang berbinar-binar. Sebuah piala kemenangan yang akan ia pamerkan pada ayah dan Omanya nanti.