
Pagi ini Andini, Evita juga mamah Arini pergi kerumah catering, sudah lama Arini tidak pernah melihat keadaan di rumah catering setelah dipasrahkan pada evita beberapa waktu lalu.
Ketika turun dari mobil Arini langsung disambut hangat oleh para karyawannya, tak terkecuali mba Ema yang sudah lama ingin mengucapkan terimakasih pada mertua Evita tersebut, sehingga diberikan kesempatan ia bisa bekerja di catering miliknya.
Arini terkenal dengan kedermawanannya, dia selalu memperhatikan kesejahteraan setiap karyawannnya. Tak heran banyak karyawan yang betah bekerja dengannya hingga belasan tahun.
Andini pun di ajak berkeliling mencicipi makanan yang direkomendasikan oleh mamah Arini, sementara Evita mengecek laporan diruangannya, sedangkan Tara sedang ditemani pak Nono bermain balon sabun di taman depan.
Setelah icip-icip Andini pun menentukan pilihan menu untuk acara hari Minggu nanti. Sementara menunggu Evita yang masih sibuk mamah dan Andini pun mengomentari keadaan catering yang semakin ramai pesanan setelah di pegang oleh Evita, dan pak Rama pun mengakui banyak perubahan yang di jalankan disini atas arahan Evita dan membuat semuanya semakin baik.
Mamah Arini pun semakin yakin untuknya melimpahkan warisan rumah catering untuk Evita. Sehingga untuk masa depan Tara nanti tidak akan sampai kekurangan.
Setelah semua pekerjaan evita beres, mereka pun kembali untuk pulang dan tak lupa membawakan urap daun pepaya untuk mba mia karena kebetulan hari itu ada menu urap dicatering.
Akhirnya sudah sampai rumah,dan Tara pun tertidur karena kecapean main tadi, Evita segera membawa Tara masuk dan menidurkannya kembali dikamar.
Sementara mba Mia begitu senang sekali dibawakan urap daun pepaya kesukaannya padahal dia tidak memintanya tadi.
......................
Hari jumat andini masih berakivitas seperti biasa dia berangkat kesekolah untuk mengajar.
Akhirnya hati Andini telah mantap untuk di ta'aruf oleh mas Heru, karena mas Heru pun sama halnya dengan Andini dia pun belum pernah pacaran.
Tak dipungkiri menurut teman teman seprofesinya Heru adalah pria yang alim dan sangat baik , begitu penyayang pada keluarga dan dia adalah anak tunggal.Sehingga Andini makin yakin dia adalah pilihan yang tepat untuknya.
Andini mengajar dikelas 3 SD dan Andini termasuk guru yang sangat disayangi oleh murid-muridnya. Soal acara ta'aruf ini teman seprofesi Andini disekolah tidak ada yang mengetahuinya, begitu pula disekolah tempat Heru mengajar pun demikian, mereka kompak tidak akan mengumbar dahulu tentang hal ini.
Andini pun bersikap biasa-biasa saja, namun beberapa temannya ada yang sudah mengetahui akan kedekatan Andini dan Heru.
Jam pelajaran pun telah usai namun Andini masih harus satu jam lagi berada di kantor untuk mengoreksi nilai ulangan harian murid- muridnya, Andini selalu menuntaskan pekerjaannya dan tak pernah menunda untuk menyelesaikan nya.
Setelah selesai Andini pun bergegas untuk pulang.
Ketika ditengah perjalanannya tiba tiba motor Andini mengalami ban bocor dan dia pun bertanya pada orang disekitar sana bahwa bengkel lumayan jauh dari tempat Andini berada.
Namun tiba-tiba Heru lewat dan Heru pun membantu Andini mendorong motornya ke bengkel, sedangkan motor Heru dibawa oleh Andini.
"Kenapa de motornya, kok di dorong",tanya Heru pada Andini.
"Eeh mas Heru, ini mas tiba-tiba bannya kempes , mungkin kurang angin, bengkel masih sangat jauh dari sini".
"Sini mas bantu , kita tukeran motor saja,kamu duluan cari bengkel,nanti mas menyusul".
Andini pun mengikuti apa yang dikatakan Heru.
Tak lama Heru pun sampai di bengkel motor sederhana, sedangkan Andini sedang membelikan minuman untuk dirinya juga Heru.
"Ini mas diminum dulu".
"Terimakasih ya , sudah membantu dini".
"Sudah tidak perlu sungkan , kebetulan saja kita tadi bertemu , kalau tidak kamu pasti mendorong motor itu sendirian". keduanya pun tersenyum.
"Pak tolong ban nya kempes ini, apakah kena paku atau kurang angin",ucap Heru pada bapak tukang bengkel tersebut.
"Sepertinya ini tidak bisa ditambal karena robekannya terlalu lebar, Paling ganti ban dalamnya saja mas".
"Ya sudah ganti saja pak".
Andini seakan masih agak sungkan karena mereka pernah bertemu beberapa kali namun tidak pernah sedekat ini, bisa ngobrol tanpa ada teman mereka.
"Untuk hari Minggu tidak perlu merepotkan tuan rumah , seadanya saja".
"Iya mas , dini tidak menyiapkan apapun kok ,cuma kak Evita dan mamah yang menyiapkan semuanya".
"Oh iya , mas mau memberikan ini pada kamu , titipan dari ibu, kamu pakai ya nanti hari Minggu".
Andini pun menerima sebuah godibag dari Heru, yang berisi pakaian. Andini pun mengangguk sambil tersenyum.
Setelah beberapa saat motor Andini pun telah selesai diganti bannya, dan sudah normal kembali.
Heru pun mengambil dompetnya dan mau membayar kan perbaikan ban motor Andini.
"Sudah mas biar Andini saja".
"Sudah tidak apa-apa". Heru pun membayarkan penggantian ban Andini ke bapak bengkelnya.
"Kalau begitu mas duluan ya , karena masih ada keperluan".
"iya mas ga apa-apa, terima kasih mas sudah membantu Andini mendorong motornya tadi".
"Iya tidak apa, tidak perlu sungkan, mas duluan, assalamualaikum". heru pun berlalu dengan tergesa.
Sementara Andini masih memandangi Heru sampai dia hilang dari penglihatan Andini.
Kemudian Andini pun pulang dengan hati yang masih berdebar-debar.
Akhirnya sudah sampai rumah juga. Evita yang sedang ada diteras rumah pun , menegur Andini yang sedari tadi terlihat berseri sekali.
"Tumben pulangnya telat de". Evita bertanya karena tidak biasanya Andini pulang telat
"Tadi dijalan motornya bannya bocor ,jadi dini harus ke bengke dulu, tapi untungnya tadi dijalan bertemu mas Heru, dia yang bantu dorong ke bengkel".
"Eeheem pantas saja mukanya berseri seperti itu", ternyata telah bertemu dengan sang pangerannya.
"Iih kakak mulai deeh , aku kan jadi malu". sambil berlalu menuju kamarnya.
Evita sangat kagum pada adiknya itu, sepeninggalnya orang tua mereka , Andini tidak pernah manja ,atau pun mengeluh dia selalu menerima apa adanya dengan ikhlas, bahkan dari SMP Andini berusaha membantu mencari uang untuk kebutuhan mereka sehari- hari.
Namun kini adiknya sudah dewasa dan sudah ada yang mau melamarnya. mungkin inilah saatnya Andini mempunyai kehidupan nya sendiri. Dan Evita harus rela melepaskan adiknya untuk pria yang dia cintai.
Sekarang Evita sedang dihadapkan pada masalah pribadinya sendiri namun di depan semuanya dia tidak mau memperlihatkan nya karena semua tentang Rangga dan Lusy masih penuh tanda tanya.
Sementara mamah Arini pun, mulai menaruh kecurigaan pada Evita, namun tetap menahan diri untuk bertanya.
Dan tak lama mobil Rangga pun masuk garasi dan Rangga pun disambut oleh sang istri dan Tara diteras rumahnya.