
Hari ini paman membawa Evita untuk menemui seorang teman nya yang berprofesi sebagai psikolog disalah satu tempat dikota Bandung
Dan Evita pun tidak menolaknya, Evita mengikuti semua saran dari paman.
Akhirnya Evita sampai di tempat praktek psikolog itu dan paman pun menjelaskan perihal kondisi Evita saat ini.
Evita pun mulai di tes kejiwaannya mulai di tanya nama,dan banyak lainnya.
Evita pun awalnya terdiam seperti biasa namun setelah dokter bertanya beberapa pertanyaan padanya dia pun menjawab dengan lancar, namun pada saat ditanya mengenai keluarga kecilnya evita hanya meneteskan air mata lalu tak lama ia pun menangis, dokter pun tak heran dengan perilaku pasiennya yang seperti Evita.
Dokter membiarkan Evita nangis sejadi-jadinya untuk meluapkan semua kekesalan yang ada dihatinya.
Dan tak lama tangisan Evita pun mulai reda dan Evita pun mulai berbicara.
"Aku telah kehilangan rahimku dokter, sedangkan mertuaku menuntut agar aku memberikannya seorang cucu lagi, aku tidak berdaya sekarang, aku sudah tidak punya rahim yang bisa untuk ku mengandung seorang bayi".
"Aku begitu sayang pada mertua ku aku ingin memberikan kebahagiaan padanya, karena dia telah begitu baik padaku dan adikku".
"Aku sekarang seorang menantu yang tidak bisa berbuat apa-apa".Tutur Evita dengan raut wajah yang berbeda seolah dia tidak dibutuhkan lagi, sambil terisak menangis.
Dokter pun membiarkan Evita berbicara ,setelah Evita bosan karena tidak ada lagi kata-kata untuk diutarakan Evita pun terdiam kembali.
Dokter pun mengijinkan paman untuk masuk keruangannya dan memberikan resep obat yang harus Evita minum setiap malam.
Dokter pun memberikan penjelasan kenapa sampai Evita mengalami depresi seperti ini.
"Saya rasa ada sesuatu yang membuat Evita depresi seperti ini, beberapa hal yang membuat seseorang merasa tertekan , bisa jadi karena pikirannya sendiri sehingga dia berhalusinasi tentang sesuatu yang sebenarnya tidak seperti apa yang dia pikirkan. Kedua karena dia memendam sesuatu hal yang sulit untuk dia utarakan, mungkin karena dia terbiasa melakukan apapun sendiri dan selalu menutupi dan memendam perasaan sendiri".
"Karena itu saat ini evita sangatlah butuh dukungan dan bantuan untuk dia bisa berdamai dengan diri sendiri dan dengan pikirannya". Ucap dokter.
"Jadi baiknya bagaimana dokter" Tanya paman.
"Perlakukan dia layaknya orang normal , Ajak dia bicara setiap hari ,entah itu mengobrol, bercanda ataupun biarkan dia bercerita tentang apapun yang ingin dia ceritakan, berikan dia hal-hal yang menyenangkan yang membuatnya tertawa".
Paman pun mengerti dengan penjelasan yang disampaikan dokter.
Kemudian paman dan Evita pun pamit dan keluar dari ruangan dokter tersebut.
Sesampainya dirumah Evita pun disambut oleh Tara putranya yang sudah menginjak usia 5 tahun.
Tara seperti mengerti apa yang sedang dialami oleh ibunya, dia langsung bertanya kepada Evita.
"Ibu, tadi ibu pergi kemana dengan kakek, kenapa Tara tidak diajak".
Evita hanya menatap sang anak kemudian dia pun langsung memeluk Tara dan menangis kembali.
"Maafkan ibu nak, maafkan..maafkan..".
Ucap Evita pada Tara.
Bibi pun menghampiri Evita dan dengan sangat lembutnya membelai Evita dengan penuh kasih sayang.
"Tara sudah memaafkan kamu , sekarang kamu tenangkan diri kamu, jangan terlalu larut dalam pikiranmu sendiri, bila ada yang mau kamu katakan ,bicaralah dengan bibi, agar hatimu lega setidaknya membuat beban pikiranmu berkurang".
Satu bulan sudah Evita dan Tara berada di Bandung.
Fisik Evita pun sudah mulai sehat begitu pula dengan bekas operasi sesar nya pun sudah mulai membaik.
Evita sudah bisa berinteraksi , walaupun terkadang dia pun sering menyendiri dengan tiba-tiba.
Namun bila di ajak bicara dia merespon namun bila disinggung dengan nama Rangga Evita tidak mau menjawabnya selalu mengalihkan pembicaraan nya ataupun terdiam.
......................
Sementara dijakarta Andini pun pamit pulang kerumah mertuanya, dan Arini hanya berdua dengan mba Mia ,sedangkan Rangga selalu pulang malam ketika Evita dibawa oleh paman ke Bandung.
Membuat reaksi Arini karena sebelumnya Rangga selalu pulang sebelum Maghrib.
"Nak , akhir-akhir ini kenapa kamu selalu pulang malam hari , padahal jam kerja hanya sampai pukul lima sore".
"Mamah kesepian sendiri dirumah, bertemu kamu hanya pada malam hari dan kamu pun sudah terlihat lelah pulang bekerja".
"Sekarang mau mamah bagaimana?".
Rangga tiba-tiba menjadi anak yang sangat susah diatur, setelah Evita tidak dirumah.
"Mamah ingin seperti dulu lagi kita berkumpul Evita dan Tara ada dirumah ini lagi".
"Mamah tau sendiri kan Evita berada di Bandung sekarang ,itu semua karena keinginan mamah yang selalu bicara soal inginkan cucu lagi, atau mungkin ketika kita ngobrol tentang sesuatu Evita nya".
"Dan Rangga juga menyalahkan diri rangga sendiri, kenapa Rangga bisa-bisanya berbicara lancang seperti itu pada Evita, Rangga sangat menyesal sekali mah". Dengan nada pelan Rangga berkata dan sambil terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Entah kapan Evita dan Tara akan kembali kerumah ini, Rangga tidak tau mah ,nikmati saja keadaan ini, sampai mereka kembali".
Rangga pun langsung menuju kamarnya dan tak keluar lagi dari kamar itu.
Arini pun mengingat kembali setiap kejadian yang terjadi, rasanya Evita tak pernah memperlihatkan kekecewaannya ataupun kesal atau pun marah.
Dimata Arini Evita menantu yang baik, mungkin saja ada perkataan yang membuat Evita membatin dan sungkan untuk dia ungkapkan.
Sekarang Arini hanya bisa menunggu sampai Evita sembuh dan dia mau kembali kerumahnya, namun Arini merasakan ada sesuatu yang kurang ketika ditinggalkan oleh Evita.
Mba Mia merasakan hal yang aneh pada diri Arini , seakan kembali ke sosok Arini yang dulu sebelum Rangga mengenalkan Evita pada majikannya itu.
"Bu, kenapa toh melamun terus",tanya mba Mia pada Arini.
"Aku kangen Tara dan Evita mba, rumah ini serasa sepi tidak ada mereka, Aku harus berbuat apa ya mba?".
Arini pun terus termenung dalam pikirannya sendiri.
Mba Mia pun bingung untuk menanggapinya.
"Sudah Bu, sekarang pikirkanlah kesehatan ibu sendiri sejak kemarin ibu makan nya sedikit dan kesehatan ibu tidak seperti biasanya, saya khawatirkan kesehatan ibu". ucap mba Mia.
Namun Arini tetap tak memperdulikan perkataan mba mia. Seolah tak ada lagi semangat hidupnya.