
Suster memberikan waktu cukup lama pada Evita untuk mengunjungi putrinya diruang NICU sebelum ia pulang kerumah.
Sedangkan putri kecilnya masih berada di sebuah kotak inkubator dengan berbagai alat medis terpasang ditubuh mungil nya itu.
Sekilas tidak tega melihatnya , seorang bayi baru lahir langsung dipasang beberapa selang infusan ditangan dan kakinya, namun itulah prosedur yang harus dijalani demi untuk bertahan hidup, mengingat terlahir prematur.
Dokter berusaha untuk mempertahankan nya hidup , Walaupun dokter sudah berusaha memberikan pelayanan yang terbaik, sesungguh nya Allah lah yang mempunyai kuasa atas hidup dan matinya mahkluk ciptaannya.
Sejauh ini belum ada perkembangan apapun , namun dokter melita merasa pesimis untuk bayi itu mampu bertahan.
Karena jarang sekali bayi lahir dengan prematur diusia yang sangat muda sekali bisa bertahan hidup.
Namun dokter pun sekuat tenaga akan berusaha untuk bisa menyelamatkan bayi Evita.
Kemudian suster pun mengingatkan Evita waktu kunjungannya sudah hampir habis.
"Nak kamu baik-baik disini ya, nanti ibu akan kembali lagi mengunjungimu, bertahan ya sayang". Evita pun tak mampu membendung rasa sedihnya karena sementara waktu akan berjauhan dengan sang putri.
Suster pun memberitahukan bahwa waktu nya sudah habis, Evita pun kembali keluar ruangan NICU dan bersiap untuk pulang kerumah, karena semua sudah menunggunya untuk pulang.
Dan Evita pun tak sabar ingin bertemu dengan Tara anak lelakinya yang beberapa hari telah ia tinggalkan.
Sekarang Andini dan Evita sudah di lobby rumah sakit dan mereka berpisah disana Andini pulang kerumah mertuanya dan Evita pun pulang kerumah Rangga.
"De kakak terimakasih sama kamu ya , kamu sudah menunda bulan madu kamu demi menjaga kakak disini". Ucap Evita.
"Kakak cepat pulih ya , jangan stres , nanti kalau Andini ada waktu luang Andini main kerumah , Andini kangen sama Tara,kakak hati-hati dijalan ya".
Kakak beradik pun berpelukan untuk berpisah pulang kerumah masing-masing. Dan mobil suami mereka pun telah beriringan menjemput mereka.
Evita pun masuk ke dalam mobilnya begitu pun Andini, dan mobil mereka pun berjalan berbeda arah.
Akhirnya Evita dan Rangga pun telah sampai dihalaman rumah, mobil pun berhasil terparkir, dari dalam rumah terdengar suara seorang anak lelaki memanggil ibu dan ayahnya sambil berlari keluar.
Evita pun keluar dari mobil dengan sangat berhati-hati sambil di papah Rangga.
Setelah melihat sang ibu berada didepannya Tara begitu terheran karena perut sang ibu sudah kempes dan tidak buncit lagi seperti tempo hari.
"Ibu , perutnya kok sudah tidak ada , apakah Dede bayinya sudah keluar?",
tanya bocah kecil itu.
"Anak ibu, senangnya disambut oleh jagoan ibu. Dede bayinya sudah keluar sayang".
Tara pun celingukan karena tak ada bayi bersama mereka, yang dikeluarkan ayahnya hanya koper dan beberapa kantong keresek.
"Dede bayinya mana, Tara ingin melihatnya".
"Dede bayinya masih dirumah sakit masih menginap disana untuk sementara".
Jelas Evita.
"Apakah Dede bayinya sakit ibu?", Tara pun mencecar pertanyaan pada ibunya.
Evita pun mengajak tara masuk kedalam rumah, karena Evita masih merasa kan ngilu diperut nya.
"Assalamualaikum". Evita pun langsung duduk di kursi ruang keluarga.
Sedangkan Rangga membawa koper dan beberapa kantong kresek lalu memberikannya pada mba Mia untuk dipilah.
"Waalaikumsalam". jawab mba Mia
"Ehh non Evita sudah pulang , Bu..Bu.. non Evita sudah pulang Bu..". Memangil Arini.
"Kalian sudah pulang, kenapa tidak memberitahukan mamah kalian pulang hari ini".
" Kami kan mau buat kejutan untuk Tara dan Oma", ucap Rangga.
Evita pun duduk di apit oleh Tara dan Arini.
Mereka pun berbincang dengan santai.
Mba Mia pun membawakan teh hangat untuk mereka. Dan senangnya tara telah berkumpul lagi dengan ibu dan ayahnya.
Alangkah senangnya tara melihat ibu dan ayahnya sudah berada dirumah kembali.
Namun hati Evita tetap gelisah memikirkan sang putri masih berjuang hidup untuk dirinya sendiri.
Putri kedua yang lahir dengan prematur dan kelahiran yang kedua untuk Evita dengan operasi sesar.