
Rangga pun kembali ke rumah sakit setelah urusan dikantor selesai.
Dan tak lama kemudian ketika Rangga akan menuju ruangan Evita , Rangga di hampiri oleh seorang suster, dan suster pun menyampaikan bahwa dokter melita ingin bicara dengannya.
Rangga pun menuruti perkataan suster tersebut dan mengikutinya ke ruangan dokter melita.
Tok..tok..tok
Pintu ruangan pun diketuk oleh suster dan terdengar suara dari dalam ruangan suara seorang wanita.
" Silahkan masuk".
Rangga pun dipersilahkan masuk oleh Suster dan disana terlihat dokter melita yang sudah menunggunya.
"Siang pak Rangga, maaf ada yang ingin saya beritahukan tentang perkembangan putri bapak , sampai hari ini".
"Kenapa dengan putri saya dokter?"
Rangga pun begitu penasaran dengan yang akan disampaikan dokter padanya, tidak mau berandai-andai dan menebak-nebak Rangga pun mengikuti apa yang akan dikatakan dokter melita.
Dengan sangat tidak sabar dada Rangga pun berdetak lebih kencang sebelum dokter mengatakan apapun pada Rangga.
"Begini pak setelah beberapa hari kami tim dokter anak yang menangani putri bapak, dengan terpaksa harus menyampaikan ini, bahwa paru paru putri bapak ada gangguan, dan jantung putri bapak pun dia tidak berkembang dengan baik dan ada pula masalah disaluran pernapasannya, kami harus tetap mengandalkan alat alat medis mungkin lebih lama dari perkiraan , sampai organ dalam ditubuh putri bapak dapat berfungsi normal , sepertinya putri bapak harus tetap berada di dalam inkubator hingga waktu yang tidak dapat ditentukan".
Bagaikan tersambar petir disiang bolong hati Rangga pun hancur sehancur hancurnya setelah mendengar penjelasan dari dokter.
"Jadi apa yang harus kami lakukan dokter untuk putri kecil kami".
Rangga pun langsung lemas ketika berbicara pada dokter.
"Kami tim medis akan melakukan yang terbaik untuk putri bapak , bantu dengan doa itu yang terpenting".
Jelas dokter melita menenangkan Rangga.
"Mungkin itu saja yang saya dapat sampaikan untuk sementara ini, saya akan terus memberikan informasi tentang perkembangan putri bapak".
Rangga pun pamit pada dokter untuk kembali keruangan Evita dirawat.
Dalam perjalanan menuju ruangan Evita Rangga begitu memikirkan perasaan hati sang istri bila mendengar hal ini, tapi Rangga berpikir mungkin sebaiknya ia tidak beritahukan dulu tentang kondisi putrinya , sampai Evita benar-benar siap mendengar semuanya.
Perasaan Rangga pun campur aduk dan bingung belum lagi sang mamah yang selalu bertanya tentang Evita.
Setelah berada didepan ruangan Evita, ia tidak langsung masuk, dan Rangga berpikir dia harus terlihat santai didepan Evita sehingga istrinya tidak akan curiga padanya.
Tak lama Rangga pun masuk kedalam kamar Evita.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam", sahut Heru dan Andini.
Dilihatnya Evita sedang tertidur diranjang khas pasien rumah sakit.
"Kak tadi kak Evita melihat bayinya keruangan NICU, kakak begitu sedih ketika melihat bayinya banyak terpasang alat medis, sebenarnya apa yang terjadi pada bayi kalian".
Andini menceritakan keadaan Evita tadi sewaktu ditinggal Rangga kekantor dan Andini pun bertanya pada Rangga perihal bayinya.
"Jelaskan pada dini kak".
Andini terus-menerus membujuk Rangga untuk bicara.
"Sebaiknya kita keluar , jangan disini nanti kakamu mendengarnya", jawab Rangga.
"Sudah sana kalian diluar biar aku yang menjaga kak Evita" , jelas Heru.
Kemudian Rangga dan Andini pun keluar kamar dan mereka pun berbicara di depan ruangan kamar Evita, tentang apa yang dokter melita jelaskan pada Rangga.
Sontak Andini pun langsung terkaget setelah mendengar penjelasan dari Rangga, lemas , sedih dan bingung apa yang harus ia katakan bila kakanya bertanya padanya.
"Kakak harap bila mamah menelfon jangan beritahukan tentang hal ini dulu, takutnya jantung mamah kambuh". ucap Rangga dengan tegas.
Andini pun mengangguk tanpa berkata , dia pun diam mematung di salah satu kursi yang ada didepan kamar Evita.
Sedangkan Rangga masuk kembali kedalam kamar Evita. Bergantian dengan Heru yang keluar kamar dan menghampiri istrinya Andini.
"Hei kenapa kamu , kok bengong begitu".
Tanya Heru pada Andini yang sedang terdiam dan mengeluarkan butiran air disudut matanya.
"Mas dini takut sesuatu hal akan terjadi pada bayinya kak Evita, apa yang bisa kita lakukan mas, dini tidak mau kakak sedih".
"Sudah cukup penderitaan kami sewaktu dulu kami tinggal berdua, dini tidak mau kesedihan itu terulang kembali". Ucap Andini sambil terisak tangis.
"Manusia hanya bisa berencana ,semua ketetapan hanya ada pada yang diatas, kita tidak bisa meminta ataupun mengubah takdir yang telah tertulis". Ucap Heru menenangkan hati sang istri.
......................
Arini sudah sangat tidak sabar untuk menunggu kabar dari Rangga yang tak kunjung menelfon atau pun menchat lagi.
Tara Arini titipkan pada mba Mia dulu dan Tara pun menurut untuk tetap dirumah bersama mba Mia.
Arini pun sudah siap dan tadi sudah meminta pak Nono untuk menyiapkan mobilnya.
"Tara sayang ,Oma mau keluar dulu ya ada keperluan sebentar , Tara sama mba Mia dulu Oma ga akan lama kok" , bujuknya pada sang cucu.
Tara pun mengangguk dan tak berkata apapun.
"Mba saya titip Tara sebentar ya , saya ga akan lama, bila kerepotan untuk kedapur tidak usah masak dulu nanti kita beli diluar saja untuk makan siang, yang terpenting jaga Tara saja". Perintah Arini pada mba Mia.
Mba mia pun mengangguk saja , apa yang diperintahkan sang majikan.
"Pak ayo kita berangkat sekarang",
Arini langsung masuk kedalam mobilnya.
Setelah jauh dari rumah pak Nono pun bertanya pada Arini.
"Kita akan kemana ya Bu".
Tanya pak Nono karena belum tau tujuannya akan mengantar Arini kemana.
"Oh iya saya belum kasih tau kita akan kemana, kita menuju rumah sakit biasa saya berobat pak".
"Oh siap Bu". Jawab pak Nono.
Dalam benak pak nono pun bertanya ,"apakah Bu Arini sedang sakit ya, sehingga sang majikan memintanya mengantarkan kerumah sakit tempat dia berobat selama ini".
Pak Nono pun tidak berani bertanya apapun pada sang majikan dia hanya seorang supir yang bertugas mengantar sang majikannya kemana pun sesuai perintah.
......................
Hanya 45 menit mobil pun sudah sampai dan terparkir di tempat parkiran rumah sakit, dan pak Nono pun menunggu ditempat khusus para sopir menunggu.
Arini pun bergegas menuju meja resepsionis rumah sakit tersebut dan menanyakan tentang keberadaan pasien bernama Evita putri wijaya pasien rawat inap.
" Nyonya Evita Putri Wijaya berada di kamar VIP ruangannya berada dilantai tiga Bu".
" Iya terimakasih ya mba".
Ucap Arini pada resepsionis tersebut.
Arini pun dengan tak sabar ingin segera melihat menantunya dirawat inap ,karena Andini maupun Rangga selalu melarangnya untuk kerumah sakit.
Tak lama Arini telah sampai di ruang VIP dan melihat Andini dan Heru.
"Assalamualaikum". Ucap Arini.
"Waalaikumsalam".
Sahut andini dan Heru dengan kaget nya melihat Arini yang berada berdiri didepan mereka.
Andini dan heru pun diam mematung seakan tidak bisa berbuat apapun melihat Arini telah berada didepan mereka.
"Mamah " , sapa Andini dengan gugup.
Andini tak membiarkan Arini masuk kekamar Evita , namun Andini langsung mengajak Arini berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
"Mamah sebaiknya ikut Andini dulu".
Sambil membawa paksa sang mamah pergi dari kamar VIP.
"Akan kamu bawa mamah kemana ".
Andini pun terus saja berjalan menyusuri ujung lorong tersebut dan hingga sampai didepan ruangan bertuliskan 'RUANG NICU'
Arini semakin heran ,mengapa Andini membawanya kesini.
Setelah Andini berbicara dengan salah seorang suster , suster pun membuka tirai jendela kaca dan terlihat disana alat inkubator yang didalamnya terbaring malaikat kecil yang sedang tertidur dengan beberapa alat terpasang ditubuhnya.
Arini menyaksikan semuanya dengan penuh tanda tanya dan Arini pun sekilas melirik kearah Andini.
"Disana ada cucu perempuan mamah yang sedang berjuang untuk kehidupannya, dengan banyak alat medis terpasang ditubuhnya, hanya dengan bantuan alat-alat itu dia bisa bertahan. Sejak dari kemarin kami disini bukan tidak mau mengatakan pada mama tentang hal ini, namun kami menunggu waktu sampai dokter mengatakan tentang kondisi bayi yang berada dalam inkubator itu secara pasti". Ucap Andini dengan lugasnya.
"Cucu Perempuanku, benarkah itu cucuku".
Arini begitu senangnya hingga ia meneteskan air mata kebahagiaan dan air mata kesedihan, sedih karena melihat seorang bayi yang sedang memperjuangkan hidup nya sendiri.