
Aktivitas hari ini Rangga berangkat ke kantor seperti biasanya, dan Tara hari ini dia jadwal sekolah diantar Evita setelahnya barulah Evita berangkat ke rumah catering.
Sengaja tempat sekolah TK Tara berada dekat dengan rumah catering sehingga pulang sekolah Tara bisa langsung menyusul sang ibu ketempat kerjanya.
Rutinitas Evita bekerja sekarang menyesuaikan dengan jadwal sekolah Tara.
Tara bersekolah hanya seminggu 3x begitu pun jadwal Evita bekerja.
Selebihnya Evita dirumah mengurus rumah, Tara dan juga suaminya.
Sekarang Evita harus berdamai dengan dirinya sendiri yang terlalu posesif pada suaminya.
Pagi itu Evita baru saja mengantar Tara kesekolahan, dan saat pulang sekolah nanti Tara akan dijemput oleh sopirnya pak Nono, lalu mengantarnya pada Evita yang berada di rumah catering.
Evita pun baru saja sampai di ruangan kerjanya, beberapa map pekerjaan sudah menunggunya untuk dikerjakan.
Tok...tok...tok...
Pintu ruang kerja Evita pun terdengar ada yang mengetuk.
"Masuk.." ucap Evita.
Pintu pun terbuka dan seorang office boy masuk dan sambil membawa sebuah nampan berisi secangkir teh panas dan dimsum kesukaan Evita.
"Ini Bu saya membawa minuman yang ibu pesan tadi...silahkan Bu, ada lagi yang perlu saya ambilkan?" tutur Imam seorang office boy baru.
"Terimakasih imam" tutur Evita.
"Saya permisi Bu.." imam pun keluar dari ruangan Evita.
Di balik pintu luar ruangan Evita imam pun menghela nafasnya.
"Ibu bos ternyata masih muda , dan baik lagi, kukira beliau sudah tua , ternyata pikiranku salah ,dia tidak seperti yang diceritakan paman" tandasnya.
Imam adalah office boy baru dicatering, dia baru seminggu yang lalu menggantikan sang paman bekerja dicatering, karena sang paman sakit .
Imam seorang anak yang mempunyai kekurangan dalam pendengarannya, dan bicara nya pun agak sedikit terbata bata, namun begitu dia rajin dalam bekerja.
Imam diceritakan sang paman , bahwa bosnya itu seorang wanita yang amat tegas, dan juga sangat disiplin , karena kekurangannya imam salah mengartikan tentang bos nya itu.
Evita pun mengambil cangkir yang ada dihadapannya lalu meneguk air teh yang masih panas tersebut.
Lalu 'ia pun langsung mengambil satu map dan membaca isi didalamnya.
Sebuah laporan penjualan bulan lalu yang sedikit mengalami kenaikan.
Omset penjualan yang mulai stabil kembali, tidak seperti bulan-bulan kebelakang saat ditinggalkannya ketika ia berada di Bandung.
Evita pun tidak menyangka 'ia bisa memegang kendali rumah catering milik mertuanya itu.
Evita bukan tipe wanita yang silau akan harta, yang setiap waktu bisa menghabiskan uang suaminya , menghamburkan uang dengan sesuatu yang kurang penting,arisan kesana kemari. Evita bukan tipe seperti itu.
Dia adalah seorang yang sangat pekerja keras, dari remaja ia sudah dihadapkan pada berbagai masalah hidup yang cukup berat.
Sehingga ketika ia sudah berumah tangga pun selalu menghargai apa yang namanya uang.
Evita pun menggunakan uang dengan seperlunya, ia pun sering ke salon atau pun berbelanja ke mall, namun anehnya Evita 'ia tidak tertarik untuk membeli barang-barang branded.
Evita tidak merubah pola hidupnya walaupun Evita kini sudah mempunyai penghasilan sendiri.
Dulu ketika masih bekerja di cafe Evita sempat berangan ingin memiliki sebuah usaha sendiri di bidang cafe.
Allah mengabulkan doa Evita, lewat mertuanya, kini Evita seorang atasan di rumah catering, melanjutkan bisnis keluarga Rangga.
Walaupun begitu Evita tetap tidak merasa tinggi hati dan tetap Evita yang rendah hati. Tidak berlaku semena-mena dengan tugas yang diberikan padanya dan berusaha menjadi atasan yang bijaksana.
Awalnya memang belum sanggup, bahkan Evita belum dilepas seratus persen oleh mertuanya.
Selalu merasa bahwa nantinya 'ia akan di buat kesulitan karena Evita tidak mempunyai cukup ilmu untuk dapat mengembangkan bisnis keluarga nya itu.
Seiringnya waktu Evita pun mau belajar dan terus memperbaiki dengan keterbatasan kemampuan yang ia miliki.
Alhamdulillah sekarang Evita sudah berhasil membawa perubahan ,dan semakin maju saja bisnis catering keluarga dari suaminya itu.
Semuanya pun tak luput dari dukungan dan peran suaminya Rangga yang ikut serta membantu Evita belajar dibelakang layar.
'Nikmat Mana Yang Engkau Dustakan' , kata-kata yang selalu menjadi semangat untuk dirinya. Selalu bersyukur atas nikmat yang belum tentu orang lain miliki.
Tak lama Tara pun sudah tiba di ruangannya, dan ia berkata ingin makan sesuatu, Evita pun mengajak tara ke resto yang ada dikantornya.
Dan Evita pun diberitahukan oleh Kasir bahwa ada pesanan atas nama pak Rangga, pesanannya berupa menu makan siang dan beberapa kue.
Sebab Evita hafal betul nama kantor dan alamat tempat suaminya bekerja.
Evita pun tersenyum melihat orderan itu, dan ia pun menitipkan sebuah kartu untuk disematkan pada pesanan makan siang suaminya.
......................
Dikantornya Rangga menghentikan pekerjaannya sejenak sambil melihat pemandangan kearah jendela luar.
Hari itu ia ada jadwal meeting siang setelah makan siang dikantornya.
Rangga pun berinisiatif memesan ke rumah catering beberapa kue untuk rapat nanti dan menu nasi soto untuk dirinya.
Lewat telfon Rangga memesan dan ia meminta diantar kan sekarang ke alamat yang Rangga berikan.
Dan Rangga pun memberitahukan bila ia sudah memesan kue untuk meeting dan nasi soto untuk ia makan siang.
Dan Rangga pun meminta OB untuk mengantarkan keruangannya ketika jam makan siang nanti.
Rangga sempat teringat kembali akan sebuah panggilan ke ponselnya kemarin sore.
Rangga yakin itu adalah Sarah, tapi Rangga tidak pernah memberikan nomor ponselnya pada Sarah, dan ponselnya itu pun dikunci ketika ia berada di Semarang.
Ketika perjalanan menuju Semarang Rangga ingat betul 'ia sudah memasang kunci layar diponselnya sehingga tidak akan ada yang bisa membuka ponselnya selain dirinya.
Rangga berpikir , mungkin saja Sarah mendapatkan nya dari sang mamah.
Rangga benar-benar kapok bertemu dengan perempuan seperti Sarah.
Untung saja waktu itu rangga tidak mudah tergoda oleh perempuan itu. Karena Rangga tidak mau berbuat kesalahan untuk kedua kalinya.
Kali ini Rangga tidak akan menecewakan Evita lagi.
Waktu istirahat pun sudah tiba, Rangga pun menelfon ke bagian office pantry nya , untuk membawa kan pesanan nasi soto yang telah 'ia pesan tadi.
Dan Rangga pun begitu senangnya , pesanannya telah diketahui oleh Evita, karena di menu makan siang ,Rangga menemukan sebuah kartu dari istrinya.
...Terima kasih sudah menjadi customer setia rumah catering....
...Semoga makan siangnya menyenangkan dan jangan lupa dihabiskan ya....
...Love you istrimu...
...~Evita~...
Rangga pun tersenyum membaca sebuah kartu ucapan itu.
"Ternyata kamu mengelola dengan baik bisnis mamah, sampai aku order pun kamu mengetahuinya, tetap seperti itu ya sayang, tetap menjadi Evita yang aku kenal" tuturnya dengan senyuman.
Lalu dengan lahapnya Rangga pun bersemangat untuk menghabiskan makanannya itu.
'Perhatian sekecil apapun akan berarti bila diberikan dengan tulus dari hati.'