
Hanya 5 menit dari toko itu Rangga pun sudah sampai di halaman rumahnya.
Saat sedang memarkirkan mobilnya, Tara pun keluar rumah karena sangat hafal dengan suara mobil ayahnya.
"Yeeah ayah pulang.." Tara pun menyambut kedatangan Rangga.
"Assalamualaikum, hai jagoan ayah.."
Rangga pun menghampiri sang anak dengan dua bungkusan kue di tangannya.
"Asiik ayah bawa oleh-oleh buat aku" seru sang anak.
Evita pun langsung keluar dan mendapati Rangga yang sudah berada di teras rumah.
"Alhamdulillah akhirnya pulang juga, aku khawatir lho kemarin handphone mu tak aktif sewaktu ku telfon, aku kira terjadi apa-apa, iih amit-amit" tutur Evita.
Tara pun langsung membawa dan membongkar kue yang dibawa Rangga di atas meja makan.
"Mas ga sempet kemana-mana itu tadi mas beli di toko langganan kamu" tuturnya.
Evita pun menanyakan keadaan sang mama setelah berada disana.
"Bagaimana mamah disana , apakah ia senang bertemu dengan teman-temannya?"
"Yah begitulah reuni yang dihadiri oleh 6 orang wanita paruh baya, dan mereka sangat bergembira sekali"
"Keluarga mereka pun awalnya tidak mengijinkan untuk kegiatan yang dilakukan oleh para mamah mereka disana, namun apa boleh buat semakin tua tingkahnya seperti anak kecil, bila tidak diijinkan akan ngambek dan ga mau makan"
"Biarlah sementara mamah berada disana, agar menemukan suasana baru, lagian teman-teman mamah pun kebanyakan tinggal disemarang kan"
"Tapi disana tidak terjadi sesuatu kan " cecar Evita dengan curiga.
"Disana baik-baik saja, rumahnya pun sudah banyak direnovasi, ya sedikit membuat mamah nyaman disana"
"Mas mau mandi dulu dari kemarin tidak ganti baju, bau keringat ini"
Evita pun mengikuti Rangga ke kamar, dan menyiapkan pakaian suaminya diatas kasur.
Lalu Evita pun keluar kamar nya dan mendapati Tara sedang asik membongkar kue yang ayahnya beli.
Tak lupa Evita pun sambil menyiapkan makan siang.
Setelah Rangga beres mandi , makanan pun telah tersedia di meja dan Evita menemani Rangga makan, sementara Tara masih asik dengan kue nya sambil nonton Spongebob.
Sambil makan siang Rangga pun akhirnya bercerita apa yang terjadi ketika ia , ditoko kue tadi.
Karena Rangga tak mau ada sesuatu yang di rahasiakan dari Evita.
"Tadi sewaktu mas di toko kue, mas tak sengaja bersenggolan dengan Lusy, dia sedang berada di sana setelah mas beres memilih kue, diitoko kue sangat ramai sekali"
"Ya maklumlah weekend jadi penuh dengan pengunjung, habis kue disana enak dan harganya pun terjangkau" ucap Evita.
"Dia pun tadi menanyakan kabar kamu, mas bilang baik-baik saja" tukasnya.
"Dia sendiri atau dengan siapa..?" tanya Evita.
"Mas ga tau, tidak memperhatikan,"
"Kenapa.. , kamu tidak usah cemburu sama dia, mas pun sudah melupakan dia sejak mas menikahi kamu" tuturnya sedikit menghibur.
"Lagian siapa mau dengan wanita yang tidak mengenal pada dirinya sendiri"
Evita pun sedikit malu karena suaminya tau isi dipikirannya , kalau dia cemburu bila nama itu disebut lagi oleh suaminya.
Namun Evita pun tak mudah percaya begitu saja, ia pun bersikap santai setelah kejadian tempo hari yang membuat dirinya pergi ke Bandung, dan sedikit membuat Rangga kapok akan hal itu.
Evita dan Rangga pun telah selesai makan siang, dan menyuruh mba Mia merapikannya ke belakang.
"Ibu Tara ngantuk.." celoteh anak kecil itu yang kekenyangan makan kue.
"Yuk bobo sama ayah saja , ayah pun ngantuk sekali".
Tara pun dengan senangnya akan tidur siang bersama ayahnya.
Evita pun ikut ke kamar dan memijat punggung suaminya sampai tertidur pulas.
Evita pun mengecek ponsel suaminya , dan tak mendapati apapun.
Evita pun ingin memakan cheese cake yang Rangga beli untuknya.
Tak lupa Evita membaginya untuk mba Mia dan pak Nono dibelakang.
Para pekerja dirumahnya tidak dibedakan dalam hal makanan, mereka memakan apa yang dimakan oleh sang majikan.
Evita pun banyak belajar dari mertuanya.Arini Selalu memperlakukan para pekerjanya dengan haknya mereka, sehingga banyak karyawan yang betah bekerja padanya.
Seperti dirumah catering berjalan sampai saat ini karena rasa tanggung jawab dan rasa memiliki yang tinggi, mereka semua dianggap Arini sebagai keluarganya.
Sampai sore hari Tara dan Rangga tidur dengan nyenyak nya.
Evita berada diteras sedang menyemprot tanaman anggrek Arini.
Sambil ditemani oleh alunan lagu dari ponselnya, group band
Mocca berjudul i' remember.
Evita pun turut bernyanyi karena salah satu lagi kesukaan Evita.
"Do you remember?
When we were dancing in the rain in that December
I remember
When my father thought you were a burglar
I remember
All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember
All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn"
"Yes I remember
All the things that we shared, and the promise we made, just you and I
I remember
All the laughter we shared, all the wishes we made, upon the roof at dawn"
Tak lama sebuah mobil terparkir dihalaman dan Evita sudah hafal dengan flat nomor yang tertera, tak lain adalah mobil Heru.
"Assalamualaikum" ucap Andini dan Heru.
"Waalaikumsalam" jawab Evita.
Andini pun membawa sebuah bungkusan tertera bolu lapis Surabaya.
"Waah bawa apa itu?" tuturnya.
"Ini kemarin ada saudara mas Heru dari Surabaya datang berkunjung, dan ini oleh-oleh untuk kakak dari ibu"
"Terimakasih.." iih kakak jadi makin enak lho dibawain terus makanan oleh kalian"
"Ga apa-apa kak , kami dirumah hanya bertiga takkan habis kue itu buat kami" ucap Heru.
"Mo-bil.. kak Rangga kok sudah ada, apa dia sudah pulang" tanya Heru memastikan.
"Iya mas Rangga sudah pulang dia sedang tidur, oh iya kakak lupa dia belum solat ashar, sebentar ya kakak bangunkan dulu" tuturnya.
Evita pun menawarkan cheese cake pada Andini.
"De.. dikulkas ada cheese cake, kalau kamu mau potong sendiri ya.." ucap Evita.
Dan Andini sedang membuat es teh manis untuk nya dan suami nya.
"Uiih mantap sekali ini.." Andini pun sambil membawa sepotong cheese cake.
Evita pun memotong-motong bolu yang dibawa Andini tadi.
Tak lama mas Rangga pun telah selesai solat dan menemani heru diteras rumah sambil berbincang.
Sementara Evita dan Andini sedang pesta cake didalam.
Tak lama Tara pun terbangun dan langsung disambut oleh Andini.
"Wah jagoan aunty baru bangun tidur ya, nyenyak Bobonya ditemani ayah ya.." tutur Andini.
Tara pun mengangguk karena nyawanya belum terkumpul semua.