
Sehari sebelum acara lamaran dimulai, semua keluarga sudah berkumpul walaupun tidak semuanya hadir,byang terpenting ada perwakilan saja, dan sebagian adalah tetangga dekat rumah.
Tenda depan rumah pun telah terpasang, dekor dan hiasan sedang dikerjakan oleh seorang yang ahli dalam bidangnya, sementara Evita sedang membantu bebenah di dapur mempersiapkan beberapa kue, walaupun besok makanan dipersiapkan dari catering milik ibu nya rangga, walaupun begitu tidak seratus persen gratis namun ibu Arini dan Evita sudah bersepakat ditanggung masing masing 50% dan menu nya pun tidak banyak hanya sesuai kemampuan Evita, namun ibu Arini berencana menambah beberapa menu sebagai hadiah untuk calon mantunya itu.
Tak lama kemudian ibu dan bapak RT pun datang sambil membawa satu dus buah buahan,
" Neng Evita ini ada dari bapak dan ibu tidak banyak hanya untuk tambahan saja, diterima ya"
" Ya ampun ibu, jazakumullah Khoiron, terimakasih ibu dan bapak sudah menyempatkan mampir, besok jangan lupa ya Bu, acaranya pukul 09.00 pagi"
Para tetangga dan saudara bercengrama dengan asiknya, namun rasa kantuk Evita sudah tak tertahankan, apalagi besok sebelum pukul tujuh perias sudah datang untuk merias Evita.
Evita pun berbicara pada salah satu saudaranya bahwa dia akan tidur terlebih dahulu.
Keesokan paginya Evita bangun pukul 06.00 dan segera mandi, bersiap menunggu perias datang.
dan halaman pun sudah berubah menjadi tempat jamuan menu berjejer nanti, dekor dan hiasan telah rapih, kursi untuk para tamu pun sudah berbasis rapih.
Akhirnya perias pun datang dan langsung merias Evita, wajah yang biasa tak pernah tersentuh eyes shadow dan blush on itu kini telah dilapisi make up, tambah terpancar kecantikan wajah evita, kini perias hanya tinggal memasang lipstik dibibir yang ranum itu, dengan warna soft pink senada dengan gaun yang akan dikenakannya.
Sempurna setelah dia mengenakan gaun nya, kecantikan pun terpancar dari raut wajah evita yang kali ini sedang merasakan bahagia.
Andini pun telah dimake-up sedikit dan para saudara perempuannya pun ikut dirias juga, para pendamping laki laki pun telah siap mengenakan baju batik.
Evita pun tetap berada dikamar untuk menunggu kedatangan Rangga. Ditemani Andini yang selalu menggodanya.
Tak lama kemudian catering pun tiba, dan langsung dirapihkan di mejanya masing masing kini, hidangan telah tertata semuanya dengan sangat komplit.
Teman teman Evita pun terlihat hadir di acara lamaran tersebut.
Tak berselang beberapa lama keluarga Rangga pun tiba, terlihat ibu Arini keluar dari dalam mobil dengan di papah Rangga dan saudara nya yang lain pun semua berkumpul di halaman dengan seserahan di masing-masing tangan mereka dan sangat senada dengan warna dekorasi nya.
kemudian semuanya pun dipersilakan duduk menempati kursi yang sudah disediakan.
Kemudian Evita pun dipanggil untuk segera melangsungkan acara lamaran ini, kata sambutan dari kedua pihak pun telah tersampaikan.
Dan akhirnya tiba saatnya Rangga mengatakan maksud kedatangannya yaitu ingin melamar sang pujaan hati
"Evita Putri wijaya apakah kamu menerima lamaranku l?"
"Iya saya menerima lamaran dari mas Rangga"
Tak perlu menunggu lama evita pun mantap dengan jawabannya.
Lalu mamahnya Rangga memasangkan sebuah cincin pada jari Evita sebagai tanda Evita telah resmi dilamar dan kini dia adalah milik Rangga seorang.
Semua keluarga pun mengucap Alhamdulillah karena acara pun berjalan lancar tak terkecuali paman Evita yang begitu bahagianya melihat sang keponakan bisa tersenyum lagi, semoga semuanya berjalan dengan lancar sesuai yang diinginkan sampai hari H.
Kedua keluarga pun telah berembug menentukan tanggal pernikahan Rangga dan Evita. Dan tanggal pernikahan pun akan dilaksanakan dua bulan setelah hari ini ditanggal 1 Februari.
Acara inti pun telah selesai, hingga waktunya semua pun menyantap menu yang sudah tersedia.
" Iihhh kamu kenapa sih menatapku terus, aku aneh ya dengan tampilan seperti ini."
"Nggak kok kamu sangat cantik dan anggun tidak seperti biasanya, saya susah berkedip jadinya." Rangga merayu Evita yang sedang mencicipi kue.
"Iih gombal banget siih kamu" Evita malu dibuatnya.
"Sayang nanti kalau kamu sudah menikah dengan ku, aku memiliki satu permintaan , yaitu agar kamu resign dari cafe," pinta Rangga pada Evita.
"Aku mau kamu diam dirumah menemani mamahku dan biar aku yang bekerja."
"Tapi Andini belum lulus sekolah mas." jawab Evita.
" Pokoknya kamu ga boleh kerja, aku akan membiayai Andini hingga lulus sekolah, bahkan sampai kuliah" tegas Rangga tak basa basi lagi.
Evita pun hanya mengangguk perkataan yang dilontarkan Rangga kala itu.
Hari itu untuk kedua kalinya Evita dilamar seorang lelaki namun Evita berharap semuanya akan berlanjut dan lancar hingga pernikahan .
Masih ada selintas bayang bayang pahit ketika kegagalan atas pernikahan nya terdahulu. Semoga semuanya berjalan sesuai yang diharapkan.
Acara pun telah selesai Rangga dan keluarganya pun berpamitan untuk pulang, dengan ciuman yang sangat hangat dari ibu Arini Evita pun hanyut dalam keharuan nya.
Begitu beruntungnya Evita mendapatkan seorang mertua yang begitu perhatian padanya, dan yang tak pernah melihat seseorang dari status sosialnya.
"Akhirnya acara pun selesai. Sungguh melelahkan ternyata, beberapa teman dekatnya dan teman dicafe pun satu persatu berpamitan.
"Ini tidak seberapa Evita nanti kalau kamu menikah akan lebih capek dari sekarang," ucap bibinya pada Evita.
Semakin sore semuanya pun perlahan sudah mulai dirapihkan, mulai dari dekor tenda yang dibongkar hingga meja prasmanan pun telah diangkut oleh catering, yang tertinggal hanya kenangan manis dihati evita.
Sambil membersihkan make-upnya Evita pun berbincang dengan paman dan bibinya,
"Paman bibi dan semuanya Evita mengucapkan terimakasih untuk hari ini , kalian sudah menyempatkan waktu untuk Evita, dan Evita ingin keluarga yang di Surabaya pun bisa hadir diacara pernikahan Evita nanti." Harap Evita
"Iya nanti paman akan sampaikan permintaan mu pada keluarga yang di Surabaya, yang terpenting kamu bahagia hari ini".
Andini yang sejak tadi selalu memegang tangan bibinya, terlihat tak mau berpisah, dulu dia sangat dekat sekali dengan bibinya itu.
"Andini bibi sangat kangen sama kamu, ternyata kamu sudah SMA ya."
" Andini pun begitu kangen sekali pada bibi, bibi jarang kesini siih" dengan polosnya Andini berkata
Malam pun sudah makin larut semua sudah pergi beristirahat l, Evita dan Andini pun sudah mulai menuju kamarnya, besok paman dan bibinya serta saudara yang dari Bandung pun akan pulang.
Dan mereka akan kembali pada saat Evita menikah nanti.
Sungguh kuasamu tiada tertandingi hal yang tadinya tak mungkin menjadi mungkin, kesedihan kini sudah berubah menjadi tawa. Rejeki, jodoh dan maut hanya Allah yang bisa menentukan. Sedangkan manusia hanya bisa berencana selebihnya Allah-lah yang akan menentukan baik dan buruknya untuk kita.