EVITA

EVITA
Bab 83. Dress Marun



Evita pun terlihat anggun dengan tatanan rambut yang begitu indah dan serasi dengan dress yang ia kenakan, cocok dengan setelan jas yang dipakai Rangga.


Rangga pun sampai ditempat acara tepat pukul 19.00 wib, yaitu di salah satu ballroom sebuah hotel mewah yang berada dilantai 10.


Rangga pun di sambut oleh penerima tamu disana. Dan terlihat para tamu yang mengantri bergantian untuk mengisi buku tamu dan tak lupa mereka pun di berikan kupon untuk menukarkan nya dengan godibag ketika pulang nanti.


Baru pertama kalinya Evita mau ikut Rangga ke acara seperti itu, biasanya Evita selalu menolak karena merasa kurang percaya diri.


Semua tamu yang hadir pun terpana melihat Rangga dan Evita masuk kedalam ballroom, bak raja dan ratu hingga menyaingi pasangan pengantin yang ada di acara tersebut.


Rangga pun mengenalkan Evita istrinya pada semua rekan kerjanya, hingga saat mereka berkesempatan memberikan selamat pada pasangan pengantin.


"Selamat atas pernikahannya Pak Gunawan dan Ibu Lidya, semoga langgeng sampai tua nanti" ucap Rangga pada kedua mempelai.


"Perkenalkan ini istri saya Evita" tutur Rangga.


"Senang bertemu dengan ibu dan bapak, selamat ya, semoga langgeng" ucap Evita sambil bersalaman pada pasangan pengantin.


"Wah ini rupanya nyonya Rangga, cantik sekali kenapa jarang diajak mendampingi pak Rangga bila ada acara, lain kali ikut ya Bu, biar kita ketemu lagi dan saya ada teman ngobrol" tandas Ibu Lidya memuji.


"Baiklah next time mungkin ya" jawab Evita.


Rangga pun menyudahi karena bergantian dengan tamu yang lain untuk mengucapkan selamat pada Lidya dan Gunawan.


Disana pun Rangga bertemu dengan para koleganya dari Malaysia. dan beliau pun membawa sang istri dan Evita pun mengenal pasangan itu.


"Hai Evita senang kita bertemu lagi, kamu tambah cantik saja ya, agak gemukan sekarang, so far tetap cantik?" ucap Alicia.


Evita pun cipika-cipiki dengan Alicia dan bersalaman dengan Erik.


"Hallo bro, wah senang sekali kita bisa bertemu lagi disini aku kira kamu tidak datang?" tutur Rangga pada Erik.


"Apa kabar bos Malaysia, bagaimana sudah isi belum istrimu?" tanya Rangga


"Doakan semoga secepatnya, sedang program kita." tandas Erik.


"Sepulang dari Singapura tempo hari istriku ini hamil anak kedua, namun bayi kami lahir prematur, dan hanya bertahan beberapa hari saja, dan akhirnya putri kami tidak tertolong."


"Maaf kamu tidak tahu, yang sabar bro, kalian masih muda masih bisa produksi lagi" ucap Erik.


Setelah mendengar perkataan dari Erik, Evita dan Rangga hanya bertatapan dan tidak menjelaskan apapun lagi.


Mereka berempat pun menuju tempat duduk dan dilayani oleh para petugas catering. Mereka pun menikmati menu yang tersedia disana. Mulai dari appetizer, main course, dan dessert.


Dilanjutkan dengan hiburan, potong kue pengantin dan pelemparan buket bunga.


Evita dan Rangga pun tidak melewatkan berfoto bersama dengan colega dan pasangan pengantin.


Evita dan Rangga pun menikmati acara sampai selesai, setelah itu Erik dan Alicia pun pamit untuk kembali ke kamar hotelnya, yang kebetulan satu hotel dengan ballroom tersebut.


"Esok kami nak balik lagi ke Malaysia, mainlah kau kesana sambil bulan madu yang ketiga" ajak Erik.


"Next time mungkin ya, sibuk bro" jawab Rangga.


Mereka pun berpisah di pintu masuk ballroom setelah menukarkan kupon dengan godibag.


"Sayang kamu tidak apa-apa kan,?" tanya Rangga.


"Ga apa-apa mas, I'm fine" jawab Evita.


"Tenang sayang, aku sudah mengikhlaskan, dan menerima kenyataan ini, jadi kamu tidak perlu khawatirkan hal itu lagi ya?" tandas Evita.


"Kita pulang sekarang" kata Rangga.


...........


Andini pun pulang pada pukul 20.30 wib. dan Tara pun tertidur diperjalanan saat arah pulang.


Pak Nono pun membawakan bingkisan yang Andini dapatkan diacara ulang tahun anak temannya itu.


Mba Mia pun terbangun dan membantu Andini membawa Tara masuk kekamarnya.


Evita pun begitu senang sekali, banyak pujian untuk dirinya diacara tersebut. Hingga ia pun senyum-senyum sendiri.


"Kamu kenapa sayang, senyum-senyum sendiri gitu"


"Aku antusias sekali kolegamu sangat memuji penampilanku, aku tidak malu-maluin kamu kan sayang di acara tadi?" ucap Evita.


"Makanya kamu kalau diajak ga pernah mau sih, masa iya tidak ada yang menghormati kamu seorang istrinya Direktur." tandas Rangga menghibur.


Dua jam perjalanan menuju rumah karena malam itu adalah malam minggu, jadi dijalan agak sedikit macet, dan mereka pun agak malam sampai rumah.


Dan akhirnya mereka pun telah sampai di halaman rumah, terlihat sudah sepi dan lampu ruang tamu pun sudah dipadamkan.


Evita pun mengambil kunci cadangan didalam tasnya dan membuka pintu rumahnya dengan perlahan sehingga tidak menimbulkan suara yang membuat mereka terbangun. Kemudian kembali menguncinya.


Lalu mereka pun masuk kamar dan menguncinya. Rangga pun buru-buru menuju ke kamar mandi karena dia sudah tidak tahan sejak dijalan tadi menahan ingin buang air kecil.


Evita pun sudah melepaskan perhiasan nya satu persatu, saat Evita membuka dress-nya tak sengaja Rangga sudah ada dihadapan Evita, dan Evita belum mengambil baju tidurnya. Tiba-tiba Rangga memeluknya dari belakang.


Sebab Rangga tergoda kembali dengan melihat lekuk tubuh Evita yang memperlihatkan pakaian dalamnya berisi sepasang gunung kembar yang membuat Rangga terpedaya olehnya.


Rangga pun mulai memberikan sentuhan pada tengkuk Evita, sehingga istrinya pun merasakan kegelian dengan sentuhan yang Rangga berikan.


Wajah mereka semakin mendekat, tanpa terasa bibir mereka pun telah berpaut satu sama lain, hingga tidak tahu siapa yang memulainya, Rangga pun langsung ******* bibir evita dengan lembut. Hingga membuat wanita itu memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut nan menggairahkan itu di bibir mungilnya.


Akhirnya Evita pun hanyut dalam suasana ketika Rangga menyentuh sembulan gunung kembar Evita, dan mereka pun meneruskan perjalanan ber*umbunya hingga satu sama lain mengeksplor ke arah sensitif mereka, hingga mereka pun sama-sama memenangkan pertandingan malam itu.


Evita pun dibuat kelelahan oleh aksi Rangga malam itu yang bisa membuat Evita merasa nyaman kembali ke dunia kenik-matan.


Akhirnya keduanya pun langsung tertidur dengan saling berpelukan dibawah selimut yang menutupi seluruh tubuh mereka. Seakan Rangga tak ingin melepaskan Evita jauh darinya,


Sementara Evita pun masih tersadar lupa dengan riasan wajahnya yang masih menempel dan belum 'ia hapus.


Saat Rangga sudah tertidur pulas Evita pun langsung menuju kamar mandi dan mengambil dasternya, lalu duduk di meja riasnya untuk membersihkan makeup yang masih menempel di wajahnya.


Rangga pun menyadari istrinya tidak ada disampingnya, ia pun menarik kembali Evita untuk tidur bersamanya, namun gairah Rangga pun kembali lagi dan mereka pun mengulanginya sekali lagi hingga puas Rangga melakukannya, Evita pun menuruti saja apa yang diinginkan suaminya itu.


Sampai Rangga pun benar-benar telah kelelahan dan menyudahi permainan nya itu.


Mereka pun lalu tidur dengan rasa bahagia.


Keesokan paginya.


Terlihat didapur mba Mia sudah bangun dan sedang memasak untuk sarapan, sedangkan Andini tidak membantu karena masih tertidur karena kecapean.


Begitu juga dengan Rangga dan Evita. Namun tak lama Evita pun terbangun karena mendengar bunyi di ponsel Rangga beberapa kali dan sebuah pesan yang masuk setelahnya.


Evita pun mengenakan pakaiannya dan membereskan baju yang berserakan dilantai kamarnya. Kemudian membuka pesan yang masuk ke ponsel Rangga.


Sebuah pesan dari suster di yayasan yang merawat mamah Arini, mengabarkan bahwa mamah masuk rumah sakit dari semalam karena jantungnya kumat.


Evita terkaget dan langsung membangunkan suaminya dan memberi tahukan pesan dari suster.


(Mas, ibu terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit karena semalam keadaan nya pingsan setelah mengeluh sakit di dadanya, saya panik dan baru mengabari mas rangga pagi ini, saya harap mas Rangga bisa ke Semarang untuk melihat keadaan ibu).