EVITA

EVITA
Bab 67. Pelukan Pertama Dan Terakhir



Evita masih ditangani dokter dan kini berada diruang UGD.


Sedangkan Rangga menghubungi Andini memintanya untuk kerumah sakit dan memberitahukan bahwa bayi nya telah meninggal dunia.


Rangga harus mengurus jenazah putrinya dan tidak ada yang menjaga Evita.


Sontak Andini pun kaget mendengar berita itu dan Andini pun memberitahukannya pada mamah arini.


Tak perlu waktu lama Andini dan Heru langsung menuju rumah sakit.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit Andini menghubungi paman dan bibinya dibandung untuk memberitahu tentang kabar duka ini.


Paman dan bibinya pun langsung berangkat ke Jakarta setelah mendapatkan kabar itu.


Setelah sampai dirumah sakit Andini langsung menuju UGD dan mencari kakaknya, sedangkan Heru menuju kamar jenazah untuk menemani Rangga siapa tau butuh bantuan.


Ketika Heru sampai dikamar jenazah melihat Rangga sedang memandangi putrinya yang sudah terbujur kaku.


Bayi yang baru seminggu dilahirkan belum sempat merasakan air susu ibunya dan belum merasakan pelukan kedua orang tuanya kini telah lebih dulu berpulang pada sang pencipta.


"Mas yang sabar ya, yang ikhlas menerima semua cobaan ini, insyaallah anak ini akan menjadi jalan untuk kedua orang tuanya menuju surga nya Allah. Aamiin". Ujar Heru memberi Rangga semangat.


Diruang UGD Evita pun telah siuman, sadar dari pingsannya dan Evita pun menanyakan perihal anaknya yang sudah tidak ada.


"De , bayi kakak sudah meninggal , putri kakak sudah diambil kembali, sekarang antar kakak melihat bayi kakak untuk yang terakhir kalinya, kakak ingin menggendong dia, kakak ingin memeluk dia".


Andini pun melihat kearah dokter jaga yang berada disana ,dokter pun memberikan kode pada Andini bahwa diperbolehkan Andini membawanya.


Suster pun mengambilkan kursi roda dan Evita pun menduduki kursi roda tersebut , lalu mereka pun pergi kekamar jenazah.


Setelah Evita berada di kamar jenazah , melihat Rangga tengah beres memandikan sang putri nya yang sudah meninggal.


Evita pun bangun dari kursi roda lalu berjalan dengan perlahan mendekat kearah jenazah sang putri.


Sebelum dikafani Evita melihat putri kecilnya itu sudah tak bergerak dan langsung menggendong dan memeluk sang bayi tanpa ada yang menghalanginya.


Dengan penuh kasih sayang Evita menciumi bayi itu, dengan penuh rasa kasih sayang Evita pun berkata sambil menangis.


"Nak kamu sudah tidak sakit lagi sekarang , maafkan ibu tidak bisa menjagamu dengan baik selama didalam kandungan, maafkan ibu , maafkan nak". Semakin menjadi tangis Evita.


Rangga pun langsung mengambil bayi itu dalam pelukan evita.


"Sayang sudah ya, putri kita harus segera dikafani, kasihan dia".


Evita pun melepaskan pelukannya dan memberikan jenazah bayinya pada Rangga.


Dengan seksama Evita menyaksikan jenazah bayinya dibungkus oleh kain kafan, sampai terbungkus dengan sempurna.


Disanalah moment pertama dan terakhir kalinya Evita dapat melihat wajah sang putri.


Evita pun masih terus menangis namun tangisan nya pun mulai melemah diiringi dengan tubuh Evita yang sudah lemas karena syok.


Dan akhirnya Evita pun ambruk kembali pingsan, suster dan Andini pun membawa kembali Evita keruang UGD.


Sementara Rangga tengah di jaga oleh Heru karena Heru melihat Rangga yang sudah terlihat pucat, mungkin karena kurang istirahat beberapa hari kebelakang karena menjaga Evita dirumah sakit.


Jenazah bayi nya pun telah siap untuk dibawa pulang , dan sebelumnya Heru telah minta mba Mia untuk melapor ke pak RT setempat agar dibantu menyiapkan semuanya untuk pemakaman.


Semua urusan administrasi dirumah sakit pun sudah beres.


Rangga pun menunggu Evita sadar dari pingsannya.


Evita sendiri yang menggendong bayinya selama di perjalanan menuju rumah ditemani Andini.


Evita telah membawa bayinya pulang namun dalam kedukaan bukan dengan rasa kebahagiaan.


Sementara dirumah sudah banyak para tetangga yang datang untuk melayat ,tak terkecuali paman dan bibinya Evita pun sudah hadir disana, menunggu kepulangan Evita dan bayinya.


Setelah sampai dirumah dengan penuh hati-hati Evita membawanya kedalam dan membaringkannya di ruang tamu yang sudah disediakan.


Evita pun diapit oleh Andini dan bibinya disamping jenazah bayi nya.


Dengan tatapan kosong Evita hanya duduk mematung terdiam tanpa merasakan apapun.


Tidak menangis hanya diam membisu.


Dan pak RT pun sudah mendapatkan kabar bahwa pemakaman sudah siap , lalu jenazah bayi pun disholatkan oleh beberapa orang yang berada disana.


Dan tak menunggu lama , mereka pun langsung menuju tempat pemakaman. Rangga sendiri sebagai ayahnya yang menggendong sendiri jenazah sang putri ketempat peristirahatan terakhir nya.


Sebelum berangkat Evita pun mencium bayinya untuk yang terakhir kalinya, Tanpa penyesalan sama sekali di raut wajah Evita, dia pun telah merelakan dan mengikhlaskan bayinya dan Evita pun sudah tak menangis lagi mungkin air mata Evita sudah habis terkuras selama beberapa hari kemarin.


Pemakaman pun telah beres dilakukan dan semoga orang pun sudah mendoakan almarhumah bayi Evita yang diberi nama 'Mentari Putri'.


Semua orang dari pemakaman pun sudah pulang dan Evita tetap mematung seperti orang yang depresi.


Andini pun membawa Evita kekamarnya agar lebih tenang. Kemudian Evita pun berkata


" Putri ku apakah sudah beres dimakamkan?".


"Iya kak sudah beres semuanya kak". Jawab Andini.


Evita hanya memberikan respon mengangguk saja.


"Kakak sekarang makan ya". Membujuk Evita


"Aku tidak lapar, aku tidak bisa makan sedangkan anak ku tidak bisa merasakan Asi ku saat ini, aku makan untuk siapa, dia sudah tenang ,dia sudah tidak sakit lagi". Evita pun terus berbicara sendiri.


Andini pun tak tahan melihat kondisi kakak nya sekaligus cemas dengan keadaan kakaknya yang semakin ngelantur perkataan nya.


Andini pun memutuskan meninggalkan Evita sendiri dan keluar kamar serta berbicara pada bibi, dan Arini tentang kondisi Evita saat ini yang memprihatinkan.


Evita seakan terpukul karena kehilangan bayinya, dan merasa terguncang jiwanya, hingga dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan melupakan semuanya.


Tara yang ada dihadapannya dan memanggilnya pun tak di hiraukan nya, Evita mungkin terkena baby blues.


Rangga pun merasa bersalah pada Evita karena telah berbicara yang menyakiti hati Evita ketika di ruang NICU.


Rangga pun menghampiri Evita dan meminta maaf pada nya berulang kali, namun Evita tidak menggubris nya.


Harapan Evita untuk mempunyai keturunan pun sudah tak bisa lagi ia penuhi, karena ia sudah tidak memiliki rahim lagi.


Rangga yang sudah melenyapkan rahim dalam tubuhnya, namun mengapa Rangga pula yang menyalahkannya.


Evita seakan dipersalahkan, dan kini bayinya pun tak terselamatkan.


Rangga pun terus menggenggam kedua tangan istrinya dan sambil menangis menyesali tindakannya ketika dirumah sakit.


" Mas minta maaf, mas tidak memperdulikan perasaanmu, mas egois, mas yang salah. Tolong Evita kamu jangan seperti ini, disini ada Tara yang butuh kasih sayang dan perhatian dari kamu".