
Evita pun pulang dengan wajah yang segar, setelah tadi dia sempat memanjakan dirinya disebuah salon dekat rumahnya.
Rambutnya yang panjang pun sekarang sudah terlihat sangat cantik dengan model rambut keriting gantung.
Andini pun begitu terpana dengan model rambut kakaknya itu. Bak melihat bidadari, Andini pun melotot menatap sang kakak dari kejauhan.
"Benarkah ini kakak ku, masyaallah cantik" sekali" tutur Andini.
"Heran ya, melihat kakakmu ini yang cantiknya luar biasa, makanya jangan nyinyir sama emak-emak ber-daster, kalau dandan kelar hidup lho..." tandasnya.
Tara pun menatapnya dengan begitu dalam, sehingga tak mengenali sang ibu.
"Hey sayang, kok Tara melihat ibu seperti itu?"
tuturnya pada sang anak.
"Ibu cantik sekali, ibu mau pergi ya sama ayah" ucapnya.
"Iya, ibu mau menghadiri undangan acara pernikahan teman ayah, tidak sekarang tapi besok sore,Tara mau ikut?" tanya Evita pada Tara.
"Pasti disana membosankan tidak ada anak-anak yang ikut kan ibu, Tara lebih baik dirumah sama aunty, ibu pergi dengan ayah saja" celoteh anak lima tahun itu.
Evita pun tersenyum lalu dia pun masuk ke kamarnya.
Rupa Evita memang sangat cantik dari lahir, dengan bola mata yang bulat, dihiasi dengan bulu matanya yang lentik, alis yang tebal berbentuk, hidung yang mancung, bibir yang berwarna merah muda, dan kulitnya yang putih. Juga kepribadiannya yang begitu baik, semakin menambah nilai plus dalam dirinya. Tak salah Rangga memilih Evita untuk jadi pendamping hidupnya.
Evita kini menyadari bahwa dirinya sudah tak muda lagi, namun Evita rajin sekali merawat dirinya untuk tetap tampil mempesona didepan sang suami.
Tak menampik diusia Rangga yang sudah menginjak kepala empat, biasanya seorang pria itu ada kecenderungan untuk puber kedua, karena manusiawi diusia yang sudah matang seorang pria akan menjadi lebih menarik perhatian lawan jenisnya.
Apalagi yang kurang dari seorang Rangga, seorang pebisnis muda, sudah bekerja sejak dari kuliah, sudah mapan, bisnisnya pun telah berkembang cukup pesat.
Evita pun sempat berpikir ingin mengubah penampilannya, karena terganggu dengan sebuah foto ketika Rangga ke Semarang.
Evita pun ingin menunjukan bahwa Evita pun bisa berpenampilan seperti wanita muda lainnya.
Tak lama Rangga pun pulang dari kantornya, karena hari Jumat biasanya Rangga sering pulang cepat.
Evita pun menyambut sang suami dengan senyuman yang merekah diwajahnya.
Rangga terkesima dibuatnya, melihat tampilan sang istri berbeda dari biasanya.
Rangga pun mengulum senyum saat dia melihat Evita, menggelengkan kepalanya tanda tak percaya.
"Mas kamu kenapa? ada yang aneh ya penampilan aku?" tanya Evita.
Andini yang sangat senang melihat hubungan kakaknya sudah membaik seperti semula.
Tidak seperti kemarin banyak sekali tangisan dan kesalah pahaman antara Rangga dan Evita.
Saat berada dikamar Rangga pun langsung tergoda kembali dengan istrinya itu, Rangga pun melayangkan sebuah kecupan dibibir ranum Evita, yang disambut dengan begitu hangat oleh Evita hingga mereka berdua pun masuk kembali kedalam kenikmatan yang tak bisa ditahan lagi.
Satu persatu baju pun telah Rangga lepaskan.
Mereka pun bercumbu mesra layaknya seorang pasangan yang sedang dimabuk asmara. Mereka pun terbawa suasana hingga Rangga berhasil menanggalkan semua kain yang ada di tubuh Evita. Rangga pun berhasil dipuncak kemenangannya yang telah membuat ular berkepala naganya itu masuk kedalam ruang kecil tak berpenghuni.
Evita pun di buat KO oleh Rangga yang terkulai lemas, setelah ular berkepala naga milik Rangga berhasil membuat ruang tak berpenghuni Evita tersebut dimasuki oleh penghuni asing milik rangga.
Rangga pun dibuat kaget saat Tara mengetuk pintu kamarnya.
"Ayah ibu, Tara mau pergi ke mini market depan dulu sama aunty dini, Tara pergi ya da-da-h" pamit Tara, Andini yang sengaja membawa Tara untuk mengalihkan anak itu mengganggu ayah dan ibunya.
Rangga pun semakin terbuai oleh aksi Evita yang memancingnya kembali, akhirnya Rangga pun melakukannya sekali lagi, hingga membuat Evita benar-benar menyerah.
Mereka pun kelelahan hingga enggan bangun dari tempat tidur, tapi waktu sudah hampir Maghrib dan Evita pun bangun dan pergi kekamar mandi, namun Rangga pun tak mau kehilangan kesempatan 'ia pun menyusul Evita untuk mandi bersamanya.
Cukup lama Andini membawa Tara ke mini market, saat dijalan menuju pulang Tara melihat topeng monyet yang sedang beraksi, Tara pun meminta tantenya untuk menonton sebentar pertunjukan itu.
Dibuat senangnya anak kecil itu dengan melihat tingkah lucu topeng monyet.
Evita pun sudah keluar dari kamar mandi dan berpakaian, dia pun mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
Lalu Rangga meminta Evita membuatkan teh manis hangat untuknya. Rangga pun duduk diteras rumah sambil memandangi bunga anggrek milik mamah.
Rangga pun teringat akan mamahnya yang beberapa hari ini tidak mengabarinya.
Namun Rangga selalu menanyakan kabar mamah Arini lewat suster yang ada disana.
Tak lama Tara pun pulang dengan Andini, dengan membawa Snack dan jajanan seperti kue pukis dan cilok.
Tara pun menghampiri ayahnya dan bercerita bahwa dia melihat pertunjukan topeng monyet yang membawa pikulan, mendorong gerobak, dan memakai topi.
Evita pun datang sambil membawa dua gelas teh hangat.
"Wah Seru sekali, cerita apa sih nak ibu juga ingin mendengar cerita Tara" ucap sang ibu menambah kebahagiaan sang anak.
"Nih kak kue pukis, tadi dini beli didepan mini market, ternyata makanan murah meriah tak kalah enak dengan makanan mall kan?"
Sambil menyodorkan bungkusan berisi kue pukis pada evita. Mereka pun menghabiskan jajanan itu dalam hitungan menit saja sebelum suara adzan berkumandang.