EVITA

EVITA
Bab 70. Menjemput pulang



Sementara usaha rumah catering pun terbengkalai tak ada yang menghandle, pak Rama pun mengetahui kalau atasan mereka Evita berada di Bandung.


Seperti berjalan yang tanpa kepala, sulit untuk mengendalikannya, yang ada hanya diam ditempat.


Pak Rama pun berinisiatif untuk menelfon Rangga, menanyakan perihal Evita kapan akan kembali ke Jakarta.


Dan sementara rangga yang menggantikan tugas Evita, karena Rangga dan Evita telah ditunjuk Arini untuk mengurus bisnis catering milik nya.


Sekarang Rangga lah yang memegang semua kendali baik perusahan dan rumah catering.


Permasalahan dirumah tangga nya membuat Rangga tidak fokus untuk bisnisnya.


Pak Rama pun mengakui bahwa setelah Evita jarang sekali datang untuk mengontrol rumah catering, banyak pelanggannya yang tidak lagi memakai jasa catering mereka.


Pak Rama pun mengkhawatirkan kelangsungan usaha catering akan semakin menurun tanpa ada atasan yang mengendalikan.


Karena biasanya Evita selalu meng-Up kembali customer yang memakai jasa catering mereka disetiap bulannya.


Semenjak Evita dikabarkan hamil anak kedua, Evita sudah jarang sekali menginjakan kakinya ke rumah catering.


Apalagi terdengar bahwa Evita sementara akan tinggal dibandung, makin tipis saja harapan untuk rumah catering bisa maju kembali.


Namun Rangga memastikan bahwa kondisi akan tetap stabil walaupun sementara waktu Evita cuti untuk memulihkan kondisi nya.


Rangga pun setiap Minggu selalu menanyakan kabar tentang Evita dan Tara.


Namun Rangga belum diperbolehkan untuk menemui mereka.


......................


Dua bulan kemudian.


Dengan telaten dan kesabaran paman dan bibi telah merawat Evita dengan baik, Evita pun pulih dari depresi dan baby blues yang dideritanya.


Pada siang hari itu, ketika Evita sedang berada diteras rumah,Paman menghampiri nya dan mengajak Evita berbicara mengenai Rangga. Sementara Tara sedang tidur siang di kamarnya.


"Evita, sekarang kamu sudah kembali pada Evita yang paman kenal. Apakah sekarang kamu sudah siap kembali kepada suamimu Rangga".


Evita terdiam dan hanya menatap kearah jalan.


"Kasihan dia lama tidak bertemu dengan istri dan anaknya. Setiap Minggu Rangga selalu menanyakan kabarmu pada Paman".


"Paman sudah memberitahukannya untuk menjemputmu pulang ke Jakarta".


"Walau bagaimana pun Rangga itu masih suami kamu, paman mengajak kamu kesini hanya untuk memulihkan kondisi kamu, sekarang kamu sudah baik-baik saja, dan waktunya kamu kembali pada keluarga kecilmu".


Evita hanya menghela nafas.


"Baiklah paman Evita akan kembali ke Jakarta".


Tanpa Evita ketahui paman telah menelfon Rangga semalam, mengabarkan untuk Rangga datang ke Bandung.


Tak berapa lama terlihat sebuah mobil parkir di halaman rumah. Dan Evita pun mengenali mobil itu.


"Mas Rangga.." ucap Evita dengan nada pelan.


"Assalamualaikum" ucap Rangga pada paman dan Evita.


"Waalaikumsalam" jawab paman.


Lalu Rangga pun cium tangan pada paman dan bibi.


"Sayang.." sapa Rangga pada Evita.


"Mas.." Evita pun mencium tangan suaminya.


Keduanya pun terasa kaku dan agak sedikit canggung satu sama lain. Karena sudah tiga bulan mereka tidak bertemu.


"Kalian silahkan ngobrol berdua, paman tinggal dulu masuk kedalam ya".


"Mas ,selama ini aku ingin mengetahui dari mulutmu sendiri, siapakah Lusyana itu?"


Rangga pun sontak kaget kenapa tiba-tiba Evita menanyakan hal itu,tapi memang selama ini Rangga dan mamahnya belum bercerita tentang perempuan yang waktu itu datang kerumah ketika acara pernikahan Andini dan yang menemani Evita sewaktu disingapur.


"Baik sekarang mas akan ceritakan tentang dia pada mu".


"Dia adalah mantan pacarku dulu sewaktu aku kuliah di Semarang, awalnya kami akan menikah namun gagal karena perbuatan dia sendiri ,berselingkuh di belakangku. Dan aku juga tidak tau kabar dia setelah itu, dan aku baru bertemu dia kembali dan sekaligus tau ketika disingapur bahwa dia amnesia". Tutur Rangga pada istrinya.


"Dan aku sudah tidak ada perasaan lagi padanya, karena kamu lah yang sudah mengisi hatiku".


"Sekarang maukah kamu memaafkan aku?".


"Aku sudah memaafkan mu mas, tapi aku sudah tidak bisa memberimu anak, bila mamah mu menuntut ingin cucu lagi bagaimana?".


"Tidak mamah tidak begitu lagi sekarang kamu tenang saja ya,mamah sudah tau cerita tentang kondisi mu sekarang , aku yang salah tidak berbicara padamu setelah operasi itu terjadi".


"Sekarang kamu mau kan ikut aku pulang ke Jakarta?"


"Aku mau ikut kamu pulang ke Jakarta ".


Tanpa ragu Evita mengiyakan ajakan Rangga.


Evita pun lalu masuk kekamarnya dan mulai berkemas dan bibi pun menghampiri Evita dan membantunya memasukan baju-bajunya kedalam koper.


"Kamu yakin sudah siap untuk kembali ke Jakarta Evita?". Tanya bibi.


"Aku sudah yakin, kasihan mamah di Jakarta mungkin kesepian tidak ada aku dan Tara".


"Baiklah paman dan bibi mu disini pun selalu mendoakan agar rumah tangga mu baik-baik saja,buanglah rasa egois kalian ,saling memahami itu akan lebih baik". Tutur bibi sambil memberi nasihat.


Kemudian Tara pun bangun dari tidurnya,dan dia bingung dengan ibunya yang sedang memegangi koper dan baju.


"Ibu.. kita akan kemana, apakah kita akan menemui ayah?".


Evita pun langsung mengangguk dan memberitahu bahwa ayahnya sudah berada disini.


"Iya sayang, kita pulang ke Jakarta,dan di luar ada ayah mau menjemput kita".


"Benarkah..".


Tara langsung menuju ke depan dan memeluk ayahnya.


"Ayah... Tara rindu sekali dengan ayah , kenapa lama sekali ayah baru menjemput". Tuturnya dengan polos


"Ayah juga kangen Tara, makanya ayah datang kesini, maafkan ayah ya baru jemput sekarang" sambil memeluk Tara dengan penuh kasih sayang.


Paman pun senang dan bahagia Evita dan Rangga bertemu kembali, dan paman pun mengijinkan Evita dan Tara untuk pulang ke Jakarta.


"Rangga paman percayakan kamu untuk menjaga keluarga kecilmu, jangan kamu sakiti lagi hati istrimu, mungkin kali ini paman memaafkan kamu namun untuk yang kedua kalinya kamu jangan harap akan dapat maaf dari paman".


Rangga hanya bisa tertunduk dan mengakui kesalahannya.


"Kali ini Rangga berjanji tidak akan menyakiti hati Evita lagi paman". ucap Rangga pada paman.


Evita pun sudah berganti pakaian dan keluar dari kamarnya sambil membawa koper.


Pemandangan yang Rangga lihat kembali ketika Evita berdandan natural hanya memakai bedak dan sedikit pemerah bibir tipis yang membuat bibir Evita terlihat merah merona.


Namun tubuh Evita sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Karena selama dibandung Evita jarang sekali makan.


Tapi Rangga sangat bersyukur Evita sudah kembali sehat seperti sediakala.


Tak luput dari perhatian Evita melihat Rangga pun sedikit kurus badannya. Mungkin karena tidak ada yang mengurusnya.


Namun Evita tetap memikirkan mamah Arini bagaimana kabarnya sekarang?