EVITA

EVITA
Bab 34. Cerita Masa lalu



Evita pun telah sampai dirumah catering dan ia pun disambut pak Rama , dan Evita memilih memeriksa pekerjaannya di meja favoritnya yaitu dipojokan ruang yang berada di ballroom, dan sambil bersantai menikmati pemandangan para pegawai yang lalu lalang serta melihat beberapa customer yang sedang taste food.


Seperti biasa tak lupa segelas jus strawberry dan dimsum kesukaannya menemaninya dikala dia bekerja.


Setelah pekerjaannya selesai , ia pun melanjutkan menghabiskan sisa dimsum dan jus yang masih tersisa.


Kemudian Evita menyerahkan beberapa dokumen pada pak Rama, dan tugas Evita sudah selesai ia pun bergegas untuk pulang.


Pak Nono pun selalu siap untuk mengantar Evita pulang kerumah. selama raberada di luar negeri, pak Nono ditugaskan Rangga untuk selalu mengantar Evita atau pun mamah Arini bila akan keluar rumah.


Pak Nono adalah sopir kepercayaan ibu Arini yang sudah belasan tahun setia bekerja pada ibu Arini.


Evita pun telah tiba dirumah , sore itu diruang keluarga , terlihat mamah sedang membaca majalah sedangkan Tara sedang menonton film kartun. Sedangkan Andini baru keluar dari kamar.


"Assalamualaikum", salam Evita.


"Waalaikumsalam", jawab mamah.


"Rangga tadi kasih kabar ke mamah bahwa dia sudah sampai Singapur, katanya kamu dihubungi hp kamu tidak aktif".


" Masa sih mah", lalu Evita pun mengecek ponselnya dan ternyata benar mati.


"Ternyata ponsel Evita mati, lowbat" sambil mengangkat ponselnya dan tersenyum.


"Anak ibu sudah wangi , pasti sudah mandi dong" sambil mendekat kearah Tara.


"Sudah dong mah sama aunty dini mandinya", ucap Tara.


"Ya sudah mamah mau mandi dulu ya, biar seger, ga bau matahari".


Tara pun mengangguk.


Setelah berada di kamarnya, Evita melihat foto pernikahannya dengan Rangga yang terpajang di tembok kamar, dan Evita sempat merasakan lelah yang sama seperti dulu waktu ia masih bekerja dicafe.


Berpikir sungguh Allah yang maha mengetahui , dia tidak menyangka akan berada diposisi sekarang ini sebagai istri pengusaha dan wanita karir.


Dulu dia adalah pelayan cafe biasa yang bekerja dalam aturan dan tekanan atasan, sekarang malah dia yang mengatur karyawan.


Sedih bila Evita mengingat kenangan masa masa ia bekerja dulu. Dan Evita ingin bertemu mba Ema yang dulu telah banyak membantunya selama di cafe.


Evita berpikir mungkin lain waktu dia akan mampir ke cafe itu untuk bertemu mba Ema.


Setelah selesai mandi Evita pun menghidupkan ponselnya yang sedari tadi dia charger. Dan ternyata banyak miscall dari mas Rangga.


Dan mas Rangga pun menelponnya, Evita segera mengangkatnya.


"Halo sayang , ponselmu kenapa dari siang susah dihubunginya, jadi tadi mas hubungi mamah kalo mas sudah sampai Singapur".


"Iya mas aku lupa tidak bawa charger, dan mungkin dari tadi siang hp ku mati, lowbat"


"Mas juga baru sampai hotel nih, tadi setelah sampai ,mas langsung kekantor untuk laporan saja , kalau mas sudah berada di Singapur"


"Ya sudah sana bersih bersih dulu jangan lupa makan malam,lalu istrirahat".


"Iya sayang, kalau begitu mas mandi dulu ya, salam buat mamah dan tara".


Mas Rangga mengakhiri telfonnya,dan ponsel pun akhirnya mati.


Teringat masa - masa sulit yang ia lalui dengan Andini begitu pahit bila diingat, seakan tidak percaya dengan kehidupannya yang sekarang.


Benar kata pepatah 'Roda itu berputar', kita akan mendapatkan kesempatan untuk bahagia bila kita meyakininya.


Evita pun keluar dari kamarnya , yang sudah selesai bersih-bersih, lalu ia menatap sang mamah mertua yang begitu sayangnya pada dia dan adiknya.


Sungguh beruntung Evita mempunyai mertua seperti beliau, tak pernah membedakan antara kasih sayang anak dan menantunya.


Tak terasa butiran air menetes di pipi Evita tanpa ia sadari, dan ia pun langsung mengusapnya.


"Vita..Evita kamu kenapa ", mamah memanggil Evita yang tengah melamun.


"Eehh iya mah, Evita ga apa apa kok", tersadar dari lamunannya,mamah berhasil membuyarkan semua pikirannya.


Evita pun tersenyum kembali, melihat mamah tersenyum padanya.


"Bu ,makan malam sudah siap", ucap mba mia


Dan semuanya pun menuju ruang makan ,menikmati makan malam saat itu yang tidak didampingi Rangga.


Setelah beres makan mereka pun kembali keruang keluarga , berbincang tentang ini dan itu. Hingga Tara terlelap tidur dalam gendongan Evita.


Evita pun membawa Tara ke kamarnya untuk ditidurkan.


Evita pun menyendiri di teras rumah sambil melihat pemandangan langit yang sangat indah kala malam itu, Mamah pun tiba-tiba menghampiri Evita yang sedang duduk di teras.


"Nak ,apakah mamah boleh tanya sesuatu?"


"Iya mah , boleh ",sahut Evita.


"Kamu akhir akhir ini sering melamun kenapa sayang, adalah yang kamu pikirkan,apakah ada masalah di catering". Menebak isi pikiran menantunya.


"Catering Alhamdulillah baik-baik saja ,apa yang Evita rasakan saat ini apakah ada hubungannya dengan keberangkatan mas rangga? , Evita merasa cemas , merasa takut , tapi entahlah mungkin hanyalah perasaan Evita saja."


"Tapi kalian tidak bertengkar kan sebelum Rangga berangkat" , merandom apa yang terjadi.


"Tidak mah, mas Rangga sungguh baik sekali pada Evita sejak awal pernikahan kami tidak pernah berselisih paham ataupun bertengkar, mas Rangga suami yang begitu sempurna buat evita." Selalu membanggakan suaminya


" Hidup dengan pas- pas an secara finansial , terkadang untuk makan saja kita harus mengirit dengan sisa uang yang ada, untungnya Andini saat itu mengerti dengan keadaan Evita sehingga dia mau tidak mau menerima apa yang Evita berikan"


"Namun setelah Evita bertemu dan menikah dengan mas Rangga seakan Evita diangkat 180 derajat oleh mas Rangga, baik secara finansial atau pun secara sosial, hingga Evita merasakan sudah tak merasakan kekurangan lagi".


"Evita harus membalas apa ke pada mamah dan mas Rangga saat ini?" Evita sambil merubah posisi duduknya dan menggenggam tangan mertuanya itu


"Sayang tidak ada yang perlu kamu lakukan untuk kami, mamah merasa beruntung memiliki kamu , kamu hadir di keluarga ini mamah sudah sangat bahagia, kamu telah berhasil mengisi kekosongan di relung hati rangga, yang dulu sempat hancur berkeping keping karena ulah mantan pacarnya itu yang telah berselingkuh dengan sahabat Rangga", akhirnya mamah mau membuka cerita itu.


"Sebelum bertemu kamu Rangga pernah depresi, hingga dia dirawat oleh seorang dokter psikiater, mamah sangat terpukul dengan hal itu, Rangga seakan tidak memiliki keinginan untuk hidup, beberapa kali dia mencoba bunuh diri, untungnya selalu ketahuan oleh pak Nono."


Setiap orang mungkin punya masa lalu , yang hanya bisa dia simpan dan tidak untuk diceritakan.Tidak ada yang tahu seperti apa jalan hidup seseorang, namun setiap orang memiliki garis hidup dan berhak atas takdirnya.


"Mamah sengaja menceritakan masalah ini agar dikemudian hari jika perempuan itu muncul kamu tidak akan kecewa dengan hal ini, tapi kamu tidak usah bercerita lagi pada rangga, mamah hanya ingin kamu tau masalahku Rangga seperti apa".


"Mamah sudah mengantuk , mamah kedalam dulu ya ,istirahat", mamah pun beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Evita.


Evita tercengang dengan apa yang dicerita kan mamah tentang Rangga. Evita pun menghela nafas, apakan mungkin ini yang dia ingin tanyaknn pada Rangga selama ini.


Evita pun meninggalkan teras dan mengunci pintu depan, menuju kamarnya untuk beristirahat, seakan cerita dari mamah Arini telah menenangkan atas kerisauannya itu.