EVITA

EVITA
Bab 63. Harunya Arini



Dari luar kamar, Heru pun memberitahukan pada Rangga lewat chat, bahwa mamah Arini ada dirumah sakit ini dan dia sedang menuju ruang NICU dengan Andini.


Rangga pun langsung keluar kamar dan bingung harus berbuat apa.


"Menurut ku kakak jujur saja pada mamah, mamah pun berhak tau tentang kondisi kak Evita dan bayinya, sudah terlanjur mamah kesini kita tidak bisa mencegahnya juga kan".


......................


Rasa penasaran Arini pun sudah terjawab dengan melihat bayinya Evita yang masih berada dalam tabung inkubator.


Tak lama Suster pun langsung menutup kembali tirai ruang NICU. Karena hanya diberikan waktu sebentar oleh suster.


Andini dan Arini pun pergi meninggalkan ruangan itu . Di lorong itu Arini menangis dan sesekali mengusap air mata yang jatuh di pipinya.


Dan Andini pun membawa Arini menuju ruangan Evita.


"Sekarang kakakmu Evita kondisinya bagaimana? ,mamah ingin menemuinya, dari kemarin hati mamah sangat cemas"


Andini pun balik menanyakan keadaan Tara pada Arini.


"Tara sehat kan mah" .


Sesaat mengalihkan pertanyaan tentang evita.


"Tara sehat dan dia baik-baik saja, mamah sengaja datang kesini karena penasaran karena kalian tidak juga memberi kabar ". Jawab Arini.


"Kamu belum menjawab pertanyaan mamah, kakakmu bagaimana keadaan nya?". Tanya Arini mengulang.


"Mamah ingin bertemu dengan kakak kan, mungkin saat ini kakak sudah bangun".


Dan ketika Arini dan Andini akan sampai ke ruangan Evita, dari kejauhan sudah terlihat Rangga dan Heru berada di depan kamar.


" Kalian semua jahat ya sudah dua hari mamah menunggu kabar tentang Evita, kalian malah menyembunyikan nya dari mamah".


Dengan nada sedikit kesal menyalahkan semuanya.


"Bukan begitu mah ,Rangga hanya takut saja dengan kondisi mamah bila Rangga kasih tau yang sebenarnya tentang apa yang terjadi disini". Ucap Rangga membela diri nya.


"Ya sudah sekarang mamah ingin bertemu dengan Evita, kamu jangan menghalangi nya lagi".


Mamah pun masuk kamar Evita ditemani Andini.


Ketika masuk Evita pun sedang duduk di samping kasur dengan wajah masih pucat, dan tangan masih di pasang selang infus.


Seketika Evita pun terkaget " Mamah".


" Mamah sangat mencemaskan mu, dari kemarin kamu pergi dibawa oleh rangga".


"Dan karena tanpa kabar, mamah gelisah memikirkannya, tidak tahu apa yang terjadi pada kamu, makanya mamah datang kesini".


Ucap Arini .


"Evita sudah baik-baik saja mah, dan Evita sudah melahirkan, seorang bayi perempuan".


Dengan begitu gembiranya Evita memberitahukan pada Arini.


"Tadi begitu sampai , Andini langsung membawa mamah melihat bayimu di ruang NICU".


"Yang sabar ya nak ini , yang terpenting kamu dan bayimu sudah selamat".


"Namun bayi Evita masih dalam inkubator mah , belum bisa dibawa kesini, padahal Evita ingin sekali menggendong nya".


"Tara bagaimana mah ,apakah dia mencari Evita?".


"Tara selalu menanyakan kamu dan rangga kapan pulang, untungnya Tara anak yang baik dia mengerti ketika kamu tempo hari kesakitan, dan dia paham kamu sedang berobat".


Dan Arini belum tau tentang keadaan sebenarnya karena Rangga belum memberitahukan nya.


Mungkin Arini tidak perlu tahu tentang apa yang sebenarnya, sudah cukup untuk melihat Arini bisa merasakan kebahagiaan saat ini.


Sudah dua jam Arini berada dirumah sakit, dan ia teringat akan Tara jadi dia memutuskan untuk pamit kembali pulang kerumah.


"Mamah sudah cukup tau tentang kalian disini , mamah kepikiran Tara , mamah harus pulang sekarang, kasih kabar mamah nya agar tidak merasa cemas". Ucap sang mamah .


Rangga pun mengantar Arini sampai lobby rumah sakit. Arini mengatakan dia akan mampir dulu ke catering nya untuk memesan makanan karena hari ini mba Mia tidak memasak karena harus menjaga Tara.


Setelah mobil Arini pergi. Rangga pun merasa lebih tenang sekarang , walaupun belum menceritakan tentang cerita sebenarnya.


Diruangan Evita sudah bisa berjalan sendiri tanpa bantuan.


"Rasanya sudah kangen sekali sama Tara, kakak ingin segera pulang"


"Iya , nanti kita tanyakan pada dokter ya kak".


Jawab Andini.


"Mungkin kami disini sampai sore ini ya kak , besok kami sudah harus masuk kerja, jatah cuti kami sudah habis". Ucap Andini.


"Iya dini tidak apa-apa, terimakasih kamu dan Heru sudah direpotkan oleh kakak. Bukannya pergi berbulan madu malah menjaga kakak dirumah sakit".


"Iih kakak apa sih, masa dini senang senang sedangkan kakak disini kesakitan, ga lucu kan". Menghibur sang kakak.


Tak lama Rangga pun kembali dari lobby sehabis mengantar mamahnya.


Dan Evita pun meminta agar diantar keruang NICU lagi. Rangga pun dengan cekatan mencari kursi roda dan membawa Evita melihat bayi mereka. namun kali ini mereka hanya diperbolehkan melihat dari luar saja.


Dari dinding kaca terlihat jelas sang bayi mungil mereka sedang tidur dan masih terpasang banyak alat-alat ditubuh bayi mereka.


Evita pun berkata


"Mas masih berapa lama lagi putri kita berada disana , aku ingin sekali menggendongnya dan menyusuinya layaknya ibu yang sudah melahirkan".


"Sabar sayang, kita doakan yang terbaik untuk putri kecil kita, mas juga ingin segera menimangnya". Ujar Rangga.


Waktu mereka pun habis, karena hanya diberikan waktu 20 menit saja oleh suster dan itu pun atas perintah dokter.


Tirai pun kembali ditutup oleh suster, dan putri mereka berada diruangan NICU tanpa kedua orang tuanya.


Tak lama setelah Evita dari ruang NICU, dokter pun kembali datang keruangan untuk memeriksa kondisi Evita.


Dan dokter pun memastikan kondisi Evita sudah mulai membaik, dan sore ini pun dia diperbolehkan untuk pulang. Namun bayi mereka harus tetap berada di inkubator hingga waktu yang cukup lama.


Andini pun membereskan barang-barang kakaknya , sedangkan baju-baju miliknya sudah lebih dulu siap dari semalam.


Suster pun datang keruangan Evita setelah dokter memeriksa Evita untuk membuka infu yang masih menancap disalah satu tangan Evita. Akhirnya Evita pun terbebas dari infusan.


Sedangkan Rangga mengurus administrasi dan berkas kepulangan pasien Evita


Evita pun kembali mengajak Andini untuk melihat putri kecilnya dahulu sebelum pulang, mungkin ia akan merindukan putri kecilnya itu.


Namun dokter mengijinkan bila Evita ingin mengunjungi putrinya itu.


Dan mungkin Evita akan setiap hari kerumah sakit bila dokter memerlukannya.


Sejauh ini Evita belum mengetahui bahwa rahimnya pun telah diangkat bersama janin nya tempo hari.


Karena Rangga belum mengatakannya pada Evita tentang semuanya.


Diruang NICU Evita pun diperbolehkan masuk kedalam ruangan hanya seorang diri, sedangkan Andini hanya menunggu diluar dan tak lupa Evita memakai baju steril khusus untuk masuk keruang NICU.