
Selama ini Davin telah dihantui rasa bersalahnya atas kejadian tabrak lari yang ia lakukan pada Andini dulu. kini ia telah bertemu Andini namun Davin antara bingung dan takut bila hal itu diketahui oleh keluarganya andini pasti , Davin akan dilaporkan ke jalur hukum oleh keluarga andini. Serbasalah memang namun Davin ingin mengakhiri cerita ini dan dia harus menanggung resikonya sekarang.
"Besok aku harus bicarakan hal ini pada Andini", gumam Davin.
Pagi itu dikampus Davin mencari keberadaan andini, namun Davin tak jua menemukannya , malah dia bertemu dengan Rania.
" Sayang kamu kenapa siih , selalu menghindar terus, aku kan kangen sama kamu", tanya Rania sambil sedikit menggoda Davin.
Namun Davin tidak bergeming tak perduli dengan perkataan Rania , Davin pun meninggalkan Rania dan melanjutkan mencari Andini.
Akhirnya Davin menemukan Andini di perpustakaan , dan Davin pun berbisik pada Andini
"Bolehkah kita keluar sebentar, ada yang mau aku omongin , penting!".
Lalu Andini pun mengikuti arahan Davin.
" Ada apa kak, kakak mencari saya? ".
"Kamu masih ada kelas ga hari ini?"
" Kebetulan sudah selesai kak kelas hari ini".
" Berarti kita bisa ngobrol sebentar ya, kita ngobrol diluar jangan disini, kita cari cafe, tenang aku tidak akan macam macam sama kamu ".
Setelah tiba disalah satu cafe , Davin pun memesankan dulu orange jus , dan davin pun memulai pembicaraan nya.
" Apakah kamu baik baik saja Andini", pekiknya.
Aneh sekali pertanyaannya, kalau aku tidak baik baik saja mana mungkin aku ada disini
" maksud kakak?".
"Andini aku sekali lagi mau minta maaf sama kamu dan aku tidak bermaksud untuk ..." Davin pun menghentikan kata katanya.
" Apakah kamu ingat kejadian dulu ketika kamu kecelakaan didepan sekolah kamu...?".
"Akulah pelakunya Andini, aku saat itu sengaja lari, karena aku takut dihabisi masa saat itu", penyesalan davin.
Andini pun langsung kaget mendengar pengakuan Davin, dan bola mata Andini pun telah dibanjiri dengan air mata.
"Setelah kejadian itu aku merasa sangat ketakutan dan selalu dihantui rasa bersalah. Namun takdir mepertemukan kita dikampus ini, pada hari pertama ospek saya sangat mengenal wajah kamu , dan perasaan bersalah itu semakin menjadi dihati ini".
"Aku memberanikan diri untuk bicara sekarang padamu Andini , agar aku bisa tenang, setelah kejadian itu aku depresi, aku sempat datang kerumah sakit tempat kamu dirawat dan mendengar kamu kritis hampir tidak tertolong."
"Sekarang jika kamu akan membawa ini kejalur hukum aku bersedia dan aku siap, Tapi kamu harus memaafkan aku", pinta davin.
Andini pun bercerita sambil meneteskan air mata
"Waktu itu keadaaan aku kritis hampir tidak tertolong karena banyak mengeluarkan darah, untung ada kakakku yang golongan darahnya sama denganku dialah penolongku saat itu, dan kak Evita saat itu tidak mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakit, dia kebingungan dan aku hampir tidak ditangani dokter beberapa jam karena belum bisa mendeposit uang untuk biaya rumah sakit,sedangkan orang yang menabraku lari tanpa bertanggung jawab, dimana hati nurani kamu kak".
Andini pun langsung menuliskan sebuah alamat dikertas bill lalu berdiri dan meninggalkan Davin dicafe itu tanpa berkata lagi.
"Andini tunggu dengarkan saya dulu", pinta davin
Davin pun mengambil kertas itu dan melihatnya ternyata sebuah alamat yang ditulis andini, Apakah itu alamat rumah Andini ?, Davin harus segera mengikutinya.
Akhirnya pria itu berhasil membuntuti Andini dan mencocokan alamat yang ada dikertas itu.
......................
Apakah ia harus datang ketempat itu atau tidak?
Sebelum Davin berterus terang atas kecerobohannya dulu, setidaknya ia sudah tahu konsekwensi yang akan di dapatnya, berakhir damai atau berakhir di dalam jeruji besi.
"Ya sudahlah , aku harus menuntaskan rasa bersalahku ini"
......................
Hari itu seharusnya Davin ada dikampus namun dia memaksakan tidak masuk untuk pergi kerumah Andini, Davin sudah memastikan bahwa Andini sudah pergi kuliah hari itu.
Tok..Tok..Tok..Suara bunyi ketukan pintu dari luar , dan memaksa mba Mia harus menghentikan dulu kegiatannya untuk membuka pintu ,yang saat itu sedang menyetrika di belakang.
Sementara Evita tengah menemani Tara bermain dikamar , dan ibu Arini pun berada dikamarnya.
"Siang .. apakah saya bisa bertemu dengan kakaknya Andini?" tanya Davin pada mba Mia
"Boleh silahkan masuk ,saya panggil dulu ya" sahut mba Mia
" Non, ada tamu cari non Evita" tegas mba mia.
"Siapa mba?", balas evita.
Mba Mia hanya menggelengkan kepalanya tanda dia tidak tahu
Evita pun menuju ruang tamu ,dan dia menitipkan Tara pada mba Mia.
" Maaf anda mencari saya ?", tanya Evita.
Davin pun langsung bersimpuh di depan Evita seraya meminta maaf dengan tiba tiba
" Kak maafkan saya , waktu itu saya tidak sengaja, sekarang saya jujur sayalah orangnya yang telah menabrak Andini dulu". Pengakuan Davin pada Evita
Evita pun sempat bingung dibuatnya, kenapa tiba tiba pria ini datang dan mengaku bahwa dialah pelakunya, apakah dia kenal dengan Andini?
Tak lama mamah Arini pun keluar karena mendengar seseorang sedang diruang tamu, dan mamah Arini pun mendengar semua apa yang dikatakan pria itu.
"Lalu apa maksud kamu dulu meninggalkan Andini yang sudah terkapar dipinggir jalan, jelaskan pada kami " dengan geramnya mamah Arini berkata
"Saat itu saya sedang terburu buru, dan tidak sengaja saya telah menabrak seorang anak sekolah, saya takut dihakimi massa saat itu, dan saya memutuskan untuk kabur ,namun rasa bersalah saya itu telah menghantui bertahun tahun, saya merasa ketakutan dan saya belum siap menanggung konsekwensinya. "
" Tapi saya disadarkan ketika ospek ternyata Andini ada disalah satu mahasiswi junior itu. Dan saya pun sudah berbicara langsung dengan andini dan. membicarakan hal ini, namun Andini marah terhadap saya" Davin pun bercerita tak hentinya mengakui kesalahannya
Evita dan mamah Arini hanya menyimak apa yang pemuda itu katakan.
"Sekarang saya hanya ingin permintaan maaf dari kalian dan Andini, dan saya sudah siap bila hal ini dibawa kejalur hukum". Davin melanjutkan perkataannya.
Dan Evita pun ingat bahwa peristiwa itu pun belum ditutup dan sampai sekarang masih ditangani pihak kepolisian untuk mencari pelakunya.
Kini pelaku sudah ada didepan mata , Evita pun langsung mengangkat gagang telfon dan lapor pada polisi yang menangani kasus tersebut.
Tak berselang lama polisi pun datang dan membawa surat penangkapan pada Davin dan membawa Davin untuk ditangkap.
Davin pun tidak bisa melawan atau berbuat apapun ketika dibawa oleh polisi, dia hanya pasrah dan dalam hatinya dia merasakan ketenangan itu yang akhirnya harus dia tebus dengan mendekam dipenjara.