
Hingga tiba waktu Maghrib, Tara pun bangun dan langsung meminta minum. Evita pun menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Sedangkan Tara berada di depan televisi sambil menunggu sang ayah dengan berbagai peralatan menggambarnya.
"Ibu ayah belum pulang ya, Tara mau kasih tau ayah Tara punya pinsil warna baru"
"Belum sayang, paling sebentar lagi" jawab sang ibu.
Menu makan malam pun sudah tersedia di meja makan, tinggal menunggu Rangga pulang untuk makan bersama.
"Assalamualaikum" ucap salam Rangga.
Tepat pukul tujuh Rangga pun tiba dirumah.
Sang anak pun langsung menyambut ayahnya serta memamerkan peralatan menggambarnya yang 'ia beli tadi.
"Waalaikumsalam, akhirnya mas pulang juga, anaknya tuh yang dari tadi menunggu ayahnya pulang" sahut Evita.
"Ayah sini, lihat deh Tara punya pinsil warna baru, meja lipat baru, ada buku gambarnya juga, tadi ibu membelikannya untuk Tara, untuk lomba mewarnai minggu depan.
Rangga pun menghampiri Tara, dan menyempatkan untuk melihat semua peralatan yang dimiliki Tara.
"Waah bagus sekali pinsil warnanya, nanti tara yang semangat ya mewarnainya"
"Pastinya dong.." celoteh sang anak.
"Ayah mau mandi dulu ya, asem bau keringat"
Evita pun mengambil tas kerja suaminya dan mengikuti Rangga kekamar.
Saat Rangga masuk kamar mandi, Evita pun menyiapkan baju dan celana pendek untuk suaminya. Sementara baju tidur yang Evita beli tadi di sembunyikannya ditempat yang aman.
Evita pun menemani Tara untuk membereskan peralatan menggambarnya.
Tak lama Rangga pun keluar dari kamarnya.
"Sayang makanan sudah siap kan? mas lapar nih?" tutur suaminya.
"Pulang kerja suamiku kelaparan ternyata, tuh sudah siap dimeja makan, Andini yang memasak nya tadi" tukas Evita.
"Iya ga apa-apa kak, dini juga sedang membiasakan untuk belajar masak juga sama mba Mia"
"Rajin masak sekarang rupanya kamu ya?" kata Rangga.
"Iya dong kak biar disayang mertua" Andini pun terkekeh.
Semuanya pun telah berada dimeja makan, dan menikmati suasana makan malam saat itu. Tara pun terlihat begitu lahap sekali.
"Waah anak ayah ternyata makannya banyak sekarang ya?" puji nya pada Tara.
Setelah nambah Tara pun menyudahi makan nya karena sudah kenyang, dan makanan dipiringnya pun habis tidak tersisa.
Lalu Tara pun belajar menulis ditemani tantenya Andini.
Sedangkan Rangga dan Evita duduk dan berbincang di teras depan.
"Mas, bagaimana kabar mamah di Semarang"
"Mas tanya ke suster disana keadaan mamah baik-baik disana, bahkan katanya banyak kegiatan ibu-ibu di yayasan sekarang, sehingga mereka bisa bergerak setiap hari. kurasa mamah lebih baik tinggal disana bersama teman seusianya." tutur Rangga.
"Eh iya, tadi didepan gang seperti nya ada tukang jualan roti bakar, kita beli yuk? mas masih lapar" pinta Rangga.
Mereka berdua pun keluar rumah, ke gang depan untuk membeli roti bakar.
Jaraknya pun tak jauh dari rumah hanya beberapa meter saja, mereka pun berjalan berduaan sambil menikmati cuaca malam yang cerah dan udaranya pun cukup sejuk, karena tadi sore sempat mendung namun tidak turun hujan.
Mereka pun telah sampai di gerobak roti bakar, dan Rangga pun memesan dia porsi roti bakar.
"Iya pak, silahkan tunggu sebentar ya pak"
Ternyata didepan gang banyak sekali penjual makanan dan jajanan bila malam hari, Evita pun terlihat sedang membeli cilok dan tahu crispy.
"Borong Bu?" tutur Rangga menggoda istrinya.
"Jarang-jarang kan kita keluar seperti ini, aku juga sekalian jajan lah" ucap Evita sambil memakan sebuah tahu crispy yang ada di tangannya.
Dulu ketika ada mamah mereka jarang sekali jajan ditempat seperti itu karena mamah selalu melarangnya, dibilang kotor tidak higienis menurutnya.
Tapi tidak begitu dengan Rangga malah dia suka sekali dengan jajanan seperti itu, terlebih Evita dia sudah tidak asing lagi dengan jajanan itu, yang biasa dia beli ketika masih tinggal dirumah lama.
Evita seakan terbawa suasana saat menikmati tahu crispy itu, ia teringat akan masa sulitnya dulu. Tahu itu dia beli sebagai lauk untuk makan bukan sebagai camilan.
Namun sekarang Evita telah bisa menikmati hasil dari perjuangannya, walaupun mempunyai suami seorang pengusaha ia pun tidak berdiam diri saja dirumah, ia tetap bekerja menjalankan usaha keluarga sang suami.
Dua porsi roti bakar pun sudah siap dibawa pulang, setelah beres membayar mereka pun berjalan lagi pulang kerumah.
"Seperti yang sedang pacaran saja ya kita, keluar beli jajanan" ucap Rangga sambil terkekeh. Sementara Evita masih asik dengan tahu crispy nya.
Saat mereka sampai rumah terlihat Tara dan Andini berada diteras rumah.
"Tuh ayah dan ibu mu, sudah datang" ucap Andini.
"Ayah dan ibu dari mana, dan apa itu yang dibawa ayah?" tanya Tara.
"Tara mau...ini roti bakar, tuh ada cilok juga tahu crispy, Tara mau yang mana?" sambil menyodorkan beberapa bungkusan.
Tara memilih roti bakar coklat keju makan bersama sang ayah, Evita pun melanjutkan makan tahu dan ciloknya.
Andini pun lalu mengambil cilok, dan tahu crispy. Mereka pun berkumpul menikmati jajanan malam itu.
Setelah jajanan habis mereka pun masuk kedalam rumah karena sudah jam 9 malam.
Tara pun sudah mulai menguap setelah diajak gosok gigi oleh Andini.
Tara dan Andini pun masuk kekamarnya, sementara Rangga mengecek semua pintu dan jendela, karena mba Mia sudah tidur dari tadi.
Evita pun masuk ke kamarnya dan berganti dasternya dengan lingerie. Sehingga ketika Rangga masuk kamar nanti Evita sudah siap menyambutnya ditempat tidur.
Setelah membersihkan make up-nya, Evita pun mengenakan lingerie nya, dan menyemprotkan sedikit minyak wangi ketubuhnya dan membiarkan rambutnya yang hitam legam pun terurai cantik.
Kemudian Rangga pun masuk ke kamar dan mengunci pintu. Rangga pun melihat pemandangan yang tak biasa di dalam kamarnya.
Evita pun sudah menunggu Rangga dari tadi. Hanya Lampu tidur yang dibiarkan tetap menyala, sehingga suasana terlihat romantis dengan cahaya yang remang-remang.
Tubuh Evita yang sudah tidak langsing lagi namun terlihat begitu aduhai ketika mengenakan lingerie berwarna marun, sembulan dibagian dada nya pun terlihat memukau, ditambah bokongnya yang berisi, semakin Rangga terpana melihatnya.
Rangga pun hanya tersenyum melihat tingkah sang istrinya itu, Evita pun memberikan kode dengan jari tangannya agar Rangga mendekatinya.
"Apa ini sayang...kapan kamu membelinya, cantik sekali kamu malam ini" tanya Rangga.
"Surprise..., bukannya kamu suka kan bila aku mengenakan ini, dulu kamu bilang begitu ketika di Singapur"
Evita pun mulai memancing agar Rangga tergoda dengannya, Rangga pun akhirnya terpancing dan mendekati Evita.
Awalnya hanya menciumi tangan Evita lalu berlanjut ke atas dan akhirnya berhasil mendapatkan sebuah bibir Evita yang ranum, kemudian tangan Rangga pun tertarik dan meraih kedua sembulan montok yang sangat menonjol.
Evita pun semakin terbuai dengan gerakan Rangga yang begitu gesit, pesona Evita malam itu membuat keperkasaan Rangga semakin diuji. Evita membuat Rangga bersemangat malam itu, hingga Rangga larut dalam buaian Evita.
Keduanya pun melakukan kewajibannya sebagai sepasang suami istri.
Akhirnya malam itu pun malam yang special untuk mereka berdua.
Walaupun mereka pernah berselisih paham namun Evita ingin mencoba untuk memperbaiki hubungannya dengan sang suami.