
Perut Evita semakin hari semakin membesar dan usia kandungannya sekarang sudah menginjak 20 minggu, sudah merasakan enaknya rasa makanan , dan nafsu makan pun sudah kembali.
Kehamilan sekarang tak hanya perut ,badan Evita pun sudah mulai berisi lagi. Janin dalam perut pun sudah mulai terasa pergerakannya.
Namun tiba-tiba sekitar pukul 15.00 sore, evita merasakan sakit diperutnya seperti terjadinya kontraksi.
Arini yang ada dirumah pun panik , dan langsung menelfon rangga dan menyuruhnya untuk segera pulang.
Evita terus meraung-raung kesakitan dan Arini tidak bisa berbuat apapun , tara pun menangis melihat ibunya kesakitan,mba Mia lah yang menenangkan tara sampai ayahnya pulang.
Begitu Rangga sampai rumah, Rangga pun langsung menggendong ke mobil dan membawa Evita ke rumah sakit, tempat biasa Evita kontrol.
Sesampainya dirumah sakit Rangga langsung membawa evita menuju IGD, dan menunggu didepan pintu IGD dengan sangat cemas.
Dokter pun akhirnya keluar dan mengajak Rangga untuk bicara serius diruangannya.
"Bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya dokter". Tanya Rangga pada dokter Hana
"Kandungan nyonya Evita sangat membahayakan keselamatan nyonya Evita bila dibiarkan untuk bertahan, karena miom nya pun ikut membesar sehingga janin terhalang dan akan kalah dengan perkembangan miomnya".
"Ada dua pilihan , memilih keselamatan ibunya atau janin nya, saya pikir bapak pun akan bingung dengan keputusan ini, tapi dengan terpaksa bapak harus memilih salah satunya, agar cepat ditindak lanjuti sebelum terlambat, dengan operasi kami akan mengangkat juga miom tersebut ".
"Bila memilih janin untuk dipertahankan nyonya Evita harus bedrest dan dia tidak bisa beraktivitas seperti biasanya, namun nanti kami takut hal itu akan membahayakan nyawa nyonya Evita sendiri.
Bila ibunya harus diselamatkan maka kami akan mengangkat miom dan rahimnya juga, dan otomatis janin nya pun akan keguguran".
Keputusan yang sulit yang di berikan oleh dokter Hana. Namun Rangga harus memilih salah satunya.
"Bismillah, selamatkan istri saya dokter , saya mohon, karena anak kami masih kecil bila harus kehilangan ibunya".
Keputusan yang Rangga ambil dengan mengorbankan janin dirahim evita demi keselamatan ibunya.
"Kamu akan segera mempersiapkan keperluan untuk operasi sekarang juga , nanti ada suster memberikan berkas untuk persetujuan operasi yang harus bapak tanda tangani, bapak sekarang boleh menemui istri bapak, sebelum kami bawa keruang operasi".
Begitu hancur hati Rangga setelah mendengar penjelasan dokter Hana tadi.
Apa yang harus Rangga katakan pada Evita nanti. Sebelum masuk keruang IGD Rangga mengusap dulu air matanya, dan bersikap tenang seperti biasa nya.
Rangga pun langsung menemui Evita diruang IGD, dengan kondisi yang sama masih kesakitan diperutnya.
"Sayang kamu harus bertahan , kamu wanita kuat , kamu bisa melewati semuanya ini". seraya memberikan semangat untuk istrinya.
Evita sedikit mendengar perkataan Rangga namun dia tidak bisa menjawabnya, dan terus meringis kesakitan. Rangga yang melihat istrinya pun tak tega.
Tak lama Evita pun dibawa keruang operasi. Dan operasi pun dimulai pada pukul 18.00.
Tak banyak yang Rangga lakukan hanya berdoa sebisanya.
Rangga pun memberitahukan Andini karena Rangga bingung harus memberitahukan pada siapa tentang hal ini.
Rangga masih tetap menunggu didepan kamar operasi dengan kalutnya sambil berdoa tiada hentinya.
......................
Ting..Ting...suara ponsel Andini pun berbunyi menandakan ada pesan WhatsApp masuk.
"Kak Rangga, kenapa dia chat malam begini, ada apa ya kira-kira".
"Chat dari siapa de", tanya Heru pada Andini.
"Kak Rangga mas" ,sahut andini
Andini pun membuka chat Rangga
Isi chat Rangga pada andini.
'De kakak minta doanya dan keikhlasan dari kamu ,untuk kak Evita yang sekarang akan menjalani operasi, pengangkatan rahim , karena janinnya sudah tidak bisa berkembang dan miom yang ada dirahim kakakmu pun sudah membesar, kak Evita baru masuk ruang operasi, kakak minta jangan sampai mamah Arini tau akan hal ini dulu sebelum operasi selesai'.
"Dini pamit dulu sama ayah ya mas".
"Mas panaskan mobil dulu".
Terlihat ayah mertuanya yang masih menonton televisi diruang keluarga sedangkan mamah sedang didalam kamar.
"lho kamu sudah rapih , mau kemana rupanya malam begini, dan Heru sedang menyalakan mobil ".
"Ayah dini sama mas Heru ijin dulu mau kerumah sakit, tadi dini dapat chat dari kak Rangga katanya kak Evita mau operasi malam ini". jelas Andini pada ayah mertuanya.
"Ya sudah sana pergi, jangan lupa kasih kabar pada kami nanti".
Andini pun mengangguk dan mas heru pun segera mengambil jaketnya dari genggaman Andini lalu memakainya. Kemudian mereka pun pergi.
"Kami pergi ya ayah, assalamualaikum". Pintu pun tertutup kembali, diiringi sahutan dari dalam "waalaikumsalam".
......................
Arini pun sangat mengkhawatirkan keadaan Evita dan sampai larut malam pun belum ada juga kabar dari Rangga ,sedangkan Tara sudah tertidur ditemani mba mia.
Dan Arini pun memilih menunggu Evita dan Rangga hingga Arini tertidur dikursi diruang keluarga.
......................
6 jam sudah waktu operasi telah berlalu , Rangga, Andini dan Heru pun menunggu didepan kamar operasi dengan gelisah nya.
Dan akhirnya proses operasi pun berjalan lancar. Namun Evita masih belum siuman dari pengaruh obat biusnya.
Dan salah Dokter Hana pun memberitahukan hal ini pada Rangga.
"Pak nyonya Evita telah berhasil dioperasi, dan janinnya bisa diselamatkan namun mengalami prematur sekarang sedang berada dalam inkubator di ruang NICU".
Dan Evita pun sudah dipindahkan keruang rawat inap nya di ruang VIP dan hanya tinggal menunggu Evita sadar.
Andini pun menemani Evita, sedangkan Heru mencari makanan ke kantin dan membeli kopi untuk Rangga dan dirinya agar bisa terjaga di malam itu.Sedangkan Rangga menuju ruang NICU melihat keadaan bayi nya
Andini pun tertidur disofa ketika Heru dan Rangga sudah sampai diruangan evita.
Heru pun tak membangunkan Andini, Heru duduk disofa dekat Andini tidur, sedangkan Rangga duduk di dekat ranjang Evita terbaring.
Hingga pukul 03.00 Evita belum sadar juga dan Rangga pun tertidur disamping Evita .
Sampai Evita pun tersadar dan membangunkan suaminya, dilihatnya ada Andini dan Heru juga disana.
"Mas...mas..".
Evita coba membangunkan Rangga dengan menyentuh tangan Rangga.
Tak lama Rangga pun terbangun dan menyadari istrinya telah sadar dan segera memanggil suster dari bel.
Evita pun meraba perutnya yang sudah tidak buncit, dan menyadari perutnya yang sudah kempes, dan menanyakan perihal bayinya.
"Mas apakah aku sudah melahirkan dimana bayiku, apakah dia sehat?".
Rangga tidak menggubris perkataan Evita.
Kemudian suster dan dokter jaga pun datang dan memeriksa Evita.
Evita pun meringis kesakitan akibat pengaruh obat biusnya sudah habis. Dan dia terus menanyakan keberadaan bayinya.
Lalu dokter pun memberikannya obat pereda sakit dan Evita pun tertidur kembali.
"Nyonya Evita saya berikan obat pereda sakit ya pak, agar dia bisa beristirahat kembali.