EVITA

EVITA
Bab 12. Korban Tabrak Lari



Evita pun bekerja seperti biasa nya ,sebelum Evita resign Evita harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bekerja. Namun tak seperti biasanya hati Evita cemas dan gelisah, entah karena apa.


Tak lama ada telfon dari bagian reserfasi cafe katanya ada telfon dari sekolah adiknya Andini, Evita pun langsung menuju meja depan dan langsung mengangkat telfon nya.


"Halo selamat siang benarkah ini dengan kakaknya Andini , kami ingin mengabarkan bahwa Andini saat ini berada di rumah sakit mengalami kecelakaan tadi ketika hendak menyebrang jalan didepan sekolah".


Suara salah satu guru dari sekolah Andini.


"Innalillahi.... lalu bagaimana keadaan adik saya Bu?"


tanya Evita pada guru tersebut


"Andini sekarang masih belum sadarkan diri karena ada benturan dikepalanya".


Sontak Evita pun kaget sambil menangis , tidak tau harus berbuat apa.


Sementara supervisor menghampirinya karena melihat Evita menangis ".


kenapa kamu Evita ?"


"Adik saya pak kecelakaan didepan sekolahnya ketika akan menyebrang jalan pas turun dari angkot tadi pagi."


" Saya bingung pak , saya tidak punya uang untuk biaya adik saya dirumah sakit".


"Waduh maaf Evita saya tidak bisa memberikan kasbon lagi pada kamu, karena bulan ini kamu sudah kasbon melebihi yang seharusnya".


Evita tidak menjawab hanya bisa menganggukan kepala saja.


Lalu Evita pun melanjutkan pekerjaannya.


"lhoo kamu masih disini ,bukannya kamu harusnya kerumah sakit melihat kondisi adikmu, kamu belum minta ijin pada pak Doni ( nama supervisor cafe)".


Ema menegur Evita yang sedang bekerja merapihkan meja.


Evita hanya menggelengkan kepalanya.


" Ya sudah tunggu sebentar ".


Ema pun menuju ruangan pak Dodi


Tuk...tuk...tuk suara ketukan pintu


Ema menghampiri ruangan pak Dodi


"Pak maaf saya atas nama Evita mau minta ijin agar Evita diijinkan pulang lebih awal karena adiknya kecelakaan ,"


"Maaf bukannya saya tidak memberikan ijin karena ini kan masih jam kerja, sebentar lagi juga pulang".


"MasyaAllah pak hati bapak ini terbuat dari apa pak, ini bukan masalah sepele ini adiknya Evita belum sadarkan diri dia harus kerumah sakit ".


"maaf saya tidak ijinkan".


"Bapak ga punya perasaan , melihat karyawannya sedang kesusahan malah masih keras kepala, bagaimana jiga nanti kalau adiknya Evita ada apa apa, bapak mau bertanggung jawab ?"


Lalu Ema pun keluar dari ruangan itu sambil menyimpan kekesalan nya pada pak Doni.


Ema pun menuju loker dan mengambil beberapa lembar uang didompetnya ,kemudian memberikan uang itu pada Evita


"Vita nih pegang saja dulu , sekarang juga kamu harus kerumah sakit, masalah dengan pak Doni biar nanti saya yang urus ,saya akan bicara pada manajer cafe"


Evita pun merasa kebingungan, Ema selalu baik padanya, setelah mendengar ucapan dari Ema Evita pun langsung menuju loker dan mengganti apron nya lalu mengambil tasnya, dan dia pun bergegas pergi ke rumah sakit.


Tak lama Evita sampai dirumah sakit karena hanya butuh waktu sebentar saja hanya menyebrang jalan . Evita pun langsung menuju UGD dan disana sudah ada guru Andini.


"Bagaimana keadaan Andini Bu ?"


" Andini masih belum sadar , dan mengalami benturan dikepalanya, dia ditabrak oleh sebuah motor dan pengendara motor tersebut kabur, jadi Andini korban tabrak lari, tapi banyak saksi ditempat kejadian dan kami sudah melaporkannya pada pihak berwajib."


"keluarga dari Andini putri wijaya."


"Saya kakaknya suster"


"sodara Andini mengalami benturan dikepalanya sehingga mengeluarkan darah banyak sekali, hingga sekarang dia butuh transfusi darah, sedangkan stok golongan darah yang sama dengan golongan darah andini disini sudah habis, adakah keluarga yang golongan darahnya sama dengan pasien ?".


"Kebetulan golongan darah saya sama suster ambil darah saya saja untuk adik saya" ucap Evita


" Oh begitu ?, silahkan ikut dengan saya"


Evita pun dicek kondisi tubuhnya , lalu setelah oke , Evita pun diambil darahnya ,sebanyak dua kantung darah. Awalnya memang agak lemas tapi setelah minum susu dan makan telur yang disediakan rumah sakit dan beristirahat sebentar, kondisi Evita pun sudah agak baikan.


Darah Evita pun langsung ditranfusikan pada Andini , dan kata dokter sudah mulai stabil namun masih belum sadar juga.


Evita pun menunggu di dekat ruang UGD , sementara guru guru Andini sudah pulang,


dan evita pun sampai lupa belum menghubungi mas Rangga, setelah membuka ponselnya ternyata banyak misscall dari guru Andini dan sekolah Andini.


Evita pun menchat mas Rangga


( mas Evita sekarang ada dirumah sakit dekat cafe , Andini kecelakaan ,maaf Evita baru memegang hp karna tadi Evita mendonorkan darah dulu untuk Andini. Dan sampai sekarang Andini masih di UGD dan masih belum sadarkan diri )


Sementara di cafe Ema menelfon manager cafe


"Pak maaf saya atas nama Evita sudah meminta ijin untuk Evita pulang lebih awal tadi pada pak Dodi namun pak Dodi tidak memberikan ijin , katanya belum jam waktunya pulang , sedangkan adiknya kritis pak, saya meminta maaf sekali karena saya lancang, saya yang bertanggung jawab atas kepulangan Evita tadi"


" Ya sudah tidak apa apa , nanti saya akan tegur pak Dodi itu" pak manager pun tidak mempermasalahkannya.


Yang terpenting keadaan cafe terkendali dengan aman.


......................


Sementara Rangga yang menerima chat dari Evita saat itu juga langsung pergi menuju rumah sakit.


Setelah Rangga tiba dirumah sakit dan langsung menuju UGD dari kejauhan Rangga sudah melihat Evita yang sendirian disana.


"Sayang bagaimana keadaan Andini sekarang ?"


"Sudah melewati masa kritisnya mas, tapi dia belum sadarkan diri. Andini korban tabrak lari mas."


salah satu suster pun menghampiri Evita


" maaf apakah disini keluarga dari Andini?"


" Maaf mba silahkan mengurus administrasi dulu di bagian administrasi"


mendengar itu Evita pun bingung, namun dia segera ke bagian administrasi tanpa ia sadari Rangga mengikutinya dari belakang


Lalu Evita pun berbicara untuk meminta waktu , untuk mencari pinjaman dulu, karena uang yang dipinjamkan Ema tadi tidak cukup untuk membayar biaya rumah sakit.


Rangga pun berada dibelakang Evita, lalu Rangga langsung meminta nota biaya Andini


" Saya kakaknya berapa yang harus dibayar suster?"


suster pun memberikan secarik kertas, dan langsung dibayar cash oleh Rangga sekaligus untuk 3 hari kedepan.


"Mas maafkan dan terimakasih sebelumnya Evita merepotkan mas Rangga , belum jadi istri saja sudah sangat merepotkan seperti ini".


" Kenapa kamu ga bilang dari tadi siih, kan kalau sudah dibayar pasien akan lebih cepat ditangani, begitu peraturan dirumah sakit ini "


"Sudah kamu jangan pikirkan apa pun , walau bagaimanapun Andini akan jadi adik aku juga".


Hibur Rangga sambil memeluk Evita.


Satu jam kemudian Andini pun siuman setelah diberikan suntikan obat ,dan segera dipindahkan keruang rawat biasa. Lalu Andini meringis kesakitan dan dokter menyuntikan obat pereda sakit dan Andini pun tidur kembali karena efek obat.