
Dan akhirnya Rangga pun mengerahkan team nya untuk merenovasi rumah mba Ema , dan sementara mba Ema pun tinggal di mes catering.
......................
Kegelisahan mamah Arini dari semalam sudah tak terbendung lagi , dengan santai mamah Arini pun menanyakan tentang foto Status WhatsApp Evita yang dia apload semalam.
"Sayang semalam mamah lihat Status WhatsApp kamu , itu kamu foto ketika di Singapur kan , itu teman kamu kah?", seakan tidak mengenal wanita yang ada dalam foto itu.
"Oh itu dia Lusy namanya mah ,dia bukan teman Evita , justru Evita mengenalnya setelah sehari berada disana, dia bekerja ditoko bunga di Singapur, tokonya tepat sebrang gedung mas Rangga meeting kemarin, dia orang Indonesia tepatnya dia orang Semarang, dan dia terkena amnesia permanen akibat sebuah kecelakaan, beberap tahun yang lalu, dan selama disana dialah yang mengajak jalan Evita, orang nya baik mah, namun dia tidak ingat siapapun ,setelah kecelakaan itu".
Pikiran Arini mulai berkembang kemana mana.
"Oh ternyata dia amnesia , pantas saja dia tidak mengenali Rangga, namun apakah Rangga memberitahukan pada Evita siapa sebenarnya Lusy itu".
"Oh begitu, artinya dia tidak mengingat siapapun yang pernah ada dalam hidupnya sebelum dia kecelakaan", tegasnya untuk memastikan kekhawatirannya.
"Tidak mah, kasihan ya dia , dia tinggal dipanti sosial disemarang, karena setelah kecelakaan itu tidak ada keluarganya ,atau siapapun yang menjemput nya".
Arini sudah tak khawatirkan Evita, namun dia harus berbicara pada Rangga tentang hal ini.
Dia takut kalau Evita mengetahui nya dia akan terluka hatinya.
Padahal ada sesuatu yang Evita sembunyikan pada suaminya dan mamah Arini tentang Lusy. Namun Evita tak berani mengatakannya takut terjadi sesuatu pada kesehatan mamah Arini.
Evita sebenarnya menaruh kecurigaan pada mas Rangga suaminya sendiri, karena ketika di Singapur Evita sempat melihat dan membaca buku harian Lusy yang terbuka saat Lusy sedang ke toilet . Dan disana tertulis bahwa Lusy mempunyai pacar bernama Rangga di kampus yang sama ketika mereka masih kuliah, dan menurut Lusy buku harian itu lah kenangan masa lalunya namun dia benar-benar tidak mengingatnya sama sekali.
Karena Evita mengetahui bahwa suaminya pun dulu sempat kuliah ditempat yang sama dengan Lusy.
Evita bukan wanita yang gampang terhasut oleh sesuatu yang menurutnya belum jelas. Dan sebenarnya Evita pun sedang menyelidiki dengan perlahan tentang hal ini.
Evita semakin yakin antara mamahnya dan suaminya menyimpan sesuatu rahasia tentang lusy.
......................
Satu Minggu pun telah berlalu dan renovasi rumah mba Ema pun sudah beres hanya tinggal perapihan dan finishing saja, dan Evita pun di kirim Foto-foto rumah yang telah direnovasi, cukup puas dengan hasilnya.
Siang itu Andini berbicara serius pada Evita dan mamah Arini tentang satu kabar baik, bahwa hari Minggu ini akan ada yang datang men ta'aruf Andini , Andini sudah bertukar CV sebelumnya dengan seorang pria yang satu profesi dengan andini.
Dan Minggu ini keluarga pria itu akan datang untuk melamarnya.
"Kok mendadak sekali de, sekarang sudah hari Rabu apakah cukup untuk membuat persiapannya". Evita kebingungan dengan apa yang di utarakan adiknya itu.
"Cukup sederhana saja kak , karena keluarga calon dini bukan dari keluarga yang kaya, jadi dini harap tidak usah ada dekor atau apapun, cukup keluarga inti saja, tidak usah mengundang siapapun,dan juga cukup menyiapkan kue dan juga mungkin makanan saja, maafkan dini ya mah, kak, dini juga dapat kabar nya mendadak kemarin malam".
"Mungkin ada alasan tersendiri dari mereka, yang dini pun tidak tahu persis".
"Ya sudah kalau begitu, nanti semuanya kita persiapkan semuanya ambil dari catering saja, Andini besok ke catering saja untuk memilih makanan yang cocok sebagai hidangan untuk menjamu tamunya dini", saran dari mamah .
"Untuk baju nanti apa yang kamu kenakan", tanya mamah.
"Dini cukup pakai baju yang diberikan oleh keluarga dari calon dini mah".
"Siapa kiranya nama calon mantu mamah itu", tanya mamah sambil menggoda Andini.
"Namanya mas Heru mah", dengan sedikit malu-malu mengatakannya.
Untung saja urusan renovasi sudah beres dan kini tinggal mengurus acara Andini untuk hari Minggu ini. Rasanya semenjak pulang dari Singapur Evita begitu disibukkan dengan hal ini dan itu, sehingga belum sempat untuk Evita menghela nafas.
Mungkin ini sudah waktunya untuk Evita bisa melepaskan Andini untuk seorang pria yang Andini cintai, untuk membina satu keluarga kecil nya. Kebahagiaan adiknya adalah kebahagiaan nya juga.
Dan malam setelah makan malam Evita pun memberitahukan pada suaminya tentang rencana andini hari minggu ini, dan mas Rangga pun begitu kagetnya mendengar semuanya.
Dan Evita pun sudah menghubungi bibi dan pamannya dari Bandung untuk dapat hadir diacara andini, dan kabar gembira ini sungguh membuat semua orang turut berbahagia.
Evita pun mengesampingkan dulu masalah yang sedang dihadapi nya.
Namun Evita pun tidak begitu menaruh curiga pada mas Rangga ,karena mas Rangga merasa baik-baik saja ketika berada di Singapur dan setelah dirumah pun dia tidak menunjukan hal aneh.
......................
Sedangkan Rangga pun berpikir bahwa keberadaan Lusy saat ini sungguh menghawatirkan dirinya , dan takutnya Evita mengetahui sesuatu tentang Lusy.
Saat itu ketika Rangga sedang mengotak-atik ponselnya tiba-tiba dia dikejutkan dengan status WhatsApp Evita yang berfoto bersama Lusy, Rangga pun kaget dibuatnya.
Namun Rangga harus tetap tenang karena Lusy saat ini sedang mengalami amnesia, tidak akan mungkin dia bercerita tentang masa lalunya, yang dia tau dari cerita Evita Lusy pun tidak mengingat apapun cerita tentang masalalunya. Dan ketika dia bertemu dengan Rangga pun Lusy tidak mengenalnya sama sekali.
Dikamar Evita pun mengecek status WhatsApp nya dan memeriksa siapa saja yang melihat foto itu, ternyata mamah dan mas Rangga ada dideretan orang yang melihatnya.
Evita sudah melihat reaksi mamah , sedangkan mas Rangga tidak bereaksi apapun, sehingga Evita membiarkan saja.
Namun tetap mengganjal dihatinya tentang serpihan cerita tentang masalalu suaminya itu. Sehingga mamah pun menutupinya dari Evita. Itu yang membuat Evita penasaran.
Evita tetap bersikap tidak egois dan tetap percaya pada suaminya.
Andini seakan bingung dengan sikap kakaknya yang sering melamun sejak kepulangannya dari Singapur.
"Kak Evita tidak apa-apa, apakah kakak memikirkan tentang Andini".
"Kakak tidak mengkhawatirkan mu de, kakak yakin calon suamimu kelak adalah imam yang terbaik untukmu, dan kakak seakan merasakan baru kemarin melihat kamu sebagai anak remaja yang baru lulus kuliah, namun dalam waktu dekat nanti kamu akan menjadi milik orang lain".
Keduanya pun berpelukan sambil meneteskan air mata. Bukan air mata kesedihan namun air mata kebahagiaan.