
Andini pun bertanya pada Evita tentang mamah Arini setelah berada di Semarang.
"Kak mamah tinggal di Semarang untuk sementara kan ?" tanya Andini.
"Apa mungkin mamah menyimpan sesuatu dari kita, sebab tiba-tiba saja mamah memutuskan untuk menetap disana, aneh kan?" tuturnya kembali.
"Kakak tidak tau , itu semua tergantung mamah, mungkin mamah kesepian berada disini, karena bila kakak dan mas Rangga bekerja dan Tara sekolah, dirumah hanya sendiri, dan mamah pun jarang sekali kumpul dengan teman-temannya disini" jawab Evita.
"Berarti mamah akan lama berada di Semarang?" ucap Andini.
"Bisa jadi akan menetap disana dan tak kembali lagi kesini".
Sebenarnya Evita masih penasaran dengan Lusyana, dan belum sempat bertanya pada mamah,
'Apa mungkin mamah sengaja menghindar dari Evita?' tuturnya membatin dalam hati.
Walaupun begitu tadi mas Rangga pun telah berkata jujur bahwa dia bertemu dengan Lusy ditoko kue. dan mas Rangga pun bilang bahwa dia sudah tidak mempunyai perasaan lagi pada lusyana.
Evita sedikit mempercayai perkataan suaminya itu. Dan bersikap mengiyakan perkataan mas Rangga.
Andini dan Heru pun tak lama pamit pada Evita dan Rangga. Mereka tak enak pergi lama- lama dan membiarkan ibu nya sendirian dirumah.
Andini pun pamit setelah memandikan Tara.
Setiap Andini kerumah nya Tara tak pernah melewatkan untuk merepotkan sang Tante.
Setelah mobil Heru tak terlihat lagi dari halaman rumah. Evita pun melihat situasi yang aman untuk bertanya tentang foto yang Rangga kirimkan kemarin.
Tara pun bermain ditemani mba Mia sambil nonton televisi.
Sedangkan rangga masih berada di teras sehingga leluasa Evita bertanya apapun pada Rangga.
"Mas aku boleh bertanya?" tutur Evita.
"Tanya apa " ucap rangga sambil memegang tangan Evita mesra.
Rangga pun menarik Evita untuk duduk disampingnya.
"Mas foto yang kemarin kamu kirimkan pada ku, disana kamu dirangkul oleh seorang wanita ,siapa dia ?" tanya Evita mencecar.
"Oh... itu anaknya Tante Yuni, Sarah namanya"
"Dia bersama suaminya disana, atau kah belum menikah" mencecar Rangga.
"Dia baru berpisah dengan suaminya, kata dia. Mas tidak pernah menanyakan sesuatu , dia sendiri yang menceritakan tentang kisah hidupnya"
"Mas tidak digodanya kan, atau justru mas yang menggodanya ?" cecarnya terus.
"Kamu ini ngawur kalo ngomong, disana banyak orang lalu lalang kesana kemari , mana mungkin mas menggodanya " tegasnya.
Walaupun kesal Rangga tetap sabar menghadapi istrinya itu.
Semenjak kepulangannya dari Bandung Evita seakan posesif pada Rangga selalu menanyakan apapun yang menurut Evita tidak wajar.
Itulah yang dirasakan Rangga sekarang, serasa selalu diawasi gerak geriknya oleh istrinya itu. Tetap sabar walau terkadang menjengkelkan dan selalu menahan emosi didepan Evita.
Mau ga mau Rangga harus mengikuti apa yang diinginkan Evita.
Itulah Evita yang sekarang, menjadi kaku pada suaminya sendiri.
Evita pun menyudahi aksi mengintrogasi sang suami , ia pun kembali masuk kedalam melihat Tara yang sedang nonton tv.
Rangga pun menghela nafas, dan berpikir kenapa sekarang ia harus seperti ini.
Namun Rangga sangat bersyukur bila istrinya itu adalah pencemburu.
Walaupun di luaran Evita sedikit terlihat acuh namun sebenarnya ia sedang mempertahankan rumah tangganya dari gangguan siapapun.
Sebuah nomor yang Tak dikenal pun masuk ke handphone Rangga.
Dan Rangga pun tidak mengetahui siapa yang menelfon nya.
Beberapa kali dia melakukan panggilan pada Rangga namun Rangga tak mengangkatnya.
Rangga pun mengangkat satu panggilan darinya namun Rangga tak berbicara sepatah kata pun.
Dari suaranya Rangga begitu mengenalnya. tak lain suara Sarah.
Rangga pun menghapus panggilan itu,lalu memblokirnya sebelum Evita mengetahui hal ini. Jika tidak nanti urusannya akan semakin runyam dibuatnya.
Rangga menghindari pertengkaran dengan Evita , ia tidak mau bila Tara melihat orang tuanya bertengkar.