
"Ibu kenapa menangis, Tante juga menangis apakah ada yang terluka?", ucap Tara melihat kedua wanita didepannya berurai air mata.
"Tidak sayang kami tidak ada yang terluka , dan kami baik baik saja, menangis itu bukan karena kami tersakiti namun saat ini kami menangis karena bahagia, ibumu ini terlalu baik, jadi Tante terharu", jelas Ema pada Tara.
Tara semakin tidak mengerti dan dia pun kembali ke teras duduk disamping pak Nono.
"Orang dewasa itu sungguh membingungkan dirumah terkadang Oma menangis karena bahagia ,disini pun seperti itu, kalau tanda bahagia harusnya tersenyum bukan menangis ,benarkan pak Nono?", ucap Tara dengan polosnya.
Pak Nono hanya menggelengkan kepalanya dan mengingat tingkah anak kecil ini sangat persis mas Rangga.
"Ini kartu nama pak rama dia orang kepercayaan mamah Arini mertuaku , kalau mba sudah yakin dan siap mba bisa datang kerumah catering pada hari kerja , nanti disana bilang saja mba temanku, aku rekomendasikan mba pada pak rama".
Evita sengaja tak mengatakan siapa dirinya di rumah catering itu, untuk menjaga hubungan saja agar mba Ema tak segan padanya.
"Mungkin nanti kita bisa bertemu lagi dilain waktu ya mba, sekarang aku pamit pulang karena Tara kalau sudah bosan sulit dibujuknya, semoga mba sehat terus ya".
Mba Ema pun tak menahan Evita namun dia sungguh kagum dengan perempuan itu, kami dipertemukan disebuah cafe hanya hubungan baik dan kepercayaan yang mendasari kami berteman.
Mba Ema sebenarnya sudah putus asa untuk melamar pekerjaan kesana kemari namun hasil yang didapat selalu nihil ,karena dia sudah menyadari selalu terkendala dari usia nya yang sudah berkepala empat, sehingga sulit baginya bisa diterima dimanapun.
Namun dia tidak patah semangat untuk membiayai hidupnya sendiri, dengan mengambil pekerjaan menjadi buruh cuci bila ada tetangga yang perlu tenaganya.
Apapun akan dia lakukan namun dengan cara yang halal.
Setelah selesai makan malam Evita menghampiri adiknya yang sedang dikamar,
"De.. mba mau ngobrol sebentar sama kamu"
"Ada apa mba?". Andini pun terlihat serius memperhatikan apa yang mau kakaknya bicarakan.
"Begini , kamu masih ingat mba Ema yang dulu kerja di cafe bareng mba, nah selama dua hari ini mba kerumah dia dan mba perhatikan rumahnya perlu diperbaiki,ini Foto- foto kondisi rumahnya".
"Maksud mba begini tabungan kita dari hasil sewakan rumah itu kan hasilnya lumayan ,nah mba mau minta sedikit saja untuk memperbaiki rumah mba Ema, apakah boleh?".
Setelah Andini melihat kondisi rumah dari foto yang diberikan kakaknya, Andini pun tidak menolak keinginan kakaknya untuk membantu mba ema.
"Iya ga papa kak , pake saja Andini tidak keberatan kok, dulu rumah kita pun seperti itu kan keadaan nya, bila musim hujan kita suka tidak bisa tidur dengan nyenyak karena takut kebanjiran, ataupun takut rumah tiba-tiba roboh, Andini paham akan hal itu".
"Jadi kamu setuju de, nanti untuk urusan tukang kakak mau minta bantuan mas Rangga untuk tukang dari kantornya yang mengerjakannya".
Saat malam sebelum tidur Evita pun membicarakan hal ini dan memperlihatkan foto keadaan rumah mba ema pada suaminya, dan suaminya setuju setelah melihat foto yang diberikan Evita.
"Sekarang tinggal ijin mamah boleh ga Evita pergunakan uang itu, rumah Evita di renovasi juga itu atas saran mamah kan, dan mamah juga yang membiayai semuanya".
"Mas kira mamah ga akan keberatan dengan ide kamu, niat kamu kan baik".
"Ya sudah besok saja Evita bicara sama mamah".
Andini pun tidak terganggu dengan hal kecil ini. Tara lebih suka dikamar Andini karena kasurnya lebih luas dari pada di kamar ibunya.
Aktivitas dipagi hari seperti biasa Andini sudah bersiap untuk berangkat mengajar, sedangkan Tara masih juga belum bangun dan Andini sengaja tidak membangunkannya.
Andini pun berangkat sangat pagi tidak seperti hari biasanya.Ketika sarapan mamah pun bertanya keberadaan Andini.
"Andini tadi berangkat lebih pagi mah ,karena katanya mau ada tamu dari Dinas dan dia bertanggung jawab mengurus konsumsi dan dia harus mengambil pesanan kue yang sudah dipesannya".
Usai sarapan Rangga pun langsung pergi ke kantor, karena hari Senin harus agak pagi karena dijalanan pasti macet.
Setelah Tara bangun Evita pun cekatan mengurus Tara , dan lanjut untuk menyuapi Tara sarapan ,sambil menemani mamah mengurus bunga anggrek nya di teras rumah.
Evita pun berbincang dengan mamah Arini tentang kondisi rumah mba Ema, dan setelah melihat foto-foto nya mamah Arini justru yang lebih histeris melihat keadaan rumahnya yang seperti itu.
"Kenapa kamu tidak bilang sejak kemarin nak, mamah sangat setuju sekali dengan ide kamu itu, dan mamah akan menyumbang untuk keperluannya juga".
"Uang dari tabungan kalian kamu ambil sedikit saja ya, buat bekal nanti Andini menikah, sisanya biar mama yang bantu, dan apakah teman mu itu jadi melamar di catering, sementara rumahnya direnovasi sebaiknya dia tinggal dulu di mes catering saja".
"Serius mah.. terimakasih ya mah , mamah memang mamah terbaik, waah pasti teman Evita senang sekali, bila mendengar ini".
Evita pun sudah tak sabar untuk segera menyampaikan hal ini pada mba Ema.
dret...dret...ponsel Evita pun berbunyi,dan dilihatnya pak Rama yang menelfon.
"Assalamualaikum, selamat pagi mba Evita, langsung saja ya, ini teman mba Evita yang bernama Ema ada di ruang an saya , selanjutnya bagaimana mba? ,saya menunggu arahan dari mba Evita saja".
" Waalaikumsalam, Ooh jadi datang ya, ya sudah langsung suruh bekerja saja pak, hari ini coba jelaskan saja tugas tugasnya disana , dia juga paham kok nanti karena dulu dia juga pernah bekerja dicafe".
"Oh iya kalau begitu mba , saya akan memberikan arahan padanya apa yang harus dia kerjakan, itu saja mba, assalamualaikum ".
"Waalaikumsalam".
"Mba Ema jadi datang ke catering mah,mungkin Evita besok saja ke catering nya, Tara nanti biar Evita ajak saja sambil jalan jalan, berarti mamah dirumah sendiri, atau mamah mau ikut?". Ajak Evita.
"Mamah sebaiknya dirumah saja , takutnya ada tamu ,nanti ga ada orang dirumah".
"Ya sudah ,bener ya mamah ditinggal sendirian dirumah sama mba Mia".
Sudah terbayang oleh Evita besok dia akan mencicipi lagi dimsum dan jus strawberry di rumah catering.
Dan mas Rangga tiba tiba kirim chat juga pada Evita tentang anggaran dan rencana renovasi rumah mba Ema.
Dan Evita pun memberi tahu pada mamah dan mengirimkannya juga pada ponsel mamah.
Pantas saja usaha keluarga mamah Arini selalu mengalir terus dan berkembang karena mamah Arini salah satu wanita dermawan di sekitaran rumahnya. Bila ada yang meminta bantuan asalkan jelas,mamah Arini akan membantu dengan senang hati.