
Robin sangat dibuat frustasi sekali dengan semua ini. Semenjak kematian Bryan, ia terlihat murung sedari tadi. Entah harus apa lagi dia setelah ini tanpa rencana sebelumnya.
"Apakah aku harus seperti ini terus?!"
Kemudian karena terlalu kesal, ia memukul lantai sekeras mungkin.
...[BIIIIPPPPPPP]...
Sesuatu telah terpicu setelah Robin memukul lantai. "Eh?"
Ia reflek berdiri sembari menyiapkan panahnya untuk mengecek apa yang ia barusan picu sebelumnya.
...[INTRUDER ALERT, SAFETY MODE ONLINE]...
Suara komputer di dalam Lazarus raksasa itu mengucapkan sesuatu. Robin merasa seperti ada sesuatu yang datang dari segala arah.
...[BZZZZTTTT BRUGGGG]...
Jatuh suatu SecBot yang kira-kira tingginya seukuran dengan manusia. Robin yang melihatnya langsung menembak SecBot itu tanpa pikir panjang.
"Bagaimana bisa ada SecBot disini?" ucap Robin sembari mengambil panah kembali.
...[BRUGGGG]...
Dari belakang Robin, semakin tambah banyak SecBot berjatuhan dari lubang ventilasi. Robin menembak semua kepala SecBot itu satu-persatu. Tetapi SecBot semakin banyak dan semakin berjatuhan dari sekelilingnya.
"Sial! apa-apaan ini?!" Robin dibuat kesal.
Ia terus menembak dengan cepat dan akurat ke masing-masing SecBot. Semakin lama, ruangan ini semakin dipenuhi dengan SecBot dari dalam kepala Lazarus raksasa ini.
...[Di sisi lain]...
Pertarungan sengit antara Aku dengan Kors dalam mode mecha form masing-masing semakin menjadi-jadi. Dark Cryptide vs Cryptide. Saling beradu pedang sampai mengeluarkan percikan aura kegelapan dan cahaya.
Aku baru menyadari bagaimana ia dapat menyerap energi kristal ini. Semenjak aku mengetahui kalau darah Kors sekarang biru, kini aku mulai percaya kalau teknologi dapat menyerap cahaya kristal Cryptide. Sial, terlalu meremehkan teknologi.
"Bleeding Hellfire!" Kors mengeluarkan jurusnya dengan cara mengayunkan pedangnya.
"Blessing Impact!" Aku juga ikut mengeluarkan jurus ku untuk saling beradu skill.
Berkali-kali kami saling beradu ayunan pedang. Entah berapa kali juga bagian armor kami tergores oleh pedang kami. Tetapi kami tetap menyerang satu sama lain. Sampai salah satu dari kami yang akan mengakhiri ini semua.
...[PRANGGGGGG]...
Setelah salah satu ayunan pedang kami berdua, lalu kami sama-sama mundur kebelakang. Terlihat lelah hanyalah untuk orang lemah. Meski sedang butuh memulihkan diri, Aku dan Kors sama-sama bersiap-siap terhadap semua serangan.
"Huhhh, kau tahu kalau aku ini setengah mesin kan? apakah tubuhku terlihat lelah?" ujar Kors.
"Entahlah, aku tidak dapat membaca perasaan seseorang melalui mesin. Teknologi? sesuatu yang bodoh!" jawab ku.
Kors tertawa,"Hahahaha. Tetapi kau sendiri hidup di jaman teknologi dasar orang primitif!"
"Wow, sepertinya kau sedang berbicara dengan orang primitif yang tahu soal mekanisme."
"Hmm," Kors berdiri dan menancapkan pedangnya ke lantai, "apa yang kau tahu soal mesin?"
Aku juga berdiri dan menancapkan pedangku di lantai. "Aku memiliki mobil sendiri di rumah, tapi . . . . . ." seketika aku teringat sesuatu. "Sayangnya, sudah meledak setelah beberapa jam ku perbaiki. Apa kau tahu perasaan yang ku alami saat itu? ditambah lagi, pacar ku juga diculik oleh boneka mu pada saat itu."
"Menyedihkan sekali. Sayangnya selama aku hidup disini, belum pernah merasakan suatu emosi sama sekali. Meski aku memiliki keturunan, aku belum pernah ada rasa peduli dengan seseorang."
"Keturunan?" aku sedikit terkejut.
"Ya, aku sudah membantai mereka semua dengan kekuatan kristal itu sendiri. Aku sangat benci jika seseorang mencoba menasehati ku!"
"Orang ini sudah sangat gila!"
"Yah intinya begitulah," Kors menarik pedangnya kembali, "sekarang mari lupakan semua itu!"
...[Di negara lain]...
Teman-teman ku sedang berkumpul di satu pos. Mereka semua melamun, karena bingung apa yang harus mereka lakukan saat ini. Holophone mereka mati semua karena tidak ada akses ke negara Mechroid.
Semenjak Mechroid sudah diambang kehancuran, pendatang dari negara itu semakin banyak setiap jamnya.
Ketika Kenko dan yang lain sedang duduk dan melamun di pos, Akuta datang sehabis dari suatu tempat dengan terburu-buru.
"Teman-teman!" Akuta terengah-engah.
"Akuta, darimana saja kau? kenapa kamu ngos-ngosan begitu?" pinta Yuusha.
"Semuanya, cepat lihat kemari!" Akuta mengajak ke suatu tempat.
Karena yang lain dibuat bingung apa yang terjadi, mereka pun mengikuti kemana Akuta pergi. Orez dan Kenzu yang duluan mengejar Akuta.
Setelah yang lain sudah sampai di tempat, mereka dibuat bingung dengan apa yang terjadi saat ini. Orang-orang sangat ramai melihat ke monitor hologram besar yang tertera di depan mereka.
Kenko bingung awalnya. Ia tidak tahu apa yang sedang mereka lihat. Sampai ia semakin dekat dengan monitor, sampai ia tahu apa yang sedang mereka tonton.
"K . . . Kevy?!"
Sebuah layar monitor hologram sedang menunjukkan drone yang diterbangkan oleh para aktivis untuk melihat apa yang sedang terjadi di negara mereka. Yang diperlihatkan oleh drone itu adalah, Aku yang sedang bertarung dengan Kors di atas gedung tertinggi di kota Extrobile.
"Itu Kevy bukan?" Mako memastikan.
"Astaga, apakah itu Cryptide?" pinta Wax.
"Gila. Negara kita sudah seperti sedang dalam kiamat" Reggie sangat syok.
"Penentu kehidupan negara ini, hanya ada di tangannya" ujar Nelson.
"Akuta, siapa yang sedang dilawan olehnya?" tanya Yuusha.
"Kurasa itu Kors. Entah bagaimana ia dapat meniru gaya dan kekuatan dari Cryptide."
...[Kembali dengan Robin]...
Ia semakin didesak dengan banyaknya SecBot di dalam sini. Sampai akhirnya ia kehabisan anak panah biasa, hanya tersisa satu anak panah pemicu mesin, tetapi ia belum pernah mencoba itu sebelumnya.
"AKHHHH!!!! Aku muak Dengan semua ini! enyahlah kalian semua!"
Robin memberanikan diri untuk menyerang SecBot-SecBot itu dengan serangan fisik. Ia tidak peduli dengan tubuhnya sendiri. Bahkan sampai mengayunkan busurnya untuk menyerang.
Robin sekuat mungkin membantai satu-persatu pasukan SecBot itu. Tetapi, SecBot semakin mengerubunginya sampai Robin tidak dapat bergerak.
Sekarang Robin gantian diserang oleh pasukan SecBot itu berkali-kali. Robin dibuat tidak berdaya dengan SecBot-SecBot ini. Ia sampai berdarah di beberapa bagian tubuhnya akibat serangan tajam dari SecBot itu.
Sampai akhirnya Robin tidak punya pilihan terakhir, iapun akhirnya mengambil keputusan baru. "Persetan dengan semua ini!"
Lalu ia akhirnya mengambil anak panah itu dan ditembakkan menggunakan busur ke arah mesin kemudi Lazarus di ujung ruang. "Lakukan sihirmu!"
...[BZZZZTTTT]...
Tiba-tiba Lazarus mengalami malfungsi. Semua SecBot yang aktif di dalam ruangan itu, mendadak nonaktif setelah itu terjadi. Tetapi beberapa detik kemudian, Robin tersetrum akibat menginjak lantai di sana.
"WAAAAAAAA!!!" Robin sangat kesakitan.
Akhirnya listrik sudah mati kembali. Robin yang sangat lemas, akhirnya pun terjatuh. Ia sangat tidak berdaya dengan hal itu.
Awalnya Robin berpikir kalau tindakannya itu sudah sangat heroik. Iapun tertawa lepas ketika sedang tersungkur. "Ha . . . ha . . . Hahahaha."
Sampai akhirnya . . . . .
...[BIIIIPPPPPPPP BIIIIPPPPPPPP BIIIIPPPPPPPP]...
Alarm merah berbunyi. Seketika semua yang ada di dalam Lazarus menjadi merah akibat sesuatu yang telah terpicu barusan olehnya.
"Self-destruction active . . . ."
Reflek Robin langsung berdiri dan melihat ke arah mesin kendali. "A . . . apa?!"
...[Sementara dari luar Lazarus]...
"A . . . apa?" Aku juga terkejut mendengar hal itu.
Ternyata suara itu juga terdengar sampai luar Lazarus. Aku dan Kors sama-sama terkejut mendengar hal itu. Padahal kami sedang dalam pertarungan.
"Hei hei! bagaimana cara mematikan benda itu?!" aku mencekik Kors dengan tanganku.
Kors ngelunjak. Ia malah bersiul siul sambil menoleh ke arah lain. "Tidak tahu. Tebak saja sendiri."
...[BRUGGGG]...
Kors membalikkan badannya dan membanting ku. Ia mengambil pedangnya dari belakang dan menusuk ku kembali.
...[TSSSSSKKKKKK]...
"Akhhhhh!!!!"
Perutku kembali tembus dengan pedangnya. Kors menarik kembali pedang itu dan menendang ku. Tetapi aku menarik kakinya dan menusuknya kembali dengan tanganku.
...[SRRRRRKKKK]...
Sekarang kami sama-sama tertusuk kembali sampai menembus keluar. Tanpa disengaja, kami kembali menjadi human form dengan manusia bersimbah darah dari perut kami masing-masing.
Aku mencoba untuk berdiri tegak meski dalam keadaan perut yang bersimbah darah ku sendiri. "Uhuk-uhuk . . . . " Aku memuntahkan darah dari mulutku.
Kors juga kembali berdiri untuk melanjutkan pertarungannya bersama denganku. Meski darahnya biru, tetapi lukanya tetaplah mengerikan seperti biasanya.
...[1 Minute countdown, in 60, 59, 58 . . . .]...
"A . . . apa?" Robin di dalam Lazarus terkejut.
Begitu juga dengan ku yang terkejut. Kors malah semakin senang mendengarnya.
"Hei, kemari kau badjingan!" aku mencekik lehernya dan menjatuhkannya ke lantai. "BAGAIMANA CARA MENGHENTIKAN BENDA ITU?!" bentak ku sampai darahku sendiri jatuh dari mulutku.
"Ha . . . .ha . . . . ha. Selamat datang di neraka ku."
Kors mengambil pisau lipat di saku kakinya. Kemudian ia menancapkan pisaunya di lehernya sendiri.
...[TSSSSSKKKKKK]...
Darahnya terciprat sampai ke wajahku. Kors telah tewas menusuk dirinya sendiri di hadapanku. Aku hanya bisa pasrah dengan semua keadaan ini.
Aku berdiri dengan bersimbah darah hampir di seluruh pakaianku. Berjalan ke tepi gedung sembari menahan sakit di perut. Aku juga menyeret pedang Cryptide ke tepi gedung sembari melihat Lazarus yang sebentar lagi akan meledak.
...[30 Seconds to demolition. 29, 28, 27 . . . ]...
Robin sudah berusaha keras untuk menghancurkan mesin kendali di dalam kepala Lazarus. Lampu merah berkedip-kedip membunyikan suara peringatan sebelum Self-destruction.
Aku duduk dan membungkuk sembari menancapkan pedang Cryptide. Aku memejamkan mata untuk menikmati momen terakhir ini.
Tapi . . . . . sesuatu telah terjadi.
...[WUSSHHHH]...
Suatu angin aneh, melintas di tubuhku. Reflek aku membuka mata untuk melihat apa yang terjadi.
"Eh?"
Aku melihat seorang berbaju putih seperti toga berdiri di depanku. Ia sedang melipat tangannya ke bawah ketiak sembari menatapku dengan mata berkilau nya itu.
"K . . . kau . . . ." aku berdiri.
"Terimakasih telah merakit kembali Riptide menjadi semula. Meski dalam keadaan yang ditempa kegelapan, tetapi kamu berhasil menyatukannya kembali."
Aku terkejut setelah mendengarnya berbicara.
"Karena kau telah berhasil menyatukannya kembali, akan kuberikan keinginan mu sesuai janji ku. Namun, tentu saja ada syaratnya."
Aku mengangguk karena sudah yakin dengan pilihan ini. Aku sudah berpikir ini dari jauh hari. Dari pertama aku mendengar sejarah ini sampai sekarang, aku sudah ingin menjawabnya.
"Keinginanku adalah . . . . . "
...[DUARRRRRRRRR]...
Dari luar, Lazarus akhirnya meledak total sampai menghancurkan semua gedung. Ledakan itu mencapai jutaan radius kilometer. Bahkan sampai menyentuh pantai negara tetangga sehingga negara Mechroid hancur total sampai tidak tersisa.
Layar monitor dari drone hilang koneksi sehingga semua orang di pos berprasangka kalau negara telah hancur. Teman-temanku dibuat syok dan tercengang melihatnya. Kenko meneteskan air mata dan jatuh ke tanah.
Aku yang di atap tepi gedung, terkena ledakan dari Lazarus Apocalypse sampai asap melahap ku. Sampai aku merasakan semua kesakitan, akhirnya aku memejamkan mata.