CRYPTIDE CRYSTAL

CRYPTIDE CRYSTAL
Panic Room



...[Di suatu ruangan]...


Kyo masih tidak sadarkan diri setelah kejadian sebelumnya. Hal itu membuat ia sangat menyesal sekali sudah mengikuti apa yang dikatakan oleh Jack sebelumnya. Tetapi kali ini dia sedang berada di suatu ruangan,


"Kyo, bangun Kyo!" Yue mencoba membangunkan Kyo yang masih tidak sadarkan diri.


Kyo yang membuka matanya, ia langsung bangun dengan sergap, "Hah, apa yang terjadi?" kaget Kyo.


"Ssshhtt, sepertinya kita berada di suatu ruangan" Yue menutup mulutnya Kyo sembari berbicara pelan.


Kyo yang mengerti dengan situasi seperti ini, ia menenangkan dirinya dengan menarik nafas.


Kyo melihat sekitar untuk mengamati ruangan yang kosong itu. Yang hanya ia bisa lihat adalah, berbagai kamera kecil yang menempel di dinding mengarah kepada kami.


Kyo merasa seperti ada yang kehilangan, "eh, penutup mataku kemana?" Kyo baru sadar jika penutup matanya hilang.


"Jangan tanyakan aku" Yue sendiri juga tidak tahu.


"Tch, kristalku juga diambil . . . ." Kyo memukul lantai.


Mereka berdua sama-sama diam dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Yue sedari tadi melirik ke mata Kyo yang sedang melamun, "kenapa kau sedari tadi melihat mataku?" ternyata Kyo sadar jika ia sedang dilirik.


"Tidak, aku hanya jarang melihat matamu seperti itu."


"Benarkah?" Kyo menoleh ke wajahnya Yue.


Yue sepertinya terpesona melihat mata biru yang indah milik Kyo itu.


"Inilah alasanku memakai penutup mata" Kyo memejamkan matanya.


"Hei hei, apa salahnya sih melihat mata seseorang?" Yue memegang kelopak matanya Kyo.


"Bukannya tidak boleh, tapi lawan jenis akan selalu seperti ini, WAAAA!!!" Kyo merintih.


...[Kembali ke momen kami]...


"HATI-HATI, KAMERA BERKELIARAN DI SEKITAR SANA!" teriak Jetsu di alat komunikasi pada Orez dan Kenzu.


"Sial, bagaimana dengan kita?" panik Orez sembari menatap wajah Kenzu di sebelahnya.


"Tidak tidak, jangan panik. Tetaplah dalam rencana, kami akan mengurusi ini" perintah ku, "Robin, Bryan, sejauh mana kalian bisa menembak?"


"Entahlah. Selama kami belum berubah menjadi mecha form, pasti selalu ada kekurangan di human form" kata Bryan.


"Tapi panahku sepertinya mungkin memiliki jarak tembakan yang mungkin sangat jauh, karena ini masih masuk kekuatan Sting Shot" kata Robin.


"Baiklah, coba kalian tembak semua kamera/CCTV yang kalian bisa jangkau. Karena seseorang dibalik ini sudah tahu kita akan datang ke sana." perintah ku.


"Anu, apa aku bisa ikut menembak?" Wax mengajukan diri.


"Angin sedang berhembus sangat kencang, apa kau yakin dapat menembak target-target itu?" analisa Akuta.


"Berharap saja."


Wax mengambil kristalnya, "Create, Armor, Up!" lalu ia bertransformasi menjadi Mecha form nya untuk ikut menembak.


"Sepertinya kita juga harus ikutan, Robin" saran Bryan.


"Hmm" Robin mengangguk dan juga mengeluarkan kristalnya.


"Kevy, apa yang akan kita lakukan?" tanya Drop.


"Baiklah berkumpul kesini sebentar" Aku mengumpulkan semua orang dan menunduk sembari menyusun rencana.


Akuta, Drop, dan Jetsu bersedia mendengarkan,


"Mungkin ini agak sedikit kacau, tapi rencanaku adalah kita akan menerobos pintu besar yang ada di bawah sana itu," sembari mengecek alat komunikasi, "Orez, disana itu sebuah pintu besar kan?"


"Bukan, hanya sebuah pintu besi biasa. Tetapi pintu ini sangatlah yang paling mencolok dari bangunan-bangunan lainnya" Orez menjelaskan suasana di bawah sana.


"O . . . oke baiklah," dengan sedikit kecewa, "tetapi dibawah sana tidak ada yang bahaya kan?" aku memastikan.


"Sedari tadi yang kulihat hanyalah kamera kecil di beberapa bangunan. Ya aku tahu, seseorang telah mengawasi kita sedari tadi."


"Sial," kembali ke rencana tadi, "baiklah teman-teman, kita akan menerobos tempat itu."


"Tunggu sebentar, bagaimana dengan para wanita?" tanya Akuta sembari menunjuk para wanita.


Aku berpikir sebentar sembari kembali mengingat rencana sebelumnya.


...[Kembali ke beberapa hari sebelumnya]...


Ketika kami menyusun rencana untuk masuk ke tempat itu, aku sempat bertanya-tanya kepada para wanita.


"Kenapa para wanita juga harus ikut?" tanyaku kepada Jetsu, "kita disini bukan untuk bersenang-senang loh" sembari memandang para wanita.


"Loh, kita mungkin akan berguna disana nanti" kata Yuusha.


"Dengan cara apa?" tanya Akuta.


"Memantau mungkin?" jawab Kenko.


"Pemikiran yang bagus. Tapi jika hanya itu saja, salah satu diantara kita pasti juga bisa untuk memantau dari luar" pikirku.


Semua orang sempat terdiam, lalu Mako mencoba mencairkan suasana.


"Baiklah begini saja. Apakah kalian berdua bisa bertarung?" tanya Mako pada Kenko dan Yuusha.


"Kalau untuk bela diri saja, kami yakin bisa!" semangat Kenko.


"Lalu kenapa disaat kau dijadikan tawanan oleh Grease malah kau seperti tidak berdaya?" aku kembali mengingat momen itu.


"Dia kan sudah berubah menjadi mecha form!!!! siapa juga yang bisa menang lawan mecha form dari tenaga human form biasa!?" kesal Kenko.


"Ya, ya, ya maaf" aku sedikit tertawa.


"Baiklah aku punya usulan" Jetsu mengangkat tangan.


Semua orang memperhatikan Jetsu, "Kevy, berikan kristal-kristal mu."


"Eh, eum, baiklah" aku memberikan kristal-kristal yang sudah kuraih selama ini.


Setelah diambil, Jetsu maju ke depan para wanita.


"Ambil kristal ini yang menurut kalian menarik. Satu orang pilih satu." Jetsu menyodorkan tangannya dengan banyaknya kristal di tangannya itu.


Mako, Kenko dan Yuusha mendekati kurungan kristal itu. Dari wajah mereka sepertinya sudah sangat bersiap sekali dengan benda itu.


"Aku mengambil ini!" mereka bertiga sudah mengambil masing-masing salah satu kristal itu.