
"A . . . apa?" aku frustasi melihat kristal ini tidak bercahaya.
"Serahkan saja dunia ini padaku. Akan ku hancurkan dunia ini setelahnya" hina Kors.
Aku berbalik dan mengangkat kristal Sci-Libur. "Create! Armor! Up!" Tidak ada reaksi apapun setelah ku ucapkan. "Hah? kenapa?" aku menatapi kristal itu.
"Kini Cryptide sudah kuambil alih. Sekarang . . . ." ia mendatangiku, "pasrahkan saja semuanya!"
Kors mengayunkan pedangnya ke arah ku. Aku berhasil menghindarinya. Tetapi apakah aku hanya harus menghindari serangannya?
"Tidak bisa jika begini terus!" kesal ku.
Aku mendorong Kors, tetapi aku sendiri yang terpental. Tidak sampai disitu, aku kembali berdiri dan mencoba menyerangnya dengan tangan kosong ku.
Ia hanya diam membiarkan ku menyerang. Seolah-olah serangan ku tidak berasa baginya.
"AAAAAAAAKHHHHHHHH!!!!!" aku melampiaskan semua emosiku dengan pukulan ini.
Tetapi semakin ku pukul, tanganku juga semakin terluka. Kors hanya tersenyum menyeringai dibalik helmnya. Kemudian setelah beberapa pukulan kembali, badanku merasa tidak enak.
...[Sementara itu di negara lain]...
Orang-orang yang selamat dari serangan negara Mechroid, dipindahkan sementara ke pos negara ini. Ternyata ratusan ribu orang banyak yang terluka dan tewas. Sisanya belum ditemukan oleh tim penyelamat.
Berita ini sudah viral kemana-mana, bahkan sampai kedutaan negara sampai bersujud meminta maaf atas semua ini. Presiden negara kami juga sudah tewas saat kejadian itu. Sekarang hanya bisa berharap lebih untuk ekspektasi masing-masing.
Kenko dan teman-teman yang lain baru saja turun dari helikopter. Akuta dan Orez melihat sekitar pos. Betapa mengerikannya situasi saat ini. Robin merasa tidak enak jika merasa bersih sendiri. Reggie merasa syok dengan semua ini. Sedangkan Bryan . . . .
"Bryan, kau mau kemana?" Wax menyadari Bryan yang kembali ke helikopter.
"Ahh, ketahuan ya?" Bryan berhenti sejenak.
Ia berbalik dan menghadap yang lain. Teman-teman memerhatikan apa yang akan Bryan lakukan selanjutnya.
"Dengar, teman-teman. Ini memang sulit dijelaskan tapi . . . ." Bryan bingung harus bicara apa.
"Katakan saja, Bryan" Mako mempersilahkan.
Bryan tersenyum. "Baiklah. Aku akan mengatakannya."
Semua teman-teman akan mendengarkan apa yang akan Bryan katakan.
"Aku akan kembali ke sana membantu Kevy. Terasa curang jika aku hanya ikut-ikut selamat di sini. Kors juga kapten ku sebelumnya. Dan Kevy adalah rival sejati ku. Aku sangat menghormatinya. Sekarang aku akan membantunya. Meski itu akan mengorbankan nyawaku."
Akuta kurang yakin. "Hei hei! kau tidak bisa berbuat begitu seenakn--"
"Tidak, Akuta. Lagipula disini aku tidak punya siapa-siapa lagi selain rival ku. Ini memanglah jalanku. Aku yang memilih sendiri. Jika kalian menolak, aku akan tetap ke sana."
Semua teman-teman merasa menggantung. Mereka tidak bisa bicara lagi untuk meyakinkan Bryan. Karena semua orang sudah tidak ada hal yang harus dibicarakan, Akuta maju mendekati Bryan.
"Eh?" Bryan terkejut.
Akuta menjulurkan tangannya. "Jadi . . . sampai bertemu lagi kawan?"
Bryan merasa tersentuh melihat pertemanan yang menghangatkan ini. Membuat ia terharu dan sedikit mengeluarkan air mata.
Bryan mengelap air matanya. "Sial. Tentu saja!" ia bersalaman dengan Akuta.
Yang lain melambaikan tangan dengannya. Bryan balik melambaikan tangan ke mereka. Lalu ia masuk ke dalam untuk menerbangkan helikopternya.
...[BRRRRRRRRR]...
Bryan sudah melandas dan pergi menyusul ku. Teman-teman yang lain melihat Bryan meninggalkan negara dan pos ini dengan cepat.
Kemudian Akuta berbalik badan untuk melihat teman-temannya. Tetapi ia merasa ada yang aneh. Seperti ada yang kurang dari kami.
"Teman-teman . . . " Akuta kebingungan.
"Ada apa Akuta?" tanya Yuusha.
"Dimana Robin?"
Teman-teman yang lain melihat sekitar. "Akuta, apakah mungkin . . . "
Akuta yang menyadarinya, ia berbalik menghadap ke arah helikopter pergi. Ia menggunakan teropong untuk melihat helikopter. "S . . . si gila itu!"
Akuta melihat Robin yang melambaikan tangan kepada mereka. Ternyata Robin diam-diam ikut dengan helikopter yang diterbangkan oleh Bryan.
"R . . . Robin ikut dengannya?" Kenzu terkejut.
"Ya. Dia bisa-bisanya mencuri kesempatan ini."
"Biarkanlah. Dia juga akan berjuang di sana" ucap Kenko dari belakang.
"Oh, Kenko. Syukurlah kau tidak ikut dengannya" Akuta merasa lega.
"Hmm?" gumam Akuta.
"Lupakan. Intinya aku sudah mempercayakan ini semua pada Kevy!" diam-diam Kenko menyembunyikan suatu benda di belakangnya.
...[Sementara di helikopter]...
Robin berjalan ke depan untuk bertemu dengan Bryan.
"Hei, tadi tidaklah buruk" Robin menepuk bahu Bryan.
"Yah, setidaknya aku sudah pamitan dengan mereka. Tidak denganmu" ejek Bryan.
"Tidak kok. Aku meninggalkan surat di saku Wax secara diam-diam. Ia akan membacanya kalau sudah menyadarinya nanti."
"Pencuri memang beda."
"Polisi memang beda."
Mereka berdua saling bergurau dan tertawa. Perjalanan mereka berdua, akan sangat membantuku kedepannya nanti.
...[Kembali denganku]...
Ternyata benar. Aku kembali mengeluarkan darah dari mulutku dan hidungku. Penyakit ini belum sembuh sama sekali. Tidur ku selama seminggu itu hanya menidurkan selnya saja, tidak dengan penyakitnya.
"Kenapa? kambuh lagi?" Kors mengangkat daguku.
Aku hanya bisa menatapnya dengan keadaan lemas. "Cuih" aku meludahi darahku ke wajahnya.
"Kau menarik."
Kors tanpa pikir panjang, ia menyeret ku ke tepi gedung. Kemudian ia menjatuhkan ku dan menginjak pipiku. Kini aku sedang disiksa olehnya dengan kesempatan ini.
"Sekarang apa akan yang kau lakukan dengan situasi ini? melawanku? mustahil" ia mengeraskan kakinya ke bawah.
Aku sulit untuk berbicara. Menggerakkan kaki ku saja sangat lemas. Apakah ini benar-benar aku?
"Lalu apa yang kau akan lakukan selanjutnya? tiba-tiba mengeluarkan semacam gelombang elektromagnetik yang akan mementalkanku?"
Aku tersenyum. "Ya" jawabku.
"Eh?"
...[BZZZZTTTT]...
Kors benar-benar terpental setelah aku mengeluarkan gelombang elektromagnetik. Entah darimana aku dapat kekuatan ini, tapi aku yakin sekali kalau ini berasal dari dewa.
"A . . . apa-apaan denganmu ini? siapa kau sebenarnya?!" Kors kembali berdiri.
Aku ikut berdiri meski secara lemas. Aku melihat ke atas sembari memejamkan mata. Kemudian tersenyum menyeringai sembari menyombongkan diri untuk membalas jawabannya.
"Aku . . ." aku menghadap kepadanya. "Namaku adalah Kevy Devotee! pahlawan utusan dewa!" mataku berapi-api.
"Mustahil" Kors menggenggam pedangnya.
"Memang terlihatnya mustahil. Tapi . . . . . jika sudah seperti ini, bagaimana kalau percaya saja?" ucap ku.
Kors dibuat bingung oleh perkataan ku. Ia hanya akan bersiap-siap menyerang ku.
...[WUSSHHHH]...
Meski masih hujan, awan membuat jalan untuk sinar matahari. Sinar matahari itu menyinari ku dan kristal-kristal ku. Perlahan kristal itu bangkit dan melayang. Seolah-olah terserap cahaya sinar matahari.
"A . . . apa yang terjadi?!" Kors dibuat bingung.
"Selamat datang," semua kristal itu datang ke tanganku. Kemudian ku klaim semua kristal itu di genggaman tanganku. "Di dunia fantasi ku!"
"Cryptide . . . . . Impact!!!" aku mengangkat semua kristal itu dan melemparnya ke atas.
Semua kristal itu kedatangan banyak aura dari masing-masing warna di segala arah. Satu persatu kristal memutari kristal utama, dimulai dari Sci-Libur. Kemudian bersatu dengan membentuk suatu display pedang.
Lalu terbentuklah pedang Cryptide yang ku genggam dengan tangan ini. Akhirnya aku berhasil menggabungkan semua kristal menjadi Cryptide kembali. Itu semua hasil dari kerja kerasku, impianku, keinginanku, semangatku, keluargaku, teman-temanku, dan pacarku.
"Ciptaan ku!" Kors asal main klaim.
"Tidak, bukan ciptaan mu," aku menodongkan Cryptide ke arahnya, "tapi ciptaan dewa!"
Perlahan partikel-partikel Cryptide menyatu denganku. Membentuk suatu armor dari atas sampai bawah dengan canggih. Sensasi dan aura yang kuat dari tubuhku, sangat terasa sekali di setiap bagian tubuhku.
"Sekarang, angkat tangan yang ingin dikalahkan oleh ku!"
Aku baru saja bertransformasi menjadi Cryptide Form. Tidak ku sangka akan ada form seperti ini. Aku akan sangat menikmatinya nanti.