
Pagi hari aku sudah bersiap-siap untuk pergi ke kota Sedecy, yaitu kota dimana pedang Cryptide pertama kali ditemukan. Aku juga sudah bilang kepada teman-teman ku yang lain untuk juga ikut bersiap-siap.
Kemungkinan pertama di kota Sedecy adalah pasti ada pecahan yang tersangkut disekitar lokasi itu, namun aku masih mencari petunjuk di peta kota Sedecy.
Asal usul kota Sedecy sudah ku telusuri semua nya di internet dalam komputer milik Yuusha sampai aku menemukan sebuah berita lama di tahun 2722, "sebuah pintu paradox ditemukan di daerah kota sedecy" lalu aku mencari berita yang terkait dengan berita ini "pintu aneh yang membuat semua orang kembali ke tempat semula"
Semua berita ini membuat ku sedikit merinding, tetapi sepertinya mata ku tertuju oleh suatu lubang kunci yang memiliki nama di atas nya, "C.O." aku masih tidak mengerti oleh ukiran itu.
"Apa yang kau ketahui soal C.O.?" Aku menanyakan hal ini kepada Yuusha yang berada di sampingku sedang bermain game di konsol miliknya.
"Entahlah, belum pernah mendengar kata itu sebelumnya" kata Yuusha yang masih bisa mendengar meski dia menggunakan Headset di telinganya.
"Apa yang kau ketahui soal kota Sedecy?" Aku masih bertanya.
"Dulu aku pernah ke sana namun sempat di karantina karena suatu kejadian yang tidak ku ketahui" tiba-tiba Kenko menyela pembicaraan kami dan ikut nimbrung.
Aku sempat mengingat-ingat soal kejadian sebelum-sebelumnya, tapi dari dulu aku jarang sekali melihat berita sekitar.
"HEH, jangan bengong" Kenko menepuk bahu ku saat aku sedang bengong.
"Aduh . . . . maaf, aku hanya berpikir untuk kesana"
"KAPAN???" Kenko kegirangan dan dia semakin menempel denganku, "sensasi ini, dia terlalu dekat" dia sangat menempel denganku sampai sesuatu juga ikut menempel di lenganku.
"M . . . m . . . mungkin nanti siang" aku mencoba untuk menahan wajah merah ku dan menoleh ke arah lain.
"Ikutttt" Kenko dengan wajah imut nya.
Sial, dia memang cantik tapi akan bahaya jika dia ikut, "Hah?? untuk apa??" aku menanyakan tujuannya.
"Aku memang ingin kesana" dia memainkan rambutnya.
"Kami ke sana bukan untuk main-main loh" aku memperingatinya dengan wajah merah.
"Yang bilang kami ingin main-main siapa?" ekspresinya berubah.
"loh . . . . heeee" entahlah aku berpikir-pikir.
"Kemana kita akan pergi Kevy?" lalu Akuta datang dengan gaya yang sangat kerennya, style nya Akuta menarik perhatian Yuusha yang sedikit sedikit mengintip ke arahnya.
"Sedecy" aku mematikan komputer yang barusan ku gunakan untuk menelusuri berita.
"Tunggu apa lagi? kalian semua tidak mau ikut?" aku berdiri mengajak yang lain.
...[Jam 10:13]...
kita sudah berada di kereta bawah tanah menuju ke kota Sedecy, lokasi kami terletak di tengah kota dan butuh 6 stasiun lagi untuk menuju ke sana.
Di dalam kereta kami duduk hadap berhadapan sambil sarapan karena kami belum sarapan, karena sebelumnya kami juga membeli cemilan dan sarapan di supermarket dalam stasiun.
"Jadi Sedecy tujuan kita?" kata orez sambil mengunyah roti sandwich.
"Ya, aku sudah punya tujuan untuk kita ke sana"
"Hmm . . . . sepertinya mengasyikkan. Kemana kita akan pergi?"
"Apakah kalian suka Misteri?" Aku dengan muka menyeramkan,
"Ehhhhh . . . . ." Yuusha wajahnya tidak menunjukkan rasa takut dengan tempat yang Kevy katakan.
"Hehe, sepertinya tidak terlalu seram, karena itu hanya sebuah pintu paradox" Aku sambil mengacungkan jempol.
Setelah sarapan, Aku pun tidur untuk istirahat. Ada yang bermain game, basa-basi, dan ada juga yang bengong melihat pemandangan luar. Perjalanan masih sekitar 2 jam lagi untuk sampai di sana.
Seketika . . . . aku bermimpi sesuatu yang tidak terduga dan diluar nalar.
"Akhh . . ." Aku memegang kepalaku sambil berjalan seperti merasa kesakitan.
"Loh??" Aku terkejut karena aku ada di dalam sebuah labirin yang tidak terbatas, aku mencoba untuk lari mencari jalan keluar dari mimpi ini.
Aku terus berlari mencari jalan namun tidak ada ujungnya, "apakah aku bisa melihat jalannya jika aku melompat ke dindingnya?" pikirku
kemudian aku memanjat tembok labirin yang tinggi itu dan berada diatasnya, anehnya aku heran karena labirin itu sebenernya kecil dan jalan keluar nya terlihat dari atas sini
Kemudian aku turun lalu berlari ke arah yang ku lihat pintu keluarnya tadi. Aneh nya, aku kembali lagi ke tempat awal.
"Labirin paradox ini!!" Aku kesal.
Kemudian aku mengambil kristal Sci-Libur milikku di saku celana, tapi aneh nya kristal ini berwarna hijau. Setelah itu aku mencoba nya mengubah menjadi sebuah senjata, dan aku kaget setelah kristal itu berubah menjadi monster Reptil yang sangat besar.
"Uwaaa!!" aku terkejut dan melihat dia yang sangat besar.
"Kau tidak pantas menggunakan kristal ini!" kemudian monster itu langsung memakan kepalaku.
...[KRRSSKSKSK]...
"ARGHH" Aku kemudian terbangun dari tidur ku.
"Ada apa kevy? mimpi buruk?" teman-teman melihat kepadaku dengan muka keheranan.
Kemudian aku menghela nafas karena tadi hanyalah mimpi, "Ya, hanya mimpi aneh" kemudian aku kembali tidur sampai kereta tiba. Akuta kebingungan karena aku yang selalu bertingkah aneh belakangan ini.
...[2 jam telah berlalu]...
Kenko membangunkan ku ketika sudah sampai di stasiun kota Sedecy. Teman-teman yang lain bersiap-siap mengambil tas dan kita pun keluar dari kereta.
"Woahh" Aku terpukau oleh kota yang keren ini, banyak kendaraan yang ku belum pernah temui sebelumnya.
Pemandangan yang berada di tengah kota ini sangat futuristik, lampu neon menerangi jalan yang sedang hujan dan jalanan yang becek membuat pantulan gedung-gedung yang terang oleh lampu neon di sana.
"Wahhhhh . . . . kota ini sangat kerennn" kata Kenko yang kegirangan oleh suasana kota Sedecy.
"ingat kita disini bukan untuk liburan" aku kembali memperingatinya.
"Ya, aku tahu kok. Tapi setidaknya bagaimana jika kita foto bersama?" jawab Kenko dengan muka senyum
"Eum, baiklah boleh" ya sudahlah aku mengizinkannya.
Kemudian Kenko memasang stand dan menaruh kamera di stand tersebut.
"Ayo, semua nya berkumpul" Kenko menarik semua orang dan, "Senyum"
...[CKREK]...
Suara kamera sudah memfoto kita berenam, lalu kita melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang dibicarakan rakyat sekitar. Ketika di sana, kami mencari cari letak pintu tersebut. Disaat orang yang lain kebingungan mencari pintu tersebut, aku sudah tahu dimana letak pintu itu.
"Ayo" aku mengajak yang lain untuk ke bawah gedung yang ada di dalam gang kecil.
Yang lain kemudian mengikutiku. Setelahnya kita menelusuri ke dalam gedung itu menggunakan senter hp, hingga sampailah kita ke pintu yang dipaku oleh papan kayu. Aku tidak tahu alasannya, mungkin takut ada orang tersesat di dalam sana.
"Kenapa pintu ini dipasang banyak papan kayu berpaku?" kenzu bertanya,
"Kemungkinan agar orang-orang tidak tersesat di dalam nya" teoriku
"Ehhh . . . . apakah kita akan tersesat nantinya?" tanya kenzu sedikit takut.
"Kita lihat saja" lalu aku membuka paku-paku itu menggunakan palu yang kubawa sebelumnya, lalu aku juga membuang papan itu.
Disaat aku sedang membuang paku-paku itu, Akuta merasa seperti ada yang mengawasi kami dari belakang. Sepertinya bukan hanya satu orang
"Apakah ada faksi juga di kota ini?" Akuta berpikir begitu.
"Baiklah, beres" kemudian aku membuka pintu yang di dalamnya suatu dimensi yang sangat gelap total hingga tidak terlihat sama sekali apa yang di dalam sana.
Aku sudah tahu akan hal ini, kemudian aku mengeluarkan kristal ku dan memasukannya dan menyelonjorkannya ke dalam pintu gelap itu, ruangan gelap itu berubah menjadi sebuah ruang bawah tanah yang besar.
"Wah keren, bagaimana bisa?" Orez terpukau.
"Sshhtt . . . hanya kita yang tahu" aku berbisik.
Kami berenam pun masuk ke dalam ruang bawah tanah itu, tetapi Akuta masih melihat ke belakang untuk mengecek keadaan takutnya orang itu mengikuti.
Disaat kami sudah masuk di dalam dan sudah jauh dari pintu, kemudian pintu itu terbuka dan ada orang menyeramkan mengintip ke dalam sini.