
Jam istirahat aku ditarik Akuta untuk makan bersama dengannya, padahal sebelumnya aku diajak murid-murid perempuan untuk makan bersama mereka. Tapi karena aku kasihan dengan Akuta, ya sudahlah. . . . . .
"Baiklah lepaskan, mau makan dimana kita?" aku menarik tanganku untuk melepas genggamannya.
"Mari kita cari" Akuta tersenyum kepadaku.
"Huh . . . . kukira kamu sudah punya tempat sendiri" aku cemberut sedikit, tetapi tetap mengikuti kemana dia pergi.
Selang beberapa waktu kami mencari tempat makan yang santai, kami berada di atap sekolah yang udaranya sangat segar sekali. Udaranya sangat sejuk dan pemandangan kota juga lebih terlihat dari sini, bahkan juga sepi disini.
"Wah, aku baru tahu kalau ada tempat senyaman ini" aku terpukau.
"Sebelumnya aku juga sering makan di atap sekolah" kata Akuta.
"Eh, sebelumnya kamu pernah sekolah?"
"Loh, bukannya kamu sendiri juga pernah kan?"
"Eum . . . iya sih . . . . " aku menggaruk kepalaku dan menunduk.
"Ayolah, kita cari spot terbagus" Akuta berjalan dan mencari tempat yang teduh dari sinar matahari.
Ketika ke belakang atap, kami berdua melihat seseorang yang juga sedang makan.
"Eh, sebentar" Akuta menahan ku, tetapi aku melepas tangannya dan menghampirinya.
Ketika aku menghampirinya, ternyata itu adalah Orez dan Kenzu yang sedang makan siang bersama.
"Eh?"
"Kalian mau bergabung?"
Orez dan Kenzu mengajak kami berdua untuk makan siang bersama.
"Ayo Akuta" aku menarik Akuta.
"Oalah, ada Akuta juga toh"
"Mari sini duduk" ajak mereka berdua.
"Ya . . . . baiklah"
Akhirnya kami berempat makan siang di belakang atap yang teduh itu dan udara yang segar serta pemandangannya kota yang sangat futuristik sekali.
Kami bercanda dan tertawa bahkan mengakrabkan satu sama lain bersama di sana.
...[Masa sekarang]...
"Yah begitulah asal-usul aku bertemu dengan teman-temanku dan apa yang kulakukan setelah kejadian di kota Geats itu"
Aku selesai menceritakan kisah ku kepada yang lain.
"Iya aku tadi ingat tentang kelas elit yang isi muridnya adalah orang-orang pintar sebelumnya" Wax mengingat sesuatu.
"Loh, kalau tidak salah sekolah itu bukannya sudah hancur 5 tahun yang lalu bukan?" kata Mako.
"Nah, itu dia. Kejadian itu setelah pemerintah baru saja diganti kan? karena pemerintah sebelumnya ditemukan tewas dulu. Lalu bagaimana kamu bisa selamat di kejadian itu?" Tanya Wax.
"Oke baiklah, akan ku jelaskan"
...[Kembali ke 5 tahun sebelumnya]...
Aku sedang berada di kamar asrama ku, saat itu aku sedang melihat pemandangan. Umur ku sudah 16 tahun, kelas S isinya tersisa 20 murid. Karena beberapa orang banyak dikeluarkan dan merasa tertekan. Namun tidak dengan kami berempat yang sudah terbiasa dengan hal ini.
Kamar asrama ku isinya 4 orang, ya tentu saja orang-orang itu adalah teman-teman ku. Saat itu yang lain sedang menonton televisi di kamar, sedangkan aku melihat pemandangan kota di balkon asrama.
Ketika kami sedang santai, tiba-tiba ada suara berisik diluar yang membuat kami penasaran apa yang terjadi di sana.
"Akuta, ada apa disana?"
"Entahlah aku juga penasaran" Akuta menguping ke pintu.
"Kevy, apakah kau melihat seseorang di bawah?" Orez menyuruhku untuk melihat keadaan luar.
Aku kemudian kembali keluar balkon dan baru sadar kalau banyak polisi dan beberapa robot, saat itu aku belum tahu kalau namanya adalah Secbot.
"Ada banyak polisi dan . . . . . robot polisi?" pikirku.
"Pasti Secbot" kata Kenzu.
"Secbot? apa itu?" tanya ku.
Kemudian Kenzu menarik tanganku dan menjelaskannya dengan nada pelan kepada kami semua.
"Secbot adalah robot ciptaan seseorang dari MPD yang digunakan sebagai pengganti manusia untuk kedepannya"
"Lalu untuk apa mereka ke tempat ini?" tanya Akuta
"Dari yang kudengar sebelumnya kalau beberapa minggu yang lalu pemerintah sebelumnya ditemukan tewas di tempat pembuangan sampah"
"Mengerikan, lalu apa hubungannya?" aku ikut bertanya
"Semenjak ganti pemerintah, beberapa perusahaan melakukan PHK massal dan hendak menggantikan semua pekerja menjadi Secbot"
"Apakah semua guru juga akan dipecat dan digantikan Secbot?" tanya ku kembali
Kenzu mengangguk, "bisa jadi"
Aku kemudian dengan cepat membereskan peralatan dan perlengkapan ku dan kumasukkan ke dalam tas.
"Tunggu Kevy, apa yang ingin kau lakukan?" Orez menarik pundak ku.
"Dengar Orez, kejadian ini akan menj-" sebelum aku menyelesaikan penjelasan ku, ada seseorang yang masuk ke dalam kamar.
"Kalian baik-baik saja?" ternyata itu Bu Kiera yang masuk ke dalam kamar kami.
Bu Kiera langsung menutup pintu dan masuk ke kamar kami untuk membicarakan sesuatu.
"Apa yang terjadi Bu?" aku cemas kepadanya.
"Dengar kalian semua, aku hanya akan mengatakan ini sekali" Bu Kiera kali ini serius membicarakan sesuatu.
Kami semua berkumpul ke Bu Kiera dan akan mendengar baik-baik apa yang akan dia katakan.
"Sekolah ini akan dihancurkan"
"Hah?? bagaimana bi-" semua orang komplain
"Dengarkan terlebih dahulu" Bu Kiera kembali menenangkan yang lain.
Lalu kami kembali mendengarkan yang Bu Kiera katakan.
"Semua murid akan dipindahkan ke kota Sanctuary hills, seperti yang kalian tahu keadaan di kota sana sangat kacau dan kotor. Ibu tidak ingin kalian berada di sana" Bu Kiera menghela nafas.
"Karena kalian berempat adalah murid favorit ibu selama ibu mengajar di sekolah ini selama kurang lebih 8 tahun disini, ibu ingin kalian menentukan pilihan" kali ini Bu Kiera benar-benar serius.
"Apakah kalian ingin ikut pindah ke sana atau melarikan diri dari tempat ini sejauh mungkin?" sebuah pilihan sulit dan sama-sama menentukan hidup kedepannya.
Kami semua awalnya bingung dengan pilihan ini, kami juga khawatir dengan Bu Kiera sendiri.
"Lalu bagaimana dengan ibu?" aku khawatir kepadanya.
"Ibu mungkin akan dipecat, tetapi ibu tetap dibayar jadi ibu tidak apa-apa" kata Bu Kiera.
Disaat aku memikirkan pilihan ini, yang lain sepertinya sudah menentukan juga.
"Ibu, kami bertiga ikut dengan Kevy" mereka bertiga akan mengikuti pilihanku.
"Eh? kenapa aku?"
"Karena kamu yang paling bisa mengerti situasi seperti ini" kata Orez.
Aku tambah bingung dengan pilihan ini, ditambah lagi suara berisik diluar sana seperti semakin dekat.
"Baiklah, kami akan melarikan diri dari tempat ini" akhirnya kami semua memilih untuk pergi dari tempat ini.
Bu Kiera tersenyum kepada kami semua, "baiklah, persiapkan diri kalian. Ibu akan membantu sebisanya"
Lalu kami semua mempersiapkan diri dan membereskan peralatan dan perlengkapan untuk rencana kedepannya. Setelah siap, Bu Kiera menyarankan untuk keluar lewat balkon lalu melompat ke dinding sekolah.
Sebelum kami semua pergi, kami berpamitan dengan Bu Kiera yang sudah mengajar kami selama 5 tahun.
"Ibu, terima kasih telah mengajar kami selama 5 tahun"
"Terima kasih juga sudah menjadikan kami murid favorit ibu"
"Kalau kami sudah sukses, kami tidak akan melupakan ibu"
"Intinya kami semua berterimakasih kepada ibu"
Kami semua berterimakasih kepada Bu Kiera, satu persatu mengucapkannya kepadanya. Hal itu membuat Bu Kiera terharu dengan menangis sedikit, lalu Bu Kiera memeluk kami semua.
"Terimakasih kalian semua. Kevy, Akuta, Orez, dan Kenzu. Ibu sangat senang memiliki murid seperti kalian" Bu Kiera sangat beruntung memiliki murid seperti kami.
Lalu tidak beberapa lama ada yang menggedor-gedor pintu kami dengan keras.
"Ini MPD, cepat buka" dengan nada robot, sepertinya mereka adalah Secbot.
"Cepatlah, kalian harus pergi" Bu Kiera menyuruh kami untuk pergi secepat mungkin.
Kami semua mengangguk, lalu satu persatu melompat dari balkon. Aku yang terakhir lompat sebelum itu aku mengatakan sesuatu kepada Bu Kiera.
"Ibu, aku mencintaimu. Janganlah sedih karena kami" aku tersenyum kepadanya, lalu aku melompat ke dinding sekolah dan pergi dari sana bersama yang lain.
Dari jauh yang kulihat, sepertinya muka Bu Kiera memerah. Lalu aku melihat dari jauh sambil berlari kalau polisi sudah masuk ke dalam kamar kami sebelumnya. Setelah itu kami tidak mengetahui keadaan Bu Kiera selanjutnya, yang pasti aku berharap kalau dia selamat saat itu.
Beberapa saat setelah pergi dari sana, akhirnya kami tiba di stasiun kota Geats. Kami semua bingung untuk pergi kemana terlebih dahulu, sampai akhirnya semua setuju kalau semuanya akan pergi ke kota Astroid. Kami masuk ke dalam kereta menuju stasiun kota Astroid dan meninggalkan kota Geats.
Disaat itu kami hanya merenung di dalam kereta seperti berpikir "apa yang akan kulakukan selanjutnya?"
Setelah beberapa jam, akhirnya kami sampai di stasiun kota Astroid. Kami keluar dari kereta dan menuju pintu keluar stasiun, dan waktu sudah malam hari.
Disini keadaan kota-nya mungkin cocok untuk kami, karena keadaan di kota ini tidak terlalu padat dan masih termasuk kota kecil di negara Mechroid ini. Kami juga berdiskusi untuk kemana kami akan pergi selanjutnya.
"Kalian akan pergi kemana?" tanya Orez.
"Loh kalian sendiri?" tanya Akuta.
"Kami berdua akan pergi ke rumah paman kami yang berada di kota Astroid Barat"
"Oke baiklah, hati-hati"
"Sampai berjumpa lagi kawan" mereka berdua pergi lebih duluan menuju Astroid Barat menggunakan kendaraan umum.
"Kalau kamu kemana Akuta?"
"Aku memiliki kenalan dari sosmed di Astroid selatan" Akuta menunjukkan hp nya kepadaku.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati" setelah itu dia berpamitan kepada ku dan dia pergi menggunakan taksi umum di kota ini.
Tidak beberapa lama, hujan turun. Aku melihat ke langit betapa indahnya bulan di atas sana, apalagi ditambah cahaya lampu neon sekitar.
"Jadi, kemana aku hari ini?" aku melangkahkan kaki dan mulai berjalan kemana aku akan pergi selanjutnya.
Sepertinya aku juga harus mencari pekerjaan dan tempat tinggal untuk kedepannya.
^^^~To Be Continued ^^^