CRYPTIDE CRYSTAL

CRYPTIDE CRYSTAL
Rencana Dan Tujuan Terakhir



...[Markas Black Cafe]...


"Kapten, kita kedatangan tamu" Mako tiba-tiba masuk ke dalam ruangan dan melapor.


"Sudah kuduga dia akan datang" Jetsu membalikkan kursinya dan berdiri.


"Kevy? dan mobil itu . . ." Wax melihatnya dari jendela.


"Mobil legendaris. Pertanda ini akan menjadi perjalanan kita selanjutnya."


"Yes!" Wax kegirangan.


Kemudian Jetsu menunggu di meja kafe bersama Wax. Sedangkan Mako mengantarkan ku ke meja mereka bersama Orez denganku.


"Jetsu" aku menyapanya,


"Yo" dia menyapa balik.


"Seharusnya kau tahu alasanku datang kesini" tanganku menopang di meja.


Jetsu tertawa dan berdiri, "jadi kemana tujuan kita?" dia mengulurkan tangan,


Aku tersenyum dan melirik tangannya, "menyelamatkan dunia, kawan" aku menjabat tangannya.


Lalu Jetsu merapihkan kantornya dan bersiap-siap untuk ikut perjalanan kembali. Ia mengganti seragamnya yang bukan jas kapten lagi.


"Mengapa kau melepas jas itu kapten?" tanya Wax yang juga sedang mengganti baju di sebelahnya.


"Wax," Jetsu menaruh recorder di atas meja kantornya, "putar suara ini jika sudah waktunya."


"Terimakasih telah membuatku penasaran kapten" Wax memasang wajah kesal dengan tersenyum.


Setelah semuanya beres bersiap-siap, Orez menjemput teman-teman lain untuk ke bandara kota Urcy, yaitu bandara bekas hancurnya salah satu markas MPD sebelumnya.


"Terimakasih sudah memberikan akses ke bandara ini Bryan."


"Tidak apa-apa Kevy. Beruntung saja aku masih punya tablet lamaku" Bryan memberi respek kepadaku.


"Jadi ini, tempat yang aku lihat di monitor waktu itu. Mengenaskan sekali tempat ini" Drop melihat-lihat sekitar.


"Seketika aku ingat dimana aku naik ke pesawat kargo yang terbuka pada saat itu" Akuta tertawa melihat landasan bandara itu.


"Bodoh, untung saja kita mendarat di kota Greed waktu itu" Yuusha memukul bahu Akuta, "aku pikir pesawat itu tidak akan mendarat."


"Sudahlah, aku masih senang kalian selamat" Kenko merasa lega.


"Tinggal menunggu temanmu yang satu lagi" kata Robin kepadaku.


"Kau sudah memanggil pesawatnya kan Jetsu?" tanya ku pada Jetsu.


"Ya, sebentar lagi akan mendarat" Jetsu mengecek holophone nya.


"Disana, suaranya sudah terdengar." Wax menunjuk ke atas.


"Oh ya benar" Mako juga melihatnya.


Pesawat kargo mulai terlihat dari atas. Lampu sudah tersorot sehingga kegelapan malam hari ini bersinar oleh lampu pesawat itu.


"Yooo, Kevy!!" Orez melambai.


Akhirnya dia sudah datang bersama adiknya si Kenzu.


"Apakah kami terlambat?" cemas Kenzu.


"Tidak, terimakasih sudah mengantarkan kami semua Orez."


Orez sedari tadi bolak-balik menggunakan mobil SportSpeed dengan kecepatan cahayanya itu. Ia pasti lelah mengantarkan semua orang, karena itu membutuhkan waktu yang sangat lama meski dilakukan dengan cepat.


"Kau bisa mengontrol SportSpeed sekarang?" puji ku.


"Ya, semakin lama aku sudah bisa berkoordinasi dengan mobil ini dan menjinakkannya." Orez tersenyum.


Setelah pesawatnya mendarat, pintu kargo pun kemudian terbuka.


"Baiklah teman-teman, ayo kita masuk" Jetsu mengangkat tas nya dan mulai berjalan.


"Yo, kau yang disana." Orez memanggil Jetsu.


Jetsu menengok kebelakang sembari berjalan untuk merespon panggilan Orez.


"Topengmu keren bung" Orez mengacungkan jempol nya.


Jetsu membuka topengnya, "aku membuatnya sendiri" Jetsu menunjukkan wajah mengerikannya.


Seketika Orez sedikit gemetar. Aku tertawa melihat reaksinya.


"Ayo Kenko" aku mengulurkan tangan kepada nya.


Kenko tersenyum dan memegang tanganku. Kemudian kami berjalan masuk ke dalam pesawat melalui pintu kargo.


"Hei gergaji, cepatlah" Yuusha menarik tangannya Akuta untuk berjalan ke dalam kargo,


"Iya iya sabarlah" Akuta pasrah saja dengan yang dia lakukan.


"Baiklah partner, ini saatnya" Drop mengangkat dan mengepalkan tangannya kepada Bryan.


"Itu sudah jelas" Bryan melakukan tos dengan Drop, kemudian mereka berdua juga berjalan.


"Robin, bagaimana keadaan mu?" Wax berbasa-basi.


"Baiklah kita akan terbang bersama yang lain." Wax mengajaknya.


"hmm" Robin mulai berjalan dan masuk ke dalam pesawat.


"Semua orang sudah masuk?" tanya Mako di dalam.


"Ah ada satu orang lagi" Wax mengangkat tangan.


"Hah, siapa lagi?" heran Mako.


"Kors!" Wax tertawa.


Kemudian semua orang ikut tertawa terkecuali Mako itu sendiri, "baiklah bersiap" Mako menutup pintu kargo.


...[DRRRRRTTTTT]...


Pintu kargo mulai menutup. Mako menekan tombol auto pilot untuk diaktifkan kembali. Setelah ditekan, pesawat mulai maju otomatis sesuai dengan kecepatan yang ditentukan oleh Mako.


"Apakah ini pertama kalinya kau naik pesawat?" tanya ku pada Kenko di sebelahku.


"Tidak, dulu aku pernah naik bersama ayahku."


"Apakah kau merasa takut?"


"Selama kamu berada di sisiku, aku tidak merasakan takut sama sekali." Kenko menyenderkan kepalanya di bahuku.


"Ya. Tidak kusangka kita akan melakukan perjalanan sejauh ini" aku tersenyum.


"Ya, andai kau tidak pernah menemukan surat itu Kevy. Mungkin kita tidak akan pernah bersama."


"Ini adalah takdir Kenko. Aku telah mengubah takdir ku . . . ." aku menundukkan kepala dan tertidur, Kenko ikut tertidur di bahuku.


Bryan melirik lirik kami berdua dari kejauhan, "ada apa kamu dengannya?" Drop bertanya kepada Bryan.


"Tidak, aku hanya ingin menarik kembali kata-kata yang pernah ku ucapkan pada orang itu" Bryan menoleh pada Drop.


"Haha keren" Drop tertawa.


"Kenapa kau masih ikut denganku Drop?" tanya Bryan.


Drop diam sejenak untuk berpikir, "mungkin karena sifatmu."


"Aku benci Kors. Dia mengecewakanku."


"Kita membenci orang yang sama, Bryan."


"Dulu kupikir MPD itu adalah sekedar menjadi polisi biasa. Aku tidak peduli pekerjaan apa yang kudapat, asalkan orang-orang menghormati ku."


Drop masih mendengarkan.


"Aku terkejut setelah mengetahui identitas asli dari Kors itu sendiri. Bahkan seketika aku kembali mengingat dosa-dosa apa yang telah kulakukan sebelumnya."


Bryan memandangi kristalnya, "tapi tanpa kristal ini, aku bukanlah siapa-siapa. Kristal ini adalah semangat hidupku."


"Itu pemberian kakekmu kan?" Drop menunjuk kristal itu.


"Ya. Aku akan menjaganya. Terkecuali jika sudah memasuki mode Oblivion, aku akan memberikannya kepada Kevy."


"Tujuan kita sama, tapi mengapa kau sekarang percaya kepadanya?" tanya Drop.


Bryan diam sembari menggenggam kristalnya, "kristal ini berbicara kepadaku."


Drop terkejut, "Kupikir itu hanya firasatku saja, ternyata benar . . . "


"Ya, Kevy adalah orang yang akan kembali menyatukan kristal ini" Robin ikut nimbrung.


"Karena dirimu, sekarang aku berpihak pada Kevy, Bryan" Drop menepuk bahunya Bryan.


Orez menghampiri Mako untuk bertanya, "kira-kira berapa lama lagi kita semua akan sampai?"


"7 jam 13 menit 43 detik lagi menurut hitungan mundur dari waktu pesawat ini." Mako menunjukkan tabletnya.


"Memangnya kau tidak bisa ber-teleport menggunakan mobilmu untuk kesana?" tanya Wax yang mendatanginya.


"Tidak, jika kamu tidak bisa mengingat lokasi, maka kamu tidak akan bisa pergi ke lokasi itu" Kenzu juga ikut menjelaskan.


"Jadi kalian belum pernah ke Sanctuary hills?" tanya Wax.


"Begitulah."


"Kota itu, adalah kota kutukan untuk kemajuan teknologi negara ini." Akuta ikut nimbrung.


"Apa maksudmu?" Jetsu juga ikut bertanya.


"Dulu, jika aku tidak melarikan diri dari asrama bersama Kevy, Orez dan Kenzu. Mungkin kami berempat akan terdampar di kota itu."


"Seburuk itu kah?"


"Jika bukan karena Kors, pasti kami masih bisa belajar bersama Bu Kiera, tch" Akuta memukul tembok pesawat.


"Oiya, apakah Bu Kiera masih hidup? aku kangen dengannya" Kenzu seketika ingat dengan gurunya.


"Lalu apakah dia juga masih hidup?" tanya Orez.


"Dia? maksudmu . . ." Akuta melirik ke arah Kenko yang tertidur bersamaku, "dia yang dari keluarga Helen juga kan?"