
Kors sudah masuk ke dalam kota Extrobile. Ia sudah melakukan pengeboman di sekitar daerah. Tetapi ketika ia sedang menghancurkan beberapa gedung, perhatiannya tertuju pada helikopter yang melintas di kepalanya.
Helikopter itu mendarat di salah satu gedung paling tinggi di kota Mechroid, terletak di kota Extrobile. Aku turun dari helikopter sendirian.
"Baiklah, ini saatnya semuanya" aku melambaikan tangan sebagai pamitan dengan mereka.
Semua orang melambai balik kepadaku. Helikopter kembali terbang ke atas dan pergi meninggalkan negara ini. Aku berjalan sendirian di atas helipad gedung tertinggi di dunia saat ini. Tingginya sekitar 850 meter. Hampir sama dengan Burj Khalifa, tetapi ini lebih tinggi dari itu.
Aku dapat melihat kepala Apocalypse dengan jelas. Dan dibalik kepala itu, ada Kors yang sedang melihatku saat ini.
"Sekarang mereka semua pergi. Apa yang akan kamu lakukan? mengalahkan ku? mustahil!"
"Apa kau baru saja mencoba menggali kuburan mu sendiri?" ejek ku.
"LIHAT SAJA!"
Kors mengangkat tangannya. Ia mengayunkan tinjunya ke arah gedung yang ku pijak saat ini. Tetapi aku mengangkat suatu benda yang diberikan oleh Reggie. Lalu aku menekan pemicu di benda itu dan ku lempar ke Lazarus raksasa itu.
...[BZZZZTTTT]...
Lazarus itu mengalami malfungsi. Seketika Apocalypse tersetrum dan memicu sesuatu. "ARRRKHHHH" Kors kesakitan.
...[DUARRRRR]...
Kors dikeluarkan dari kepala Lazarus secara mendadak. Sepertinya benda itu melakukan sesuatu yang berguna.
...[BRUGGGG]...
Kors terjatuh di depan ku. Ia perlahan bangkit berdiri sehabis tersungkur.
"Kau . . . . benda apa yang kau lempar barusan?!" ia melotot kepadaku.
"Temanku menyebutnya, Intrusion. Yang artinya, pengacau" aku menjelaskan.
"Yah lagipula," ia berdiri tegak dan menghadap ku, "kita akan bertarung di sini!" ia berkuda kuda dengan gaya petarung mma.
Dia akan mengajakku untuk bertarung dengan tangan kosong. Tentu saja aku senang dengan hal itu. Sudah lama juga tidak melakukan ini.
"Baiklah," aku mengangkat kedua bahuku, "kita akan bertarung secara adil. Untuk awal-awal saja kan?" aku juga berpose gaya bertarung jalanan ku.
Kors maju dengan gaya zig-zag. Lalu mengayunkan tangannya untuk melandaskan pukulannya di wajahku. Dengan reflek cepat, aku menghindar dan menendang kakinya sampai ia membungkuk sedikit.
Ketika ia membungkuk, aku menendangnya menggunakan lutut ku untuk mengobok-obok perutnya. Berkali-kali kulakukan, ia berhasil menahannya. Ia mengangkat kakiku lalu dibanting ke belakangnya.
...[BRUGGGG]...
Aku terjatuh dengan keras. Tetapi aku harus bangkit kembali. "Cuih . . . ." aku meludah darah dari mulutku.
"Ayolah bangun. Ini masih pemanasan" Kors mengangkat ku dari belakang.
...[DUGGGGGG]...
Aku berhasil mendaratkan bogeman mentah ku dengan keras di wajahnya.
"Akhh" dia kesakitan memegang wajahnya.
"Ya, terimakasih sudah ikut dalam pemanasan ku" ejek ku.
Setelah itu aku berdiri tegak dan bergerak maju ke arahnya. Kors yang melihatku sedang datang kepadanya, ia kembali berpose dan bersiap untuk melandaskan pukulannya kembali.
"Hei di sana!" aku menunjuk ke arah lain.
"Aku tidak akan terkecoh!" Kors masih kekeh dan fokus.
"Tidak, aku hanya menyuruhmu ke sana agar kamu tidak terkena tendangan ku!" aku melompat dan mendorong kaki ke depan.
Kors juga melandaskan pukulannya. "Kena kau!" ia berpikir kalau ayunan pukulannya mengenai badanku.
"Ya, kau yang kena!" aku memutar badanku untuk menendang kepala Kors sampai ia tersungkur.
...[BRUGGGG]...
Ia naik di atas ku dan memukulku berkali-kali. Aku mencoba menahan serangannya sebisaku.
"Menurutmu begitu hah? sengaja meninggalkan temanmu demi keselamatan mereka? TIDAK! dunia ini akan hancur olehku sepenuhnya!" gerutu dia sembari memukulku.
Aku sulit bergerak jika ia menahan ku seperti ini. Harus kucari cara agar keluar dari situasi seperti ini. "Hmm, darimana ya?"
Aku melihat ke sekitar ku. Aku melihat benda panjang seperti balok di sebelahku. Namun aku tidak dapat menggapainya dengan tanganku.
"Kalau begitu, maaf" aku menarik balok itu dengan kekuatan kristal.
Kemudian menghantam kepalanya sampai ia tersungkur. Aku gantian menibannya dan memukulinya berkali-kali. Ayunan demi ayunan ku daratkan di wajahnya sampai aku merasa puas. Tapi . . . .
...[BRRRRRRRRR]...
Aku terpental setelah ada gelombang elektromagnetik yang tinggi mementalkanku. Entah bagaimana bisa ia mendapatkan kekuatan itu, tapi kurasa itu kekuatan natural yang ia miliki.
"A . . . apa itu?" aku bangkit kembali dan melihat apa yang terjadi barusan.
Mata Kors menjadi menyala api ungu. Ia berdiri tegak dengan aura warna ungu mengelilinginya. "Haha, bahkan aku tidak tahu kalau kekuatan ini memang berasal dari diriku sendiri. Hahahaha!" ia tertawa jahat.
Tangannya diselonjorkan ke arahku. Dari telapak tangannya seperti ada gambar yang tidak ku kenali. "Sekarang, aku akan mengambil apa yang kau miliki di sana!"
...[BRRRRRRRRR]...
Masing-masing kristal yang ku bawa, mengeluarkan aura cahaya mereka. Cahaya itu melayang ke tangannya Kors dan diserap olehnya.
"A . . . apa yang kau lakukan?!" aku berusaha menggenggam keras kristal itu, namun hanya tetap mengeluarkan aura dari dalam.
Setelah semuanya selesai, Ia menggenggam cahaya itu dengan erat. Lalu ia memakannya, entah bagaimana caranya. "Ahh, menyegarkan."
Aku sangat dibuat bingung apa yang ia barusan lakukan. Kristal-kristal ku tiba-tiba kehilangan tanda cahayanya. Bagaimana bisa aku mengubah semua kristal ini menjadi Cryptide bila tidak ada cahayanya.
"Sekarang, ayo kita bertarung secara tidak adilnya?" tantang Kors.
"Apa yang kau barusan lakuk----"
"Diamlah. Aku sedang menikmati momen ini. Cahaya itu hanya mau saja ingin menjadi milikku kembali. Karena aku adalah utusan dewa yang sebenarnya. Hahahahaha!"
Ia tertawa jahat sampai petir menutup suaranya. Tiba-tiba awan menjadi mendung dan menurunkan hujan. Caranya untuk mengembalikan cahaya di kristal ini adalah, dengan dipancarkan oleh sinar matahari. Kuharap begitu caranya.
"Lihat ini Kevy! aku akan menunjukkan apa yang kamu belum pernah lihat sebelumnya!"
Aku berdiri tegak dan hanya bisa melihatnya bersenang-senang. Wajahku sudah sangat kesal dengannya. Aku harus keluar dari situasi ini dan menemukan cara untuk mengembalikan cahaya dari kristal-kristal ini.
"Rise the Apocalypse!" ia mengangkat tangannya ke atas.
Cahaya berwarna ungu keluar dari sela-sela jarinya. Urat yang terpampang di tubuhnya mengeluarkan cahaya berwarna ungu. Perlahan cahaya itu mengeluarkan asap dan menutupinya.
Aku bersiap untuk menghindar dari serangannya bila ia mendadak akan menyerang ku. "Ayolah jangan coba sembunyi-sembunyi!"
"Apa kau tahu? kalau aku sudah bilang kalau . . . ."
...[WUSSHHHH]...
"Kalau sejak awal, pertarungan ini tidaklah adil. Maka kita akhiri saja dengan kematian mu."
"A . . . . apa-apaan itu? b . . . bagaimana bisa?" aku tercengang.
"Aku menyebutnya, Dark Cryptide. Adalah kebalikan kekuatan dari Cryptide itu sendiri" sebut Kors.
Ia perlahan maju dengan pedang itu ke arah ku. Kemudian semakin cepat berjalannya ke arahku. Aku mundur perlahan-lahan dan bersiap-siap menghindari serangannya.
"Sekarang kau yang akan mati!" dia berlari ke arahku.
Kemudian mengayunkan pedangnya ke arah ku. Aku menunduk dan mundur beberapa langkah. Ia berulangkali mengayunkan pedang itu ke arah ku. Aku masih belum tahu kelemahannya.
Yang kubisa lakukan, hanyalah menunggu matahari menyinari kota ini kembali. Tetapi kurasa terdengar mustahil. Karena kemungkinan besarnya, ialah yang mengendalikan awan ini.