
Suasana semakin sepi karena beberapa orang sudah tidur dan lelah sehabis merayakan natal semalam, tetapi tidak dengan kami berenam yang masih bercerita cerita.
"Lalu Tye kenapa kau bisa merakit pedang Cryptide?" aku bertanya soal pedang Cryptide.
"Aku? merakit?" Tye bingung.
"Loh, kamu yang membuat pedang Cryptide kan?"
"Tentu saja bukan, itu mustahil" Tye lebih bingung.
Semua orang saling menengok satu sama lain, kemudian kembali menoleh ke Tye.
"Eee . . . . kenapa kalian menatapku dengan wajah seperti itu?"
"Ini aneh, Kenko" Kenko hanya mengangguk keheranan.
Lalu Mako memberikan dokumen Cryptide milik Kenko kepada Tye.
"Apa ini, Cryptide?" Tye membuka berkas dan isi dokumen itu.
Tye membaca semuanya dengan serius, ekspresinya berubah ubah. Ketika selesai membaca, Tye kembali memasukkan semuanya ke dalam dokumen. Lalu diberikannya kembali kepada Mako.
"Lalu?" Wax mengawali.
"Kemungkinan ya, pemuda itu adalah aku" Tye mengangguk.
"Berarti cerita itu benar?"
"Tidak, cerita itu di sudah di rekayasa sepertinya"
"Maksudmu?"
"Jelas, ceritanya bukan seperti itu"
"Lalu bagaimana cerita aslinya?"
Tye menghabiskan minumnya, kemudian dia merentangkan tangannya dan menguap. Lalu dia mulai berbicara.
"Oke"
...[Kembali ke 10 tahun yang lalu]...
Kekacauan di kota Geats tersebar di berita mana pun, banyak orang berlarian kesana kemari untuk berlindung dari serangan orang bersenjata.
Keluarga kami Devotee sedang liburan musim dingin di kota Geats ini, namun kami tidak memprediksi jika akan ada kekacauan seperti ini.
"Kevy, Tye, ibu, Ayah ingin kalian bersembunyi disini terlebih dahulu. Aku ingin mengecek kendaraan kita apakah masih aman atau tidak"
"Baik ayah" Lalu ayah ku berlari menghindari orang-orang bersenjata dengan cara mengendap endap lewat gang kecil.
"Apakah kalian baik-baik saja? apa kalian takut?" ibu khawatir kepada kami berdua.
"Tidak ibu, kami baik baik saja" Tye berusaha tidak cemas dalam keadaan seperti ini.
"Kalau begitu kita tunggu ayah untuk kembali" kami bersembunyi di dalam bangunan yang menurut kami aman untuk bersembunyi sementara.
Berpuluh menit kami menunggu tetapi ayah belum kembali, aku yang khawatir kepada ayah ingin segera keluar dari persembunyian untuk mencari ayah.
"Aku harus mencari ayah!" aku langsung berdiri dan ingin keluar dari bangunan, tetapi sebelum keluar gedung aku ditahan oleh ibuku yang khawatir kepadaku.
"Jangan menjadi bodoh nak, ayah pasti akan segera kembali" ibu dengan wajah sedih.
Aku diam sementara untuk merenung sedikit, tetapi aku keras kepala ingin mengejar ayah.
"Ayah pasti juga sedang minta tolong kepada kita, pasti ayah menunggu kita disana! Ayo segara menyusul ay-" tidak beberapa lama ada langkah kaki yang mendekat.
"Ayah?" wajahku senang pada awalnya, namun suara langkah kaki itu tidak terdengar familiar.
"Cepat!" Ibu menarik ku ke tempat persembunyian untuk menjauhi suara langkah itu.
Setelah kami kembali sampai, Tye cemas kepada kami berdua.
"Kemana ayah?!" Tye langsung menanyakan ayah.
"Sshhttt..!" Ibu menyuruh agar jangan berisik.
Ternyata suara langkah kaki itu semakin dekat, kami semakin terpojok tidak ada jalan lain. Lalu orang itu memunculkan diri . . . .
"Ohh, ada sebuah keluarga disini" Seorang berandalan bersenjata telah menemukan kami.
Kami semua panik dan tidak bisa meminta tolong, ibu memeluk kami dan menangis.
"Hei, ada beberapa orang disini. Kemariblah haha!" kemudian orang itu memanggil 2 kawanan bersenjata nya yang lain.
"Wah, sebuah keluarga yang harmonis" sarkasme orang itu.
"Tolong jangan ganggu kami" ibu meminta tolong kepada kami.
'Wew, ibunya cantik sekali. Bos bagaimana jika kita bermain dengannya?"
"Ayo kemari ibu, bermain bersama kami" 3 orang berandalan itu menggoda ibu kami.
Lalu kami berdua maju membelakangi ibu kami.
"Haha, sepertinya anaknya marah. Maaf papah tidak sengaja, bolehkah papah bermain bersama mamah? hahahahaha" orang itu masih saja mengejek kami.
"Tch menjijikan" kataku
"Jangan mengganggu ibu kami, atau kau terima akibatnya" lalu disusul dengan tegasan kakakku.
"Oh benarkah?" lalu mereka bertiga maju perlahan lahan mendekati kami.
Ketika sudah mendekat, datanglah seseorang dari belakang.
"Ehem, tuan tuan" ada seseorang batuk di belakang.
"Siapa itu?" mereka bertiga langsung menoleh ke belakang.
"Sepertinya kalian berurusan dengan keluarga yang salah" Ayah datang dan langsung menegaskan mereka bertiga.
"Oh, pasti kamu ayahnya ya. Beruntung sekali kau mendapatkan wanita seperti ini" mereka bertiga langsung membidik senjatanya ke arah ayah kami.
"Terima kasih, tetapi kita bisa selesaikan masalah ini baik-baik" ayah ku dengan elegan membersihkan kacamatanya, kemudian beliau memasangnya kembali.
"Untuk apa bodoh?" mereka bertiga masih membidik ayahku dengan senjatanya.
"Ya, aku pernah kehilangan putriku, dan itu membuat ku sangat sedih. Tetapi . . . ." ayah ku membuka jas miliknya dan menjatuhkannya ke lantai, "Aku tidak akan rela jika kehilangan kedua kalinya!"
Sebelum jas nya jatuh ke lantai, ayah ku dengan cepat menendang senjata mereka bertiga dan membuat senjata milik mereka terpental.
"Aww" tangan mereka kesakitan.
Kami berdua melihat ayah bertarung dengan ketiga berandalan itu.
"Tch, orang ini!!!" salah satu orang itu langsung memulai serangan dan mencoba meninju wajah ayahku.
Namun ayahku menepis tangannya dengan santai lalu menarik kerah milik orang itu dan melemparkannya ke temannya yang lain.
"Maaf, tetapi kalian masih punya kesempatan untuk pergi" ayahku dengan santainya mengatakan hal itu di depan kami.
Mereka bertiga langsung berpencar di sekitar ayah ku dan hendak menyerangnya secara bersamaan. Ketika masing-masing sudah hendak memukul dan menendang, ayahku langsung mengaktifkan kristal di balik sarung tangannya dan mementalkan mereka secara bersamaan.
Mereka bertiga terbaring tidak sadarkan diri, ayahku langsung kembali mengambil jas nya dan menggunakannya kembali. Setelah itu ayahku pergi menemui kami bertiga.
"Apakah kalian baik-baik saja?" ayah khawatir kepada kami.
"Iya, kami baik-baik saja ayah"
"Baguslah" ayah langsung memeluk kami bertiga dan berpelukan satu sama lain.
Setelah itu, tiba-tiba seperti ada ledakan dari luar yang membuat gedung rada sedikit bergetar.
"Ayo semuanya, kita ke paling atas" ayah mengajak yang lain untuk pergi.
"Lalu bagaimana dengan mobil kita?" tanya ibu.
"Sudah hancur, ayo kita harus pulang"
Kemudian kami pergi ke dalam lift untuk pergi ke paling atas gedung. Tetapi ketika kami hendak menutup pintu lift, salah satu berandalan itu masih sadar dan mengejar lift kami. Beruntung saja pintu lift sudah tertutup rapat dan menuju ke atas, tentu saja kami masih cemas dengan keadaan berandalan itu.
Ketika sudah sampai di atas ayah langsung keluar dan mengajak yang lain, tetapi ibu yang sudah lelah kemudian tidak sadarkan diri karena kelelahan.
"Ibu!" Aku dan Tye khawatir kepadanya.
"Minggir" Ayah langsung menggendong ibu dan membawanya keluar.
Dari atas sini kami melihat banyak kekacauan di bawah, suara tembakan yang ada setiap detiknya bahkan sampai beberapa orang juga ditangkap oleh berandalan bersenjata.
"Jangan dilihat nak, kita harus fokus" kemudian ayah langsung membuka portal masa depan dengan kristalnya.
"Tunggu sebentar nak, ayah akan mengantar ibu terlebih dahulu" ayah kemudian masuk dan ingin membawa ibu ke dalam rumah.
Setelah kembali, kami berdua disuruh ayah untuk masuk ke dalam portal.
"Cepat nak" ayah menggapai tangan Tye dan Tye berhasil masuk ke dalam.
Ketika aku sudah menggapai tangan ayah dan ingin masuk ke dalam . . . . .
...[SRRRRTTTT]...
Sebuah tangan kabel panjang menarik kepalaku dan aku tertarik ke belakang.
"Arghh, ayah" aku meminta tolong ayahku.
"KEVY!!" ayah berteriak panik.
Ketika ayah melihat siapa orang yang menarik ku, dia langsung menatapnya dengan tajam. Orang itu adalah berandalan yang sebelumnya dibuat tidak sadar oleh ayah, kini dia menyandera diriku sebagai tawanan.