CRYPTIDE CRYSTAL

CRYPTIDE CRYSTAL
Egois



David berdiri di atas tangan Lazarus raksasa itu. Lalu ia masuk ke dalam Lazarus raksasa melalui kaca kepala itu.


Aku melihatnya sembari tersungkur. Tapi kini aku juga sedang khawatir dengan teman-temanku.


"Kau lihat ini kalian semua? inilah ciptaan ku yang ku sayangi!" ucap David dari dalam Lazarus itu.


"Biadab gila!" aku perlahan bangun.


"Kuberi nama Lazarus ini adalah, Dark Nova Lazarus!"


"Kali ini namanya keren, aku tidak bohong" bisik Bryan.


"Seharusnya Light Nova Lazarus, namun tidak ku sangka dia mengubahnya" gumam Nelson.


"Tunggu, itu rancangan mu?" Reggie rada tidak percaya.


"Awalnya . . . . ."


Lalu Lazarus itu perlahan memanjat ke atas. Kemudian dia memukul lantai atas untuk keluar dari 7AY. Orang-orang berlarian dari tempat itu menuju tempat aman diluar kota. Alarm merah berbunyi berulangkali pertanda bahaya masih belum berakhir.


Hujan deras disertai badai membasahi Sanctuary Hills. Gedung-gedung terbengkalai, bangunan kecil, dan jalanan yang sudah hancur, dijadikan pijakan oleh Lazarus raksasa setinggi 60 meter itu.


David dan Jack yang didalamnya sedang merasa goyah, karena senang sekali ia dapat menembakkan peluru ledaknya ke gedung-gedung dan bangunan itu untuk dijadikan bahan uji coba baginya.


"HAHAHAHAHAHAHAHA!" puas David.


"Jujur saja, aku masih bingung. Apa tujuanmu menjalankan pembangunan Lazarus ini?" pinta Jack.


David menoleh. "Heh? apa kau belum tahu?"


"Jika ku tahu, aku juga tidak perlu bertanya" ucap Jack.


"Yaps, tujuanku adalah . . . . . " tangannya seperti mencengkeram, "menghancurkan dunia ini!" David tersenyum menyeringai.


"Kau gila. Tapi aku suka rencana mu!" Jack ikut senang.


"Sekarang . . . . luncurkan lah!" David menekan suatu tombol.


...[BURSSSTTSTT]...


Banyak roket ledak yang keluar dari punggung Lazarus itu. Roket itu menghantam gedung dan menghancurkannya. Bekas dari ledakan itu menjadi percikan api. Alhasil, banyak bangunan yang terbakar akibat bekas ledakan dari roket itu.


"Kau lihat itu? aku tanya sekali lagi, KAU LIHAT ITU?!" David gembira.


"Orang konyol" Jack heran dengan David.


...[Di sisi lain]...


Aku dan yang lain sedang membantu satu sama lain untuk berdiri. Jetsu yang paling terluka saat ini. Perutnya kembali mengalami pendarahan akibat tertusuk sebelumnya.


"Hei hei, kapten. Kau tidak perlu memaksakan ini!" cemas Wax.


Aku datang menghampirinya. Lalu mengecek keadaan Jetsu. "Jetsu, kau tahu kau sedang terluka kan?"


"Uhuk . . . . uhuk-uhuk, kau pikir aku 5 tahun? tentu saja ya, haha" Jetsu masih sempat-sempatnya tertawa meski sedang terluka.


Darinya, aku belajar beberapa hal. Dia yang terluka seperti ini pun, masih bisa tertawa walaupun rasa sakit sedang berlangsung. Aku sangat menghormati orang ini.


"Kapten, kau sebaiknya jangan terlalu gegabah!" tegas Mako.


"Kevy, boleh pinjam Divinity?" permintaan Jetsu.


"Apa yang ingin kau lakukan?" aku memberikannya.


Setelah dia ambil, Jetsu menggenggam kristal itu dengan erat. Beberapa saat kemudian, luka di perut Jetsu perlahan menutup dengan sendirinya.


"Kurasa aku pernah lihat itu sebelumnya" Akuta kembali mengingat-ingat.


"Divinity adalah kristal yang dapat menyembuhkan pengguna kristal tersebut" Jetsu menjelaskan.


"Kau tahu banyak soal kristal ya?" Robin terpukau.


"Tidak . . . ." Jetsu berdiri, "aku memang tahu saja." Kemudian dia mengembalikan kristal itu kepadaku.


Aku masih merasa cemas kepadanya. Tapi jika terlalu mencemaskan nya, hanya akan memperlambat waktu saja.


"Baiklah semua, lanjut ke rencana!" aku meminta perhatian.


Semua orang sudah mendekat kepadaku. "Kristal yang kuberikan kepada kalian bukanlah untuk mainan!"


"Tentu saja kami tahu" sela Kenzu.


"Dengarkan Kevy dulu bodoh!" tegur Orez.


Kemudian aku menghela nafas. "Dengar, ini seperti tidak adil. Tapi," aku mengangkat kristal ku, "sepertinya kita semua harus setuju kalau aku harus menjadi pengguna Cryptide selanjutnya."


"Aku merasa kurang setuju" Wax mengangkat tangan.


Semua orang terkejut dengan tanggapan Wax.


"Kurasa kapten lebih cocok untuk dijadikan pengguna Cryptide selanjutnya!" Wax memberi saran.


"Tarik ucapan mu Wax!" tegur Jetsu.


"Tapi kapten . . . ."


"Kalian pikir sekarang saatnya untuk menjadi egois di situasi seperti ini?" sela Robin.


"Ya, lagipula dia sudah berjuang sejauh ini. Apa salahnya jika Kevy menjadi pengguna selanjutnya?" Akuta setuju.


"Loh loh, kau pikir kapten ku tidak seperti terlihat berjuang?" Mako ikut membela kaptennya.


"Aku tidak bermaksud begitu" heran Akuta.


"Hei hei! sudahlah! ini bukan saatnya untuk bertengkar memperebutkan pengguna Cryptide!" aku menenangkan semuanya.


"Tapi kau sendiri yang memulai masalah ini" gumam Bryan.


"DIAM!" teriak Jetsu.


Semua orang berhenti bertengkar. Semuanya diam setelah Jetsu berteriak seperti itu.


"Dengar! ini bukan waktunya untuk memperdebatkan pengguna Cryptide oke? kita pikirkan apa yang sedang terjadi di atas sana terlebih dahulu oke?!" tegas Jetsu.


"Itu benar, tidak ada gunanya memperdebatkan ini terus menerus. Aku memiliki rencana lain jika memang ini tidak diperlukan!" ucap ku.


"Kau menyuruh diam, tapi kamu sendiri yang memulai ini padahal" heran Reggie.


"Sudahlah Reggie, diamlah" Nelson menutup mulut Reggie.


"Jelaskan, Kevy" Jetsu mempersilahkan.


Aku melihat ke atas. "Dengar, kita pergi ke atas terlebih dahulu. Setelah itu kita akan melihat situasi di atas lebih lanjut. Kemungkinan besar, David merencanakan untuk menghancurkan negara ini" tebak ku.


"Kevy benar. Ayo semuanya, kita ke atas terlebih dahulu!" Robin memasangkan anak panah yang dililitkan dengan tali carbon.


Kemudian ditembakkan ke permukaan untuk mencapai ke atas. Setelah itu, ia tancapkan panah itu ke tanah untuk menahan tali agar tidak jatuh.


"Baiklah, semuanya gerak ayo!" perintah ku.


Satu persatu mereka semua memanjat ke atas dengan alat untuk bergerak di tali. Setelah semuanya naik, aku yang terakhir menyuruh Kenko untuk pergi ke atas.


"Hati-hati Kenko!"


Kenko belum mau bergerak. Ia menghadap padaku dengan wajah menunduk.


"Ada apa?" tanya ku.


"Apakah kamu berpikir kalau kita akan berakhir disini?" pinta Kenko.


"Hah? tentu saja tidak. Ayo cepat" aku memegang pundaknya Kenko.


Kenko tidak mau bergerak. Ia langsung menarik leherku dan mencium bibirku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya.


Setelah selesai, dia menundukkan kepalanya sembari tangan melingkar di leherku. "Entah, aku memiliki perasaan tidak enak untuk ini."


"Apa maksudmu Kenko? aku akan baik-baik saja kok" aku berusaha untuk tidak membuat Kenko cemas.


"Jaga dirimu baik-baik, oke?" Kenko mengangkat kepalanya dengan tersenyum.


"Tidak perlu ditanya" aku memegang pipinya.


Lalu dia kembali mencium bibirku seperti tidak ingin kehilanganku.


Selang waktu, Kenko sudah pergi ke atas. Terakhir, tinggal aku yang akan ke atas. Namun, "Uhuk-uhuk."


Aku batuk dengan menutup mulut menggunakan telapak tanganku. Awalnya aku berpikir kalau itu batuk biasa saja. Tapi setelah aku melihat telapak tanganku.


"A . . . apa . . . . ?"


Aku terkejut setelah melihat tanganku terciprat darah dari mulutku. Begitu juga dengan mulutku yang tiba-tiba keluar darah.


"Sial, apakah harus di saat seperti ini?" kesal ku.