
"Hampir sampai! Hampir sampai!" aku berlari secepat kilat menuju helikopter.
Gelombang elektromagnetik masih mengejar. Setiap benda yang menyentuhnya, akan retak dan hancur. Begitu juga dengan aku yang berpikir, "apakah aku juga akan hancur bila menyentuhnya?" Pertanyaan bodoh. Tentu saja ya. Lebih baik aku tidak menyentuhnya dan menjauhinya.
Sebelum Kenko benar-benar naik, ia melihat ada cahaya biru sedang mengarah kemari. "Tunggu sebentar!"
Akuta menoleh ke belakang. Ia juga melihat cahaya biru itu datang mengarah nya. "Kevy?"
Setelah melihat itu, ia langsung kembali ke tepi gedung dan bersiap membantuku. "Suruh helikopter naik saja terlebih dahulu! bisa fatal jika retakan gedung menghancurkan keseimbangan!"
"Baiklah!" Kenko masuk ke dalam helikopter dan memberitahu Mako.
Akuta kembali memantau ku dari atas. Ia juga melihat Lazarus raksasa itu bergerak menghancurkan dan menginjak banyak bangunan.
Aku akhirnya melihat Akuta yang sedang menungguku di atas. Tapi cara ke atasnya, tentu saja harus memanjat. Mustahil melewati tangga dari dalam.
"Kevy! gapai tanganku!" ia mengulurkan tangannya.
Aku sudah mengangkat tanganku ke atas. Sesampainya di ujung tembok, aku menggunakan tanganku untuk memanjat ke atas.
Gelombang sudah menabrak bagian bawah bangunan. Retakan membuat bagian bawah gedung perlahan runtuh. Aku memanjat dengan cepat untuk menggapai tangan Akuta.
...[TAPPPPPP]...
...[Kembali ke 2 tahun yang lalu]...
Aku berhasil menggapai tangan Akuta setelah hampir saja jatuh dari kaca gedung di kota Agress.
"Kau tidak apa-apa Kevy?" Akuta menarik ku ke atas.
"Ya. Kurasa aku harus lebih berhati-hati. Kaca gedung ini sangat licin."
Malam itu, kami sedang berencana mencuri uang di brankas salah satu gedung. Dirumorkan kalau isi brankas ini berisi emas dan uang yang melimpah. Berharap saja itu benar.
Dengan menggunakan tali, kami memanjat ke atas gedung untuk melubangi salah satu kaca di sini. Kira-kira tinggi gedung ini sekitar 40 meter. Kami menggunakan pakaian gelap agar menyatu dengan kegelapan.
"Menurut kabar, inilah tempatnya" Aku memberitahu Akuta sembari menunjukkan gadget hologram di pergelangan tangan ku.
"Ambil alatnya di tas ku" Akuta berbalik badan agar aku dapat membuka tasnya.
Setelah aku mengambil alatnya, kami berdua pun langsung beraksi. Kami menggunakan blowtorch yang sudah dimodifikasi. Dengan instan, lubang di jendela terbentuk. Kami mendorongnya dengan perlahan agar tidak pecah.
Di dalam ruangan ini, tidak akan ada SecBot yang datang mendobrak.
Kami berdua masuk ke dalam. Kemudian menyalakan senter untuk menerangi ruangan. Kalau kami menyalakan lampu ruangan, pasti akan membuat penjaga di bawah curiga.
Masalah cctv, kami sudah meretasnya sebelum masuk kemari. Lalu kami berdua hanya tinggal mencari jalan menuju brankas itu.
"Kau yakin ini ruangan yang benar? seperti tidak terlihat pintu disini" Akuta tidak yakin.
"Sebentar. Seharusnya ada di sekitar sini."
Aku mencari dan terus mencari kemana brankas tersebut. Yang kutemukan hanyalah, suatu rak buku raksasa yang rada mencurigakan.
"Akuta, apa kau pernah melihat film . . . ."
"Hmm?" Akuta menyoroti senternya ke rak buku itu.
Kami berdua saling menatap dan mengangguk. Kemudian kami berdua menarik satu persatu buku sampai sesuatu yang terpicu terjadi.
...[KREEEEKKK]...
"Ahh!" akhirnya Akuta berhasil menarik satu buku yang membuat rak itu bergerak.
"Kau keren kawan!" aku melakukan tos dengannya.
Dan di dalam rak buku itu, masih ada brankas besar yang menutup dalamnya lagi. "Tenang, aku bawa alatnya."
Tentu saja kami punya solusi untuk membuka brankas ini secara instan. Kemudian aku mengambil mesin portabel untuk membuka segala brankas. Lalu ku tempelkan di dinding brankas itu agar benda itu bekerja.
...[BRRRRRRRRR]...
Tuas brankas terputar sendiri. Tandanya, brankas besar ini sudah terbuka secepat itu.
"Tidak sia-sia aku beli barang itu dengan murah" girang ku.
"Pembuatnya sangat jenius juga" puji Akuta.
"Aku membelinya di pamannya Orez dan Kenzu loh" aku menepuk bahu Akuta.
Ia terkejut setelah mengetahui itu. Kemudian pintu brankas terbuka dengan sendirinya. Pantulan cahaya emas, menyinari wajah kami.
Banyak emas dan øver yang sangat melimpah. Kami berdua menginjakkan kaki ke dalam dengan ekspresi tercengang.
"Kita kaya, Akuta!"
"Itu benar, Kevy!"
Kami berdua melakukan tos kembali. Tapi . . . .
...[BIIIIPPPPPPPP BIIIIPPPPPPPP]...
Alarm peringatan penyusup telah berbunyi. Kami berdua harus segera keluar dari tempat ini sebelum penjaga datang kemari bersama SecBot.
"Cepat Akuta! masukkan sebisanya ke dalam tas ini!" aku melempar tas besar yang masih kosong.
Kami berdua pun mengisi tas itu penuh dengan emas dan uang.
Setelah terisi, kami berdua keluar dari brankas. Tapi tiba-tiba pintu ruangan ini di dobrak.
...[BRUGGGG]...
"MPD! Menyerah dan letakkan semua yang kalian pegang!" beberapa petugas MPD dan SecBot datang kemari.
Kami berdua pun mengangkat tangan. Masker kami masih terpasang. Aku melirik Akuta untuk memberikan aba-aba.
Dengan menggunakan kedipan, Akuta paham apa yang ku rencanakan.
"Kau tahu apa? enyah lah!" aku menekan tombol di telapak tanganku.
Lalu asap tebal keluar dari tas Akuta. Asap itu cepat merata sehingga menutupi ruangan.
"Hei! jangan kemana-mana!" petugas itu tidak dapat melihat.
Aku dan Akuta menggunakan gas mask sembari berjalan mundur. Lalu melompat ke bawah untuk meloloskan diri dari sana.
"Kita berhasil, Kevy!" Akuta mengulurkan tangannya.
"Ya!" aku menggapai tangannya.
...[TAPPPPPP]...
...[Kembali ke momen]...
Aku berhasil menggapai tangan Akuta. Ia menarik ku ke atas sekuat mungkin. Aku berubah menjadi human form agar lebih enteng diangkat.
"Maaf!" aku naik ke atas dengan sedikit merangkak.
Akuta berhasil menarik ku. "Cepat! gedungnya akan runtuh!"
Ia mengangkat ku dan menarik ku menuju helikopter. Meski sudah terbang, kami berdua akan melompat ke grip helikopter bersama-sama.
...[TAPPPPPP]...
Kami berhasil menggapai grip helikopter. Sekarang helikopter terbang ke atas. Orez dan Kenzu membantu kami berdua agar masuk ke dalam.
Akhirnya kami berdua berhasil meloloskan diri dari runtuhan bangunan itu. Dan juga lolos dari gelombang elektromagnetik yang menyebar dengan cepat, meski hanya menyentuh permukaan.
"Apakah Lazarus itu memang yang akan menghancurkan negara ini?" pinta ku sembari terbaring ngos-ngosan.
"Bukan hanya negara ini saja. Seluruh dunia akan dihancurkan oleh benda raksasa ini" ucap Bryan sembari merokok.
"Hei, aku sudah lama tidak melihat mu merokok" aku bangun dan menghadapnya.
"Orang gila mana yang akan bertarung sembari merokok? aku ingin saja. Tapi apakah aku harus membuka helm ku terlebih dahulu untuk menghisap satu batang ini?" tawa kecil Bryan.
Semua orang di dalam helikopter tertawa. Bisa-bisanya kami masih tertawa di momen seperti ini. Padahal Lazarus raksasa itu sedang menghancurkan kota yang ia pijak.
"Apocalypse . . . . adalah namanya" aku menunjuk Lazarus yang sedang melakukan pengeboman masal di kota itu.
"Cocok dengan kelakuannya. Nama yang keren menurutku" Wax berpikiran yang sama.
Keheningan mulai terjadi kembali. Dari yang bisa kulihat ekspresi wajah mereka, sudah pasti terlihat ketakutan. Mereka menutupi ketakutan itu dengan candaan. Menurutku, itu adalah orang yang hebat. Sangat hebat.
"Mako, kemana tujuan kita?" pinta ku.
"Ke markas Black Cafe. Aku harus memberi tahu kabar . . . . kapten kita" jawab Mako sembari memandang wajah Wax.
Aku hanya bisa tersenyum terpaksa untuk bertanya di momen dan situasi seperti ini.