CRYPTIDE CRYSTAL

CRYPTIDE CRYSTAL
Mesin Pembangkit



...[Sementara itu]...


Shippu dan Saguru sedang membawa Kors yang sudah tidak bernyawa menuju suatu ruangan. Setelah sampai, di sana banyak sekali teknologi dan mesin-mesin yang sangat canggih. Tidak bisa dibayangkan secanggih apa teknologi itu, tetapi mungkin saja akan bereaksi sesuatu bila Kors diletakkan disitu?


"Shippu, bantu aku meletakkannya ke dalam sini."


Saguru membuka pintu mesin yang bentuknya seperti kulkas, namun beda fungsi. Lalu dimasukkan lah Kors ke dalam mesin itu dan ditutup. Setelah mesin itu diutak-atik oleh Saguru, ia hanya tinggal menunggunya.


Sembari menunggu, Shippu sedari tadi mondar-mandir seperti tidak tenang.


"Kau terlihat tidak tenang begitu" tegur Saguru yang sedang duduk di sebelah mesin itu.


"Apa kau yakin kita akan membangkitkan nya?" Shippu merasa seperti tidak menerimanya.


"Ini perintah David. Aku juga ingin menolaknya bila tidak dibayar olehnya" tolak Saguru.


"Hahahahaha" Setelah tertawa, Shippu mengeluarkan sepucuk pistol dari jasnya. Kemudian ia todong kan kepada Saguru. "Jadi kau masih mau saja diperintah olehnya?"


Saguru mengangkat tangan, "hei hei tenanglah!"


"Aku memang tidak ada niatan untuk bergabung kemari. Di sini aku hanya diperintah untuk ini dan itu oleh dia."


"Kenapa kau baru bilang sekarang? lalu mengapa kamu menerimanya?" heran Saguru.


"Uang, Saguru! Uang!" Shippu tersenyum menyeringai dengan ekspresi jahat.


"Setidaknya turunkan senjata mu terlebih dahulu bisakah?" Saguru menenangkannya.


"Memangnya kenapa? kau takut dengan senjata api ini?" hina Shippu.


...[DORRRR]...


Shippu menembak Sagi. Namun hanya terkena di bagian pundak.


"AKHHH!" Saguru menahan sakitnya.


"Aku tidak serius menembaknya loh," Shippu mendekatinya, "tetapi kau sudah takut seperti itu" tawa Shippu.


"Kau beruntung karena aku sedang tidak membawa senjataku."


"Jadi kau memang sudah siap untuk dibunuh?" Shippu menempelkan mulut pistolnya di dahi Saguru.


Saguru mengintip sedikit ke arah mesin. Sisa 13 detik lagi sampai mesin selesai beroperasi.


"Hei Shippu" sebut Saguru.


"Hmm?"


"Apa kau tahu apa yang lucu?" Saguru kembali melirik Shippu.


"Aku akan menarik pelatuk ini? kurasa ya."


"Salah."


"Hah?"


"Yang lucu adalah . . . ."


...[BUGGGG DORRRR]...


Saguru dengan cepat memukul tangan Shippu, sehingga Shippu menembak mesin itu sampai membuat mesinnya berhenti berfungsi.


"Sial, apa yang kau lakukan?"


"Bukankah itu yang kau mau Shippu?" tawa Saguru.


...[BSSSSSTTTT]...


Lalu terbukalah mesin itu. Dimulai dari asap yang keluar dari mesin, sampai tangan seseorang meraih sisi mesin.


"Apakah itu?" mereka berdua menoleh ke arah mesin.


...[Beralih ke tempat lain]...


Akuta sedang beradu gergaji dengan Jack. Kali ini Jack terpojokkan oleh Akuta yang sudah memasuki mecha form mode Hyper.


"Segini sajakah kemampuan chips ampas mu itu?" gila Akuta.


"Tch curang!" Jack menghindari serangannya Akuta dengan cara memutarnya.


"Kau tidak akan kemana-mana!" Akuta menarik Jack dan menjatuhkannya ke lantai. "Dengarkan suara gergaji ini!"


Sementara itu, Wax dan Bryan sedang bertarung dengan Jean dan David. Mereka bertarung dengan cara saling menembak dari kejauhan. David berusaha untuk menyerang Wax sedekat mungkin, karena ia pengguna pedang. Begitu juga dengan Jean yang sangat sulit untuk mendekati Bryan.


"Tidakkah kau bisa untuk bermain sportif?!" kesal David yang sedari tadi harus membelah bola hologram yang disepak oleh Wax.


"Hei hei, apakah aku menggunakan tangan untuk bermain bola?" tawa Wax.


"Masuk akal, tapi . . . " setelah David membelah kembali bola itu, ia langsung melakukan zig-zag untuk menghindari tembakan bola yang lain.


"Sekarang giliran ku!" David mengayunkan pedangnya dari belakang Wax.


...[BRUGGGG]...


Tendangan kaki yang mendarat di wajah David, membuat ia terpental sejauh mungkin. Wax menoleh kebelakang untuk melihat siapa itu.


"Kau memang butuh bantuan, Wax" ternyata yang membantunya ialah Mako dengan mecha form nya.


"Mako!" Wax senang.


David kembali bangkit dan berdiri. "Ouh, seperti ini toh cara bermain kalian?"


"Apakah kami terlihat sedang bermain-main?" ejek Wax.


"Baiklah. Kita mulai ulang strategi ini!" tawa jahat David.


Selain itu, pertarungan Bryan dan Jean juga tidak kalah sengit dengan yang lain. Meski Jean sudah mendekati Bryan, ia tetap saja selalu terpental akibat tembakannya Bryan yang akurat itu.


"Kau ini sulit sekali untuk dibunuh ya?" puji Jean.


"Seperti yang kau bisa lihat dan amati" Bryan bersikap keren didepannya.


"Kau tahu? aku tidak pernah melawan wanita sebelumnya" Jean basa-basi.


"Aku tidak peduli" Bryan menari pelatuknya.


...[DORRRR]...


Tembakannya tepat mengenai tangan Jean.


"Aww, ayolah. Aku bosan bertarung terus" risau Jean.


"Bosan? kita baru saja bertarung sekitar setengah jam yang lalu. Menurutmu itu sudah membosankan? dasar pecundang!" ejek Bryan.


"Oke-oke!" Jean kembali mengeluarkan senjatanya. "Kita main serius kali ini ya?"


Bryan dan Jean sama-sama mulai serius untuk memulai pertarungan itu.


Aku melihat mereka semua dari jauh sembari memulihkan diri. Aku hanya bisa menunggu sampai aku pulih total, lalu kembali ikut bertarung.


"Kenko, bagaimana perasaan mu setelah melihat kakakmu kembali?" tanyaku padanya yang disebelah ku.


"Sungguh, sangat terharu sekali. Aku kangen dengannya selama ini. Ayah juga sangat peduli kepadanya. Sayang sekali beliau tidak dapat bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya . . . ." curhat Kenko.


Aku memandangi wajahnya yang terharu seperti itu. Bicara seperti itu, membuatku kembali ingat kepada Tye beberapa tahun yang lalu. Tyler yang kukenal ketika aku berada di masa depan, bukan yang saat aku bertemu di museum bendera pada waktu itu.


Ketika aku melihat sekitar, aku merasa seperti ada yang kurang di sini. "Tapi btw. Dimana Reggie, Kyo, Yue, dan Nelson?" aku baru menyadarinya kalau mereka berempat menghilang.


"Mereka kalau tidak salah sedang mencari baju yang dapat dipakai di sekitar luar ruangan ini deh" Kenko baru ingat.


"HAH??? KENAPA KAU TIDAK BILANG?!" cemas ku.


"Ya soalnya--"


Tanpa pikir panjang, aku langsung berdiri dan mencari mereka.


"Eh eh, Kevy! tunggu sebentar!" Kenko tidak dapat mengejarnya.


Aku melihat-lihat sekitar untuk mengecek kemana mereka pergi. Setelah itu ada suara langkah kaki dari belakang.


"Yo, Kevy!" suara itu terdengar familiar.


Kemudian aku menoleh ke belakang dengan waspada.



"Maaf, aku tidak bilang ya?" Reggie sudah memakai kostum baru.


"Reggie!" aku menghampirinya. "Sial, aku mencari mu kemana-mana!"


"Iya-iya, aku sudah minta maaf!" tawa Reggie.


"Alat itu . . . " aku menunjuk benda yang dipegang oleh Reggie.


"Oh ini?" dia menunjukkannya. "Kuberi nama Intrusion. Aku rakit sendiri ketika berada di sel."


Aku mengambil sesuatu benda di saku jaket ku. "Reggie . . ."


"Hmm?" dia melihat benda yang ku pegang.


"Aku percayakan ini kepadamu" aku memberikannya kristal hijau, Time Hijacker 19.


"Kevy . . . apa kau sungguh?" Reggie rada ragu untuk mengambilnya.


Aku mengangguk pertanda serius kepadanya. Reggie berpikir-pikir untuk mengambilnya. Karena akan banyak tanggung jawab jika ia sudah memegang kristal itu.