CRYPTIDE CRYSTAL

CRYPTIDE CRYSTAL
Masa Depan Negara Mechroid (END)



Kepalaku, terasa dingin. Entah bagaimana caranya aku masih bernafas. Sepertinya aku sedang terbaring, entah dimana ini. Aku yakin sekali kalau ini adalah, ranjang yang empuk sekali.


"Tunggu dulu. Mustahil aku sedang menikmati suatu momen ini. Bukankah aku seharusnya sudah tewas?"


Aku perlahan membuka mata untuk mengecek dimana aku sekarang. Setelah itu, aku akhirnya melihat jelas dimana aku sekarang.


"Eh?" aku melihat langit-langit atap sembari berbaring di kasur.


"Apa yang--" aku menengok ke kiri dan . . . . . "AAAAAAAAKHHHHHHHH!!!!"


Reflek aku terkejut dalam hati. Hal yang kulihat sekarang adalah, Kenko sedang tertidur di sebelahku.


"K . . . Kenko?" aku mencoba memanggilnya.


Tapi kurasa ia masih tertidur pulas. Aku memegang wajahnya untuk memastikan kalau dia itu benar-benar Kenko.


"Ini bukanlah mimpi."


Aku sangat senang sekaligus bingung bagaimana ini bisa terjadi. Sampai akhirnya aku sedikit mengingat beberapa momen sebelum aku benar-benar tewas.


"Oh iya. Aku menciptakan keinginan itu ya?"


Kemudian aku bangun dengan badan yang segar. Aku baru menyadari kalau aku tidak memakai baju. Lalu aku kembali tersadar kalau tempat ini bukanlah rumah ku sebelumnya. Seperti jauh berbeda dari rumah ku sebelumnya.


"Dimana ini?"


Aku keluar dan berdiri dari ranjang untuk mengaca di lemari. Badanku masih sixpack seperti biasanya. Wajahku juga tampan seperti biasanya. Tetapi sekarang aku kembali ingat dengan suatu pertanyaan.


"Tunggu dulu, bagaimana Kenko ada di ranjang ku?!"


Dengan cepat, aku membuka lemari dan memakai baju yang ada. Setelah memakai, aku langsung menutup kembali pintu lemari. Tetapi setelah ku tutup, ada pantulan anak kecil di cermin.


"WAAAAAAAA!!!" reflek aku menoleh ke belakang dan terkejut melihat anak kecil itu.


Teriakan itu seketika membuat Kenko reflek bangun dan berpose aneh. "HAAAAAAHHH APA YANG TERJADI?!!"


"Eh?!" kemudian aku dan anak itu reflek menoleh dan menatap Kenko dengan ekspresi konyol.


Setelah Kenko sadar apa yang terjadi, ia kemudian melihat kami berdua yang berekspresi aneh. "Ouh, hehehehe."


Kemudian Kenko turun dari ranjang dengan ekspresi malu.


"Huhhh, Kenko. Dia mengejutkanku" aku menepuk jidat dan menunjuk anak itu.


Reflek Kenko menyentil kuping anak itu dan berkata, "Astaga Hiro, kamu tidak boleh begitu dengan ayahmu! ibu juga jadinya ikut terkejut kan?" tegur Kenko.


"Tuh, dengar kata ibu" ujar ku.


Seketika aku sadar sesuatu. "Eh?" reflek aku menoleh dan memandang mereka berdua.


"Ayah? Ibu? Hiro?"


"Aku tidak salah dengar kan?"


"Hiro? anak itu adalah anakku???!!!!"


"Dan Kenko adalah istriku?!!!"


"Ini adalah keluargaku?!"


Banyak sekali pertanyaan di otakku. Aku meminta sesuatu tetapi sudah diluar ekspektasi ku. Memang sangat keren, tetapi ini sudah diluar perkiraan ku.


"Cepat Hiro, sekarang minta maaf ke ibu dan ayah" tegur Kenko.


"B . . . baiklah. Aku minta maaf ibu" Hiro dengan muka melas dan manisnya, meminta maaf kepada Kenko.


"Anak baik, lain kali jangan ulangi ya?" Kenko mengusap kepalanya.


Kemudian Hiro menghadap kepadaku dengan menundukkan kepala. "A . . . ayah. Aku minta maaf sudah mengejutkan ayah."


Ketika dia mengangkat kepalanya, wajah manis, tampan, dan menawan itu membuatku tersentuh sampai ke lubuk hati. Reflek aku memeluknya dengan erat dan menggesek-gesek pipinya dengan pipiku.


"Tentu saja, Hiro!"


"Eh?" Hiro bingung kenapa Aku melakukan hal itu.


Kenko tersenyum melihatku begini dengan anakku.


Selang beberapa menit kemudian, aku sehabis mandi dan keluar dari kamar mandi. Kamar sekarang sedang sepi. Kemungkinan Kenko dan Hiro sedang di luar.


Aku mengganti baju dan kembali bercermin. "Ini adalah duniaku ya? Aku tidak menyangka semua ini."


Dari pantulan kaca, Aku baru menyadari ada suatu foto diatas lemari meja Kenko. Kemudian aku berjalan menghampiri lemari meja itu dan melihat foto itu.


Kini aku sedang tersenyum bahagia melihat foto bingkai yang isinya adalah foto keluargaku, yaitu kami bertiga. Kemudian aku melihat holophone di meja itu, yang kurasa itu adalah milikku.


Aku mengambilnya dan melihat tahun yang melintas dimana aku tinggal sekarang ini. Aku terkejut setelah mengetahui bahwa sekarang adalah tahun 2909.


Kukira aku hidup di tahun 2751 kembali. Namun ternyata tidak. Kehidupan ini harus ku telusuri lebih dalam lagi. Aku juga melihat jendela luar yang memperlihatkan kota modern nan canggih dengan lampu neon. Suasana ini terasa sangat futuristik sekali.


Lalu aku keluar dari kamar untuk mengecek struktur seluruh ruangan di rumah ini. Rumah ku memiliki 2 tingkat. Di bagian bawah ada ruang tamu, dapur, kamar mandi, kolam renang di belakang, basement, dan garasi. Ternyata di garasi, aku memiliki mobil yang sama ketika hancur pada waktu itu. Aku senang sekali melihatnya masih utuh seperti dulu.


Kemudian di lantai 2 ada kamar Hiro, dan juga kamar ku dan Kenko. Di ujung koridor, ada pintu yang terhubung dengan balkon. Di balkon ini, pemandangan kota semakin terlihat sekali.


Tapi yang lebih penting lagi . . . .


"Oh iya, kurasa aku teringat sesuatu."


Aku membuka aplikasi pesan di hp ku. Kemudian langsung mencari nama kontak Akuta dan teman-temanku lainnya.


Tapi ketika ku geser ke sebelah, Aku melihat banyak nama kontak orang-orang yang kukenal membuat status di aplikasi itu.


Aku memencet status Akuta untuk melihat nasibnya sekarang. Dari yang ia unggah, sekarang Akuta sudah berpasangan dengan Yuusha. Ia juga dikaruniai anak gadis yang sepantaran dengan Hiro. Aku senang kalau dia sudah hidup bahagia sepertiku sekarang.


Kemudian aku memencet status yang diunggah oleh Orez. Ia mengunggah kehidupannya sebagai pembalap nomor satu di dunia. Lalu ada Kenzu yang menjadi asisten pemantau monitor di racetrack balap sirkuit itu. Aku ikut senang juga dengan mereka berdua. Aku membuat pilihan yang tepat untuk hal ini.


Selanjutnya, Aku memencet status yang diunggah oleh Wax. Ia sekarang juga sudah hidup bahagia dengan Mako. Anaknya menjadi pemain sepak bola dan sedang dalam masa pelatihan. Tidak ku sangka kalau ia juga hidup bahagia. Aku turut senang melihatnya.


Terakhir, ada status yang diunggah oleh Robin. Aku terkejut setelah melihatnya sudah hidup bahagia dengan Ichika. Kalau ini adalah duniaku, ya wajar saja kalau Aku banyak terkejut. Sudah pasti Aku ikut senang juga melihatnya.


Itu saja yang ku lihat dari status mereka. Sisa dari orang yang ku pernah temui sebelumnya, tidak mengunggah status apapun. Tetapi aku dapat melacak keberadaannya menggunakan lokasi mereka.


Kemudian aku memiliki ide untuk keluar sebentar melihat keadaan kota di sana. Aku turun dari tangga dan berjalan menuju garasi.


"Sayang, kamu mau kemana?" tanya Kenko yang sedang duduk di ruang tamu sembari membaca buku.


"Aku ingin ke kota dulu ingin menemui beberapa orang. Kamu sedang apa?" tanya ku balik.


"Oh ini. Aku sedang membaca novel Infamous yang terkenal dan ramai dibicarakan saat ini. Kurasa kamu harus membacanya juga Kevy."


"Aku akan membacanya nanti. Baiklah, aku duluan sayang" Aku pamitan dan pergi ke garasi.


...[Beberapa menit kemudian]...


Aku sudah sampai di tengah kota Extrobile. Ketika aku sedang melintas di jalan, mataku tertuju pada salah satu kantor polisi yang ada di depan sana.


Kemudian Aku memarkirkan mobil ku di depan kantor polisi yang disediakan oleh bangunan. Lalu melihat-lihat sekitar untuk menikmati indahnya kota ini.


Suatu suara yang familiar terdengar di telingaku. Kemudian Aku melihat papan iklan yang tertera di gedung sedang menampilkan suatu band yang bernama Aftermath. Sekarang grup Aftermath adalah sebuah band yang populer saat ini.


Lalu di salah satu papan iklan di sebelah gedung, menampilkan Nelson dan Reggie menjadi seorang penemu mesin baru bersama pamannya Orez dan Kenzu. Syukurlah kalau mereka berdua juga masih terdengar namanya di sini.


"Ya, tidak ku sangka kalau mereka akan menjadi terkenal" suatu suara familiar sedang berbicara denganku dari belakang.


"Eh?" Aku menoleh ke belakang untuk melihat siapa orang itu.


"Yo Kevy!"


"Oalah Kevy."


Mereka berdua menyapaku. Aku terkejut setelah melihat kedua orang yang menyapaku itu. Dua orang itu adalah, orang yang juga ku ingin tahu kabar mereka sekarang di dunia ini. "Bryan, Drop. Hai!"


Mereka melambaikan tangan dan tersenyum kepadaku sebagai sapaannya. Kini mereka berdua adalah seorang petugas polisi yang bekerja di pusat MPD ini.


"Dimana Kors?" tanyaku.


"Kors? ada di dalam sana bersama kapten Jetsu" jawab Drop.


"Sekarang Kors dan Jetsu menjadi partner? sungguh diluar nalar."


"Yah, semenjak Jack bergabung dengan kepolisian daerah sini, semakin sedikit kriminal yang masih ada di kota ini."


"Jack juga ada di dalam sini ya . . . . keren juga."


"Ini semua berkat pemerintah kita sekarang, David Martinez. Aku sangat mendukungnya" puji Bryan.


"Bahkan David. Ia sudah menjadi pemerintah di negara ini."


Tapi ketika dewa pencipta Riptide itu memberikan syarat kepadaku, seketika Aku mengingat tentang pedang Cryptide untuk ku pertanyakan pada mereka.


"Oiya, apa kalian tahu dimana Cryptide berada?" tanya ku.


"Cryptide? apa itu? sebuah minuman?" Bryan bingung.


"Kurasa sebuah makanan sih. Memang apa itu Cryptide?" tanya Drop balik.


"Ah tidak lupakan" Aku menarik kembali kata-kataku.


Sekarang Aku tahu syarat yang diberikan oleh dewa itu untuk menciptakan dunia ini. Yaitu dunia tanpa adanya kekuatan pedang seperti Riptide, atau semacam kristal lainnya.


Aku sudah lumayan mengetahui kabar mereka saat ini. Orang yang pernah kutemui sebelumnya, sudah memiliki hidup baru yang lebih baik. Sisanya adalah, orang-orang yang di kapal saat itu.


"Apa kau kenal dengan Kyo?" pinta ku.


"Kyo? ia dipindahtugaskan ke pusat MPD di kota lain. Mereka juga sudah bertemu bersama teman-temannya sebagai sesama petugas di kantor barunya" jawab Drop.


"Ouh terimakasih. Apa kalian sedang dalam jam istirahat?"


"Tidak, kami seharusnya ditugaskan untuk berpatroli di beberapa blok kota ini" Bryan kembali mengingat tujuannya.


"Ouch, maaf. Aku mengganggu pekerjaan kalian. Sekarang lanjutkan lah. Aku juga ingin pulang ke rumah."


"Terimakasih, dan tidak perlu minta maaf juga untuk itu. Jaga diri baik-baik, oke?" ucap Bryan sembari berjalan mundur.


Aku mengacungkan jempol ke mereka berdua. Kemudian kembali masuk ke dalam mobil untuk kembali pulang ke rumah.


...[Sesampainya]...


Di rumah, Aku duduk di ruang tamu bersama Kenko untuk menonton televisi. Sembari menonton, Aku sekarang sudah mengetahui kabar mereka semua sejauh ini. Dari kehidupan, pekerjaan, tempat tinggal, bahkan relasi mereka sendiri, Aku sudah mengetahui semuanya.


Akhirnya Aku menikmati dunia baru ini setelah sekian lamanya. Lalu beberapa saat kemudian . . .


...[TINUNGGG TINUNGGG]...


Bel rumahku berbunyi. Aku menoleh ke arah depan pintu untuk melihat siapa itu.


"Oiya, Aku lupa bilang. Tadi keluargamu menelpon rumah" Kenko kembali ingat.


"Eh?" Aku terkejut mendengarnya.


Kemudian Aku langsung berdiri dari sofa dan berjalan ke depan pintu untuk membukakannya.


...[KREEEEKKK]...


"Ah, halo Kevy. Tadi Ayah sempat menelepon rumah ini ya? kakak cuma ingin mengantarkan makanan yang dibuat oleh ibu ini, hehe. Sebenarnya Viona yang disuruh mengantarkannya, tetapi ia malah tidur."


Aku tercengang melihat wajahnya. Tidak ku sangka, kalau Tye juga ada di dunia ini. Ayah dan Ibu bahkan juga masih ada bersama adik perempuan ku di sana. Tanpa pikir panjang, Aku langsung memeluk kakakku dengan senang.


"Ehh?" Tye terkejut.


"Terimakasih . . . terimakasih" Aku memeluknya sebagai memastikan kalau ini semua nyata.


"Ayolah, kau membuatku kaget" Tye melepaskan pelukanku.


"Maaf, Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba melakukan hal itu."


"Kau sedang tidak menjahili ku kan? apa kau menempelkan suatu benda di belakangku?" Tye curiga.


"Apakah Aku pernah melakukan hal seperti itu?"


Lalu dari arah tangga, terdengar suara langkah kaki yang cepat menuju ke pintu depan. "PAMAN!!!!"


"Hiro! bagaimana kabarmu?" Tye menyapa Hiro.


"Aku ingin menginap ke rumah kakek lagi! boleh tidak?" Hiro sangat girang.


"Tentu saja boleh. Tapi apa sudah ijin sama Ayah dan ibu kamu?" tanya Tye.


Kemudian Hiro memandang wajahku dengan menunggu jawabanku. "Tentu saja boleh nak. Segera siap-siap sana. Nanti ditinggal paman loh."


"AAAAAA Makasih ayah!" Hiro langsung lari ke atas untuk menyiapkan bajunya.


"Hmm, anak-anak. Nih, dari ibu" Tye memberikan makanan yang diberikan oleh ibu.


"Oh iya aku baru ingat" Aku menerimanya dengan senang hati.


Setelah itu, Hiro ikut dengan mobil paman untuk pergi ke rumah Ayah. Kini tinggal Aku dan Kenko di rumah berdua.


Karena Aku merasa lelah, Aku segera tidur di kamarku untuk istirahat dari semua ini.