
...[Di tempat lain]...
Seseorang baru saja berdiri dari kursi di dalam suatu ruangan. Ia memakai bajunya yang futuristik berwarna hijau, sepertinya dia bersiap-siap untuk melakukan sesuatu. Ia juga memakan roti dan minum susu, tidak lupa juga ia membuang sampahnya.
Ia berjalan menuju keluar dari ruangan. Tetapi sebelum itu, "Oh, tenang saja" ia melihat ke sebuah foto bingkai yang ada di mejanya, "aku pasti akan menyelamatkanmu" kemudian ia membalikkan foto itu.
Lalu ia keluar ruangan dengan membawa sesuatu di tangannya.
...[Sementara itu]...
Dan ini adalah pertarungan sesama Kevy yang sama-sama pengguna Sci-Libur. Aku tidak menduga jika akan terjadi pertarungan melawan diriku sendiri ini.
"Majulah, Kevy!"
"Aku tidak akan menahan."
Ia langsung maju dan mengayunkan pedangnya dengan melakukan slide ke arahku.
"Kevy, awas!" Akuta berteriak,
"Ingat, Kevy ada 2" aku mengingatkan.
Kemudian aku melompat untuk menghindari serangan Kevy. Aku juga mengayunkan pedangku ke arah bawah untuk menyerang Kevy.
"Boom!" Kevy menembakkan pedangnya ke arahku.
"B . . . bagaimana bisa?" aku menghindari serangannya itu.
Lalu aku melakukan roll depan setelah melompat, "Tch, senjata apa itu?" tanya ku.
"Sci-Libur, kau kaget kan?" jawab Kevy.
Kemudian pedang yang tadi kembali ke lengan bawahnya dan kembali menyatu.
"Keren, sekarang biar kuperkenalkan Sci-Libur milikku!" aku maju dan mengayunkan Sci-Libur milikku ke arahnya.
Tanpa ekspresi, ia menangkis serangan ku dan kembali menyerang balik. Dengan cepat aku juga menangkis serangannya dan kembali mengayunkan pedang ku ke bagian tubuhnya.
Pertarungan ini sangat sengit sekali. Sampai sedari tadi kami hanya adu menangkis dengan nya. Karena kami ini adalah satu otak, pasti kami sama-sama memikirkan dan berpikir hal yang sama secara tidak langsung.
Akuta hanya bisa diam melihat pertarungan sesama Kevy di hadapannya. Ia juga melihat kristal di tangannya itu dan menggenggamnya.
...[Sementara itu di dunia lain]...
Kenko, Mako, Drop, dan Bryan sedang duduk di bangku yang berada di trotoar jalanan. Mereka duduk sembari menunggu kami kembali.
"Kira-kira akan menunggu berapa lama?" Kenko menopang dahinya ke tangannya dengan menunduk.
"Seharusnya tidak lama, karena mereka pasti masuk ke alam kuantum yang jika dipikir hanya membutuhkan beberapa detik" Teori Mako.
"Tapi ini sudah lebih dari 10 menit. Konyol" Drop mengecek arloji futuristik miliknya.
Kenko menghela nafas. Tapi beberapa saat kemudian ada suara langkah mendatangi mereka semua.
"Seperti kenal suara langkah ini" Kenko membuka matanya, kemudian ia mengangkat kepalanya dan melihat orang itu.
"T . . . tidak mungkin" Kenko terkejut.
...[Kembali ke dunia lain]...
Setelah lamanya kami adu menangkis satu sama lain. Akhirnya kami berdua sama-sama terkena serangan kami masing-masing. Kami kemudian sama-sama mundur dengan cepat untuk menghindari serangan berikutnya.
"Skill pedang yang bagus" Kevy memujiku.
"Oh jelas, milikku sangat panjang" aku ikut memuji diriku.
Kevy memasang wajah mencurigakan di balik helmnya sepertinya.
"Baiklah. Ayo lanjutkan!" aku menggenggam erat pedangku,
"Aku takkan gentar" Kevy juga bersiap-siap menyerang ku.
Ketika kami sama-sama maju dan hendak saling menyerang dan mengayunkan serangan kami, tiba-tiba . . .
...[PHEWWW]...
"Keren. Adikku sekarang ada 2"
"Tye?" aku terkejut melihat dia.
Ya, itu ternyata benar-benar Tyler Devotee. Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya di dunia ini. Tapi yang kulihat ditangannya adalah kristal hijau. Entah bagaimana dia bisa mendapatkannya, tapi sepertinya Tye yang satu ini tidak mengancam.
"Kevy. Entah siapa Kevy yang asli, tetapi . . ." ia kemudian turun dari gedung itu dengan melompat, "salah satu dari kalian harus dihentikan."
"Maksudmu?" aku heran.
"Ya sepertinya sekarang aku tahu siapa Kevy yang baik" Tye tertawa.
Aku keheranan kenapa ia sangat berbeda sekali seperti Tye yang kukenal. Dia sangat berkebalikan dari Tye yang kutemui sebelumnya, sedangkan Kevy disini bersikap sangat jahat.
"Oke saat ini aku sangat bingung" aku mengangkat tanganku dan menunduk ke bawah dengan memejamkan mata sembari menghela nafas.
Kemudian Kevy yang satu lagi mencoba untuk lari dari sana.
"Tidak semudah itu, adikku" entah bagaimana, tetapi Tye menangkapnya menggunakan kristal miliknya.
Ia membuat jaring waktu dan menangkap Kevy yang mencoba melarikan diri. Setelah tertangkap, ia terjebak di dalam jaring waktu itu.
"LEPASKAN AKU!" Kevy meronta-ronta.
"Tidak sebelum kau menyerahkan diri" kemudian Tye menariknya untuk segera ia serahkan ke polisi.
"Kalau boleh tahu. Kenapa dia sangat sensitif?" tanya ku.
"Jika kau ingin tahu. Adikku ini adalah buronan para polisi" jawab Tye.
"Apa yang membuatnya dijadikan buronan?" tanya ku kembali.
Tye menghela nafas, "dia adalah pembunuh berantai. Sampai meresahkan masyarakat negara ini."
Aku sedikit terkejut, kemudian kembali berpikir.
"Kalau boleh kutahu, ini negara apa, kota apa, dan tahun berapa?"
"Ini adalah negara Mechroid, kota Extrobile, tahun 2752."
"A . . . apa?" aku bingung diantara mau terpukau atau terkejut.
Tapi selama ini adalah dunia lain, jadi tidak ada masalah untuk terkejut. Ternyata dunia yang sedang ku pijak ini adalah dunia dimana sangat berkebalikan sekali dari duniaku.
Buktinya adalah jalanan dan suasana kota di negara ini lebih futuristik dari duniaku. Bahkan diriku di dunia ini sangat berkebalikan dari sifatku. Jadi wajar saja jika aku terpukau, karena ini adalah dunia yang sangat menarik.
"Oiya, Tye. Kau pengguna kristal Time Hijacker kan?" tanya ku.
"Ya kenapa?"
"Apakah kristal itu bisa membuka portal dimensi lain?"
Kemudian Tye berpikir sebentar, "sepertinya bisa. Aku lupa kapan terakhir kali aku menggunakannya" Tye menggaruk kepalanya.
"Jadi bisakah kau mengantar kami ke dunia kami kembali?" aku memegang kedua bahunya.
"Eh i . . .iya, mungkin bisa" Tye ragu.
Kemudian dia melepaskan tanganku, "sebelum itu, sekarang juga kau ingin pergi?" Tye bertanya.
"Eum" aku kembali berpikir, "Oh, sepertinya nanti saja."
"Hmm ok, apa yang membuatmu menanti?"
"Ada seseorang yang harus kucari terlebih dahulu."
Tye tersenyum, "butuh bantuan?" ia mengulurkan tangannya.
Aku menatap tangannya, "dengan senang hati" kemudian aku bersalaman dengannya.