
Mustahil. Situasi seperti ini, disaat kami sedang lemah. Dia datang ketika kami sedang lengah lengahnya. Aku tidak boleh memperlihatkan penyakit ku kepada teman-temanku.
"Kevy, dia menyebut namamu."
Semua orang menengok ke arah ku dengan tatapan khawatir. Aku sedang merencanakan solusi untuk melawannya dengan cara . . . .
"Semuanya, kita pergi dari sini terlebih dahulu!" perintah ku.
Semuanya mengangguk. "Wax, kau bawa mayat Jetsu. Dan Mako, apakah kau bisa meminta jemputan untuk kita?"
"Akan ku coba!"
"Semuanya, lari terlebih dahulu dari sini" perintah ku.
"Lalu bagaimana denganmu?" Kenko khawatir.
"Aku akan mengatasi ini sebisaku" aku meyakinkannya.
Kenko sangat cemas kepadaku. Ia ditarik oleh Akuta untuk segera bergegas, "tidak ada waktu, Kenko. Dia akan mengurusinya!"
Akhirnya semua orang pun sedang berlari menuju ke tempat yang jauh. Sedangkan aku, mencoba untuk berbicara dengan Kors.
"Membuang temanmu agar mereka selamat? tidak, Kevy! aku akan menghancurkan dunia ini!" gerutu Kors.
"Kau bisa mendengar suaraku?"
"Tentu saja! seluruh tubuh Lazarus ini adalah Indra ku semua!"
"Lazarus? setahuku namanya Project OutRoar."
"Aku menamakannya kembali. Menjadi Lazarus Apocalypse!"
"Oke, itu nama yang keren" sekarang aku memuji nama itu. "Bagaimana kau bisa hidup kembali?"
"Aku berterimakasih kepada dua orang bodoh itu. Mereka memiliki mesin yang dapat merakit kehidupan seseorang kembali. Hahahaha!"
"Kevy, jemputan akan datang sekitar 30 menit lagi. Apa kau dapat mengulur waktu?" lapor Mako dari alat komunikasi.
"Akan kucoba" bisik ku.
Apocalypse belum bergerak. Pagi yang seharusnya menyegarkan ini, malah menjadi dibuat tegang oleh momen ini.
Aku merasa ada yang aneh dengan badanku. Badanku terasa panas sekali. Tidak ada waktu untuk beristirahat buatku. Sampai akhirnya aku menyadari apa yang terjadi denganku.
"Ehh?" hidungku mengeluarkan darah.
Aku mulai merasa kesakitan lagi dari dalam. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan dengan cara natural. Butuh berminggu-minggu untuk memulihkan diri. Tapi sayangnya sudah tidak ada waktu untuk mengeluh.
"Ada apa? kurang beristirahat?"
"Aku masih bingung. Mengapa kau dapat melihat kondisiku di bawah sini? aku tidak sebanding denganmu padahal. Aku yang tingginya 186 cm ini, dapat dilihat oleh sebuah Lazarus raksasa setinggi kisaran 900 meter" heran ku.
"Aku sudah mengatakannya sebelumnya. Seluruh tubuh Lazarus ini adalah Indra ku!"
"Kalau begitu, bolehkah aku melihat isi kepalamu?" aku mengangkat kristal ku.
"Kau ingin menemukan jawabannya dengan kristal itu? cobalah!"
Apocalypse mengangkat kakinya dan ditarik ke belakang. Aku yakin sekali dia akan menendang ku. Setinggi dan sebesar apapun dia, Lazarus itu tidak akan secepat itu meratakan semuanya.
"Baiklah!"
"Create! Armor! Up!" aku bertransformasi kembali menjadi mecha form Sci-Libur.
Dengan mode Oblivion ini, aku akan mengalahkannya. Sendiri kalau bisa.
...[BRRRRRRRRR]...
Tendangan telah dihempaskan. Banyak gedung yang rata dengan kaki itu. Sekarang ia sedang menghempaskan tendangannya kepadaku.
Sesampainya kaki itu kemari, aku akan naik memanjat menuju ke dalam inti Apocalypse.
...[BRRRRRRRRR]...
Kaki Apocalypse sudah berada di depanku. Sesampainya kaki itu menendang bagian bawah gedung, aku memanjatnya dengan cepat.
"Terimakasih untuk perjalanannya!"
"Menurutmu semudah itu?"
...[BZZZZTTTT]...
Dari rongga-rongga dan sela-sela armor kaki Apocalypse, muncul roket yang sangat banyak mengarah kepadaku.
"Bercanda?"
...[DUARRRRR]...
Asap ledakan menutupi kaki Apocalypse. Kors berpikir kalau aku terkena ledakan itu.
"Hahahaha! lihat itu?!"
Asap mulai memudar. Aku masih terlihat memanjat ke atas dengan kecepatan ku. "Ya, aku melihatnya!"
Selama Sci-Libur masih ada di punggungku, semua akan ku tebas apapun dan siapapun yang menyerang ku. Aku akan mencari mesin inti dari robot raksasa ini secepat mungkin.
Atau aku akan menyerangnya sebagai mengulur waktu.
"Kau tidak akan semudah itu lolos dariku!"
Tangan Apocalypse bergerak. Dari pergerakannya, ia akan menepuk ku seperti nyamuk. Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Kau selalu mengatakan itu dan kau lihat sendiri siapa yang dihidupkan kembali duluan!" ejek ku.
Ayunan tangan menjadi semakin cepat. Ia memang benar-benar akan membunuhku seperti nyamuk.
...[PRAKKKKK]...
Aku berhasil melompat ke tangannya. Sekarang aku akan berlari memanjat melalui tangannya.
"ARGHHH!!!" aku membuat Kors kesal.
...[PRAKKKKK]...
Aku melakukan berguling ke depan untuk menghindari itu. Sekarang ia mengusap tangannya ke lengan atas Apocalypse.
...[WUSSHHHH]...
Aku melakukan backflip ke belakang dan kembali mendarat di lengan bawahnya. Sekarang ia mengeluarkan roket kecilnya kembali untuk menyerang ku.
"Apakah kau tidak merasa boros untuk membuang-buang roket itu secara sia-sia?"
Kemudian aku menarik Sci-Libur dari punggungku dan bersiap untuk membelahnya. Ayunan demi ayunan ku hempaskan untuk menghancurkan roket-roket itu.
"Lihat itu! aku berha--"
...[PRAKKKKK]...
Apocalypse kembali menepuk lengannya dimana ada aku di sana. "Berhasil!" Kors mengangkat tangannya untuk mengecek keadaan ku. Tapi aku sudah menghilang dari sana. "Eh, kemana?"
"Sepertinya disini!" aku memanggil namanya.
Kepala Apocalypse menoleh ke arah telapak tangannya yang masih mengangkat ke bawah di depan matanya persis.
Aku sedang bergelantungan di telapak tangannya yang masih ke bawah setelah ditepuk. Pedangku Sci-Libur masih tersangkut di telapak tangannya. Sekarang aku masih bergelantungan dengan pedangku.
"Apakah kau mau membalikkan tanganmu?"
Ia benar-benar membalikkan tangannya ke atas. Dia membiarkanku berdiri di atas telapak tangannya yang besar itu.
"Kenapa . . . . kau sulit sekali untuk dibunuh?!"
"Sekarang berkebalikan ya? dulu kau sering hidup terus dengan kristal ini" aku menunjukkan kristal GlitchHawk miliknya sebelumnya.
"Kristal itu tidak berguna sekarang."
"Hah? aneh sekali. Padahal dulu kau sangat mendambakan kristal ini loh."
"Itu dulu. Sekarang seperti yang kau lihat! ukuran ini sangat jauh sekali denganmu yang sangat kecil. Bahkan aku dapat menyentil mu sejauh dari timur ke barat."
"Kurasa itu masih dekat" gumam ku.
"Mau mencobanya?"
"Kalau bisa!"
Tangan Apocalypse yang satu lagi malah menepuk tangan yang ini. Ia mengusap-usap telapak tangannya sangat keras sekali.
"Haha, tamatlah sudah kau!"
Tetapi kemudian tangannya seperti terangkat dengan sendirinya. Perlahan dengan getaran, aku berhasil menahan tangannya.
"Hei . . . . itu sangat curang. Tadi . . . . kau bilang ingin menyentil ku!"
"M . . . mustahil. Bagaimana bisa?!"
"Kevy! helikopter sudah terlihat. Sekarang apakah kau dapat kembali kemari?!" lapor Mako kembali.
"Benarkah? aku akan ke sana" bisik ku melalui alat komunikasi.
"Temanmu ya? aku dapat melihat helikopter sedang datang kemari."
"Hebat juga kau dapat mendengar ku dari luar sini."
"Sudah kubilang kalau--"
"Ya ya ya! aku tahu apa yang akan kau katakan. Bla bla bla bla. Aku bosan mendengarnya."
"Dan kau tahu sendiri aku tidak akan membiarkan mu lolos!"
"Dan kau juga tahu sendiri kalau itu semua hanya omongan belaka mu!"
Dengan berjalan mundur, aku melompat ke belakang dan terjun ke bawah. Apocalypse mencoba menggapai ku, tetapi ia malah menghancurkan gedung yang lain sehingga membuatku semakin lolos.
"TIDAK AKAN KUBIARKAN!"
...[BRRRRRRRRR]...
Sekarang Apocalypse mengeluarkan gelombang shockbreaker dari hentakan kakinya. Aku sedang berlari secepat mungkin menuju ke teman-temanku.
Setelah kaki di hentakan, gelombang elektromagnetik berpencar menciptakan lingkaran yang membesar. Setiap gelombang itu melewati gedung, maka akan runtuh per gedung nya.
"Ah sial."
Helikopter sudah mendarat di atas gedung. Satu persatu teman-temanku masuk ke dalam helikopter, yang diutamakan adalah Wax dan Jetsu. Sisanya masuk satu-satu ke dalam dengan tenang.
Kenko masih menungguku di luar. Ia melihat Apocalypse yang sangat besar itu bergerak. Begitu juga dengan gelombang elektromagnetik yang mengarah kemari. Tetapi Kenko yakin sekali kalau aku sedang berlari kemari.
"Ayo Kenko" Akuta menyuruh Kenko masuk.
"Tapi Kevy . . . . " Kenko masih cemas.
Akuta menghela nafas. Kemudian ia menghampiri Kenko. "Dari 1 sampai 10, seberapa kau yakin dengan keselamatan Kevy?" pinta Akuta.
"Sudah pasti 10!" jawab Kenko meski dengan ekspresi murung.
"Lalu mengapa kau seperti tidak yakin dengannya?" Akuta membalikkan.
"A . . . aku tidak tahu. Perasaan ini . . . ."
Kemudian Akuta menepuk bahunya. "Sadarlah! Kevy sudah menjadi yang terbaik selama ini. Ia tidak akan tewas begitu saja!"
Lalu seseorang di sebelahnya menepuk bahu Kenko juga. "Itu benar Kenko. Dia adalah orang yang dapat dipercaya. Kita sudah sejauh ini menempuh bersamanya bukan?" Yuusha juga mempercayakan Kenko.
"Itu benar. Terimakasih" Kenko kembali tersenyum. "Kevy Devotee, adalah orang yang paling kuat!"
...[Sementara itu denganku]...
Aku masih berlari secepat mungkin mengejar teman-temanku. Rada terlihat mustahil juga aku terkejar oleh gelombang elektromagnetik ini. Tetapi benda itu memang benar-benar mengejar ku.
"Akankah aku sampai ke sana?"