CRYPTIDE CRYSTAL

CRYPTIDE CRYSTAL
Revolusi dan Evolusi



...[Di dunia lain]...


Sebuah percikan pantulan pedang yang saling beradu satu sama lain dari penggunanya. Pertarungan sengit yang semakin lama, semakin tambah sengit. Sci-Libur dan Sci-Libur saling beradu untuk memperebutkan pemilik dari tubuh ini, yaitu adalah pertarungan ku dengan ayah mertua ku. Kevy Devotee, pengguna Sci-Libur di zaman sekarang. Bren Helen, pengguna Sci-Libur 3 tahun yang lalu. Kami beradu pedang sampai Bren mau menyerah.


...[SREERRNGG]...


Pedang ku terpental. "Apakah kau tidak lelah, Kevy!?"


"Apa kah tidak terbalik?" aku menangkapnya kembali dan kembali mengayunkan.


Pedang terus beradu sampai salah satu dari mereka akan menyerah.


"Ayolah! setidaknya satu serangan saja!" tegas Bren.


"Bagaimana bisa aku mendekatinya jika ia sendiri sedari tadi menggunakan jurusnya terus!?" keluh ku sedikit.


Lalu aku mencari cara dari serangan yang ia lakukan berkali-kali. Dengan jurus yang sama ia gunakan, aku mencari cara untuk menghindar dengan cara zig-zag dan mendekatinya langkah demi langkah.


"Sial, apa-apaan orang ini?" kaget Bren yang tidak dapat sekalipun mengenai serangan dia kepadaku.


"Bodoh sekali," aku memutarnya dan berlari secepat mungkin. Lalu setelah pandangan Bren memasuki titik butanya, maka sudah waktunya, "Coba sekali-sekali gunakan jurus yang lain!" aku lompat dan mengayunkan pedangku tepat menusuk punggungnya.


"Akhh" Bren berlumuran darah di mulutnya dan juga di dadanya setelah ditusuk oleh ku dari belakang.


"Kevy," ia berbalik badan,


"Ya?" aku meresponnya dengan kelelahan.


Dia tersenyum sembari memegang pundak ku. "Orang terhebat selanjutnya akhirnya sudah ditemukan . . . . "


Aku terkejut kesenangan, "b . . b . . . benarkah???" aku memegang pundaknya juga.


"Ya Kevy Devotee! selamat, kau telah lulus dalam tes ini!"


Aku terpukau, "Hebat sekali," aku melihat badannya, "t . . . tapi kau tertusuk dan berlumuran dar--"


"Tidak tidak jangan khawatir Kevy. Aku memang sudah meninggal di dunia sana, dan berarti sudah waktunya juga aku meninggalkan dunia ini."


"Jadi apakah kau akan menghilang juga di dunia manapun?" cemas ku.


"Ingat Kevy," dia melepaskan genggamannya, "dunia itu bukan hanya satu. Kau bisa menciptakannya, atau kau bisa diciptakan olehnya."


Perkataan itu akan melekat di kepalaku selamanya. Entah kalimat itu membuatku terpikirkan sesuatu jika aku sudah berhasil menggabungkan Cryptide, berharap.


"Bren,"


"Ya?"


"Terimakasih, untuk segalanya!"


"Aku hanya sedikit berkonstribusi. Seharusnya kau berterimakasih dengan seseorang juga."


"Eh siapa?"


"Bodoh," Bren menepuk jidatnya, "tentu saja putriku, Kenko."


Kepalaku kembali cerah, "itu benar. Setelah ini aku akan menemuinya."


Tiba-tiba partikel cahaya warna biru keluar dari tubuh Bren secara perlahan. "Hei hei, ada apa denganmu?" tanyaku.


"Sudah waktunya Kevy. Tugasku sudah selesai untuk merakit pahlawan sepertimu." Bren mengulurkan pedangnya kepadaku, "ambil pedang ini jika ingin kembali ke duniamu."


Aku berpikir terlebih dahulu sebelum mengambil pedang itu. "Bren . . . "


"Ya?"


Aku memeluknya. "Kau guru terhebat yang pernah kutemui selain di sekolah."


Bren terkejut setelah melihat sikapku. Ia memelukku kembali dan berbisik, "jaga putriku ya, Kevy?"


"Kewajiban ku!" aku melepas pelukannya.


Lalu aku mengambil pedangnya. Bersamaan dengan menghilangnya Bren menjadi partikel cahaya kristal biru, aku kembali sadar ke dunia ku.


Aku membuka mata secara perlahan dan melihat Kenko yang dalam human formnya berdiri sembari menungguku untuk kembali.


"Kevy?" ia menghampiriku.


Aku melihat tanganku dengan Sci-Libur di tangan, "apakah aku terlalu lama, Kenko?" tanyaku padanya.


"Tidak. Malah baru sekitar 3 menit."


"Hah? secepat itu? padahal kurasa sebelumnya aku menghabiskan waktu di sana berhari-hari" heran ku sedikit.


"Ya sudah lupakan. Apa yang ayah katakan sebelumnya padamu?"


Aku hanya kepikiran kata-kata yang ia sebelumnya sebut kepadaku. Secara tidak sadar aku melamun.


Kenko memukul bahuku, "hei jangan melamun!"


"Akh sakit. Lagipula kenapa kau bisa tahu kalau sebelumnya itu adalah ayahmu?" tanyaku.


Lalu sedikit mengingat-ingat. "Aneh, padahal yang cerita seperti itu adalah Bryan, bukan Kenko sendiri."


"Sudahlah, ayo bantu aku sebentar" Kenko memanggilku bersama dengan seseorang yang tidak sadarkan diri.


Aku mendekatinya, "oh dia!" ternyata itu adalah kakaknya Kenko yang menghilang 5 tahun yang lalu.


"Bagaimana ia bisa terdampar di sini?" bingungku sembari meraba wajahnya.


"Baiklah kita akan bahas itu nanti. Sekarang bantu saja aku mengantarkannya ke ruang yang aman untuk mengobatinya." Kenko meminta tolong.


Aku bantu mengangkatnya, "dan bagaimana juga ia bisa menggunakan Lazarus X3 ini?" heran ku kembali.


...[Sementara itu di ruang komputer]...


Semua orang masuk ke dalam ruangan itu secara serentak. Sebuah lubang hitam yang sangat besar perlahan menarik benda-benda dari kecil sampai yang besar ke dalam lubang hitam itu.


"BRYAN!" teriak Akuta.


Lalu Kors yang sedang mencekik Bryan dan mengangkatnya, melihat ke arah depan pintu ruangan setelah mendengar suara seseorang.


Yang lain juga melihat mayat Drop yang sudah tidak memiliki kepala lagi, "kita telat sial" kaget Jetsu sembari memukul tembok.


"Oh! ternyata kalian ya?" Kors masih mencekik Bryan.


"Lepaskan sebelum kami akan melepaskannya secara manual!" tegas Wax.


"Maka coba rebut dia dariku, sampah!" Kors semakin mencekik Bryan lebih kuat.


"Akhh" Bryan merintih kesakitan dan mengulurkan tangannya untuk meminta tolong.


"Yuusha!" Akuta memberi aba-aba.


"Jangan ditanyakan!" Yuusha menciptakan benang yang kuat lagi dan ditembakkan ke tangan Kors sampai terikat.


Setelah terikat, Yuusha berusaha menariknya dengan kuat. "LE . . . PA . . . . SK . . . AN . . . . DIA!!" Yuusha berusaha untuk menariknya.


Kors bersikap biasa saja seperti tidak ada reaksi dari benang itu.


"Ayolah bantu aku!"


Mako berlari dengan cepat dan melompati beberapa meja di sana. Lalu ia lompat dan mengayunkan tendangannya ke wajah Kors.


"Frenzy Hitter!" Mako mengeluarkan jurusnya dan menendang sekuat mungkin ke wajah Kors.


...[TAPPPPPPP]...


"Eh?"


"Kau pikir semudah itu?"


Kors menangkap kakinya dengan tangan kanannya. Lalu Mako dilemparkan ke arah lubang hitam itu.


"Akhhhh!!" Mako terlempar.


"Mako!!!" Wax meraih tangannya agar tidak masuk ke dalam lubang hitam.


Mako menggapai tangannya juga. Akhirnya Mako tertolong oleh Wax setelah ditarik olehnya.


"Membosankan. Orang ini akan cepat mati loh" ejek Kors.


"Tanpa aba-aba. SEMUANYA AYO!" Semua orang yang menggunakan senjata jarak dekat maju mendekati Kors dengan serangan serentak.


Ketika semua orang melompat secara bersamaan, Kors mengulurkan tangannya ke depan dan membuat percikan, "Glitch Shockwave!"


...[BZZZZTTTT]...


Semua orang terpental ke arah yang berbeda. Ketika Kors sudah menurunkan tangannya,


...[ZZRRRTTTTT]...


Panah berhasil menancap ke tangan kiri Kors yang sedang mencekik Bryan. "AKH!" Kors kesakitan sampai ia melepaskan cekikan Bryan.


"Siapa itu?" Kors melihat sekitar.


Lalu berdirilah seseorang dengan pose memanah dari jauh dengan busur mecha miliknya. "Sepertinya kita memang tidak saling mengenal, tetapi . . . . " Robin mengangkat kristalnya.


Kors berdiri dan menunjukkan cakarnya yang tajam itu. "Berani-beraninya!" kesal Kors.


"Salam kenal. Aku Robin Hood, kau bisa memanggilku Robin!" Robin melemparkan kristalnya ke atas, lalu ia tembak kristal itu dengan panah. "Create, Armor, Up!" Robin bertransformasi.


Kristal itu pecah dan menjadi partikel-partikel yang menyelimuti tubuh Robin sampai menjadi mecha form.



Mecha form dari Sting Shot dengan mode baru, yaitu 2.0. Dengan motif tudung dan helm rajawali. Ditambah panah mecha yang semakin canggih dari sebelumnya, bisa jadi akurasi semakin menambah ke target.


"SELAMAT! kau akan menjadi target pertamaku dalam mode ini, Michael Kors. Atau mayat hidup?" tawa Robin.