
Lalu semua orang masuk ke dalam kantor polisi. Begitu juga dengan Tye yang masih membawa Kevy yang diikat. Akuta yang sudah masuk merasakan sensasi yang tidak biasa.
Kemudian seseorang berjalan di hadapan kami dan mendekat. Aku terkejut dengan orang itu yang ternyata,
"Dimana yang namanya Kevy dan Akuta?" ternyata itu adalah Bryan yang berasal dari dunia ini.
"Itu kami berdua" aku mengangkat tangan dan menunjuk Akuta.
Bryan menatap tajam kepada kami berdua, "Wax!"
"Siap kapten" Wax mengeluarkan kristalnya.
"Eh, eh apa yang terjadi?" Akuta kebingungan.
Bryan kemudian mengangkat kerah bajuku, "tidak akan kubiarkan kau lolos lagi breng--"
"Ini pasti ada kesalahpahaman" Tye berusaha untuk menjelaskan.
"Diam kalian semua!" lalu Bryan melempar ku keluar dari kantor polisi.
"Kevy!" Akuta mencoba menolongku.
...[BRUGGGGG]...
Bola mendarat di wajah Akuta dan membuatnya terpental, "Ahhh."
"Hei ada apa ini, biar kami perjelas" Jetsu dan Wax berusaha untuk melerai.
"Berisik" Wax mengeluarkan kristalnya.
Disusul juga oleh Bryan yang menunjukkan kristalnya.
"Create, Armor, Up!" Wax dan Bryan sama-sama bertransformasi.
"Tidak ada pilihan lain Akuta."
"Baiklah."
"Create, Armor, Up!" disusul dengan kami yang ikut berubah.
"Sebagai kapten polisi, kami akan memberantas kejahatan. Jadi menyerah lah!" tegas Bryan.
"Kau dengar perkataan kapten? sudah ku peringatkan" Wax yang lain memperingatkan.
Wax, Jetsu dan Robin tidak bisa menahan mereka. Padahal Tye jelas-jelas ingin memperjelas semuanya.
"Aku benci ini" aku mengeluh.
"Dan kuperingatkan juga untuk kalian. Jangan sampai kena gergaji ku" Akuta menyaringkan suara gergajinya berulangkali.
"Kau lupa dengan senjataku" Bryan menodongkan senjatanya.
"Tch, Rifle. Beda sekali dengan Bryan yang kukenal" lalu aku bersiap-siap dengan pedangku.
...[DORRR]...
Peluru sudah di tembakan, peluru itu bisa berbelok-belok sesuai keinginannya. Tetapi peluru itu melesat mengarah kepada kami berdua.
"Akuta!" dengan kelincahan kami, kami berdua membelah peluru itu dengan senjata kami.
"Huh?" Bryan sedikit terkejut.
"Saatnya!" aku memberi aba-aba.
Lalu aku melakukan zig-zag mengarah ke Bryan. Namun dari samping Wax menghantam ku dengan bolanya yang sangat kuat itu.
"Bite Shot!" Wax mengeluarkan jurus nya.
Kemudian ditendang kan bola itu mengarah kepadaku. Sesaat sebelum menghantam ke wajahku, Akuta datang dan menendang bola itu ke arah berlawanan.
"Kau meremehkan mantan pemain sepak bola asli!" kemudian dia membelah bola hologram itu dan membuatnya pecah.
"Tch, kapten!" Wax menendang bola ke arah Akuta, "Dimengerti" disusul dengan peluru Bryan yang mengikuti arah bola itu.
Akuta mengamati arah bola dan peluru itu. Tapi disaat mereka masih fokus melihat Akuta, aku diam-diam dengan cepat akan mengayunkan pedangku dari belakang mereka.
Ketika bola sudah di depan mata Akuta, "Grim Cut!" Akuta membelah bola nya kembali.
"Kau melupakan sesuatu" Bryan tersenyum.
Peluru yang dibelakang bola milik Wax berhasil melesat ke wajah Akuta.
...[TCARRRRR]...
Akuta terpental dan terjatuh. Dari yang kudengar, sepertinya ada sesuatu yang hancur dari bagian helmnya.
"Kalian melupakan seseorang!" dari belakang aku mengayunkan pedangku dan membuat mereka tersungkur.
"Sial" Wax melihat Bryan yang ditebas dari belakang olehku.
Wax kembali menciptakan bola dari kakinya untuk bersiap menendang bola nya ke arah ku. Namun dari belakang sudah ada seseorang yang menodongkan senjatanya.
"Melihat kemana?" Akuta dari belakang menyekap Wax dengan gergajinya.
Meski beberapa bagian helmnya sudah hancur, ia masih bisa bangkit dan berhasil mengelabui Wax.
Pertarungan ini dimenangkan oleh kami secara tidak langsung. Kami tidak ada niatan untuk melawan mereka. Orang-orang seperti ini sulit untuk memahami situasi seperti kami.
"Hentikan, kalian semua!" Tye memisahkan semuanya.
Aku mengulurkan tangan kepada Bryan, "aku tidak berniat untuk melawan. Kami bisa menjelaskan semuanya."
Bryan melihat uluran tanganku, lalu ia menggapai tanganku dan bangkit berdiri.
"Maaf, aku juga tidak bermaksud. Aku hanya melakukan tugasku" Bryan meminta maaf.
"Tidak apa, aku juga sedikit terkejut dengan apa yang terjadi di dunia ini."
Lalu Akuta melepaskan Wax yang disekap olehnya. Kini semuanya kembali berjalan damai.
"Ayo kita masuk ke dalam kantor lagi. Kalian akan menjelaskan apa yang terjadi di sini" Bryan menawarkan.
Kami semua pun setuju, kemudian kami masuk ke dalam kantor polisi untuk pembahasan lebih lanjut.
...[Sementara itu di dunia lain]...
Kenko terkejut oleh seseorang yang menghampirinya.
"Kenko, sudah lama tidak bertemu" itu adalah Yuusha yang datang menemui Kenko.
Tanpa pikir panjang, Kenko langsung memeluknya dengan erat.
"Kemana saja kau bodoh!" Kenko sedikit menangis.
Yuusha memeluk kembali, "aku masih ada."
Mako, Bryan, dan Drop melihat mereka.
"Sekarang apa kau mau menjelaskan siapa mereka dan mengapa ada Bryan disini?" Yuusha menunjuk mereka.
"Ceritanya panjang."
...[Kembali kepadaku] ...
Kami sedang berada di suatu ruangan yang sepertinya kantornya Bryan. Ternyata di dunia ini Wax adalah asisten Bryan. Tetapi konyolnya adalah, ia tidak pernah mendengar nama Jetsu sama sekali.
"Jadi apa yang terjadi" Wax bersiap untuk menulis, didampingi oleh kaptennya Bryan yang duduk di sebelahnya.
"Oke begini ceritanya" aku memulai cerita.
Dengan panjang lebar aku menjelaskan secara detail tentang kami yang tersasar di dunia ini setelah seseorang yang men-teleportasi kami ke dunia ini. Lalu bagaimana keadaan dunia kami sampai apa yang terjadi dengan yang berhubungan dengan CRYPTIDE.
Wax yang sudah mencatat semua kejadiannya memulai untuk memecahkan masalahnya. Bryan bertanya-tanya kepada kami tentang dunia kami, tentang sifat dia yang di dunia kami, dll. Sampai akhirnya Wax berhasil menemukan solusi terbaik cara untuk memulangkan kami ke dunia kami.
"Yaps, simple saja. Kita suruh Tye untuk membuat portal dimensi" dengan mudahnya Wax mengatakannya.
"Ya, tidak salah dia" Tye mengakui kalau itu fakta.
"Lalu kenapa tidak sedari tadi kita pergi lebih awal???" Robin kesal.
"Kan kalian belum bertemu dengan kami sebelumnya" Akuta menjawab.
"Ada benarnya. Setelah bertemu, bodohnya kalian malah bertarung. Padahal orang yang asli ada di . . . . ." seketika Tye mengingat sesuatu, "Oiya!"
Tye membawa Kevy yang tidak sadarkan diri, "Tadaaaa" Tye membuka penutup wajahnya.
"Ouh aku lupa soal dia" aku juga baru sadar.
"Kevy yang dari dunia ini kan?" Bryan memastikan.
Wax mendekat kepadanya, "Ya, wajahnya tidak jauh beda dari Kevy yang ini" ia menunjuk wajahku.
"Sudah kubilang kalau dia mirip denganku. Jadi wajar kan saja" aku sedikit kesal.
"Tapi aku masih bingung kenapa rambutmu pirang, sedangkan aku tidak" Wax menyebut Wax yang lain.
"Ya, aneh, aku berpikir sebaliknya mengapa kau berambut hitam. Kita sesama Wax rada terkejut."
"Baiklah, terimakasih sudah memberikan adikmu. Apa kau menerimanya?" Bryan berbicara kepada Tye.
"Aku lumayan sedih dengan perlakuan nya, jadi silahkan saja. Aku memihak kepada yang baik" Tye mengacungkan jempol nya.
Aku yang mendengar apa yang dikatakan Tye menjadi teringat kejadian di kapal itu.
"Baiklah, apa kita bisa untuk pulang kembali?" Jetsu tidak sabar.
"Sebentar, aku mencoba sesuatu" Tye mengambil kristalnya.
Lalu ia mengarahkan tangannya ke tembok. Dengan memejamkan mata sembari menggenggam kristalnya erat-erat, "TIME CURVE" ia membuka matanya.
Setelah matanya berubah menjadi hijau dan seperti ada partikel api hijau dari matanya, mendadak ada percikan yang memercik dari tembok.
"Apakah berhasil?" tanyaku.
"Semoga saja" jawab Tye yang masih fokus.
Lalu munculah sebuah lingkaran waktu dari tembok. Setelah jarum jam berputar 360°, putaran itu membuka celah portal ke dunia kami.
Kemudian Tye melepaskan tangannya, "kalian bersedia?"
"Ya" dengan semangat, aku sangat siap untuk pulang ke dunia kami.