CRYPTIDE CRYSTAL

CRYPTIDE CRYSTAL
Mimpi (Final Arc)



Aku tidak sadar dimana aku sekarang. Tapi badan ku seperti terasa lega saat ini. Perlahan aku meraba-raba di sekitar ku sembari terlentang.


"Sensasi ini . . . ."


Aku mulai merasa aneh dengan apa yang aku rasakan saat ini. Karena sensasi yang kurasakan sebelumnya itu adalah, empuk. Karena aku sudah semakin penasaran, perlahan aku membuka mataku.


"Heh?" aku terkejut karena aku melihat atap kamar.


Lalu aku bangun untuk melihat sekitar. "Tempat ini . . . . "


Aku melihat tanganku sendiri. "Hah?!" aku terkejut setelah melihat tanganku yang masih seperti anak muda.


Ya, kurasa aku terbangun di kamarku sekitar 11 tahun yang lalu.


...[11 tahun yang lalu di masa depan]...


Aku turun dari ranjang untuk melihat ke luar jendela. "Ahh kepalaku sakit sekali" keluh ku sembari memegang kepala.


Di luar sana, suasana kota sangat tenang sekali. Tidak ada peperangan, kekacauan, atau apapun. Aku masih tidak yakin jika aku benar-benar sadar di tahun ini.


Beberapa saat kemudian, seseorang datang ke kamarku.


...[KREEEEKKK]...


Seorang anak muda yang sepantaran denganku. Tapi dia lebih tua dariku. Ya, itu dia.


"Kevy! ayo main ke balkon!" Tye memanggilku.


Aku belum bisa menjawab apa-apa. Pikiranku masih terjebak di masa lalu. Apakah ini Tyler dari masa dimana aku menjadi penjahat atau bukan, aku tidak peduli. Aku menghampirinya saja.


"Mukamu pucat begitu, ayolah!" Tye menepuk punggungku.


Ia menarik tanganku menuju ke luar balkon untuk bermain. Sesampainya di luar, kami berdua melihat pemandangan kota di pagi hari yang sangat indah sekali.


"Suatu saat aku akan membeli mobil terbang itu!" Tye menunjuk kendaraan yang ada di sana.


Aku tersenyum saja melihatnya. Aku sangat senang dan tenang dengan momen ini. Sampai . . . .


"KEVY!!!"


"Eh?" aku seperti mendengar suara wanita yang memanggilku.


"Apa itu hanya perasaanku?"


"KEVY!!"


Tidak. Suara ini bukan hanya suara wanita saja.


"KEVY!!" Tye menepuk pundak ku.


"WAAAAAAAA!!" Aku terkejut seketika.


"Ada apa denganmu hari ini? melamun terus" heran Tye.


"Kakak, apa kamu mendengar seseorang memanggilku?" tanya ku padanya.


"Hah? ada-ada saja. Ayah dan ibu sedang mengasuh adik di kamar loh. Mengerikan saja!"


"Mungkin itu memang benar-benar perasaanku saja."


Karena aku berpikir barusan hanya firasat ku saja, aku melanjutkan melihat pemandangan kota ini dengan tenang.


"Kevy . . ." Tye memanggilku lagi.


Aku menoleh ke wajahnya sebagai respon.


"Jika kakak menjadi penjahat . . . . bagaimana menurutmu?"


"Pertanyaan aneh" jawabku.


Aku memegang kepalaku sembari menahan perihnya di kepala.


"Kenapa denganmu Kevy?"


Lalu datanglah seseorang lagi dari belakang. "Loh, Kevy? Tyler?"


Kami berdua sama-sama menoleh ke belakang.


"Hati-hati, nanti jatuh."


Itu adalah Ayah yang datang menemui kami.


"Ayah, kurasa Kevy sakit kepala!" Tye menunjukku.


"Hah? benarkah? coba ayah lihat."


"Tidak ayah, ini hanya perih biasa kok" aku berusaha tidak membuat yang lain cemas.


Ayah tetap menghampiriku untuk mengecek keadaanku. Disaat seperti ini, aku merasa sangat kangen dengan ayahku sekarang. Entah tanpa kusadari, aku memeluk ayahku.


"Tuh kan, kalau Kevy sakit, istirahat saja di kamar dulu" saran Ayah.


Aku melepas pelukanku, "tidak ayah. Aku baik-baik saja kok" Aku berusaha untuk tetap tidak mencemaskan yang lain.


"Bolehkah ayah mengatakan sesuatu Kevy?" kata Ayah.


Aku mengangguk sembari memandang wajah Ayah.


Lalu ia mengelus kepalaku sembari jongkok. "Kamu itu kuat Kevy. Meski orang lain akan menertawakan mu, kamu harus menunjukkan kehebatan mu. Dan membuktikan kalau kamu itu lebih hebat dari mereka. Buat mereka mengakui mu!"


Selesai Ayah mengelus, ia kembali berdiri. "Lihat di dunia sana Kevy" Ayah menunjuk ke arah kota. "Buatlah dunia terus tenang seperti ini. Tanpa adanya peperangan atau main kuasa."


Aku masih mendengar apa yang dikatakan oleh ayah.


"Maka itu," Ayah memandang wajahku, "teruslah semangat, oke? Ayah, ibu, dan kakak selalu mendukungmu!"


Kata-kata itu membuatku otomatis menyimpan kalimatnya ke pikiranku.


"Itu benar Kevy! kamu adalah adik terkuat yang pernah aku miliki!" puji Tye.


"Terimakasih, kalian semua" haru ku. "Tapi . . ." aku menyadari suatu hal. "Kenapa kalian mengatakan hal ini kepadaku?" tanya ku kepada mereka dengan wajah kebingungan.


Ayah tersenyum. Lalu dia kembali membungkuk dan memegang pundak ku. "Karena mereka masih membutuhkan bantuan mu, Kevy" ucap Ayah.


"Hah? mereka?" bingungku.


"Teman-temanmu!"


Setelah ayah mengatakan itu, mendadak samar-samar aku merasa seperti berada di tempat lain.


"KEVY!!" lalu suara itu kembali memanggil.


Kepalaku kembali merasa perih. Pada akhirnya aku tersadar di suatu momen yang berbeda. Aku langsung bangun dari mimpi barusan dan reflek memanggil, "AYAH!!!!"


"Eh?" seseorang di belakangku terkejut.


Aku menoleh ke belakang untuk melihat siapa itu. "Loh?"


Ternyata mereka adalah teman-temanku yang penampilannya sangatlah berantakan sekali. Lalu aku kembali tersadar kalau aku baru saja bangun setelah ledakan itu.


...[Kembali ke momen]...


"Kenapa denganmu Kevy?" cemas Kenko.


Aku belum menjawab. Aku melihat tanganku yang sudah kembali menjadi usiaku sekarang. Aku melihat pantulan wajahku dari sisa kaca yang pecah di sebelahku.


"Apa yang terjadi?" tanyaku pada yang lain.