CRYPTIDE CRYSTAL

CRYPTIDE CRYSTAL
Beruntung & Sial



Yue terbangun di ruangan terpisah. Ia merasakan sakit kepala akibat terbentur lantai sebelumnya.


"Heh?" Yue terkejut setelah melihat ruangan yang terbakar. "A . . . apa-apaan ini . . . . ."


"Mungkin kita terpisah dengan yang lain" seseorang berbicara.


"Eh?" Yue menoleh ke belakang.


"Setelah ledakan tadi. Mungkin kita terbangun di ruangan yang berbeda-beda" gumam Mako.


"Kau kalau tidak salah . . . ."


"Panggil saja Mako" Mako menepuk bahu Yue.


"Ou . . . oke Mako."


Mereka berdua berdiri sembari melihat ruangan yang terbakar. Mereka juga sedang mencari jalan keluar dari ruangan itu.


"Mako, di sana!" Yue menunjuk suatu pintu yang sedang malfungsi.


"Lumayan banyak api yang berkobar di sana. Tapi aku dapat melewatinya dengan mudah dengan kristal ini" gumam Mako.


"Kristal?"


Lalu Mako menunjukkan kristal berwarna violet kepada Yue, "ini."


"Kristal yang dimiliki Ichika sebelumnya!" Yue mengingatnya.


"Tapi karena kau tidak memiliki kristal, kita akan menghadapi ini bersama--"


...[BRUGGGG]...


Pipa di langit-langit ruangan tiba-tiba jatuh. Api yang berkobar di dekat pintu sebelumnya dibuat sedikit mereda akibat sisa air yang ada di pipa.


Yue terkejut. "Kurasa kita baru saja menggunakan keberuntungan setahun."


"Kalau begitu ambillah keberuntungan ini secepat mungkin" Mako mengajak Yue.


Akhirnya Yue dan Mako meninggalkan ruangan yang terbakar itu melalui pintu otomatis yang mengalami malfungsi.


...[Sementara itu]...


Jack tidak dapat memijakkan kakinya dengan seimbang ke lantai. Ia tergelincir dan terjatuh ke bawah. Tapi . . . .


...[TAPPPPPP]...


Jack berhasil menggapai lantai sebelum ia benar-benar terjatuh ke bawah. Dengan cepat, ia langsung naik ke permukaan untuk menyelamatkan diri dari situasi itu.


Setelah Jack berhasil, ia menghampiri David yang masih tidak sadarkan diri.


"Yo, David!" Jack mencoba membangunkan David. "YO BANGUNLAH BODOH!"


David membuka matanya dengan perlahan. "A . . . apa yang terjadi?"


"Tidakkah pertanyaan ini terbalik?" risau Jack.


David bangun sembari memegang kepalanya. "Si Jean sialan itu, bodoh sekali."


"Jean mengaktifkan Self-destruction nya? sudah diluar nalar. Sia-sia dia mengorbankan diri."


Apa yang dikatakan oleh Jack, seketika membuat David kesal. Ia menarik kerah Jack dan dibenturkan kepala Jack ke lantai. "SIA-SIA? DIA BERHASIL MENYELAMATKAN KU SETELAH AKU HAMPIR DI EKSEKUSI OLEH PENGGUNA KRISTAL SIALAN ITU!"


"Hei hei, tenanglah! aku tidak melihatnya!" Jack melepaskan genggaman David.


"Huhhh, apa yang harus kita lakukan setelah ini?" bingung David.


Jack kepikiran sesuatu. "Tinggal menunggu Kors saja bukan?"


"Kors?" David kembali mengingatnya. "Dimana dia?"


...[Sementara itu juga]...


Kors yang sudah setengah mesin, ia berjalan di koridor bangunan yang bising. Ia bingung harus pergi kemana. Namun ketika sedang berjalan, ia berpapasan dengan seseorang.


Ia berlari dengan terburu-buru. Lalu ia tidak sengaja menabrak Kors. "HAH, MAAFKAN AKU!"


Kors melihat nama yang tertera di label nama di jas nya. "Zet."


"Siapa kau?" Zet tidak kenal dengan wajah Kors.


"Maaf, tapi kita harus menyelamatkan diri dari tempat ini!" Zet melarikan diri, namun . . . .


"Kau tidak akan kemana-mana!" Kors menangkap Zet sebelum ia pergi jauh.


"WAAAAAAAA!! APA YANG KAU PERLUKAN DARIKU???" panik Zet.


"Beritahu aku, dimana lokasi lab utama?"


"Bagaimana kau bisa tahu disini ada lab utama? lupakan, ada di lantai bawah lewat tangga dibalik rak buku! lepaskan aku sekarang!" Zet sudah terlanjur panik.


"Informasi yang bagus" Kors akhirnya melepaskan Zet.


"TERIMAKASIH!"


Zet melarikan diri dari Kors. Ia sudah bisa evakuasi dari tempat itu. Namun, ketika ia sedang berlari menuju lift . . . .


...[BRUGGGG]...


Langit-langit atap koridor roboh. Beberapa benda besar menimpa Zet sampai ia tewas. Kors yang melihatnya itu sedikit terkejut melihat kesialannya orang itu.


"Lanjutkan" Kors berbalik dan menuju ke lab utama yang diberitahukan Zet sebelumnya.


...[Di ruangan lain]...


Nelson terbangun dengan sedikit terjebak. Meski api tidak terlalu besar, namun ia terjebak dengan benda-benda besar yang menimpanya.


"A . . . bagaimana bisa?"


Nelson tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Seluruh tubuhnya terjebak dengan benda-benda besar yang menimpanya itu. Lalu datanglah seseorang yang mengangkat benda benda besar itu.


"Yo, Nelson bertahanlah!" Reggie sedang mengangkat benda yang menimpa Nelson.


"Reggie? bagaimana kau dapat menemukanku?"


"Jika ledakan itu terjadi, pasti kau tidak akan jauh dari ruangan ini" gumam Reggie.


"Ta . . . tapi bagaimana kau bisa menemukan ku dibalik sini?" Nelson masih penasaran.


"Beruntung? mungkin? mataku tiba-tiba tertuju pada benda-benda ini."


Setelah semua benda diangkat. Reggie mengulurkan tangannya untuk menolong Nelson.


"Kalau begitu, keberuntungannya akan menghilang setelah kau gunakan barusan" lelucon Nelson.


Nelson bangun setelah dibantu berdiri oleh Reggie. "Tidak ada keberuntungan yang habis, kawan."


"Bagaimana cara keluar dari sini?"


"Ikut aku Nelson, teman-teman yang lain menunggu di sana!" ajak Reggie.


"Baiklah" Nelson mengikuti kemana Reggie pergi.


...[Di tempat lain juga]...


Wax sedang membangunkan Jetsu yang tidak sadarkan diri.


"KAPTEN! BANGUNLAH!" Wax mencoba membangunkan Jetsu.


Jetsu membuka matanya dengan perlahan. Efek dari ledakan itu membuatnya sakit kepala.


"Akhirnya kau bangun kapten!" Wax merasa lega.


"Wax? kau baik-baik saja?" Jetsu berbalik khawatir.


"Tidak apa-apa kapten . . . ."


Jetsu merasa janggal melihat wajah Wax. Wajahnya terlihat cemberut dan sedang menatap sesuatu di tubuh Jetsu. Jetsu yang belum menyadarinya, ia ingin pergi dari tempat itu terlebih dahulu.


"Disini banyak api Wax, ayo kita pergi dari sini terlebih dahulu!" ketika Jetsu hendak bangun . . . . "AKHHHH!!"


Jetsu tidak dapat bangun. Ia merasa seperti ada sesuatu yang menusuk di perutnya. Dan setelah ia lihat ke perutnya . . . .


"A . . . .apa . . ."


Perut Jetsu tertusuk dengan benda tajam. Darah mengalir di perutnya.


Alasan Wax memasang wajah cemberut dan cemas itu, karena berpikir kalau kaptennya telah tewas setelah tertusuk oleh benda itu.